Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 58. Lingkaran Dendam.


__ADS_3

Pukul 16 waktu setempat, Nawa dan Anis sudah mendarat di Bandara Narita, Tokyo, Jepang. Seseorang sudah menunggu kedatangan mereka di pintu keluar. Dan itu adalah orang yang di kenali oleh Nawa.


“Tuan Nawa anda sudah sampai? Selamat datang.” Ujar pria itu dengan menggunakan bahasa Jepang.


“Terimakasih.” Nawa menjawab dengan menggunakan bahasa Jepang yang fasih.


Kemudian, mereka di tuntun untuk menuju ke sebuah mobil limousin yang sudah terparkir di sana. Ketiganya masuk dan pria jepang itu memerintahkan kepada supir untuk melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Nawa terus mengobrol bahasa Jepang dengan pria itu. Sempurna mengabaikan Anis yang hanya bisa planga pelongo karna tidak begitu mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Jadi, dia diam saja mendengarkan.


Setengah jam perjalanan, mereka sudah sampai di sebuah mension bergaya tradisional Jepang yang sangat kental. Anis bisa melihat banyak orang berkerumun dengan mengenakan pakaian kimono serba hitam. Sepertinya sedang ada yang meninggal dunia di sana. Anis jadi berfikir, karna inikah tadi Nawa memintanya untuk mengenakan pakaian berwarna hitam?


“Silahkan, Tuan, Nona.” Pria itu mempersilahkan mereka untuk turun setelah mobil berhenti sempurna.


Nawa mengajak Anis untuk berjalan bersama. Ia juga menggenggam tangan Anis sampai memasuki sebuah aula tempat pemakaman di laksanakan.


Melihat kedatangan Nawa, semua yang ada di dalam langsung memberikan jalan dan merunduk hormat kepadanya. Hanya beberapa orang saja yang tidak menunduk kepadanya.


Nawa terus berjalan ke arah altar, dimana terdapat foto seorang pria tua, mungkin berumur sekitar 60 tahunan, dengan di kelilingi oleh bunga krisan berwarna putih di sekitarnya.


Langkah kaki Nawa terhenti dan Anis mengikuti berhenti setengah langkah di samping belakang pria itu. Ia terus memperhatikan Nawa yang tidak berkedip menatap foto yang ada di altar dengan mata yang berkaca-kaca. Nawa sedang merasakan duka yang sangat dalam. Anis bisa merasakan itu.


Kemudian, Nawa membungkuk hormat dan di ikuti oleh Anis juga.


Setelah lima belas menit berada di depan altar pemakaman, Nawa menggeret lengan Anis untuk maju dan sejajar dengannya.


“Paman, perkenalkan, ini istriku. Cantik bukan? Jadi kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku tidak bisa mendapatkan wanita cantik untuk kujadikan sebagai istriku. Selama ini kau selalu mencemaskan hal itu. Sekarang tidak usah cemas lagi, dan istirahatlah dengan damai.”


Anis hanya bisa melongo menatap Nawa yang sedang memperkenalkannya kepada mendiang yang dia panggil paman itu. Sepertinya, Nawa sangat dekat dengan orang itu.


Setelah selesai memberi penghormatan untuk mendiang, Nawa mengajak Anis untuk duduk di meja yang sudah di sediakan. Beberapa pria dan wanita langsung mengikutinya dan duduk bersamanya.


Ada 4 pria dan 2 wanita muda. Mereka semua mengenakan pakaian khas jepang yaitu kimono berwarna hitam. Sebagai tanda duka.

__ADS_1


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Seperti menunggu Nawa berbicara lebih dulu.


“Apa yang terjadi? Kemarin kami baru bertelfon.” Tanya Nawa dengan suara baritonnya.


“Semalam, bos mengalami kecelakaan. Mobilnya masuk ke jurang. Bos dan supirnya meninggal di tempat.” Jawab salah seorang pria.


“Kecelakaan?”


“Kami sudah menyelidiki mobilnya. Ada yang sengaja memutus selang rem di mobil Ayah.” Jawab wanita muda.


“Berarti ini bukan kecelakaan. Aku mau kalian mengusutnya sampai tuntas. Dan bawakan pelakunya padaku”


“Hai’.” Jawab mereka kompak.


Anis merasa, aura Nawa benar-benar berbeda saat ini. Seperti, seorang mafia berdarah dingin. Membuatnya semakin diam meringkuk merapatkan mulutnya. Apalagi, ornag-orang di sekitar mereka juga nampak menyeramkan.


