
Aura ketidak percayaan memenuhi rongga dada Anis. Ia tidak menyangka jika Dianty ternyata tidak mempercayainya sama sekali dan malah meletakkan sebuah perekam di kalung itu. Ada sedikit rasa kecewa karna Dianty menyepelekan dirinya.
“Jadi itu perekam?” Tanya Anis sambil menatap tajam kepada Dianty. Seketika rasa hormatnya menghilang entah kemana.
“Kau apakan kalung ini sampai tidak bisa merekam apapun?” Tanya Dianty mengacuhkan pertanyaan Anis.
“Jadi sejak awal, anda tidak pernah mempercayaiku?”
“Kau tidak dengar apa yang ku katakan?” Tekan Dianty.
“Kalung itu pernah terjatuh dan terinjak. Jadi anda benar-benar tidak mempercayaiku.”
“Tentu saja. Aku tidak pernah mempercayai orang yang bahkan aku tidak tau asal usulnya seperti apa. Kalung ini adalah ujian. Aku sedang mengujimu untuk melihat apakah kau bisa di percaya atau tidak.” Jawab Dianty.
Anis menjadi gugup. Namun ia berhasil menguasai dirinya kembali.
“Aku bahkan hampir mati di tangan putramu namun kamu bilang kau tidak bisa mempercayaiku? Trik macam apa ini?”
“Kau hampir mati? Kenapa?” Dianty malah menyelidik.
“Karna kau memerintahkanku untuk terus mengawasinya. Tanpa tau kalau aku bisa saja kehilangan nyawaku.”
Anis berhasil mendominasi keadaan dan menekan rasa was-wasnya. Ia terus menuntut Dianty untuk mempercayainya.
“Aku akan mundur jika kau tidak bisa mempercayaiku. Aku tidak bisa menggantungkan nyawaku pada orang yang bahkan tidak bisa percaya padaku. Aku akan memberitahu Nawa semuanya.” Desak Anis lagi. Ia mengancam Dianty sambil bangkit dari duduknya.
“Anis!” Pekik Dianty segera.
Tapi Anis tidak menggubris. Ia sudah menguasai permainan dan ia ingin Dianty memohon padanya. Ini adalah sebuah taruhan. Walaupun ada 50% kemungkinan Dianty akan mengabaikannya dan tidak melanjutkan kontrak kerja sama mereka, tapi ia akan bertaruh pada 50% kemungkinan kalau Dianty masih membutuhkan andilnya.
“Tunggu!” Panggil Dianty saat Anis sudah memegang handle pintu. “Aku akan menambah bayaranmu tiga kali lipat lagi.” Dianty sangat tau apa yang bisa menghentikan seorang Anis.
__ADS_1
Anis membalikkan badan dan tidak jadi membuka pintu. Ia tersenyum akan kemenangannya.
“Baiklah, aku minta maaf karna tidak mempercayaimu. Tapi aku masih membutuhkanmu.” Mohon Dianty.
Anis menatap tajam kepada Dianty. Ia ingin menunjukkan kepada wanita itu kalau dirinya bukanlah gadis yang bisa di intimidasi sesuka hati hanya karna dia bekerja untuknya.
“Jadi, apa kita bisa melanjutkan kerja sama ini?” Pancing Dianty. Jujur, ia tidak bisa lagi menemukan orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan itu. Lagipula Nawa sudah menikahi Anis, dan itu berarti rencana Dianty sudah setengah jalan. Ia tidak mau jika harus mengulangi rencana itu dari awal lagi kalau ia mencari orang baru. Itu akan sangat sulit. Dan juga akan berbahaya jika Anis benar-benar memberitahu Nawa semua rencananya.
Anis kembali berjalan kemudian duduk di tempatnya semula. Ia terus menatap Dianty seolah ia sedang berfikir.
“Tapi dengan syarat, aku akan melakukan ini dengan caraku dan jangan menggangguku. Aku tidak butuh perekam, penyadap atau apapun itu. Kau hanya perlu percaya padaku dan kau akan menerima informasi yang kau butuhkan. Setuju?”
Sebenarnya dalam hati Anis, ia merasa takut dan was-was kalau Dianty benar-benar akan mengakhiri kerja sama mereka. Tapi sekarang ia bisa bernafas lega karna ternyata ia menang atas taruhannya sendiri.
