Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 44. Misi Berhasil.


__ADS_3

“Siapa anda?”


Sebuah suara mengejutkan dari arah samping membuat Anis terhenyak dan terkejut. Disana, ia bisa melihat seorang pria dengan berpakaian dokter sedang membawa nampan silver berisi obat-obatan di dalamnya.


“Bagaimana anda bisa masuk ke sini?” Tanya dokter itu.


Anis masih diam karna terkejut. Hal yang ia dapati sungguh di luar ekspektasinya.


“Kutanya bagaimana anda bisa masuk?!!!” Teriak dokter itu lagi sambil menodongkan sebuah gunting pada Anis.


“Suamiku yang memberitahu kode sandinya.” Jawab Anis akhirnya.


“Suami?”


“Aku istri Nawa.”


Awalnya dokter itu nampak tidak percaya dengan ucapan Anis. Namun melihat Anis yang hanya mematung sambil memandangi pasien, membuat dokter akhirnya menurunkan kewaspadaannya. Ia memang sudah mendengar kalau Nawa sudah menikah.


Lama sekali Anis berdiri mematung seperti itu. Ia terus memperhatikan wajah pasien yang nampak kurus itu.


Sementara di kantor, Nawa mendapat laporan tentang Anis yang berhasil menerobos masuk ke dalam ruang rahasia. Sontak Nawa langsung melesat pulang ke griya tawang dan meninggalkan pekerjaannya.


Sesampainya di rumah, Nawa langsung masuk ke dalam ruang rahasia dan mendapati Anis yang sedang mematung di depan ranjang pasien.


Dengan cekatan Nawa langsung menarik lengan Anis dan menghentakkan gadis itu ke dinding. Tangan Nawa mencengkeram leher Anis dengan kuat sampai membuat Anis meringis kesakitan.


“Bagaimana kau bisa masuk ke mari?” Lirih Nawa penuh penekanan. Ia menggeretakkan gigirnya menatap tajam kepada Anis.


Anis tidak menjawab. Ia hanya terus melihat ke arah ranjang dengan tatapan kosong. Namun beberapa saat kemudian, tubuh Anis mulai ambruk dan gadis itu mulai tidak sadarkan diri.


Dari perasaan marah, Nawa beralih ke rasa khawatir saat melihat tubuh Anis ambruk di lantai. “Anis!” Pekiknya kemudian langsung membopong tubuh Anis dan membawanya ke kamar.


Nawa tertipu sepenuhnya oleh Anis yang berpura-pura pingsan. Itu adalah caranya untuk menyelamatkan diri dari murka Nawa, dan berhasil. Ia sedang bertaruh, entah Nawa akan membunuhnya saat itu juga, atau pria itu akan menyelamatkannya, ia menyerahkan semuanya kepada takdir.


Sampai 10 menit lamanya Anis bertahan untuk tidak membuka matanya. Padahal Nawa sedang khawatir luar biasa padanya.

__ADS_1


Sebenarnya Anis merasa kasihan saat melihat kening Nawa yang berkerut, namun ia harus menyelamatkan nyawanya terlebih dahulu.


Baru setelah ia merasa tidak sanggup menahan diri, Anis mulai membuka matanya perlahan. Entah kenapa hatinya merasa trenyuh saat menatap mata Nawa. Ia benar-benar bisa menemukan sebuah kekhawatiran disana. Rasa khawatir yang tulus.


“Kau sudah bangun?” Tanya Nawa segera.


Anis mengernyit dan memegangi lehernya. Tulang lehernya terasa sakit bekas cengkeraman Nawa tadi. Ia bahkan terbatuk-batuk kecil untuk lebih meyakinkan kalau ia sedang tidak baik-baik saja.


“Siapa pria itu?” Tanya Anis lirih, menanyakan perihal pasien di ruang rahasia.


“Yang jelas dia adalah orang penting bagiku. Hanya sebatas ini yang boleh kau tau. Jangan bertanya lebih jauh lagi atau kau bisa terluka.” Ancaman Nawa terdengar setengah-setengah.


Anis kembali mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


“Mulai sekarang kau dilarang untuk meninggalkan rumah jika tidak bersamaku. Dan aku akan menyita ponselmu.” Tegas Nawa kemudian.


Anis sudah mengetahui tentang isi kamar itu. Dan itu adalah kekalahan yang lumayan besar bagi Nawa. Ia lengah karna perasaannya. Dan tentu saja, Nawa tidak ingin Anis memberitahu Dianty soal isi kamar itu. Maka dari itu, dia akan mengurung Anis di rumah saja.


“Apa? Tapi...”


