
“Dasar perempuan gila.” Hardiknya kemudian.
Adijan yang mendapat telfon itu langsung tancap gas bersama dengan anak buahnya. Melacak ponsel yang di gunakan oleh Anis. Kemudian berpencar untuk mencari Suta.
Anis meringkuk memeluk lututnya di sebuah kamar mandi umum. Di dekat rumah pemilik ponsel tadi. Lima menit kemudian, ia mendengar suara gaduh dari luar. Ia mengenali suara Adijan. Kemudian ia melongokkan kepalanya dan langsung berlari menghampiri pria paruh baya itu.
“Paman!” Teriaknya.
Adijan menoleh ke sumber suara. Dan ia segera menghampiri Anis.
“Dimana Suta?”
“Disana.” Tunjuk Anis ke arah Suta pergi.
Segera mereka menghambur ke arah yang di tunjuk oleh Anis. Beberapa saat mencari, mereka menemukan Suta sudah terkapar tak sadarkan diri dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sendirian. Orang-orang yang mengejarnya sudah tidak terlihat batang hidungnya lagi.
Suta segera di bawa ke rumah sakit. Untungnya Suta masih bisa di selamatkan. Walaupun kaki Suta di gips. Tulang rusuk patah 2. Wajahnya di perban sana sini. Dan Anis setia menunggui Suta di ruang perawatan.
Hari ke dua di rumah sakit, Anis masih belum mengetahui apa yang terjadi. Ia hanya terus menatapi bingkai foto ayahnya. Satu-satunya benda yang bisa ia selamatkan sebelum rumahnya di bumi hanguskan oleh orang yang entah siapa itu, Anis tidak tau.
Membayangkan kobaran api yang menghanguskan rumahnya, membuat dada Anis bergemuruh. Ia mencengkeram erat-erat fotonya bersama ayahnya itu di dada. Duduk sendirian di kursi besi di depan ruangan Suta.
Langkah kaki berderap mendekatinya. Itu adalah Adijan. Pria itu lantas duduk di sebelah Anis. Mengelus punggung Anis untuk sedikit memberikan kekuatannya.
Sampai detik ini, Anis bahkan tidak bisa mengeluarkan airmatanya. Tapi, setelah mendapatkan elusan di pundaknya dari Adijan, seketika airmata Anis tumpah ruah. Mengaliri pipinya yang merona. Adijan hanya membiarkannya saja Anis menghabiskan kesedihannya.
Setelah beberapa saat, Anis mulai bisa menenangkan diri. Ia mengusap bekas airmata dengan punggung tangan. Kemudian menoleh kepada Adijan yang masih duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi, Paman?” Lirih Anis. Sungguh, ia ingin tau hal yang sebenarnya. Ia ingin tau alasan nyawanya hampir saja melayang sia-sia.
“Aku juga masih menyelidikinya. Tapi, Anis. Ayahmu menghilang tanpa jejak. Aku tidak bisa menemukannya.”
“Bukankah Ayah sedang bekerja?”
“Kemarin pagi, Jaya Karsa di temukan tewas dalam kecelakaan mobil di jalan tol. Polisi menemukan jejak darah ayahmu tapi tidak menemukan mayatnya. Dari berbagai informasi, polisi akhirnya menyimpulkan kalau ayahmu telah meninggal dunia. Mereka masih melakukan pencarian jenazahnya.”
Tubuh Anis melemas. Lututnya nyeri. Jantungnya terasa seperti di hujam oleh puluhan belati. Bagaimana tidak, ia mendengar satu-satunya naggota keluarganya meninggal dalam keadaan yang tidak jelas. Mereka bahkan tidak bisa menemukan mayatnya.
Fikiran Anis sudah melalang buana kemana-mana. Ia tidak lagi memikirkan nasib sekolahnya. Yang ia fikirkan sekarang adalah, bagaimana ia akan hidup tanpa ayahnya? Sebuah harapan besar untuk keselamatan ayahnya terus saja ia kumandangkan dalam hati. Semoga ayahnya masih dapat di temukan dalam keadaan hidup.
Butuh satu bulan untuk masa pemulihan Suta, dan Anis kini di asuh oleh Adijan di markas rahasianya.
