Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 78. Lingkaran Sebab.


__ADS_3

Anis mengerap-ngerjapkan matanya yang terasa berat. Seperti ada batu yang menggandul di kelopak matanya. Perlahan kesadarannya mulai kembali. Ia merasakan tangannya yang sedang terikat ke belakang kursi yang sedang ia duduki. Kakinya juga terikat. Dan ada sesuatu yang menutupi kepalanya sehingga ia tidak dapat melihat apapun.


Anis terdiam. Berusaha memahami situasi di sekelilingnya dengan menggunakan indra pendengarannya. Samar, ia bisa mendengar suara seorang wanita yang ia yakini itu adalah suara Dianty.


“Harus di apakan dia, bos?”


“Tunggu saja dulu. Dia hanya hidangan pembuka. Aku masih menunggu hidangan utama.” Jawab Dianty.


Anis bisa merasakan dari suara Dianty kalau wanita itu sedang merasakan marah yang meluap-meluap.


“Dasar wanita licik. Lepaskan putriku. Kau bisa berurusan denganku saja.” Hardik Baskoro yang ternyata juga berada di ruangan itu.


“Ya ampun. Kau ini. Aku tidak ada urusan denganmu. Putrimu itu yang sudah mengusikku. Jadi dia harus menerima akibatnya.”


“Biadab. Kau tidak berubah bahkan setelah membunuh suamimu sendiri. wanita laknat.” Maki Baskoro.


Anis hanya mendengarkannya saja.


“Kau pasti lupa, kalau aku masih menyimpan semua bukti-bukti kejahatanmu dulu.” Ancam Baskoro.


Mendengar itu, sontak Dianty langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Baskoro yang juga di ikat di kursi. Menatap pria itu penuh amarah.


“Jangan memancingku, Baskoro. Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga. Lagipula tidak ada yang tau kalau kau masih hidup.”


“Kau tidak percaya? Tunggu saja. Aku akan menghancurkanmu.” Dendam Baskoro.


Bug!


Anis terkejut saat mendengar erangan sang ayah.


“Ayah!” pekiknya seketika.


Teriakannya itu membuat Dianty tau kalau ternyata dia sudah sadar. Dianty memerintahkan anak buahnya utnuk membuka penutup kepala Anis.


Anis mengerjapkan matanya demi mendapati sorot cahaya lampu di dalam ruangan itu. Ia mengedarkan pandangan mencari ayahnya.

__ADS_1


“Ayah?! Ayah tidak apa-apa?!”  tanya Anis yang melihat ayahnya terikat di tempat yang tidak jauh darinya. Sementara Rizal sudah tak sadarkan diri dan tergolek begitu saja di lantai.


“Wah, reuni yang mengharukan.”


“Lepaskan ayahku! Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua!”


“Tentu saja ada. Dia ayahmu. Dan kau istrinya Nawa. Tujuanku memang bukan kalian. Tapi kalian akan membawa jamuan utamaku datang kemari.” Sinis Dianty. Dia merasa di atas angin karna kini ia menguasai situasinya.


Suasana di luar gudang itu tak kalah menegangkan dari di dalam. Di luar, Anoda dan anak buah Nawa sedang baku tembak dengan anak buah Dianty. Suara tembakan bahkan terdengar sampai ke dalam. Dan Anis tau, kalau situasinya telah berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya.


“Ya ampun. Kau dengar itu. Jamuan utamaku pasti sudah datang.”


Di luar, Nawa bekerja sama dengan sangat baik dengan Suta. Mereka saling melindungi demi satu tujuan, yaitu menyelamatkan Anis dan Baskoro. Baku tembak terdengar dimana-mana. Rentetan peluru saling memberondong.


Sementara anak buah Suta melawan musuh, Nawa dan Suta bergerak masuk ke dalam. Mereka menyusuri lorong gelap demi mencari Anis. Dan tibalah mereka di tempat Anis berada.


Kedatangan Nawa dan Suta langsung di sambut oleh anak buah Dianty. Mereka menyerang dua pria itu.


Sementara Suta sibuk meladeni lawan, Nawa merangsek mencari kesempatan untuk mendekat ke arah Anis. Setelah sampai, ia segera membuka ikatan Anis.


“Aku tidak apa-apa.”


“Wahh, ini dia hidangan utamaku. Selamat datang anak tiriku yang tampan.”


“Kalau ibu ingin membalas kematian Bagas, langsung saja berurusan denganku. Bukan melibatkan orang yang tidak bersalah.”


