
Dengan perasaan takut Rengganis tetap mengikuti Nawa di belakang pria itu. Bahkan saat Nawa bersikap manis dengan membukakan pintu mobil untuknya, tetap membuat Rengganis merinding.
Saat mobil mulai melaju, dada Rengganis sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Degup jantungnya semakin kencang saja. Padahal Nawa hanya fokus dengan kemudinya dan tidak mengindahkan keberadaan gadis itu. Namun tetap saja hawa di dalam mobil itu terasa mencekam dan menyeramkan.
Rengganis tidak berani berkutik bahkan hanya untuk melirik kepada Nawa. Ia terus mencengkeram seatbelt dengan erat. Sepanjang jalan ia berdoa semoga Nawa tidak akan mencelakainya.
Bayangan mengerikan kalau Nawa akan membuatnya pingsan kemudian membuangnya di tempat sepi, atau di hanyutkan di sungai, selalu saja menghantui kepalanya. Membuatnya semakin kencang memegang seatbelt. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir fikiran mengerikan itu dari otaknya.
“Kau ini kenapa?” Tanya Nawa memecah keheningan.
“Hah? Apa?” Rengganis malah terkejut saat Nawa tiba-tiba bersuara begitu.
“Berikan tanda pengenalmu.” Ujar Nawa lagi sambil mengulurkan tangan kepada Rengganis.
“Tanda pengenalku? Kenapa kau memintanya?”
“Aku harus menggunakannya untuk mengurus surat-surat pernikahan kita bukan?” Alasan Nawa.
Walaupun ragu, tapi Rengganis tetap membuka dompetnya dan mengeluarkan kartu identitasnya. Ia fikir memang Nawa butuh kartu itu seperti yang pria itu katakan.
Entah karna menahan takut atau bagaimana, Rengganis jadi ingin buang air kecil. Jadi setelah menyerahkan kartu identitasnya, ia meminta Nawa untuk menepi di salah satu kamar mandi umum yang terdapat di dekat halte pinggir jalan.
Nawa menuruti saja permintaan Rengganis itu. Ia menepikan mobilnya dan Rengganis langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah di rasa aman, Nawa mengeluarkan ponselnya dan memotret kartu udentitas milik Rengganis dan segera mengirimkannya kepada Yoham. Setelah itu ia segera menelfon asisten pribadinya itu.
“Segera selidiki informasi yang baru saja ku kirimkan padamu. Jangan lewatkan detail kecil sekalipun.” Perintah Nawa.
“Baik, Tuan.”
Setelah itu ia langsung mematikan ponselnya saat melihat Rengganis yang mulai berjalan kembali ke arah mobil.
Tanpa mencurigai apapun, Rengganis langsung duduk dan Nawapun kembali melajukan mobilnya.
Setelah beberapa saat kemudian, mobil Nawa sudah memasuki area perumahan mewah dengan Rengganis sebagai penunjuk arahnya. Rengganis terus saja memberitahu kemana Nawa harus pergi. Dan setelah sampai di depan sebuah rumah mewah yang di beritahu Rengganis, Nawa menghentikan mobilnya tepat di depan pagar.
Rengganis segera turun dari mobil dan menghampiri security yang langsung membukakan pintu gerbang untuk mobil Nawa.
Setelah mobil terparkir sempurna, Nawa segera turun dari mobilnya dan menyusul Rengganis yang sudah menunggunya di depan pintu masuk.
“Silahkan masuk.” Tawar Rengganis setelah membuka pintu.
__ADS_1
Sebelum masuk, Nawa sempat mengedarkan pandangannya untuk mencermati lingkungan rumah itu. Baru setelah itu ia ikut masuk ke dalam rumah mengikuti Rengganis.
Sekali lagi, Nawa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia sedang mencari barangkali ada hal yang bisa menjadi tambahan informasi tentang Rengganis.
“Silahkan duduk, aku akan membuatkan minuman sebentar.” Ujar Rengganis kemudian pergi ke arah dapur.
Di dapur, ia bertemu dengan asisten rumah tangga Tahara dan menanyakan keberadaan wanita itu.
“Dimana Tante Tahara?” Tanya rengagnis.
“Mungkin ada di kamarnya, Nona. Biar saya panggilkan.” Tawar wanita yang berumur hampir 40 tahunan itu.
Setelah membuatkan minuman untuk Nawa, Rengganis segera kembali ke ruang tamu dengan membawa kopi yang langsung di sajikan ke hadapan pria itu.
