Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 49. Perasaan Itu Adalah Kelemahan.


__ADS_3

Tubuh Anis masih lemas. Bahkan saat mereka sudah sampai di gedung apartemen, Anis masih nampak lemah.


Nawa membopong tubuh Anis sampai ke griya tawang. Ia membaringkannya di ranjang kemudian menyelimuti tubuh Anis yang menggigil.


“Terimakasih sudah datang.”


“Apa yang terjadi?” Tanya Nawa. Ia duduk di tepian ranjang dan membenahi rambut Anis.


“Aku tidak tau. Aku bertemu dengan ibu dan Bagas. Ibu sepertinya sangat marah padaku. Dia bahkan tega menyuruh anak buahnya untuk menyerangku.”


“Lantas?”


“Lampu padam, dan aku tidak bisa melihat apapun. Aku hanya bisa mendengar teriakan dari pria-pria itu. Entah apa yang terjadi, aku terlalu takut untuk mendengarkan lebih lanjut. Sampai akhirnya kau datang.”


“Maafkan kau. Seharusnya aku tidak membiarkanmu pergi sendiri.” Lirih Nawa. Tatapannya pias menatap Anis.


“Sekarang, istirahatlah.”


Nawa membiarkan Anis untuk beristirahat. Sementara ia menemani sampai gadis itu tertidur. Setelah memastikan Anis sudah terlelap, Nawa keluar dan pergi ke ruang kerjanya.


Disana, sudah ada Yoham yang sedang menunggunya. Pria itu langsung berdiri saat Nawa masuk ke sana.


“Bagaimana keadaan nona Anis, Tuan?”


“Sepertinya dia sangat ketakutan.” Jawab Nawa yang kemudian duduk di kursinya.


“Apa yang akan anda lakukan?”


“Aku sudah yakin kalau Anis ada di pihak kita. Jadi, sekarang saatnya aku mendeklarasikan perang terbuka dengan mereka. Aku akan memberi Bagas pelajaran. Kalau perlu, aku akan menghabisinya.” Geram Nawa.


“Tapi persiapan kita belum cukup, Tuan. Kita belum mempunyai cukup bukti. Dan, masalah rapat diresi yang akan datang, sepertinya akan sulit membuat anda menang.”


“Aku masih belum akan berurusan dengan Dianty. Tapi dengan Bagas dan barra. Mereka adalah kaki dan tangan Dianty, jadi aku harus meotongnya terlebih dahulu.”


“Kalau anda melakukan itu, Dianty tidak akan tinggal diam, Tuan. Itu sama saja dengan memprovokasi dia.”


“Kan aku sudah bilang, kalau aku akan memulai perang ini. Jadi aku akan habis-habisan. Aku sudah punya rencana.”


Entah kenapa, Nawa teringat dengan tawaran Suta. Ia yakin, kalau Suta menawarinya bantuan, Anoda pasti punya kartu yang bagus untuk melemahkan Dianty.


“Lalu, bagaimana dengan nona Anis? Dia akan terus berada dalam bahaya.”


“Aku tau. Karna itulah aku akan meminta bantuan dari Miss Z kembali untuk mengawasinya.”


Nawa berkata sambil membuka laptopnya. Ia mengirimkan pesan kepada Miss Z.


‘Terimakasih sudah membantuku.’

__ADS_1


‘Tidak perlu. Aku hanya bekerja karna uang. Kau membayarku untuk melindunginya, jadi sudah ku lakukan.’


‘Aku ingin kau terus melindunginya.’


‘Siapkan saja uangnya.’


Hubungan itu terputus saat Miss Z sudah tidak terhubung ke internet. Sementara Nawa menutup laptopnya.


“Tuan, maaf kalau saya lancang. Ini tentang nona Anis. Apa anda menyukainya?”


Pertanyaan Yoham itu membuat Nawa langsung melihat ke arahnya.


“Kenapa? Tidak boleh?”


“Bukan begitu. Memiliki orang yang anda sayangi, akan membuat posisi anda jauh semakin sulit. Anda harus bertarung sambil melindunginya.”


“aku tau.”


Nawa terdiam. Ia sudah yakin dengan perasaannya kepada Anis.


Awalnya dia hanya ingin mengerjai Anis dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Siapa sangka kalau dialah yang akhirnya malah jatuh cinta kepada gadis itu.


Berawal dari rasa terimakasih karna Anis telah menolongnya waktu itu, membuat hati Nawa perlahan melunak dan meyakini kalau Anis adalah gadis yang baik.