“Orang yang tidak bersalah? Siapa? Kalian semua bersalah atas kematian putraku. Kau menghabisi Bagas karna ingin melindungi Anis. Lingkaran sebab ini tidak akan terputus sampai salah satu di antara kita mati.”


“Ya, ibu benar. Salah satu dari kita harus berakhir disini kalau ingin mengakhiri semuanya.”


Sementara Suta sudah berhasil mengalahkan anak buah Dianty yang melawannya. Ia segera bergabung dengan Nawa dan Anis. Tapi, masih ada yang melindungi Dianty dengan membawa senjata api. Mereka waspada di samping bosnya itu.


“Hentikan semua ini. Cepat lepaskan ayahku.” Desak Anis.


“Kau sangat tau kalau suaramu itu percuma saja di keluarkan. Astaga. Seperti amatir.”

__ADS_1


Fokus Nawa dan Suta teralihkan, sehingga mereka tidak menyadari beberapa anak buah Dianty yang lain datang dan segera menyerang mereka. Mereka bertarung mati-matian. Walaupun kalah jumlah, tapi mereka tetap berusaha untuk melawan sekuat tenaga.


Dor!


Sebuah timah panas berhasil menembus paha kanan Suta. Anis dan Nawa sontak melihat ke arah pria yang sudah tersungkur itu. Setelah itu ia melihat arah tembak yang teryata berasal dari Dianty.


“Kak Suta!” pekik Anis. Melihat cemas kepada Suta yang meringis menahan sakit. Dasarnya sudah kalah jumlah, pun mereka harus berhati-hati karna masih ada Baskoro yang harus di selamatkan.


Setelah menembak Suta, kini moncong pistol Dianty mengarah ke kepala Baskoro. Ia berdiri di belakang Baskoro dengan senyum penuh dendam kepada Anis dan Nawa. Bahkan kini Suta sudah berada di tangan anak buah Dianty. Jeda beberapa detik setelah peluru menembus pahanya membuat anak buah Dianty bergerak cepat untuk mengamankannya.


Anis menoleh kepada Nawa yang berjarak sekitar 5 meter darinya. Sejak tertembaknya Suta, semua aktifitas perkelahian terhenti sementara.


“Anis, aku akan memberimu sebuah pilihan yang menyenangkan. Di antara suami dan ayahmu, siapa yang akan kau pilih?”


Anis mengernyit. Ia tau kemana arah pembicaraan Dianty.


“Kenapa tidak menjawab? Apa kau tidak mengerti maksudku? Begini saja, antara kepala ayahmu dan jantung suamimu, mana yang lebih penting? Mana yang harus ku lenyapkan? Pilihlah.” Dianty menyuruh anak buahnya untuk memberikan pistol kepada Anis. Dengan tangan bergetar, ia menerima pistol itu dan memandanginya pias.


Seumur-umur, baru kali ini ia gemetar memegang benda itu. Selama ini ia bahkan berteman dengan senjata api. Tapi kali ini, hatinya dipenuhi oleh rasa takut yang tidak terperi.


Anis masih tetap terdiam. Ia memandangi Baskoro dan Nawa bergantian. Dia bahkan tidak mampu lagi menyembunyikan ekspresti takut yang ia rasakan.


Berbeda dengan Anis, Nawa justru tersenyum saat netranya bertemu Anis. Seolah ia ingin meyakinkan, kalau semua akan baik-baik saja.


“Ya ampun. Kau lama sekali memutuskan. Sepuluh.... sembilan...” Dianty mulai menghitung mundur.


Anis masih menatap Nawa. Tatapan penuh penyesalan. Ia ingin menyelamatkan Nawa, tapi ia tidak ingin lagi kehilangan ayahnya. Ia sedang menimbang siapa yang harus ia selamatkan. Ia melirik kepada Suta yang juga sedang melihat ke arahnya. Dengan tatapan mereka mengatur strategi.


“Tiga... dua...”


Anis mengangkat senjata dengan tangan yang gemetar. Airmatanya sudah terjun bebas membasahi pipi sejak tadi. Sementara Nawa, ia malah tersenyum saat moncong senjata Anis mengarah kepadanya. Ia mengangguk dengan senyuman. Ia tau, kalau memang seharusnya Anis memilih ayahnya, bukan dirinya.


Dor!


Nawa langsung jatuh tersungkur saat peluru menembus dadanya. Seketika darah mengalir dari lukanya.

__ADS_1


__ADS_2