Selama tinggal bersama Adijan, Anis terus di gembleng kemampuannya. Diajari bela diri dan menembak. Itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan kesedihan Anis. Anis berlatih bersama dengan Suta.
Baskoro berhenti menjadi anggota geng saat bertemu dengan mendiang istrinya dan kemudian mereka memiliki putri cantik yang di beri nama Rengganis. Sejak itu, Baskoro tidak pernah lagi terlibat dalam urusan Anoda. Dan memilih bekerja sebagai supir untuk keluarga konglomerat Jaya Karsa.
Sore ini, Anis baru selesai latihan bersama dengan Suta. Keringat nampak membanjiri sekujur tubuhnya. Ia menyandarkan punggungnya di kaki kursi kayu yang ada disana. Kemudian, ia berjalan pergi ke dalam kamarnya setelah rasa lelahnya berkurang.
Anis melemparkan diri ke atas kasur single. Menoleh ke arah nakas. Tangannya menjulur untuk meraih foto dari sana.
“Ayah....” Lirihnya lagi. Ia mengusapi wajah ayahnya yang sedang tersenyum itu. Senyuman kebanggaan saat ia di wisuda ketika lulus SMP.
Foto dalam bingkai itu berembun. Mungkin karna lembab. Jadi Anis mengeluarkannya dari bingkai dan membersihkannya.
Sesuatu terjatuh dari tepi bingkai foto itu. Sebuah memory card. Anis mengernyit dan mengambil benda mungil itu. Menatapinya lekat. Ia merasa itu bukan miliknya. Lantas kenapa benda itu ada disana? Apa ayahnya yang menaruhnya? Mungkinkah benda ini yang di cari orang-orang kejam malam itu?
__ADS_1
Anis segera membuka laptopnya. Memasangkan memory card kedalam sebuah alat.
Didalamnya, terdapat beberapa data mengenai seseorang bernama Dianty. Informasi lengkap yang di jabarkan dalam benda itu membuat darah Anis mendidih. Kini ia tau apa penyebab ayahnya di lenyapkan. Dia yakin,
pelakunya adalah wanita bernama Dianty itu. Anis memberitahu Adijan dan juga Suta tentang temuannya.
“Kita serahkan saja ke polisi.” Suta memberi saran.
“Tidak. Aku tidak akan menyerahkannya semudah itu. Aku harus memberi perhitungan lebih dulu kepada mereka.”
“Tapi kalau melihat ini, dia bukanlah lawan yang mudah.” Adijan memberi pendapatnya.
“Aku tidak akan menyelesaikan ini lewat polisi. Aku akan menyelesaikan ini dengan tanganku sendiri.” Geram Anis.
Dan mulai saat itu, Anis semakin mengasah kemampuannya. Tidak ada waktu yang terlewat sia-sia selain berlatih dan berlatih. Begitu juga dengan Suta. Karna ia sudah berjanji untuk melindungi Anis apapun yang terjadi.
Semakin hari, Anis semakin terlibat dengan urusan Anoda. Dia bahkan menjadi penembak jitu andalan Anoda. Menerima perintah untuk menghabisi musuh dari kliennya. Ia memaksa diri untuk melewati batasan dirinya sendiri. Ia ingin menjadi kuat agar bisa membalaskan dendam kematian ayahnya.
Dari sanalah rencana demi rencana ia susun dengan rapi selama bertahun-tahun sambil mencari waktu yang tepat demi rencana untuk mendekati Dianty untuk melancarkan aksinya.
Pertama, ia meminta kepada Tahara, yang merupakan adik kandung Temmy, tangan kanan Adijan, untuk mendekati Dianty dalam lingkaran sosialitanya. Dan berhasil. Anis bahkan memberikan rumah mewahnya untuk di tempati oleh Tahara.
Yang sebenarnya, rumah yang di tinggali oleh Tahara adalah rumahnya. Dan Club Ara adalah miliknya. Itulah kenapa Tahara sangat menghormati Anis.
Dan waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, Anis mendapat informasi dari Tahara, kalau Dianty sedang mencari seseorang untuk dijadikan menantu. Lebih tepatnya, mata-mata.
Anis merasa ini adalah kesempatannya. Waktunya telah tiba. Dan ia memulai menjalankan rencananya.
__ADS_1