
Sebelum melanjutkan pemakaman tuan Nakamura, Nawa mengajak Anis untuk sarapan bersama dengan anggota inti organisasi. Anis memakan sarapannya dengan lahap. Tidak peduli beberapa orang melihat lucu ke arahnya. Apalagi, beberapa kali Nawa menyuapkan makanan kepada istrinya itu.
Melihat sisi melankolis Nawa pagi ini, sangat berbeda dengan sisi iblis yang di keluarkan Nawa semalam.
“Anis, semalam kau kemana? Aku terbangun dan tidak melihatmu di kamar.” Suara Nozomi memecah keheningan pagi itu.
Anis yang mendapat tatapan dari seluruh orang nampak grogi.
“Aku, aku keluar untuk mencari udara segar. Karna aku tidak bisa tidur.”
“Benarkah? Kenapa lama sekali kau di luar?”
“Aku berkeliling. Sekalian untuk melihat-lihat.”
Mendapat jawaban itu, Nozomi melirik kepada Nawa yang tengah melihatnya tidak suka. Ia tidak suka Nozomi seperti sedang memojokkan Anis.
“Ooh. Begitukah?”
Dan benar saja. Selesai sarapan pagi, saat mereka semua berjalan menuju ke aula pemakaman, Nawa mensejajarkan langkahnya dengan Nozomi. Ia berniat memprotes sikap gadis itu.
“Kenapa kau melakukan itu?”
“Istrimu berbohong.” Jujur Nozomi.
“Apa maksudmu?”
“Dia tidak berkeliling di dalam mension. Tapi dia keluar dari mansion dengan menyewa sebuah taksi. Aku mengikutinya tapi aku kehilangan dia. Nawa, istrimu mencurigakan.”
Nawa menghela nafas perlahan. Ia memandangi Anis yang berjalan selang dua orang di depannya.
Mendengar kata dari Nozomi, ia jadi memicing curiga kepada istrinya itu. Namun ia segera menepis kecurigaannya itu. Ia sudah berjanji untuk tidak lagi menaruh curiga kepada Anis. Ia sudah memutuskan untuk mempercayai gadis itu.
“Jangan lakukan apapun. Aku akan mengurus masalahku sendiri.” Desis Nawa penuh penekanan.
Nozomi hanya bisa mengerutkan kening melihat sikap lunak Nawa. Sungguh, ia menaruh curiga kepada Anis.
Nawa kembali mensejajarkan langkah dengan Anis. Ia melirik menatapi wajah Anis dari samping. Berusaha mengusir kecurigaan yang kembali muncul di hatinya.
Untuk terakhir kalinya, Nawa ingin melihat wajah tuan Nakamura. Dengan perintahnya, peti mati di buka, Nawa memuaskan memorinya dengan wajah mendiang ayah angkatnya itu. Ia membuka gulungan saputangan yang sejak tadi ia pegang.
__ADS_1
Di dalam gulungan itu, terdapat pisau yang semalam ia gunakan untuk menyiksa orang yang telah membunuh tuan Nakamura. Ia meletakkan sapu tangan beserta pisaunya di dalam peti, di samping tubuh tuan Nakamura.
“Selamat jalan ayah. Aku sudah mengirim teman untuk ayah.” Lirih Nawa.
Karna ucapan Nawa itu, menimbulkan suasana kesedihan yang kembali muncul.
Pemakaman tuan Nakamura di lakukan sehabis siang. Nawa ikut mengantarkan ayah angkatnya itu ke peristirahatan yang terakhir. Abu tuan Nakamura di simpan disebuah rumah memorial paling terkenal di kota.
Saat semua orang sudah pergi dari pemakaman, Nawa tinggal disana dengan di temani oleh Anis. Gadis itu terus memperhatikan Nawa yang tanpa berkedip memandangi guci berisi abu tuan Nakamura.
Setelah merasa puas , barulah Nawa mengajak Anis untuk pergi.
“Apa kita akan kembali hari ini?” Tanya Anis di sela langkah kaki mereka.
“Tidak, aku harus mengurus beberapa hal dulu.”
“Ooh.”
“Apa kau tidak betah berada disini?”
“Tidak, bukan itu.”
“Mana bisa begitu. Kau baru saja berduka. Mana bisa aku menganggap kita sedang berbulan madu.”
“Hehehehe.” Nawa terkekeh kecil sambil mengusap kepala Anis. “Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
“Entahlah. Kau boleh memilihkan satu untukku. Aku akan ikut.”
