
Rasa takut itu masih bergelayut di dada Rengganis. Ia jadi tidak berani lagi untuk membantah apapun yang diucapkan oleh Nawa. Tapi tetap, ia masih memikirkan cara untuk mengorek informasi tentang Nawa. Ia penasaran dengan isi kamar yang dilarang oleh Nawa untuk di masuki oleh dirinya.
Setelah yakin kalau Rengganis mengerti, Nawa kembali membalikkan badan untuk berjalan menuju ke kamarnya. Sampai di depan pintu kamar, Rengganis menghentikan langkahnya. Ia menatap punggung Nawa yang terus berjalan masuk kedalam kamar itu. Ia ragu, benarkah ia harus mengikuti pria itu masuk kedalam sana? Karna nampaknya itu adalah kamar pribadi Nawa.
“Kenapa berhenti di situ? Masuk.” Perintah Nawa kemudian.
Rengganis masih nampak ragu untuk melangkahkan kakinya. Ia menatap pias kepada Nawa yang sedang mengernyitkan keningnya.
Saking tidak sabarnya, akhirnya Nawa berjalan kembali dan menarik pergelangan tangan Rengganis hingga gadis itu mengikutinya masuk ke dalam kamar.
“Ini kamar kita.” Ujar Nawa kemudian.
Rengganis langsung terbelalak.
Kita?
“Emmm,, apa tidak ada kamar yang lain?” Tanya Rengganis dengan hati-hati.
“Kenapa kau bertanya kamar lain?”
“Karna sepertinya tidak mungkin aku akan tidur di kamar ini.” Lirih Rengganis kemudian.
“Kenapa tidak mungkin? Kita ini suami istri. Apa kau berharap aku akan membiarkanmu tidur di kamar terpisah?”
Rengganis ternganga dengan sempurna karna tidak bisa membantah ucapan Nawa.
Sial. Bukan seperti ini yang ku inginkan.
“Kau, benar-benar ingin aku tidur disini? Bersamamu?” Tanya Rengganis meyakinkan.
__ADS_1
“Kau tidak akan tidur dimana-mana kecuali di ranjang ini, bersamaku.”
Lutut Rengganis serasa melemas. Ia ingin menolak tapi ia tidak tau caranya. Ia takut kalau Nawa akan marah lagi.
“Tapi, aku,,,,”
Suara Rengganis tercekat di tenggorokan saat Nawa malah mendekatkan wajahnya ke padanya. Terus mendekat hingga Rengganis memundurkan langkahnya dan tertahan ranjang sampai ia jatuh terduduk di sana. Namun ternyata Nawa masih terus mendekatkan wajahnya bahkan sampai Rengganis terbaring sempurna di atas ranjang. Tubuhnya tertahan oleh Nawa yang berada di atasnya dengan bertumpu pada kedua tangannya. Ia terkungkung dan tidak bisa melarikan diri.
“Bukankah kau sangat ingin tau neraka seperti apa yang kumiliki? Selamat datang di neraka.” Ujar Nawa terdengar menyeramkan. Senyuman sinis Nawa menambah seram suasana.
Rengganis menggigit bibir bawahnya. Tangannya mencengkeram sprei dengan erat. Ini sama sekali bukan rencananya. Ia masih berharap Nawa tidak akan berani menyentuhnya karna pria itu jelas tidak menyukai dirinya
Di tengah-tengah rasa takut, Rengganis bisa merasakan hembusan nafas hangat milik Nawa yang berhembus di wajahnya. Pria itu masih belum mengalihkan tubuhnya dari atasnya. Membuat jantung Rengganis serasa ingin melompat keluar.
“Buka matamu.” Ujar Nawa kemudian
Renganis masih belum berani membuka matanya.
Karna takut, Rengganis akhirnya mau membuka matanya. Manik mata yang berwarna hitam milik Nawa adalah hal yang pertama kali Rengganis lihat. Mata itu, tajam namun terdapat keteduhan di sana. Juga kesepian yang teramat dalam. Ada kemarahan juga yang terlihat selintas.
Selanjutnya, tulang pipi yang tegas yang membuat wajah itu terlihat sempurna dengan ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar janggutnya, membuat wajah Nawa terlihat berwibawa sekaligus sangar.
