
Pagi ini, Anis dan Nawa pulang ke penthouse setelah semalaman berada di rumah duka. Rasa kantuk masih menggelayuti mata Anis. Baru setelah ia mandi ia bisa membuka mata dengan sempurna. Pundak dan lengannya sakit dan membuatnya terus meringis saat digerakkan. Sedangkan Nawa memperhatikan keadaan itu dengan seksama.
“Kenapa kau meringis begitu?” Tanya Nawa pada akhirnya.
“Leher dan lenganku sakit. Sepertinya aku salah posisi tidur semalam.” Jawab Anis yang memang sempat tertidur sebentar dengan berbantalkan lengannya.
“Tidurlah yang nyaman.” Perintah Nawa lagi. Ia menyibakkan selimut untuk Anis berbaring.
“Kau mau kemana?”
“Aku akan mandi setelah itu pergi ke kantor.”
“Ke kantor? Tapi kau tidak tidur semalaman.”
“Memangnya kenapa? Aku sama sekali tidak mengantuk.” Jawab Nawa santai kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Nawa keluar dari kamar mandi, ia melihat Anis yang sudah sibuk di alam mimpi. Lantas iapun masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai, ia bergegas keluar sambil menyambar ponsel dari atas meja.
Sebenarnya Anis belum tertidur, ia hanya berpura-pura saja untuk mengelabui Nawa. Diam-diam ia mengikuti Nawa keluar dari kamar dan menuju ke ruang rahasia. Anis mengendap-endap sambil terus memperhatikan bagaimana cara Nawa masuk ke dalam ruangan itu.
Anis bisa mendengar Nawa memencet tombol keamanan kemudian masuk ke dalam dan menutup pintunya. Ia segera berlari mendekati pintu dan memperhatikan tombol-tombol itu. Ia mendengar suaranya namun ia tidak bisa melihat dengan jelas karna tertutup punggung Nawa.
Dengan hati-hati, Anis menempelkan telinganya di daun pintu berharap ia akan mendengarkan sesuatu, namun itu percuma karna ia sama sekali tidak bisa mendengarkan apapun dari luar.
“Bagaimana cara masuk ke sini?” Gumam Anis.
Anis tidak punya banyak waktu untuk berada di sana. Jadi ia segera pergi untuk menghindari kecurigaan saat Nawa tiba-tiba keluar dari ruangan itu. Ia mengintip di balik dinding saat melihat Nawa keluar dari sana tidak berapa lama kemudian.
“Ahh,, aku benar-benar sangat penasaran. Apa sebenarnya yang ada di dalam sana?” Gumam Anis lagi.
__ADS_1
Saat Nawa menoleh dan mengedarkan pandangannya, Anis segera menarik kepalanya dengan jantung yang bedegup sangat kencang. Ia takut jika Nawa memergokinya. Tapi untungnya pria itu sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Sebelum Nawa merasa curiga, Anis segera berlari masuk ke dalam kamar lagi.
Bukan Nawa tidak tau kalau Anis sedang mengikutinya. Ia hanya berpura-pura saja padahal ia tahu semuanya. Ia bahkan tersenyum sinis saat melihat bayangan Anis di balik tembok.
Dengan tidak mempedulikan hal itu, Nawa bergegas keluar dari griya tawang. Seperti biasa, Yoham sudah menunggunya di dekat lift. Pria itu menganggukkan kepala kepada Nawa.
Saat di dalam mobil, Yoham tidak segera melajukan mobilnya. Ia justru menunjukkan sebuah portal berita online dari tabletnya kepada Nawa.
‘Anak seorang menteri berinisial ‘R’ di duga terlibat dalam penyalah gunaan obat-obatan terlarang.’
Di bawah judul itu, terdapat juga foto seorang pria yang wajahnya di samarkan. Dari komentar para pembaca, mereka menyimpulkan kalau itu adalah Rendra.
“Nama Rendra sudah menjadi trending topik, Tuan. Berbagai video muncul tiba-tiba entah dari mana dan membuat keributan ini.”
“video? Video apa?”
“Separah itu?”
Yoham mengangguk. “Menurut anda siapa yang melakukannya?”
