
Matahari sudah terbit sempurna beberapa saat yang lalu. Sementara dua sosok manusia itu, masih astik saling melemparkan tatapan yang entah.
Anis menatap Nawa pias penuh rasa tidak nyaman. Sementara Nawa menatap Anis penuh kemarahan dan kebencian. Tapi, besarnya kebencian yang Nawa rasakan tidak mampu menutupi rasa cintanya kepada gadis itu. Debaran terus muncul di dalam hatinya. Mencuri rasa benci yang seharusnya ia tumpahkan di sana.
“Kenapa kau merencanakan ini semua?” Lirih Nawa pada akhirnya. Hatinya sungguh nyeri menanyakan itu. Ia tidak siap dengan jawaban Anis kalau ternyata gadis itu hanya memanfaatkannya saja.
Selama ini, Nawa yang berfikir telah memanfaatkan Anis. Ternyata sebaliknya. Dia jatuh sempurna dalam rencana gadis itu.
“Kalau aku bercerita, apa kau mau mendengarkannya? Aku jamin, kau tidak akan bosan.”
Nawa diam. Dan diamnya itu adalah jawabannya.
**
**
Dari sini akan menceritakan tentang Anis. Dari saat dia mengetahu kalau ayahnya meninggal, sampai menyusun rencana untuk memanfaatkan Nawa. Okhey?
*
Dor! Dor! Dor!
“Nis?! Kau dimana?!”
Teriakan dan gedoran di pintu rumahnya membuat Anis terpaksa mengumpulkan kesadarannya. Mengusir keindahan alam mimpi yang sedang di jajakinya. Hari masih gelap dan ia harus terbangun demi mendengar suara berisik itu.
Brak!
Ia terkejut bukan main saat pintu kamarnya di buka tiba-tiba.
“Kak Suta?” Terkejut Anis.
Wajah Suta nampak panik. Manik matanya memancarkan kecemasan. Ia langsung merangsek, menyingkap selimut yang membungkus tubuh Anis kemudian meraih pergelangan tangan itu turun dari ranjang.
“Kenapa, Kak? Ada apa?”
“Nanti ku jelaskan. Kita tidak punya banyak waktu. Ayo. Cepat.” Gegas Suta. Ia tidak melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan gadis itu. Menarik dan menyeret Anis dengan paksa.
Anis bingung tentang apa yang sudah terjadi. Kenapa Suta terlihat sangat takut? Ada apa ini?
__ADS_1
“Tunggu, Kak. Ayah di kamar.” Cegah Anis hendak berlari menuju ke kamar ayahnya. Namun, lagi-lagi Suta menahannya.
“Ayahmu tidak ada di kamar.” Tega Suta. Ia kembali menarik tubuh Anis menuju pintu keluar.
Brakk!!
Tiba-tiba pintu depan rumah Anis di dobrak paksa oleh beberapa orang berbadan kekar.
“Siapa kalian?!” Teriak Suta. Ia mengarahkan Anis ke belakang tubuhnya untuk melindungi gadis itu.
“Cari!” Perintah pemimpin pria-pria itu. Dan beberapa orag berpencar menggeledah rumah itu. Barang berserakan tidak karuan.
“Siapa kalian? Kenapa menggeledah tempat ini?”
“Diam!” Hardik pria itu kembali. Menatap sangar kepada Suta. Sedangkan Anis terus meringsut di belakang punggung Suta. Ia ketakutan.
Merasa terancam, Suta maju dan bergelut dengan pria yang sepertinya pemimpin kelompok itu. Ia melayangkan tinju dan pukulanya kepada pria itu. Tapi, tidak ada satupun yang mengenainya. Latihannya belum cukup untuk mendaratkan pukulan kepada pria itu. Jadilah, pukulan-pukulan yang ia layangkan hanya mendarat di udara.
Anis memperhatikan dengan takut. Ia berdiri di pojok ruangan di depan kamarnya. Menatapi Suta yang sudah babak belur di hajar oleh pria menyeramkan itu.
Brak!!!
Tubuh Suta terbanting ke atas meja hingga membuat meja itu pecah berantakan. Pria itu melemparkannya tadi.
“Ekkhhh.” Lirih Suta yang merasakan tulang-tulangnya hancur lebur.
“Kami tidak menemukan apa-apa, Bos.” Ujar salah satu anak buahnya. Kini, hanya tinggal kamar Anis saja yang belum di geledah.
Pria bermata menyeramkan itu menatap pintu kamar Anis. Mengetahui hal itu, Suta mengumpulkan sisa tenaganya dan menarik Anis masuk ke dalam kamar. Untungnya mereka lebih cepat.
