Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 40. Antara Melindungi Dan Melenyapkan.


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Miss Z, Nawa tidak lantas kembali ke kantor, tapi dia memilih untuk pulang ke penthouse karna hari sudah sore.


Di dalam mobil, Nawa terus memandangi kertas yang berisi nomor rekening peninggalan Miss Z. Ia berharap posisinya akan lebih mudah setelah bekerja sama dengan Miss Z. Karna ia tidak perlu lagi untuk membagi waktu antara melindungi dan melenyapkan.


Dari balik spion, Yoham berkali-kali melirik Nawa dengan perasaan was-was. Ia sadar tidak bisa sepenuhnya melarang saat perasaan Nawa ikut bermain. Ia hanya bisa memperingatkan pria itu untuk tidak melibatkan perasaan karna itu sangat membahayakan.


“Kirim rekaman tadi kepada Anoda.” Perintah Nawa.


Rekaman itu adalah rekaman saat Nawa dan Bagas bertemu. Didalamnya terdapat pengakuan dari Bagas yang akan menjadi bukti untuk Anoda. Seperti yang sudah di janjikan oleh Nawa sebelumnya kalau ia akan mencari bukti keterlibatan Bagas dengan penusukan dirinya.


“Baik, Tuan. Tapi apa yang akan anda lakukan kepada nona Anis? Sepertinya dia berusaha untuk masuk ke dalam ruangan itu.”


“Dia tidak akan pernah bisa masuk ke sana. Atau aku yang akan langsung menghabisinya.” Gumam Nawa yakin.


Mobil yang membawa Nawa sudah sampai di basement tempat parkir apartemen. Di ujung koridor, tepat di bawah tangga, Nawa melihat Anis yang sedang mengutak-atik sepeda motornya. Gadis itu nampak kebingungan saat mengetahui kalau salah satu ban sepeda motornya telah kempis.


Melihat itu, Nawa tidak lantas turun dan malah menyuruh Yoham untuk tetap berada di dalam mobil. Ada seutas senyuman samar yang nampak di bibir Nawa saat melihat tingkah Anis yang menurutnya sangat lucu itu. Wajah kebingungan Anis memantik rasa senang Nawa.


Sedangkan Anis masih dengan bingungnya yang mencoba untuk memperbaiki sepeda motornya. Tapi ia tidak punya alat untuk memperbaikinya. Ia mencoba untuk mencari bantuan lewat ponselnya. Namun tiba-tiba,


Prang!!!!!


Sebuah pot bunga dari keramik terjatuh dari atasnya dan hampir mengenai kepalanya. Kalau saja ia tidak menggeser kakinya di detik-detik terakhir, sudah bisa di pastikan kalau kepalanya sudah tertimpa pot yang lumayan besar itu.


Saking terkejutnya, Anis sampai terjatuh ke belakang. Ia terduduk di lantai basement sambil melihat tanah dari pot yang sudah berserakan kema-mana.


Nawa dan Yoham yang melihat kejadian itu langsung menghambur keluar dari dalam mobil. Nawa berlari dan menghampiri Anis yang masih terlihat sangat syok itu.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Nawa panik.


Anis yang masih syok hanya terdiam saja sambil menatap kosong ke lantai.


“Anis!” Teriak Nawa untuk menyadarkan Anis.

__ADS_1


Saat kesadarannya sudah kembali, Anis menoleh kepada Nawa yang sudah berjongkok di sampingnya, menatapnya khawatir.


“Apa kau terluka?” Tanya Nawa kembali.


Anis menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih pucat pasi karna terkejut.


“Apa kau bisa berdiri?” Tanya Nawa lagi.


Anis berusaha untuk bangun namun kakinya terasa lemas sehingga ia tidak punya tenaga dan malah kembali terjatuh. Untung dengan cepat Nawa menangkap tubuhnya.


“Yoham.”


“Baik, Tuan.” Yoham segera mengerti apa yang di perintahkan oleh Nawa. Ia harus mencari tau kenapa pot itu bisa terjatuh. Dan sebuah kebetulan jika pot itu hampir mengenai Anis.


Yoham langsung pergi ke kantor keamanan apartemen untuk mengecek rekaman CCTV dan mencari tau. Sementara Nawa segera menggendong Anis dan membawanya pulang ke penthouse.


Sesampainya di penthouse, Nawa mendudukkan Anis di sofa ruang tamu kemudian beranjak dan mengambilkan Anis air minum. Setelah meminum air, tubuh Anis perlahan kembali kuat. Walaupun akspresi terkejut masih jelas nampak di wajahnya.