“Sepi sekali. Kemana semua orang?” Tanya Nawa menyelidik.
Rengganis mengangkat bahunya. “Entah.”
“Oh, rupanya ada tamu.” Suara Tahara membuat Nawa dan Rengganis kompak melihat ke arah tangga.
Rengganis langsung berdiri dan di ikuti oleh Nawa.
“Siapa ini, Nis?” Tanya Tahara.
“Saya Nawa, Tante. Calon suami Rengganis. Dan kami akan menikah besok.”
Penjelasan singkat dan padat itu membuat Tahara ternganga. Ia menatap Rengganis dan Nawa secara bergantian sampai lupa melepaskan tangan Nawa yang sedang bersalaman dengannya.
“Apa maksud kalian? Menikah? Besok?”
Rengganis menganggukkan kepala dengan ragu.
“Memangnya sudah berapa lama kalian kenal?” Tanya Tahara sambil duduk dan di ikuti oleh Rengganis dan Nawa.
“Baru tadi, Tante.” Jelas Rengganis.
Tentu saja Tahara semakin ternganga mendengar pengakuan dari Rengganis itu .
“Kalian baru kenal dan sudah memutuskan untuk menikah? Dan itu besok?”
“Ehm, Tante. Sebenarnya Nawa ini adalah putra dari nyonya Dianty.”
__ADS_1
“Apa? Kau putra Dianty?”
“Iya, Tante. Apa anda mengenal ibuku?” Tanya Nawa yang sudah mulai menyelidik.
“Tentu saja. Dianty adalah temanku. Jadi kau putranya? Oh, ya ampun. Kenapa tidak bilang dari tadi.” Seloroh Tahara. Kekhawatirannya hilang seketika saat mengetahui kalau Nawa ternyata putra dari temannya.
“Jadi, apa Tante mengijinkan kami untuk melaksanakan pernikahan besok?”
“Tante sih tidak keberatan. Tapi apa tidak terlalu cepat? Bagaimana dengan persiapannya?”
“Itu gampang, Tante. Kami tidak butuh persiapan apapun. Kami akan menikah di kantor KUA saja.”
Sebenarnya Rengganis ingin punya pesta pernikahan mewah seperti yang dia impikan. Apalagi calon suaminya adalah putra konglomerat. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
“Begitu? Kalau Tante sih terserah kepada Anis saja. Selama dia tidak keberatan, Tante juga tidak keberatan.” Ujar Tahara.
Nawa senang telah mendapat persetujuan dari Tahara. Sekarang, ia sudah bisa menyusun langkah-langkah apa yang akan dia lakukan nanti.
Setelah hampir satu jam berada di rumah itu, Nawa akhirnya pamit undur diri dengan alasan masih ada hal yang harus dia selesaikan.
Rengganis mengantarkan Nawa sampai di dekat mobil Nawa terparkir.
“Besok siang, aku sendiri yang akan menjemputmu. Kau berdandanlah secantik mungkin. Awas saja kalau sampai mengecewakan.” Jelas Nawa.
Rengganis hanya mencibir saja tanpa menjawabnya.
“Sudah, masuk sana.” Perintah Nawa kemudian ia langsung masuk ke dalam mobil.
Rengganis menatap mobil Nawa yang sudah menjauh dan menghilang di balik pagar besi yang tinggi itu. Ia menghela nafas dalam seolah sedang menguatkan dirinya sendiri. Jujur ia takut dengan Nawa.
“Kamu baik-baik saja? Menikah secepat itu?” Tanya Tahara saat Rengganis sudah masuk ke dalam rumah.
Rengganis menatap Tahara pias. Tapi kemudian ia mengangguk. “Aku akan baik-baik saja.” Yakin Rengganis lagi.
“Tapi kenapa aku jadi takut. Sepertinya Nawa bukan tipe pria yang mudah di tangani.” Lirih Tahara mengungkapkan kekhawatirannya.
“Aku tau itu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah terlanjur menyetujui permintaan Dianty. Uang yang di tawarkan sangat menggiurkan.”
“Berhati-hatilah, Anis. Keluarga Dianty bukan keluarga sembarangan. Salah sedikit, kau bisa saja berakhir di tangan salah satu dari mereka.” Tahara menjelaskan.
“Apa sampai begitu?”
__ADS_1
Tahara menjawab dengan tatapan. Tetap ia mengkhawatirkan keadaan Rengganis.