Hanya saja, perjalanan pertemuan mereka yang ketiga sangat tidak terduga. Nawa sama sekali tidak menyangka kalau Anis bekerja untuk Dianty. Hal itu sempat membuatnya marah dan ragu. Tapi sekarang, Nawa sudah menyadari perasaannya.


Seperti yang Yoham bilang, ia harus bertarung dengan Dianty sambil melindungi Anis. Ia tau kalau ini bukan hal yang mudah. Karna itu, dia berencana untuk menggunakan kekuatan Anoda yang sudah menawarkan bantuan padanya.


Sepertinya, dia sudah tidak bisa lagi mengikuti permainan Dianty. Lakon yang seharusnya ia habisi, justru mengharuskannya melindunginya. Sepertinya, Nawa harus menciptakan permainannya sendiri.


“Yoham, kau kembalilah. Aku harus istirahat.” Perintahnya kemudian kepada Yoham. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan naik ke kamarnya.


Dengan perlahan Nawa membuka pintu kamar. Ia melihat kalau Anis masih di posisinya semula. Kemudian ia berjalan ke sisi ranjang dan duduk di sana. Menenggelamkan dirinya dalam selimut yang sama dengan Anis.


Nawa memandangi punggung Anis yang memunggunginya. Ada keinginan untuk memeluk tubuh gadis itu tapi ia urungkan. Ia masih merasa kasihan saat mengingat wajah pucat Anis tadi.


“Kau sudah kembali?” Lirihan Anis mengejutkan Nawa. Ternyata gadis itu sudah terbangun.


“Em. Kenapa kau bangun?”


Anis membalikkan tubuhnya. dan kini, mereka saling berhadapan dan saling tatap dengan pias.


“Suara tembakan itu masih jelas terdengar di telingaku.”


“Jangan di fikirkan. Sekarang tidurlah lagi. Jangan takut aku ada disini.” Ujar Nawa kembali. Ia mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas telinga Anis.


“Nawa?”

__ADS_1


“Hem?”


“Terimakasih sudah mempercayaiku.”


“Dan terimakasih sudah membolehkan aku menyukaimu.”


“Kapan aku memperbolehkanmu?”


Nawa hanya tersenyum. Jempol tangannya mengusap-usap wajah Anis lembut.


“Ibumu, apa dia memang semenakutkan itu?”


“Itu belum seberapa. Dia wanita yang sangat kejam.”


“Apa kau bisa mengalahkannya?”


Pertanyaan itu membuat Nawa terdiam.


“Aku harus mengalahkannya kalau ingin melindungi orang-orang yang kusayangi. Aku harus merebut perusahaan ayahku kembali.”


“Aku akan membantumu.”


“Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri.”


“Tapi,,,”


“Sssst. Tidurlah.” Nawa menarik tubuh Anis untuk mendekat padanya. Gadis itu melabuhkan kepalanya di lengan Nawa dan mulai menjemput mimpi kembali.


Dada Anis berdetak dengan sangat kencang. Dekapan Nawa sangat hangat. Kehangatannya mengaliri setiap pembuluh darah di tubuhnya. Ia sudah tidak merasakan aura menakutkan yang terpancar dari pria itu dulu.


“Sejak kapan kau menyukaiku?”


“Sejak pertemuan kedua kita?”


“Pertemuan kedua?”


“Sudah, aku tidak ingin menjelaskannya.”


Yang di maksud oleh Nawa adalah saat Nawa bertemu Anis di jalan saat terjadi kecelakaan waktu itu. Sejak itu, Nawa sudah merasa tertarik dengan Anis. Hanya saja, ia dipaksa untuk membenci gadis itu karna dia bekerja untuk Dianty.


“Kalau begini, bukankah aku akan menjadi kelemahanmu?”


“Itulah. Padahal, aku ingin membuatmu sebagai kelemahan Dianty, tapi kenapa kau malah jadi kelemahanku? Ya ampun.”


Anis mengangkat wajahnya dan menatap Nawa. Ia bisa mengerti situasinya sekarang.


“Aku akan melindungimu.”

__ADS_1


Nawa mendaratkan kecupan di kening Anis. Kemudian turun di hidung, dan terakhir melandai di bibir ranum Anis. Mereka saling berpagutan dalam diam. Sesekali menarik nafas saat udara sudah mulai menipis.


Selebihnya, Anis terlelap dalam dekapan hangat tubuh Nawa. Menggapai mimpi yang membuatnya terus tersenyum di alam bawah sadarnya. Sementara Nawa, ia ikut terpejam dengan menenggelamkan wajahnya di kepala Anis. Ia ikut tertidur lelap.


__ADS_2