Suta menarik meja belajar Anis yang berada tepat di samping pintu untuk mengganjal pintu kamar. Kemudian ia berlari dengan tangan kesamping mengarahkan Anis di belakangnya. Sementara satu tangan lagi memegangi perutnya yang seperti mau pecah. Rasanya sakit sekali. Sepertinya tulang rusuknya ada yang patah.
“Siapa mereka, Kak?” Lirih Anis ketakutan.
“Entahlah, aku juga tidak tau. Kita harus segera pergi dari sini.”
Suta mencari jalan. Membuka jendela kamar Anis dan beranjak kesana. Mengajak Anis untuk keluar dari jendela.
“Ayo. Cepat.” Ajak Suta.
__ADS_1
“Sebentar.” Ujar Anis. Ia menyambar bingkai foto yang ada di atas meja belajarnya, menyimpannya di dalam kaus, baru kemudian ia melompat keluar dari jendela dan berlari mengikuti Suta.
Langkah kaki Suta sudah terseok-seok akibat tubuhnya yang sudah babak belur. Kakinya sakit dan mengeluarkan banyak darah. Wajahnya sudah benjol di berbagai tempat. Bibir dan pelipisnya robek dan berdarah. Belum lagi perut dan dadanya yang terasa mau meledak saat di buat bergerak.
Tapi, Suta harus menguatkan dirinya. Ia harus melindungi Anis. Seperti yang di minta oleh Baskoro beberapa saat yang lalu.
Tadi, Baskoro menghubunginya lewat telfon. Pria itu meminta Suta untuk segera datang ke rumahnya dan membawa Anis pergi dari sana. Ia mengatakan, kalau sesuatu terjadi kepadanya, maka suta harus melindungi putrinya itu.
Suta mengira telah terjadi sesuatu kepada Baskoro. Saat ia menelfon kembali, ponsel Baskoro sudah tidak bisa di hubungi. Lantas Suta bergegas bergi ke rumah Anis.
Srukkk!
Suta tersungkur di tanah akibat sudah tidak tahan lagi menahan sakit di tubuhnya.
“kak Suta!” Pekik Anis. Ia segera membantu Suta berdiri. Memapahnya dan bersembunyi di semak-semak kebun warga
Sementara di belakang mereka, musuh mengikuti dan terus mengejar. Dada Anis bergemuruh saat mereka sudah berada sangat dekat dengan persembunyiannya. Anis sangat takut. Tubuhnya menggigil. Tapi, anehnya Anis tidak menangis.
Anis dan Suta sampai menahan nafas agar tidak menimbulkan suara. Suta menahan rintihan sekuat mungkin agar mereka tidak ketahuan.
“Nis, kau pergilah. Aku akan mengecoh mereka. Cari ponsel dan hubungi ayahku.” Suta memberi solusi.
Seketika Anis langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kak. Aku tidak mungkin membiarkan Kakak disini. Kondisi Kak Suta sudah seperti ini.” Tolak Anis.
“Aku masih bisa bertahan sampai ayahku datang. Dia berada tidak jauh dari sini. Cepatlah. Minta bantuannya.”
Anis menatap Suta penuh kekhawatiran. Ia ragu meninggalkan Suta disana. Namun, anggukan Suta menguatkan Anis.
Sedetik kemudian, Suta sudah merangsek maju demi mengalihkan perhatian musuh. Melihat pergerakan Suta, seketika mereka mengejarnya. Suta berlari menjauhi tempat persembunyiannya. Memberikan ruang kepada Anis untuk melarikan diri.
Setelah dirasa aman, Anis segera berlari untuk mencari pertolongan. Sialnya, malam itu sepi. Para penduduk sudah tertidur lelap. Jadi Anis kesulitan untuk mencari bantuan.
Untunglah, ada seorang pemuda yang sedang beramin game di teras depan rumahnya. Anis segera menghampirinya. Tanpa permisi, Anis merampas ponsel itu kemudian menekan tombol nomer ponsel ayah Suta.
“Hei!” Pria pemilik ponsel marah kepada tindakan Anis. Ia fikir Anis mencuri ponselnya. “Kembalikan!”
“Tunggu sebentar. Ini penting.” Anis kalang kabut sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
Tersambung.
__ADS_1
“Paman. Cepat kemari. Kak Suta dalam bahaya.” Ujar Anis langsung.
Belum sempat Anis melanjutkan kalimatnya, ponsel segera di rebut si pemilik. Menatap marah kepada Anis.