“Akun itu bahkan berani menyerang seorang menteri. Yang jelas dia bukanlah orang sembarangan. Mungkinkah itu Anoda?” Gumam Nawa lagi.
“Kalau benar itu Anoda, tapi kenapa mereka repot-repot melakukan hal ini? Apa hubungan mereka dengan hal ini?”
“Kau ingat kejadian semalam? Rendra terlibat dengan miss Z dan Suta. Sangat aneh jika kita menyebut ini sebagai kebetulan, kan?”
Yoham mengangguk menyetujui apa yang di ucapkan oleh Nawa. Ia juga berfikir demikian.
“Sudah, ayo pergi.”
__ADS_1
Yoham kembali melajukan mobilnya menuju ke SJ Tower. Saat di perjalanan, Nawa menghubungi Duta untuk menanyakan perihal kasus itu. Namun Duta masih belum menemukan bukti keterkaitan antara Rendra dengan pembunuhan May.
“Lihatlah di internet, mungkin itu akan membantumu.” Nawa memberikan saran.
Sesampainya di kantor, Nawa bertemu dengan Barra yang sedang mengobrol dengan resepsionis wanita. Hal biasa yang dilakukan oleh pria itu untuk menebarkan pesonanya kepada semua wanita yang di temuinya. Membuat Nawa jengah saja.
Nawa sibuk sampai tengah hari. Ia bahkan lupa kalau semalam ia sama sekali tidak tidur dan lebih banyak mengobrol dengan Duta. Di sela-sela obrolan itu, Nawa memberitahu Duta kalau Anis dan May merupakan teman dekat. Iajuga memberitahu tentang apa yang ia temukan di Club ARA mengenai Rendra yang terus mengancam May agar memberitahu keberadaan Anis.
Tidak lupa juga Nawa meminta bantuan kepada Duta agar temannya itu mau membagi informasi kepadanya, demi keamanan Anis. Dan untungnya Duta menyetujui ide itu sebagai balas budi karna Nawa sudah memberikan informasi yang sangat penting padanya.
Nawa sedang bersantap siang di kantin kantor setelah ia memasak makanannya sendiri. Itu adalah hal yang sering ia lakukan jadi tidak ada yang merasa heran dengan hal itu. Ia terkejut saat membaca sebuah pesan dari Duta yang baru saja masuk ke ponselnya.
“Benar katamu. Baru saja ada anonim yang mengirimkan ini kepada kami. Kau pasti akan terkejut saat melihatnya.” Begitu isi pesan dari Duta di sertai dengan sebuah video.
Nawa memutar video itu dengan mata terbelalak. Ia serius menonton dan membiarkan makanannya menjadi dingin.
Itu adalah video dari dashboard mobil yang merekam kejadian tak terduga yang di lakukan oleh Rendra dan teman-temannya. Mereka sedang menganiaya seseorang, dan orang itu adalah May. Itu merupakan bukti yang sangat kuat bagi kepolisian untuk meringkus Rendra.
“Ada apa, Tuan?” Tanya Yoham yang sejak tadi terus memperhatikan Nawa.
Nawa menyodorkan ponselnya kepada Yoham kemudian berkata, “Aku yakin ini pasti ulah Anoda. Cepat cari tau tentang miss Z. Aku yakin dia juga terlibat dengan ini.” Perintahnya kemudian.
“Baik, Tuan. Saya mengerti.” Jawab Yoham sambil mengembalikan ponsel milik Nawa.
Satu hal yang mengganjal di benak Nawa adalah, mengapa Anoda sampai berbuat sejauh itu? Biasanya mereka hanya perlu langsung menghabisi seseorang tanpa harus repot-repot menyerahkannya ke polisi apalagi sampai
menyebarkan kejahatan korbannya ke khalayak umum. Itu sama sekali bukan cara kerja dari Anoda karna biasanya mereka akan bekerja secara diam-diam.
Pasti ada sesuatu yang memicu Anoda sampai berbuat seperti ini walaupun itu penuh dengan resiko. Dan jika Nawa bisa mengetahui alasannya, mungkin dia bisa memanfaatkan itu untuk keuntungannya dan membuat Anoda berpihak padanya untuk melawan musuh-musuhnya.
__ADS_1