“Apa ada yang luka?”


Anis menggelengkan kepala. “Sepertinya tidak ada. Aku hanya terkejut. Kenapa pot itu bisa terjatuh?”


“Entahlah, Yoham masih mencari tau. Kita tunggu informasi darinya dulu.” Ujar Nawa yang tanpa sadar memperbaiki rambut Anis yang tergerai di wajahnya. “Apa kejadian seperti ini pernah terjadi?”


“Tidak. Memangnya kenapa?”


“Tidak apa. Aku hanya bertanya. Istirahatlah.”


Kenyataan bahwa tadi Anis sempat berusaha untuk masuk ke dalam ruang rahasia dan membuat Nawa marah, sudah teralihkan dengan rasa khawatir yang amat dalam yang meresapi hati pria itu. Perasaan itu semakin hari semakin kuat saja.


Berawal dari rasa balas budi karna Anis sudah menyelamatkan nyawanya, kini Nawa semakin mengkhawatirkan gadis itu setiap saat. Ia tau kalau ia tidak seharusnya merasakan seperti itu. Namun ia sendiri bahkan tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Sekuat apapun ia meyakinkan dirinya kalau Anis adalah suruhan Dianty, namun rasa benci itu perlahan semakin menghilang.


Namun untuk menjaga tujuannya, Nawa tidak menunjukkan perasaannya itu kepada Anis. Ia membiarkan gadis itu berfikir kalau ia hanya berpura-pura saja. Ia sendiri tidak menyukai hal ini, karna rencananya bisa saja hancur sewaktu-waktu.

__ADS_1


Yoham yang baru saja kembali dari ruang keamanan, langsung menghampiri Nawa dan melaporkan apa yang ia dapatkan. Ia menyerahkan potongan rekaman CCTV dari tangga lantai 4 yang merekam seorang pria yang dengan sengaja menjatuhkan pot tanaman itu. Dan pria itu tidak lain adalah sekretaris Bagas. Tentu saja sekretaris itu bertindak atas perintah dari Bagas.


“Siapa itu?” Tanya Anis yang memang tidak tau siapa pria itu.


“Sekretaris Barra.” Jawab Nawa lirih.


“Sekretaris barra? Kenapa dia ingin melukaiku?”


“Entahlah. Nanti aku akan mencari tau alasannya.”


Padahal setelah mendengar nama barra, Anis jadi tau kalau ancaman barra padanya ternyata tidak main-main. Pria itu sedang memperingatkannya tentang batas waktu.


“Aku ingin ke kamar.” Ujar Anis yang langsung bangun dan pergi ke kamar. Meninggalkan Nawa yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan tatapan pias.


“Cari dia.” Perintah Nawa kepada Yoham untuk mencari sekretaris itu dan memberinya pelajaran.


Sementara didalam kamar, Anis sedang mondar-mandir sambil menggigiti kuku jarinya. Ia sedang berfikir keras bagaimana ia bisa mengakali sidik jari Nawa untuk masuk ke dalam ruang rahasia. Saat ia tidak punya solusi, ia teringat kalau Dianty akan membantunya menemukan cara untuknya. Tapi sampai saat ini, wanita itu belum menghubunginya sama sekali.


Anis merasa kalau nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Dia hampir gila karna memikirkannya. Untuk sesaat dia menyesal karna sudah menerima tawaran itu.


“Kenapa belum tidur?” Suara Nawa yang entah kapan datangnya membuat Anis kembali terkejut. Ia bahkan sampai berjingkat dan merasa jantungnya hampir saja melompat dari dadanya.


“Kau mengejutkanku. Hhhah.” Ujar Anis sambil mengelus dadanya.


“Istirahatlah. Semua akan baik-baik saja.” Nawa berusaha meyakinkan agar Anis tidak perlu lagi merasa takut akan terluka.


Setelah mengatakan itu, Nawa pergi setelah menutup rapat pintu kamar. Ia pergi ke ruang kerjanya untuk mengirimkan informasi kepada Miss Z tentang siapa yang harus di waspadai dan siapa yang harus di lenyapkan.




Yuhuuu,, warga. udah hari senin aja yaa... cepet banget waktu berlalu. hari ini jatah pembagian vote yah. jangan lupa vote cerita ini buat dukung author agar leih semangat lagi nulisnya. kalau ada sisa poin, boleh lah di sumbangin di mari. punya mawar atau kursi pijat juga boleh. mayan buat mijat jariku yang udah mulai keriting... hehehehe.~~~~

__ADS_1


__ADS_2