
Sudah dua hari ini Anis membantu Nawa mengurusi Pak Baskoro. Anis benar-benar menunjukkan kesungguhakkan dalam berpihak kepada Nawa. Tentu saja Nawa masih belum sepenuhnya percaya. Bahkan Nawa tetap menyita ponsel Anis sebagai jaminan kalau wanita itu tidak akan menghubungi Dianty.
Siang ini, Anis sedang mengelap kaki dan tangan Baskoro dengan handuk yang di basahi air hangat. Dengan pengawasan Rizal tentu saja. Ia juga membantu menggerak-gerakkan anggota tubuh Baskoro agar tidak kaku. Rizal memperhatikan sikap Anis itu tanpa lengah sedikitpun.
Rizal sudah mendapat amanah dari Nawa untuk mengawasi Anis sementara wanita itu sudah di perbolehkan membantu mengurusi Baskoro. Tentu saja Rizal merasa terbantu sekali dengan keberadaan Anis.
“Anis?” Panggil Nawa dari pintu.
Anis dan Rizal kompak menoleh. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan pria itu ada di sana. Padahal, Nawa sudah lama berdiri di pintu dan memperhatikan tingkahnya. Nawa bahkan tau saat Anis memperlakukan Baskoro dengan sangat hati-hati.
“Apa?”
“Aku akan keluar sebentar.”
Anis mengangguk. “Baiklah.” Sebelum menutup pintu, Nawa melihat ke arah Rizal yang di sambut dengan nggukan kepala dari dokter itu.
Nawa mempercayakan Anis kepada Rizal. Ia mulai yakin kalau Anis memang sudah berpihak padanya. Tinggal seidkit lagi keraguan yang berdiam di hatinya.
Nawa keluar bersama dengan Yoham. Ia terus melemparkan pandangan ke luar jendela. Hatinya di liputi rasa yang entah.
Dia ingin mempercayai Anis sepenuhnya. Tapi jujur, dia masih mengkhawatirkan apa yang akan Dianty lakukan jika tau kalau Anis sudah tidak menjadi bawahannya. Ia mengkhawatirkan Anis.
“Apa, nona Anis benar-benar sudah berada di pihak kita, Tuan?” Tanya Yoham memecahkan keheningan.
“Hhhuuffh. Entahlah. Waktunya terlalu cepat. Tapi, aku juga merasa kalau dia bersungguh-sungguh.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan nyonya Dianty?”
Nawa terdiam. Itulah yang sedang dia fikirkan. Sepertinya, dia harus mengubah strateginya. Dia harus mengubah rencananya dan mengeluarkan Anis dari rencana itu.
“Tuan, soal sesuatu yang anda suruh untuk menyelidiki, tentang nona Anis.”
Ah, ya. Nawa pernah meminta Anis untuk menyelidiki wanita itu.
“Apa kau menemukan sesuatu?”
“Tidak, Tuan.”
Entah kenapa Nawa lega mendengarnya.
“Tidak ada yang mencurigakan dari nona Anis. Tapi, Tahara.”
“Tahara?”
“Iya, Tuan. Pemilik Club ARA dan orangtua angkat dari nona Anis.”
__ADS_1
Nawa mengernyit. “Kenapa dengan Tahara?”
“Anda masih ingat dengan Temmy? Orang kepercayaan dari Gasuta? Saya menemukan jejak kalau Tahara mempunyai hubungan dekat dengan anggota Anoda itu.”
Nawa semakin mengernyit. “Hubungan seperti apa?”
“Mereka, punya nama belakang yang sama. Berasal dari daerah yang sama. Dan lumayan sering bertemu.”
“Apa itu semua ada hubungannya dengan Anis?”
Yoham menggeleng. Ia tetap fokus mengemudikan mobil. “Tidak. Saya tidak menemukan keterkaitan nona Anis dengan mereka. Apa perlu saya buatkan janji dengan Tahara, Tuan?” Yoham tau, banyak pertanyaan yang ada di kepala bosanya itu sekarang.
“Tidak, tidak sekarang. Awasi saja gerak-geriknya. Sekarang, aku hanya ingin fokus pada Dianty. Aku harus segera menemukan bukti itu. Aku harap, paman Baskoro cepat bangun. Karna hanya dia yang tau dimana bukti kejahatan Dianty berada.”
Yoham hanya diam saja. Ia terus melajukan mobil ke sebuah restoran. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, Nawa keluar dan masuk ke dalam restoran dengan di ikuti oleh Yoham di sampingnya.
Siang ini, ia dan Gasuta berjanji untuk bertemu. Gasuta bilang ia ingin mendengar laporan tentang perkembangan pembangunan resort kerjasama mereka, langsung dari Nawa.