Manik mata Nawa sedang menyapu seluruh wajah Rengganis. Bahkan jemarinyapun ikut merayapi setiap lekuk wajah gadis itu. Saat ini, Rengganis sedang merinding di sekujur tubuhnya. Ia takut jika Nawa melakukan hal gila di luar perkiraan padanya.
Dan benar saja, ketakutan Rengganis akhirnya menjadi kenyataan saat bibir Nawa menyatu sempurna di bibirnya. Tenaga yang di keluarkan Rengganis untuk menolak sikap Nawa sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan tenaga pria itu.
Nawa terus menindih tubuh Rengganis dan menyerang bibir gadis itu tanpa ampun. Kedua tangannya menahan tangan Rengganis agar tidak memberontak saat ia melakukan aksinya.
Walaupun sudah menggelengkan kepala demi menghindari ciuman itu, namun usaha Rengganis sia-sia. Bibir Nawa yang menekan bibirnya kuat-kuat tidak bisa di hindari.
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang menelusupi pembuluh darah Rengganis. Apalagi saat lidah pria itu sudah bermain sempurna di dalam mulutnya. Mengobrak abrik apa yang bisa di jangkaunya.
“Emph! Ber-hen-ti.” Lirih Rengganis sekuat tenaga.
Namun Nawa tidak menggubrisnya. Pria itu terus memainkan lidahnya di dalam mulut Rengganis.
Perlahan, Nawa melepaskan tangan yang menahan tangan Rengganis. Namun bukannya berhenti, pria itu malah mengarahkan tangannya untuk mere mas da da Rengganis dengan liar.
Tubuh Rengganis yang sudah menggelinjang namun ia masih berusaha untuk mempertahankan diri sekuat mungkin. Walaupun semua perlawanannya sia-sia. Namun ia masih terus berusaha. Sebelah tangannya menahan pergelangan tangan Nawa yang bermain di bukitnya. Dan tetap, usahanya itu tidak berarti sama sekali.
Awalnya Nawa hanya ingin memberi pelajaran pada gadis bernama Rengganis itu. Namun lama-kelamaan, bira hinya ikut terpancing juga. Iajadi menikmati lembutnya bibir Rengganis yang terasa manis. Apalagi saat ia mere mas kenyalnya bukit kembar yang sudah tenggelam dalam cakupan telapak tangannya itu. Hormon testosteronnya mulai meningkat dan membuat jemarinya kembali merayap ke bagian puncak bukit dan memelintirnya hingga tubuh Rengganis menggelinjang.
Balutan gaun pengantin yang masih menempel sempurna di tubuh Rengganis tidak menjadi halangan bagi Nawa. Ia terus melancarkan serangannya. Ia berusaha untuk membuka gaun itu namun kancing baju yang terletak di bagian belakang membuat Nawa kesulitan untuk meraihnya.
Akhirnya Nawa melahap bukit savana itu lengkap dengan pembungkusnya. Ia menggigit-gigit kecil bagian puncaknya sampai membuat tubuh Rengganis kembali meremang.
Semakin lama, Nawa semakin terbawa suasana. Ia tidak lagi merasakan kemarahan jika mengingat siapa yang mengutus Rengganis. Yang kini dia rasakan hanyalah kenikmatan tubuh Rengganis dan pa yu da ranya yang sintal.
“Hiks..”
Nawa tidak mempedulian isakan itu.
“Hiks, hiks.”
Nawa menghentikan aksinya dan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Rengganis yang sudah berurai air mata. Tiba-tiba rasa bersalah itu muncul entah darimana. Ia segara mengalihkan tubuhnya dan duduk di samping Rengganis yang masih menangis sambil memejamkan mata.
Melihat lelehan airmata Rengganis, membuat Nawa merasa lemah. Ia kasihan dan langsung mengusap airmata itu dengan tangannya sampai bersih. Namun ia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menatap pias kepada Rengganis yang belum juga membuka matanya. Entah kenapa dia harus merasa bersalah.
“Kau takut?” Tanya Nawa lirih.
__ADS_1
Perlahan Rengganis membuka matanya dan menatap kepada Nawa dengan tatapan pias. Tatapan itu mempertegas kalau ia sedang merasa takut kepada Nawa. Kemudian ia bangun dengan perlahan dan duduk di hadapan Nawa. Ia kembali menatap pria itu, kali ini dengan tatapan marah. Rasanya ingin sekali ia meninju wajah tampan itu sampaibabak belur tak berbentuk.