Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 75. Pria Kiriman.


__ADS_3

Anis terus menatap marah kepada Suta yang juga sedang menatapnya dalam. Tidak suka karna Suta memintanya berhenti untuk melanjutkan rencana mereka.


“Aku mau pulang.” Kesal Anis. Ia langsung beranjak dan keluar dari ruangan itu.


Anis berjalan keluar dari club tanpa mempedulikan siapapun. Ia lantas masuk ke dalam mobil dan membawa mobil pergi dari sana.


Anis menghentikan mobilnya di pinggir sunga yang sepi. Ia butuh waktu dan tempat yang sepi untuk berfikir. Tentang ucapan ayahnya. Juga ucapan Suta. Ia keluar dari mobil dan berdiri di pinggir sungai. Memandangi riak sungai dalam kegelapan.


Tidak ada yang salah dari ucapan Suta. Pria itu memang selalu mencemaskannya secara berlebihan. Dia bisa mengerti. Lagipula, apa yang dikatakan oleh Suta benar adanya. Niatnya adalah memang untuk membalaskan dendam sang ayah karna ia fikir ayahnya sudah mati. Karna ayahnya masih hidup, wajar jika seharusnya ia menghentikan semuanya disini.


Anis memasukkan tangannya ke dalam saku jas yang ia kenakan. Menghalau udara dingin yang berhembus menggoyangkan semak-semak. Hatinya sedang goyah. Apa memang sebaiknya dia berhenti disini saja?


Ya, mungkin itu lebih baik. Ayahnya, Suta bahkan Nawa sangat mengkhawatirkannya. Mungkin akan lebih baik berhenti saja.


Tidak tahan dengan udara dingin, akhirnya Anis memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil. Ia duduk manis di balik kemudi dan bersiap untuk menghidupkan mesin. Tidak ada yang mencurigakan sampai tiba-tiba sebuah tali menjerat lehernya.


Dengan segera Anis memasukkan dua jari di antara tali dan lehernya. Ia tidak tau siapa yang ada di belakang kursinya. Yang jelas, tenaganya sangatlah kuat.


Dengan susah payah Anis menarik seatbelt dan menyelipkannya menggantikan jari. Kemudian ia menarik tuas kursi hingga kursi jatuh ke belakang. Jeda itu memberinya waktu untuk membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.


“Uhuk! Uhuk!” Anis memegangi lehernya yang terasa linu. Ia terus menatap siluet yang ada di dalam mobil. Nafasnya terengah karna ia mengeluarkan cukup banyak tenaga untuk menahan tali agar tidak semakin dalam menjerat lehernya.


Pintu belakang mobil terbuka dan keluarlah seorang pria kekar berbadan besar. Anis mengernyit. Ia mengenal pria itu.


Ya, pria itu adalah pria yang mengobrak abrik rumahnya dulu. Pria yang ia yakini adalah anak buah Dianty. Walaupun pria itu mengenakan topi, tapi Anis masih bisa mengenalinya.


“Ba jingan!” maki Anis. Ia marah. Kesal karna tiba-tiba ada yang mencekiknya.


Pria itu hanya diam saja. Ia menatap Anis dengan tatapan membunuh.


“Apa Dianty yang menyuruhmu? Dasar cicak! Beraninya menyuruh orang.” Pancing Anis.

__ADS_1


“Jangan banyak bicara. Aku harus menghabisimu saat ini juga.”


“Bodoh.” Anis tersenyum smirk.


Pria itu memulai gerakannya yang tiba-tiba. Ia merangsek maju dan melayangkan tinjunya kepada Anis. Tinju yang meleset tepat di depan wajah Anis. Anis menggeser kakinya hingga tinju pria itu hanya mengenai udara kosong.


“Sepertinya kau sudah bertambah tua.” Anis terus memprovokasi lawan.


“Bicaralah sesukamu. Aku akan menyampaikannya kepada bos sebagai wasiat darimu.”


Dan pertarungan sengitpun tak terhindarkan. Mereka saling memukul dan menghantam. Melayangkan tinju hingga mengenai sasaran.


Anis terlalu menganggap remeh lawannya. Beberapa bogem mentah sudha berhasil bersarang di wajah dan perutnya. Ia meraba ikat pinggang tempat biasa ia menyembunyikan pisau kecilnya.