“Selamat datang, Tuan Nawa. Lama tidak bertemu.” Sambut Suta. Kali ini pria itu berdiri dari duduknya dan menyalami Nawa. Menyambut dengan senyuman.
Mereka memang sudah lama tidak bertemu. Sejak kesepakatan kerjasama investasi.
“Silahkan duduk.”
Nawa tidak menjawab. Ia merasa ada yang aneh dengan Suta. Karna tidak seharusnya Suta ramah begini terhadapnya. Hubungan mereka tidak cukup dekat juga.
“Wah, hasilnya bagus sekali. Kalau seperti ini terus, dalam waktu beberapa bulan, kita sudah bisa mengadakan pembukaan resort itu.”
“Baguslah kalauanda suka, tuan Suta.”
“Karna hasil pekerjaanmu sangat memuaskan, biarkan aku tawarkan satu bantuan kecil lagi untukmu, Tuan Nawa.”
“Bantuan? Bantuan apa?”
“Aku tau, posisimu di perusahaan masih belum cukup stabil. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau aku, bisa membuat posisimu lebih dari stabil di perusahaan. Bagaimana? Apa kau tertarik?”
Nawa tidak menyangka sekaligus curiga dengan sikap baik Suta yang tiba-tiba itu. Kenapa pria itu mencampuri urusan perusahannya?
“Kenapa kau menawarkan bantuan ini? Apa kau menginginkan sesuatu?”
“Tidak usah takut. Aku tidak akan merugikanmu. Katakan saja kalau kau butuh bantuanku.”
“Baiklah, aku akan menghubungimu nanti.”
“Aku akan menunggu.”
__ADS_1
Dan pertemuan itu diakhiri dengan saling berjabat tangan antara Suta dan Nawa.
**
**
Di studio milik Bagas.
Pria itu sedang menatapi foto Anis dengan tatapan geram luar biasa. Kemudian, ia meremas foto itu sampai tak berbentuk lagi. Lantas, ia melemparkan foto itu ke dalam perapian. Beberapa hari belakangan ini, dia menyelidiki Anis karna dia merasa kalau wanita itu akan jadi kelemahan dari nawa. Siapa sangka kalau dia justru menemukan hal yang sangat di luar dugaan.
“Apa yang akan anda lakukan, Pak?”
“Menunggu. Menunggu waktu untuk bersenang-senang dengan mereka. Tapi itu tidak sekarang.”
Kini, karna Nawa sudah mengetahui motif Bagas ingin melenyapkannya, jadi Bagas tidak perlu lagi menutupi taringnya kepada Nawa. Dia sudah mendeklarasikan perang terbuka kepada saudara tirinya itu.
Bagas merasa di atas angin. Kini dia merasa sudah memegang kelemahan musuhnya. Dan dia siap untuk bermain.
Bagas bergegas pergi ke kantor untuk menemui ibunya. Ia mengemudikan mobil sportnya sendiri.
Beberapa bawahannya melihat tidak suka padanya karna dia jarang sekali pergi ke kantor. Padahal, dia memegang jabatan penting di kantor. Apalagi, hal itu sangat menyulitkan para bawahannya.
“Bu, tuan Bagas datang.” Sekretaris Dianty memberitahu.
Bagas di persilahkan masuk. Ia langsung menghampiri meja kerja ibunya dan memeluk hangat wanita itu.
“Ada apa, sayang? Kenapa kamu tiba-tiba ingin menemui ibu? Kau bisa bicara lewat telfon saja. Tidak perlu jauh-jauh kemari.”
Sejak insiden dihajar oleh Anoda waktu itu, Dianty lebih protektif kepada Bagas. Sebagai ibu, ia tidak ingin hal itu terulang lagi kepada putranya.
“Bu, berapa lama sudah wanita itu tidak menghubungi ibu?”
“Wanita itu?”
“Istri Nawa.”
“Ooh.” Dianty nampak berfikir sejenak. Untuk beberapa waktu ia lupa kalau ia sudah menyewa Anis karna sedang sibuk oleh rapat direksi yang akan datang.
“Emm, mungkin sekitar seminggu.”
“Apa dia pernah melaporkan sesuatu yang penting tentang Nawa?”
“Tidak, belum. Dia bilang belum pernah melaporkan apapun.”
“Padahal sudah selama ini. Bukankah seharusnya dia sudah menemukan satu atau dua hal untuk kita?”
__ADS_1
Dianty terdiam. Ia termakan janji Anis yang mengatakan kalau dia akan melakukannya dengan caranya. Dianty tidak menyadari kalau waktu sudah berlalu sekian lama.
Dan saat itu, sebuah rencana besar telah tersusun rapi antara Bagas dan Dianty. Setelah Bagas memberitahu Dianty tentang sesuatu yang sangat membuat dianty marah dan kesal setengah mati.