“Kalau begitu, kenapa kau menyelamatkanku? Kau bisa saja membunuhku sekarang. Aku sudah mengetahui isi kamar itu.”


“Belum saatnya.”


Anis menghela nafas pelan sambil terus menatap pias kepada Nawa. Sedangkan pria itu tidak berani menatap balik Anis dan memilih untuk keluar dari kamar.


Setelah keluar dari kamar, Nawa kembali ke dalam ruang rahasia untuk berbicara dengan dokter. Ia menanyakan apa saja yang di lakukan oleh Anis saat berada disana.


“Dia tidak melakukan apa-apa, Tuan. Dia hanya terus memperhatikan Tuan Baskoro tanpa melakukan apapun.”


“Kau yakin?”


“Ya, saya yakin.”


“Hufh.” Nawa nampak frustasi. Ia memijit keningnya dengan mata yang terpejam. Seolah kini rencananya hampir saja runtuh.

__ADS_1


Ingatan Nawa melesat ke beberapa saat yang lalu, saat ia melihat tatapan mata Anis yang aneh saat melihat Baskoro yang terbaring di ranjang. Tatapan itu, ia bisa melihat kalau Anis terkejut luar biasa. Nawa bahkan sempat melihat mata Anis yang berkaca-kaca.


Nawa duduk di kursi. Menatapi Baskoro yang masih belum sadar dari komanya. Padahal, Baskoro punya senjata dalam sekali pukulan untuk Nawa menghancurkan Dianty.


“Bagaimana perkembangannya?” Lirih Nawa.


“Tidak ada perkembangan, Tuan. Saya akan terus berusaha mencari solusinya.” Janji Rizal.


Nawa terdengar menghela nafas dalam.


Sudah bertahun-tahun lamanya Baskoro terbaring di ranjang itu akibat sebuah kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Nawa hanya mengetahui sekelumit kisah mereka karna waktu kecelakaan itu terjadi, Nawa sedang ada di Jepang.


Baskoro merupakan supir pribadi ayah Nawa. Bahkan, ayah Nawa mempercayakan urusan penting kepada Baskoro.


Malam itu, Baskoro sedang mengantarkan ayah Nawa menuju ke sebuah pertemuan penting. Hujan turun dengan sangat lebatnya. Tapi tidak menyurutkan semangat Baskoro dalam bekerja.


Saat melewati jalan tol yang sepi, ban mobil mereka tiba-tiba kempis. Seperti terkena paku. Banpun selip dan membuat mobil sulit di kendailkan. Alhasil, mobil menabrak pembatas jalan dengan sangat kuatnya. Membuat mobil terbang kemudian berguling-guling ke jurang sampai ringsek. Karna kejadian itu terjadi saat lewat dini hari, jadi tidak ada yang menyaksikan.


“Pak, anda tidak apa-apa?”


Ayah Nawa yang berada di kursi belakang nampak lemah dan tidak bisa bergerak. Kepalanya berdarah. Dalam kegelapan, Baskoro masih bisa melihat tuannya itu masih bernafas.


Baskoro berhasil selamat hanya dengan luka ringan saja. Hal itu memungkinkannya keluar dari mobil untuk mencari pertolongan. Ia mencari-cari ponsel yang sudah entah terbang kemana. Merasa tidak sabar, akhirnya dia memutuskan untuk mencari pertolongan.


”Tunggu sebentar, Pak. Saya akan mencari pertolongan.” Janji Baskoro kepada ayah Nawa.


Dan, janji itu tidak pernah di tepati oleh Baskoro. Sampai mayat ayah Nawa di temukan keesokan harinya, dan Baskoro tak pernah muncul kembali.


Hal yang sebenarnya terjadi adalah, Baskoro bukan tidak mau kembali demi menyelamatkan tuannya. Pria itu berjalan tertatih sambil menyeret kakinya yang luka. Ia ingin segera mencari pertolongan.


Baskoro sumringah saat melihat segerombolan warga yang sedang berkumpul di sebuah pos ronda. Ia segera mendekat untuk meminta pertolongan. Tapi entah darimana datangnya, tiba-tiba ada orang yang meneriakinya pencuri.


Seketika para warga menjadi heboh dan main hakim sendiri. Mereka memukuli Baskoro sampai tidak  berdaya. Setelah itu, dua orang yang mengaku polisi langsung membawa Baskoro dari tempat kejadian. Memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya pergi.


Mereka bukan polisi. Mereka adalah suruhan Dianty. Dianggap sudah mati, mereka lemparkan Baskoro ke sebuah tempat pembuangan sampah akhir di daerah Bantar Gebang.

__ADS_1


__ADS_2