Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 9. Bertandang Ke Markas Anoda.


__ADS_3

Nawa dan Yoham sedang berada di dalam mobil, di depan sebuah gedung perusahaan yang bergerak di bidang keamanan. Nawa memandangi gedung berlantai empat itu dengan seksama.


“Benarkah ini tempatnya?” Tanya Nawa kepada Yoham.


“Menurut alamat yang dikirimkan, ini benar tempatnya, Tuan.” Jelas Yoham. Nawa menghela nafas kemudian turun dari dalam mobil.


Di depan gedung, terdapat petugas keamanan, dan Nawa segera menghampiri petugas itu.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya petugas itu.


“Saya ingin menemui atasanmu.” Jelas Nawa.


“Tuan Nawa, selamat datang. Bos saya sudah menunggu kedatangan anda.” Sambut seorang pria muda yang terlihat sepantaran dengan Nawa. Pria itu tersenyum ramah kepada Nawa.


Nawa hanya mengernyit saja. Ia heran bagaimana pria itu tau namanya.


“Mari, silahkan ikut saya.” Ajak pria itu kemudian.


Nawa dan Yoham saling tatap, kemudian mereka mengikuti pria itu masuk ke dalam gedung.


Sesampainya di loby, pria itu menyuruh Nawa dan Yoham untuk mengeluarkan barang-barangnya. Dua orang menggeledah Nawa dan Yoham untuk mencari benda-benda yang membahayakan. Mereka bahkan mengambil ponsel Nawa dan Yoham. Pria itu tersenyum saat anak buahnya mendapati sebuah pistol yang di bawa oleh Nawa dan Yoham.


Nawa ceroboh, seharusnya ia tidak membawa senjata itu saat bertandang ke markas Anoda itu.


“Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Anda akan keluar dari sini hidup-hidup. Kalau kesepakatan berhasil tentu saja.” Ujar pria itu.


Tapi itu tidak membuat Nawa gentar. Ia tahu kalau Anoda bukanlah geng abal-abal yang akan menyakiti orang tanpa alasan yang jelas. Dan ia juga tau betapa besar konsekuensi saat ia memutuskan untuk datang kemari. Ia akan bertaruh kalau ia dan Yoham akan keluar dari sini hidup-hidup.


Setelah selesai menggeledah Nawa dan Yoham, pria itu kembali mengajak mereka untuk mengikutinya ke lantai atas dengan menggunakan tangga.


Nawa menurut dan hanya sesekali melirik kepada pria yang berjalan di hadapannya itu


Akhirnya mereka sampai di lantai empat dan berhenti di depan sebuah ruangan. Pria tadi mengetuk pintu ruangan dan memberitahu kedatangan Nawa. Suara berat yang terdengar dari dalam mempersilahkan mereka masuk.


“Silahkan masuk, Tuan.”


Didalam ruangan itu, nampak seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil merokok cerutu di sofa kebesarannya. Asap dari rokok itu mengepul memenuhi sebagian besar ruangan yang kurang pencahayaan itu. Menambah rasa pengap dan nafas sesak.


“Oh, silahkan duduk.” Ujar pria itu.

__ADS_1


Diakah pemimpin gengster terkenal itu? Di lihat dari wibawanya, sepertinya orang ini benar adalah pimpinan dari Anoda. Batin Nawa sambil mendudukkan diri di samping pria itu.


Sedangkan Yoham memilih berdiri di belakang Nawa dan pria yang menjemput mereka tadi berdiri di samping pimpinannya.


“Baiklah, tuan Nawa. Apa yang membawa anda sehingga anda ingin bertemu dengan saya?” Tanya pria paruh baya yang tetap menghisap rokoknya itu.


Perlahan, Nawa mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya kemudian meletakkannya ke atas meja. Itu adalah foto dari pisau yang menikam perutnya.


“Siapa pemilik pisau itu?” Tanya Nawa secara langsung.


Bos Anoda itu memperhatikan foto dengan seksama sambil mengernyitkan dahi.


“Entahlah, semua anggota kami mempunyai benda seperti ini. Memangnya kenapa?” Bos Anoda itu bersikap seolah tidak tau apa-apa. Berkali-kali ia melihat ke arah asistennya yang berdiri di sampingnya. Pria muda itu nampak melirik ke arah foto yang sedang di pegang oleh bosnya.


“Salah satu anak buahmu berusaha untuk melenyapkanku. Dan aku ingin tau kenapa.” Ujar Nawa dengan nada tegas. Perlahan ia mulai menunjukkan keberaniannya.


“Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Kau fikir ada berapa banyak anak buahku? Aku tidak bisa mengetahui perbuatan setiap orang dari mereka. Beberapa dari mereka ada yang bertindak tanpa memberitahuku.” Jelas bos Anoda.


Nawa yakin, tidak mungkin bos itu tidak tau tentang orang yang menikamnya.


“Anda tidak mungkin bilang kalau aku akan percaya dengan anda, kan?” Tanya Nawa lagi. Ia menekankan suaranya.


Pria itu nampak terkejut saat mendapatkan pertanyaan itu dari Nawa. Tapi kemudian ia bisa mengendalikan dirinya.


“Hahahahahahahahahahahahaha.” Asisten itu langsung tertawa dengan sangat kerasnya. Kemudian ia berjalan dan duduk di hadapan Nawa. Menyilangkan kakinya dan menatap Nawa dengan tatapan tajamnya.


“Anda fikir saya tidak akan tau siapa bosnya disini?” Ujar Nawa.


Sejak awal memang dia sudah curiga dengan pria muda itu. Ia tambah yakin setelah melihat gerak gerik si bos palsu itu yang berkali-kali melirik kepada asistennya. Maka dari itu dia menyimpulkan bahwa asisten itu adalah Gasuta, bos Anoda yang sebenarnya. Dan ternyata benar.


Gasuta hanya tersenyum saja. Tidak menyangka kalau ternyata dia tidak bisa membodohi Nawa seperti dia membodohi para kliennya selama ini.


“Menarik. Ternyata tidak semudah itu membodohi anda, tuan Arnawama Samudera.”


“Jadi, apa kita bisa mulai berbicara serius sekarang?”


“Baiklah.” Jawab Gasuta mengangguk.


“Jika anda benar-benar tidak tau tentang hal ini, bisa anda serahkan orang itu padaku?”

__ADS_1


“Hmmmmm. Entahlah. Berapa harga yang kau tawarkan untuk nyawanya?”


Nawa mengernyit. Seperti apa yang sudah ia duga kalau Anoda pasti akan bergerak jika itu berhubungan tentang uang.


“Yang jelas, aku bisa memberimu harga yang lebih tinggi dari orang yang menyewa anak buahmu.”


“Tapi itu akan sangat tinggi.”


“Tidak masalah berapapun itu. Sebutkan saja angkanya.”


Gasuta mencatat beberapa angka beserta nomor rekening ke atas sebuah kertas. Kemudian menyerahkannya kepada Nawa.


“Senang berbisnis dengan anda, tuan Nawa. Setelah uang itu di konfirmasi masuk, aku akan menghubungi anda waktu dan tempatnya.” Ujar Gasuta dengan meminta berjabat tangan dengan Nawa.


“Baiklah.” Nawa menyambut jabatan tangan itu. Ia lega karna berakhir dengan baik.


Sebenarnya Nawa bisa langsung mengirim uang itu sekarang juga, tapi ponselnya sedang di sita. Jadi dia hanya menyerahkan kertas itu kepada Yoham dan pamit untuk pergi dari sana dengan di ikuti oleh Yoham.


Setelah Nawa pergi, Gayuta meenghubungi seseorang di ruangannya.


“Aku sudah melakukan bagianku. Selebihnya terserah padamu. Berhati-hatilah.”


“Bagaimana anda bisa tau kalau pria tua itu bukan tuan Gayuta, Tuan?” Tanya Yoham yang sudah menahan rasa penasarannya sejak tadi.


Nawa tidak menghentikan langkahnya saat menuruni anak tangga. Ia hanya tersenyum simpul saja tanpa menjawab pertanyaan dari asistennya itu.


“Segera kirim uangnya setelah ini.” Perintah Nawa kemudian.


“Baik, Tuan.”


Dan setelah mereka masuk kedalam mobil, Yoham segera mengirim jumlah uang yang diminta Gasuta tadi ke nomor rekeningnya.


“Sudah, Tuan.” Ujar Yoham memberitahu.


Nawa hanya mengangguk saja kemudian memerintahkan Yoham untuk segera melajukan mobilnya pergi dari markas Anoda tersebut.


“Apa menurut anda, Gasuta akan menepati janjinya, Tuan?”


“Orang-orang seperti Gayuta itu punya peraturan tidak tertulis. Mereka tidak akan pernah menghianati orang yang sudah membayar mereka. Mereka tunduk sepenuhnya pada uang.”

__ADS_1


Ya, Nawa sangat yakin akan hal itu karna ia pernah berada di dunia yang sama dengan Gayuta.


__ADS_2