Mendengar syarat dari Anis, Dianty mengernyitkan keningnya. Dalam hati ia masih ragu dan belum bisa mempercayai Anis seutuhnya. Tapi daripada rencananya gagal, jadi ia memutuskan untuk mempercayai gadis itu saja.
“Baiklah. Kita lakukan dengan caramu.” Dianty mengalah.
Setelah Anis keluar dari ruangan itu, Dianty memerintahkan aistennya untuk mencari informasi tentang Anis. Perasaannya tidak enak saat melihat sikap Anis yang tegas dan mengintimidasi tadi. Ia ingin tau latar belakang dan kehidupan Anis lebih jauh lagi sebelum memutuskan ia benar-benar percaya kepada gadis itu atau tidak. Entah kenapa ia punya firasat buruk saat melihat sorot mata Anis yang tajam.
Anis mencari tempat yang sepi untuk mengangkat telfon dari May. Tidak jauh dari ruang kerja Dianty, ia bisa melihat sebuah taman mini yang ada di ujung koridor. Jadi ia segera berjalan kesana.
“Halo, May?” Sapa Anis.
“Hei! Dasar nakal! Bisa-bisanya kau tidak memberitahuku kalau kau sudah menikah dan tidak bekerja di club lagi?! Aku ingin menjambak rambutmu, Nis.” Gerutu May yang sedang merasa di khianati.
“Hahahaha, maaf. Tapi bagaimana kau bisa tau?”
“Aku bertanya kepada nyonya Tahara. Dia yang memberitahuku kalau kau sudah menikah dan tidak bekerja di sini lagi. Aku merindukanmu, Anis.”
“Aku juga. Baiklah, lusa aku akan mampir ke club dan kita akan menghabiskan waktu seharian untuk mencuci mata.”
__ADS_1
“Oooooooo. Seperti yang ku duga. Baiklah. Kau harus menepati janji.”
“Apa kau sedang ada di klub ARA?”
“Hem, aku baru saja datang. Tapi ada pria gila yang membuatku sebal.”
“Pria gila? Siapa?”
“Siapa lagi? Anak kesayangan si bapak menteri, Rendra.”
“Apa? Dia masih berani datang setelah aku memelintir lengannya? Astaga.” Geram Anis.
“Dia bahkan terang-terangan mencarimu. Ia mananyakanmu kepadaku dan teman-teman yang lain. Bahkan kepada nyonya Tahara. Katanya dia akan selalu membuat kekacauan di sini kalau kami tidak memberitahu keberadaanmu. Dia bahkan mengancam kalau dia akan membuat club ARA tutup permanen.”
“Dasar gila. Aku ingin mencakar wajahnya.” Dengus Anis.
“Siapa yang ingin kau cakar? Aku?” Suara Nawa mengejutkan Anis. Ia langsung menoleh kepada Nawa yang ternyata sudah berada di belakangnya. Pria itu selalu seperti itu. Datang diam-diam dan sudah berdiri di belakang Anis tanpa bersuara.
“Siapa itu, Nis? Apa itu suamimu?” Tanya May penasaran.
“May, nanti aku akan menghubungimu kembali. Daaa.” Anis segera menutup sambungan telfonnya dan memasukkan ponsel ke sakunya.
“Kau ini hobi sekali mengejutkanku. Tidak bisakah kau datang dengan tidak mengendap-endap begitu?” Ujar Anis sebal.
“Bukan aku yang mengendap-endap, tapi kau yang lengah. Perhatianmu hanya tertuju untuk satu hal saja. Siapa yang menelfonmu? Kekasihmu?” Tanya Nawa sambil ikut duduk di samping Anis.
“Kenapa kau ingin tau? Bukan urusanmu.” Dengus Anis yang sudah terlanjur kesal.
Nawa menoleh dan menatap tajam kepada gadis itu. Ia tidak suka di acuhkan. Ia ingin menarik telinga Anis namun sesuatu menghentikannya.
Cahaya temaram dari lampu taman yang berpendar mengenai wajah Anis. Dan entah mengapa itu membuat pandangan Nawa menjadi silap. Wajah gadis yang duduk di sampingnya itu terlihat sangat manis dan menggetarkan sanubarinya. Apalagi saat di lihat dari samping, hidung mancung dengan garis wajah yang tegas, membuat Nawa perlahan menelan salivanya. Perputaran waktu seolah melambat. Ia melihat tangan gadis yang pernah berlumuran darahnya itu dengan pias.
__ADS_1
mataku pasti sudah rabun!