Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 12. Lakon.


__ADS_3

Rengganis masih terkejut melihat cara Nawa berkata-kata. Ia tidak menyangka kalau di dunia ini ada pria yang bisa berkata ketus kepada seorang gadis. Ia terus menatap tidak suka kepada Nawa.


“Kenapa kau memelototiku begitu?” Tanya Nawa yang merasa aneh dengan tatapan Rengganis.


“Ternyata hanya wajahmu saja yang tampan.” Dengus Rengganis.


“Tapi, benarkah kita tidak pernah bertemu sebelumnya? Ahhh, aku benar-benar seperti pernah melihat wajahmu.”


“Kenapa kau terus membahas itu?”


“Ya karna wajahmu terlihat tidak asing.”


“Astaga. Ternyata kau sama bo dohnya dengan majikanmu.” Gumam Nawa.


“Kau bilang apa? majikan?”


“Aku tidak bilang apa-apa.” Elak Nawa.


“Jangan bohong. Aku mendengarmu bergumam.” Desak Rengganis.


“Aku bilang mungkin saja kita pernah bertemu di suatu tempat secara tidak sengaja. Mungkin di jalan, atau di mana. Begitu.”


“Oooo...” Rengganis mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Sekarang mari kita membahas masalah paling penting. Kenapa kau mau menikah denganku?”


Pertanyaan itu membuat Rengganis memaksa otaknya untuk berputar. Ia harus berhati-hati dalam menjawabnya atau dia akan terkena masalah. Ia tidak mungkin jujur menjawab kalau Dianty yang membayarnya.  Lantas apa yang harus dia katakan?


“Karna aku sedang mencari suami. Kebetulan ibumu menawariku untuk berkenalan denganmu.”


Nawa hanya tersenyum sinis dan mengejek jawaban Rengganis. Padahal dia tau kalau Dianty pasti sudah membayar gadis itu agar mau menikah dengannya. Dengan jawaban Rengganis itu, Nawa bisa menyimpulkan kalau gadis itu 100 persen berpihak kepada Dianty.


Permainan yang sedang dia lakoni ini merupakan permainan yang sangat berbahaya. Dianty bahkan menyewa seorang pemeran pendukung seperti Rengganis.


“Kenapa kau tertawa macam itu?” Rengganis tersinggung dengan cara Nawa tersenyum setelah mendengar jawabannya.


“Lantas, bagaimana menurutmu?”


“Apanya yang bagaimana?”


“Setelah bertemu denganku, apa kau masih mau menikah denganku?”

__ADS_1


“Iya.” Jawab Rengganis seketika. Sedangkan Nawa terbelalak dengan keberanian gadis itu.


“Kau serius?”


“Hm..” Rengganis kembali mengangguk. Kemudian ia menyeruput minuman jus yang ada di hadapannya dengan santai. “Kau tampan, dan juga kaya. Jadi, apa kau mau menikah denganku?”


“Hahahahahahahahha. Baiklah. Ayo kita menikah.”


“Oke.” Rengganis menebarkan senyuman manis kepada Nawa.


Sejujurnya didalam hati Rengganis sedang merasa takut dan was-was. Bisakah dia menjalankan misinya dengan baik? Bagaimana kalau dia mengecewakan Dianty dan malah tidak mendapatkan bayarannya?


Melihat darah yang ada di leher Nawa, membuat Rengganis merinding. Bagaimana kalau pekerjaan ini mengancam nyawanya? Ah, kenapa dia baru berfikir kesana sekarang?


“Kalau begitu, kita bisa menikah besok.”  Ujar Nawa santai. Ia juga menyeruput kopinya yang sudah hampir dingin.


“Apa?!!!!! Besok?!!! Kau gila? Bagaimana bisa menikah secepat kilat itu.” Rengganis sangat terkejut dengan ide gila Nawa.


“Kenapa? Tidak bisa? Atau tidak mau?” Ternyata Nawa sengaja membuat ide gila itu untuk mengerjai Rengganis.


“Baiklah kalau begitu.” Di luar dugaan, Rengganis kembali menyanggupi syarat Nawa.


Kali ini, Nawa benar-benar di buat tidak habis fikir dengan Rengganis. Ternyata Dianty memilih gadis pemberani untuk menjalankan rencananya. Permainan ini semakin menarik saja.


“Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Ujar Nawa kemudian.


Rengganis mengernyit mendapat tawaran tidak terduga itu. “Tidak usah, aku bisa pulang sendiri.”