Sial! Maki Anis dalam hati.


Ia tidak mengenakan ikat pinggang. Jadi otomatis, ia tidak membawa senjata andalannya. Sementara lawannya, sudah mengeluarkan sebilah pisau dan siap di mainkan.


Keduanya sudah babak belur. Nafas terengah dan tenaga yang sudah hampir habis. Anis sedang memutar otak. Ia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Ia harus menghabisi pria itu dalam sekali serangan, atau melarikan diri.


Ia melirik ke arah mobil yang tidak jauh darinya. Sepertinya kansempat kalau ia berlari kesana.


Anis mencobanya. Ia berlari menuju mobil dan langsung masuk serta mengunci pintunya rapat-rapat. Menghidupkan mesin dan mulai memundurkan mobilnya.


Brak!


Pria itu tidak sempat menghindar saat bagian belakang mobil membuatnya terpental hingga jatuh ke dalam air. Ans menabraknya dengan sangat keras. Setelah memastikan lawannya menghilang di dalam air, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan, barulah Anis kembali melajukan mobilnya menuju ke griya tawang.


Sudah berkali-kali Nawa melihat jam tangannya. Sudah cukup larut tapi Anis belum juga kembali. Seketika kecemasan menyerbu prasaannya. Sementara Yoham sudah pulang sejak tadi.


Nawa mencoba menghubungi ponsel Anis. Namun ia segera menoleh saat mendengar suara derin ponsel di belakangnya. Di dekat pitu, Anis sedang bersandar sambil memegangi lengannya. Darah mengalir melewati sela-sela jari-jarinya. Wajahnya sudah tidak karuan. Lebam disana sini. Sudut bibirnya berdarah dan ia nampak sangat pucat sekali.

__ADS_1


“Anis!” pekik Nawa yang segera berlari menghampiri Anis sebelum wanita itu jatuh lunglai di lantai. Nawa menahan tubuh Anis yang terjatuh di pangkuannya. Tubuh Anis melemas. Ia berusaha sangat keras untuk sampai di rumah.


“Siapa yang melakukan ini?” suara Nawa bergetar. Penuh kemarahan.


“Anak buah Dianty.”


Nawa segera membopong tubuh Anis dan membaringkannya di sofa. Sementara ia segera menelfon Yoham.


Tak berapa lama, Yoham datang. Ia terkejut melihat kondisi Anis yang nampak menyedihkan. Segera ia berlari menuju nakas dan mengambil kotak obat dari sana.


Sementara Nawa memperhatikan saja Yoham membersihkan dan mengobati luka Anis. Setelah selesai, ia kembali merapikan peralatan dan menaruhnya kembali di tempatnya semula.


Anis sudah jauh lebih baik. Sekarang dia tengah tertidur.


“Apa perlu ke rumah sakit?”


“Lukanya tidak parah, tuan. Saya kira nona akan baik-baik saja.” Yoham meyakinkan.


“Baiklah, kau boleh pergi.”


Yoham menganggukkan kepala lantas meninggalkan rumah itu dan kembali ke unit apartemennya.


“Kita pindah ke kamar, ya.” Pinta Nawa. Tanpa seijin Anis, ia langsung membopong tubuh istrinya itu dan membaringkannya di ranjang.


Dengan perlahan, Nawa membuka pakaian Anis yang kotor dan menggantinya dengan piyama. Anis sudah pasrah. Ia membiarkan Nawa melakukan apapun padanya. Setelahnya, ia membersihkan bagian yang kotor dengan tisu secara perlahan.


Sungguh, hati Nawa seperti di iris pisau melihat kondisi Anis seperti itu. Dendamnya seketika naik ke ubun-ubun. Ia menggeretakkan giginya diam-diam. Tidak ingin memperilhatkan kemarahannya itu didepan Anis.


“Maafkan aku.” Lirih Anis. Ia tidak tega melihat wajah Nawa yang memerah. Ia tau saat ini Nawa sedang menahan diri untuk tidak mengamuk.


“Sudah. Istirahat saja.” Nawa mengusap kepala Anis dnegan lembut.

__ADS_1


Anis memejamkan mata. Ia lelah dan mengantuk. Tenaganya sudah tidak bersisa. Dia ingin tidur dan beristirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaganya kembali.


__ADS_2