Setelah semua orang itu pergi, kini hanya ada Nawa dan Anis yang duduk di meja itu. Tidak ada yang berani duduk kalau Nawa tidak mengajaknya. Mereka semua seperti takut kepada Nawa.


“Dia adalah ayah angkatku.” Lirih Nawa memulai ceritanya.


“Dialah yang melindungiku selama aku tinggal di sini. Orang yang memperlakukanku jauh lebih baik daripada ayahku sendiri.”


Ah, karna itukah Nawa terlihat sangat sedih? Bathin Anis.


“Aku turut berduka cita.”


“Dan orang-orang tadi adalah anak angkatnya, sama sepertiku. Sedangkan dia, tidak punya anak. Dia bahkan masih melajang sampai mati begitu.” Dengus Nawa sedikit kesal.


Malam sudah hampir larut, mereka sepakat, kalau pemakaman akan di lakukan esok hari dengan mengkremasi mendiang tuan Nakamura. Itu sesuai dengan wasiat yang selalu dia lontarkan kepada orang-orang terdekatnya.


Tuan Nakamura merupakan mantan pemimpin sebuah anggota geng yang terkenal. Dan disanalah Nawa bernaung selama menjalani kebejatannya sebagai manusia sambil menjalani pendidikan.


Tuan Nakamura memang sudah lama berhenti. Dia ingin merubah organisasi mereka menjadi organisasi yang banyak membantu, bukan menakuti. Karna itulah, sudah satu tahun ini tuan Nakamura mendirikan yayasan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Ia ingin membersihkan diri dari semua noda darah yang pernah tertoreh di tangannya.

__ADS_1


Tapi, itu semua tidaklah mudah. Saat sudah berkecimpung di dunia hitam, tidak mudah untuk keluar. Karna noda-noda hitam itu akan terus mengikuti kemanapun pergi. Seperti tuan Nakamura, walaupun ia sudah memutuskan untuk berhenti, tapi musuh-musuhnya, dan orang-orang yang pernah di sakitinya, masih menyimpan dendam yang begitu banyak padanya. Lingkaran dendam yang seolah tidak pernah berakhir.


Nawa mengajak Anis untuk beristirahat di salah satu kamar yang ada di lingkungan rumah itu. Di bangunan yang lain. Rumah yang biasa di jadikan tempat istirahat oleh Nawa saat ia berkunjung ke sini.


Rumah itu adalah milik Nawa pribadi. Tidak ada siapapun yang berani menyentuhnya tanpa ijin Nawa. Itulah yang di perintahkan oleh tuan Nakamura untuk anak angkat kesayangannya itu. Tuan Nakamura hanya memperbolehkan seorang pembantu khusus untuk membersihkan kamar itu. Itulah kenapa, walaupun tidak di huni, rumah yang terlihat seperti kamar itu terlihat sangat bersih dan tetap rapi.


“Masuklah.” Ujar Nawa mengajak Anis yang sedang sibuk mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Ia heran saat mendapati dua koper milik mereka sudah teronggok di bawah jendela.


Sementara Nawa sudah duduk di tepi ranjang dengan kedua bahu yang turun. Nampak jelas gurat kesedihan di wajah pria itu.


“Duduklah disini.” Nawa menepuk sisi ranjang di sebelahnya. Meminta Anis untuk duduk di sana.


Anis menurut. Ia berjalan mendekati Nawa dan duduk di sebelah pria itu. Ia ingin menghibur Nawa, tapi ia merasa ini memang sedang waktunya bersedih. Jadi dia akan membiarkan pria itu menuntaskan kesedihannya.


Anis terbelalak saat Nawa tiba-tiba mejatuhkan kepalanya di pahanya. Ia bahkan merangkul paha Anis dan memeluknya dengan erat. Nawa memang tidak menangis, tapi ia merasa sangat terpukul dengan kepergian tuan Nakamura yang mendadak seperti ini.


Anis hanya bisa mengelus-elus kepala Nawa yang berada di pahanya untuk membantunya merasa tenang.


**


**


ehmmm,,, aku mau ngasih tau nih. tolong jangan tersinggung yaa,, aku tau kalian cuma mau mendukungku. aku makasih banget atas dukungan kalian. memang itulah yang ku harapkan.


cuma mau ngasih tau aja, plis jangan boom like yaaa. like tanpa membaca. karna itu akan membuat performa novel turun drastis. bukan aku gak berterimakasih sama dukungan kalian. tentu aja aku sangat berterimakasih sama kalian. tapi ya itu, saat novel mendapat boom like, alias like tanpa di baca, maka performa akan turun. udahlah level 3, masak harus turun lagi...


hiks..


oke??


love,,


PiEl.

__ADS_1


__ADS_2