“Baiklah. Setelah urusanku selesai, aku akan mengajakmmu jalan-jalan malam ini.”
Anis merasa takjub kepada pria itu. Entah kenapa ia merasa kalau aura Nawa lebih terasa saat ada disini. Terlebih, disini Nawa sangat di hormati. Hal yang tidak ia lihat saat di Indonesia.
Sesampainya di mansion, Nawa segera mengumpulkan saudara-saudara angkatnya. Ia ingin membahas perihal warisan dan juga yayasan peninggalan tuan Nakamura.
Bersama dengan seorang pengacara, mereka berkumpul dalam satu ruangan. Pengacara itu kemudian menulis apapun yang di perintahkan oleh Nawa.
Aku tidak akan meminta bagian dari harta warisan ayah. Itu semua, akan aku bagi rata untuk kalian. Begitu juga dengan yayasan. Kalian akan mengelolanya bersama.”
“Kenapa begitu? Lantas bagaimana denganmu?”
__ADS_1
“Aku tidak membutuhkannya. Lagipula aku tidak akan punya waktu untuk mengurusinya.”
Dan lagi, tidak ada yang memprotes keputusan Nawa itu.
“Heiji, aku harus memintamu untuk menjaga seluruh keluarga kita disini. Karna aku tidak mungkin bisa sering-sering datang kemari. Satu hal yang aku minta. Jangan sampai aku mendengar kabar, kalau kalian saling menghianati. Atau aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri.” Ancam Nawa kemudian.
Selebihnya, ia menyerahkan kepada pengacara tentang legal pengesahan kesepakatan itu. Agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Pertemuan itu berlangsung cukup lama. Membuat Anis merasa sendiri dan tidak punya teman. Jadi, ia memutuskan untuk berkeliling mansion yang memang sangat luas itu. Dan tentu saja, Anis tidak lepas dari penjagaan anak buah Nawa yang menjemput mereka di bandara kemarin.
Anis duduk di sebuah bangku taman. Memandangi hamparan rumput taman yang membentang di sepanjang mata memandang.
Seorang pelayan datang membawakan nampan minuman dan camilan untuk Anis. Meletakkannya di atas meja dan mempersilahkan Anis dalam bahasa jepang. Anis hanya mengangguk sebagai tanda terimakasihnya.
Anis meneguk teh yang sangat nikmat itu. Ini pertama kalinya ia meminum teh seenak itu.
Uh. Rasanya bosan sekali tanpa ada Nawa di sampingnya. Ia sampai merebahkan kepalanya di atas meja dengan berbantalkan lengan. Hari sudah sangat sore. Dan Nawa belum selesai mengurusi urusannya.
“Hhuuuffhh.” Desah Anis. Ia benar-benar bosan.
Cup.
Anis terhenyak saat tiba-tiba ada yang mengecup pipinya dari belakang. Sontak ia langsung bangun dan menoleh. Di sampingnya, Nawa terkekeh melihat wajah Anis yang merona akibat ulahnya. Pria itu kemudian berjalan memutar dan duduk di depan Anis. Gadis itu sumringah melihat Nawa ada di hadapannya.
“Apa kau sebosan itu?”
Anis langsung menganggukkan kepalanya.
“Heheheheh. Baiklah. Ayo kita keluar.”
Dengan segera Anis mengikuti Nawa. Ia bahkan bergelayut di lengan Nawa dengan manja. Terus mengembangkan senyum bahagia.
Kapan lagi bisa jalan-jalan di Jepang, ya kan? Jadi, Anis akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
Nawa mengemudikan mobil sendiri tanpa supir. Karna ia ingin menghabiskan waktu berdua bersama dengan istrinya itu. Sebelum mencapai tempat tujuan, Nawa mengajak Anis berkeliling dengan menggunakan mobil. Kemudian mampir di sebuah restoran untuk makan malam romantis.
Nawa benar-benar berniat untuk menjadikan perjalanan mereka kali ini menyenangkan. Walaupun ia habis berduka, tapi hidup tetap harus berjalan, kan?
Selesai makan malam, Nawa mengajak Anis pergi ke Tokyo Tower. Mereka naik ke atas. Di lantai observasi.
__ADS_1
Pemandangan malam kota Tokyo sangat menakjubkan. Apalagi, Nawa tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Anis. Mereka benar-benar menikmati momen ini.