Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 29. Siapa Yang Akan Menang?


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Temaram cahaya sinar mentari pagi membuat kamar tidur utama penthose mewah milik Arnawama Samudera itu menjadi terang benderang. Anis menyipitkan matanya dan merenggangkan tubuhnya. Ia menoleh ke samping dan tidak mendapati Nawa di sana.


Dengan memaksakan matanya untuk terbuka, Anis melemparkan pandangannya ke sofa dimana nampak seonggok pria yang sedang terduduk sambil menatap tajam ke arahnya.


Nawa merentangkan ke dua tangannya di atas sandaran sofa dan terus memperhatikan Anis dengan tatapan tajamnya. Pria itu bahkan nampak tidak mengedipkan matanya.


“Apa? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Anis yang merasa nyawanya sedang terancam oleh tatapan tajam Nawa.


Anis memajukan tubuhnya untuk melihat Nawa lebih jelas. Dan benar saja kalau ada lingkaran hitam di sekitar mata pria itu.


“Ya ampun, apa kau begadang semalaman? Matamu sampai menghitam begitu.” Seloroh Anis sambil mengejek.


“Bisa diam tidak? Kau fikir karna siapa aku tidak bisa tidur semalaman?” Dengus Nawa.


Anis mengedip-ngedipkan matanya. Ia tidak merasa melakukan apapun tapi kenapa seolah Nawa sedang menuduhnya? Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bertanya kepada Nawa.


“Berterimakasihlah karna aku tidak melemparmu dari balkon.”


“Memangnya aku salah apa?” Tanya Anis dengan mata yang terbelalak. Merinding membayangkan jika ia benar-benar di lempar keluar balkon oleh Nawa saat sedang tidur pulas. Dan saat ia membuka mata, ternyata ia sudah berada di alam lain. Hiiiii.


“Salah apa? Kau bertanya salah apa? Kau tidur mendengkur seperti ba bi!” Nawa sudah berada di puncak geramnya.


“Mendengkur? Itu tidak mungkin. Aku tidak pernah mendengkur. Aku tidak merasa kalau aku mendengkur. Kau pasti salah dengar.” Anis membela dirinya sendiri. Enak saja ia di katai mendengkur seperti ba bi.


“Hah!” Nawa meringis tidak percaya dengan pembelaan Anis. “itu karna kau sangat lelap jadi kau tidak menyadari kalau tenggorokanmu berteriak.”


“Kalau kau terganggu kenapa tidak membangunkanku?” Anis masih berusaha untuk membela dirinya.

__ADS_1


“Sudah ku bilang kau tertidur seperti ba bi. Apa kau fikir kau tidak berusaha untuk membangunkanmu? Sudah! Hari ini aku sedang kesal, lelah, dan aku sangat mengantuk. Padahal aku harus pergi bekerja.” Dengus Nawa sambil bangkit dari sofa dan hendak pergi ke kamar mandi.


Anis hanya bisa menundukkan kepala saja dengan seluruh rasa malu yang bercampur rasa takut. Benarkah ia tertidur selelap itu semalam sampai tidak menyadari kalau ia mendengkur?


“Dan, hari ini kau bebas pergi ke manapun asal jangan muncul di hadapanku.” Imbuh Nawa.


“Hah? Apa?”


“Jangan senang dulu, itu karna aku sedang kesal. Bukan karna aku perhatian denganmu dan memberimu waktu untuk bertemu dengan teman-temanmu.”


“Memangnya aku ada bilang apa?” Gumam Anis. Ia mencibiri punggung Nawa yang sudah menghilang di balik pintu. Namun ia kembali sumringah karna mendapatkan ‘hari libur’ dari Nawa. Kebetulan kemarin ia sudah berjanji kepada May untuk menghabiskan waktu bersama.


“Yesss.!”


Di kamar mandi, Nawa sedang memandangi kebodohan yang jelas terpampang di wajahnya. Ia menggerutui bayangannya sendiri di cermin wahstafel. Padahal ia tidak perlu mengatakan kalimat terakhir itu pada Anis.


Kemarin malam, Nawa mendengar sedikit percakapan Anis dengan temannya di telfon. Jadi ia berinisiatif untu memberikan waktu kepada Anis agar ia bisa menghibur diri dengan bertemu dengan teman-temannya.