Nawa kembali tersenyum. Kali ini ia berjalan mendekati Anis dan membungkukkan tubuhnya dengan menumpu tangannya di antara kursi yang diduduki Rengganis dan meja. Ia menatap Rengganis dengan tatapan serius.


“Jangan begitu. Besok kan kita akan menikah. Aku harus tau seperti apa keluarga calon istriku. Aku ingin menyapa mereka.”


“Tidak perlu. Karna aku tidak punya keluarga. Aku hanya hidup menumpang kepada wanita yang sudah berbaik hati menolongku.”


“Kalau begitu, wanita itu pasti sudah seperti keluarga bagimu. Biar aku menyapanya. Aku ingin berterimakasih karna sudah berbaik hati menolong calon istriku.” Nawa sengaja menegaskan suaranya agar Rengganis menurutinya.


Di luar dugaan, Rengganis malah langsung berdiri dan membuat Nawa terpaksa harus memundurkan dirinya dan menatap terkejut kepada Rengganis.


“Sudah kubilang tidak perlu!” Dengus Rengganis sambil mencibir kepada Nawa. Kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Nawa yang sedang tidak percaya kalau gadis bayaran itu berani bersikap kasar padanya.


Nawa merasa tidak terima. Ia lantas mengejar Rengganis sampai di depan ruangan dan langsung meraih lengan gadis itu dengan kasar untuk menghentikannya.

__ADS_1


“Astaga! Kau mengejutkanku!” Pekik Rengganis.


“Aku akan mengantarmu pulang atau aku akan membatalkan pernikahannya.” Ancam Nawa.


“Apa?!”


Sial. Bukan begini rencana Rengganis. Di benaknya sedang terbayang jika ia tidak jadi mendapat uang dari Dianty.


Sial. Sial. Sial!


“Apa kau sedang mengancamku?”


”Bagaimana bisa aku mengancam calon istriku? Aku hanya ingin mengenal calon istriku lebih baik lagi.” Ujar Nawa dengan senyum yang terlihat menyeramkan.


“Sudah ku bilang dia bukan keluargaku. Aku tidak punya keluarga.”


“Lalu, apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?” Desak Nawa. Ia masih punya seribu cara untuk membuat Rengganis menurutinya.


“Menyembunyikan apa?”


“Kalau begitu kenapa kau tidak mau aku antar pulang?”


“Aku bawa sepeda motorku sendiri. Kalau kau mengantarkanku pulang, lantas bagaimana dengan sepeda motorku?”


“Itu masalah gampang. Kau bisa membuang sepeda motormu itu. Besok setelah menikah, aku akan menggantinya dengan mobil.”


Dasar pria gila!! Pekik Rengganis dalam hati. Untuk sekarang, sepertinya lebih baik dia menuruti kemauan Nawa saja.


“Baiklah kalau itu maumu.”


Nawa tersenyum penuh kemenangan mendengar Rengganis menyerah dengan paksaannya.


“Ayo.” Ujarnya. Kemudian melenggangkan kakinya mendahului Rengganis dengan senyum kemenangannya.


Sementara Rengganis mengikuti pria itu sambil menggerutu kesal karna ia tidak punya pilihan untuk melawan Nawa. Rasanya sungguh menyebalkan saat ia tidak bisa membela diri untuk lari dari keadaan yang tidak ia sukai.


Kalau saja ia tidak menyukai uang, tidak mungkin ia mau berurusan dengan pria yang ternyata sangat menyebalkan sekaligus menakutkan itu.


Sambil berjalan mengikuti Nawa, tatapan Rengganis berkali-kali melihat ke arah bercak darah dileher pria itu. Entah kenapa ia seperti bisa merasakan aura pembunuh di dalam diri Nawa. Sangat menyeramkan. Ia jadi merinding saat berfikir kalau-kalau nyawanya bisa terancam dan ia bisa berakhir di tangan pria itu. Astaga. Ia tidak ingin mati muda.


Nawa terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia bisa merasakan kalau Rengganis masih mengikutinya di belakangnya. Otaknya sedang memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk mengikuti permainan Dianty dan anak-anaknya. Dia tidak akan kalah dari mereka. Dan ia akan memastikan kemenangannya. Bahkan kalau ia harus membunuh sang pemeran pembantu bernama Rengganis itu.

__ADS_1


Ia harus bisa memanfaatkan keberadaan gadis itu dengan baik. Bisa jadi nanti gadis itu punya kelemahan Dianty yang tidak di ketahuinya. Strateginya adalah untuk menjaga musuhnya lebih dekat dengannya agar dia bisa mengawasinya dengan penuh.


__ADS_2