Nawa sudah selesai mandi dan telah keluar dari sana dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Sebelah tangannya sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya. Ia sudah tidak melihat Anis di dalam kamar. Namun ia bisa melihat kalau pintu kamar sudah terbuka lebar yang menandakan kalau gadis itu pasti sudah keluar dari kamar.


Setelah berpakaian, Nawa keluar dan turun ke bawah. Ia mendapati Anis yang sedang bingung menatap ke dalam lemari pendingin yang terbuka.


“Kau sedang apa?” Tanya yang sambil mengenakan jasnya.


“Ha? Tidak, aku ingin memasak sesuatu untukmu, tapi bahan-bahan ini terlalu asing dan aku tidak tau cara memasaknya.”


kenapa dia perhatian padaku padahal aku sudah mencekiknya?


“Tidak perlu membuatkanku sarapan. Aku sudah terlambat pergi ke kantor. Kau bisa sarapan di restoran di lantai satu.” Penjelasan singkat dari Nawa sebelum pria itu melesat pergi meninggalkan Anis yang ternganga di depan pintu lemari pendingin yang terbuka.

__ADS_1


Perasaan bersalah dan kasihan karna semalam Nawa tidak bisa tidur karna dirinya, ditambah pria itu tidak sarapan sebelum pergi ke kantor, membuat Anis serba salah. Jadi ia mendapat ide cemerlang untuk membuatkan bekal dan akan mengantarkannya ke kantor Nawa. Ia harus  menebus kesalahannya semalam.


Sebelum itu ia sudah mengirimkan pesan kepada May kalau nanti siang ia akan datang ke rumah temannya itu dan mereka akan bersenang-senang seharian.


Dari semua bahan-bahan mewah yang ada di dalam lemari pendingin, Anis memilih bahan-bahan yang ia tahu saja dan mengolahnya menjadi makanan. Dengan penuh percaya diri ia mengemas makanan itu dengan sangat apik. Dan sekitar jam sebelas siang ia sudah pergi meninggalkan penthouse untuk menuju ke kantor Nawa.


Sesampainya di depan apartemen, Anis menghentikan sebuah taksi dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke SJ Tower.


Di perjalanan, Anis memeriksa pesan yang ia kirimkan kepada May, pesan itu sudah terbaca dan membuat Anis tersenyum senang walaupun May tidak membalas pesannya.


“Nona, sudah sampai.” Sopir taksi memberitahu kepada Anis kalau mereka sudah sampai di depan gedung SJ Tower.


Setelah membayar ongkosnya, Anis segera keluar dengan menenteng bekal di tangannya. Itu semua ia lakukan demi menebus kesalahannya. Strateginya adalah untuk menarik perhatian Nawa agar ia lebih mudah mendekati pria itu. Ia tidak peduli jika pria itu sudah mencekiknya atau apa, yang jelas ia harus segera mendapatkan informasi yang berguna agar kontraknya dengan Dianty segera berakhir.


“Permisi, bolehkah saya bertemu dengan tuan Nawa?” Tanya Anis pada salah satu resepsionis.


“Maaf, Nona. Apa anda sudah membuat janji dengan tuan Nawa?”


“Ehm,, belum.” Anis menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawabannya.


“Maaf, Nona. Tapi anda harus membuat janji lebih dulu dengan tuan Nawa.”


“Tapi saya hanya ingin mengantarkan ini saja.” Tegas Anis.


“Maaf. Kalau anda mau, anda bisa menitipkannya di sini, nanti kami yang akan membantu memberikannya kepada tuan Nawa.”


“Tidak mau. Saya harus mengantarkan dan memberikannya sendiri padanya.”


Resepsionis menangkap adanya sinyal ‘bahaya’ dari gadis itu. Salah satu dari mereka diam-diam memanggil petugas keamanan.

__ADS_1


Dua petugas kemanan datang dan langsung menghampiri Anis. “Maaf, Nona. Tapi anda harus pergi dari sini. Anda mengganggu pengunjung yang lain.” Ujar salah satu petugas. Mereka menggandeng ke dua lengan Anis untuk menuntunnya keluar dari loby. Jadilah Anis malah berteriak karna salah satu dari petugas itu mencengkeramnya terlalu kuat hingga menyakitinya.


“Apa yang kalian lakukan?!! Lepaskan dia!!!!”


__ADS_2