
“Hei! Bisakah kau lepaskan tanganku?” Pekik Anis saat Nawa semakin menggeret dan menarik lengannya saat keluar dari ruangan itu.
Nawa tidak menggubris pekikan Anis yang berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Nawa. Ia terus saja menggeret gadis itu untuk keluar dari hotel. Beberapa orang bahkan melihat kepada mereka dengan aneh. Tapi Nawa tidak peduli.
Sesampainya di mobil, Yoham segera membukakan pintu mobil untuk Nawa. Dan dengan kasarnya Nawa langsung menghempaskan lengan Anis hingga gadis itu terjerembab di kursi mobil. Belum hilang rasa terkejut Anis saat pria itu langsung merangsek masuk kedalam mobil sementara Yoham langsung menutup pintu mobilnya.
Kekh!
Anis tambah terkejut dan ketakutan setengah mati saat lengan Nawa beralih mencengkeram lehernya dengan sangat kuat. Membuat nafasnya berhenti dan sulit untuk mengalir. Dalam ketakutan yang luar biasa, Anis bisa melihat melalui netra Nawa kalau pria itu sedang di kuasai oleh amarah.
Mata Nawa memerah karna emosinya sudah memuncak. Ia mencekik leher Anis kuat hingga membuat gadis itu sulit untuk bernafas.
“A-pa ya-ng k-au la-ku-kan?” Tanya Anis yang berusaha untuk melepaskan tangan Nawa dari lehernya. Paru-parunya sudah mengempis dan dia sudah kehabisan nafas. Sementara cekikan dari Nawa semakin terasa kuat.
Namun Nawa masih sibuk dengan kemarahannya. Ia tidak peduli jika Anis mati saat itu juga di tangannya.
“Hhhhhkkk. Le-pas-kan.” Pinta Anis di sisa tenaganya.
“Kenapa? Bukankah kau sudah bersiap untuk mati saat kau melanggar perintahku? Hem??” Nawa semakin mengeratkan cekikannya.
Anis berusaha bertahan sekuat tenaga. Walaupun itu rasanya percuma karna tenaganya kalah jauh dengan tenaga Nawa. Namun ia masih belum mau mati di hari ke duanya menjadi seorang istri.
“Le-pas-kan...” Lirih Anis lagi.
__ADS_1
“Kau pasti menganggap semua yang ku katakan itu adalah lelucon. Sudah ku bilang dan ku tegaskan sejak awal kalau aku bisa saja membunuhmu setiap saat. Saat kau mencoba untuk masuk ke dalam ruangan itu, aku sudah memberimu keringanan dan tidak ingin mempermasalahkannya lagi. Tapi kali ini, aku tidak bisa mentolelirmu lagi. Kalau kau masih mau hidup, turuti apa yang ku katakan. Jangan lakukan apapun yang ku larang.” Tegas Nawa.
Anis langsung menggangguk walaupun ia sulit untuk menggerakkan kepalanya. Untung saja Nawa mengerti maksudnya dan segera melepaskan tangannya dari leher Anis.
“Uhuk. Uhuk. Uhuk. Uhuk.” Anis terbatuk sambil memegangi lehernya yang terasa sangat sakit. Ia berusaha untuk menata alur nafas dan detak jantungnya seraya menatap penuh rasa takut kepada Nawa. Nyawanya hampir saja melayang karna keras kepalanya.
“Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi.” Lirih Anis kemudian untuk meyakinkan Nawa.
Nawa hanya melengos saja tidak peduli. Ia sangat marah pada Anis karna gadis itu tidak pernah menuruti perintahnya dan selalu melakukan apa yang dia larang. Gadis itu sangat keras kepala, dan juga bodoh. Hal itu bisa membahayakan rencananya dan ia tidak mau itu terjadi.
Buk!
Nawa meninju bagian pintu mobil di sampingnya dengan sangat keras. Membuat Yoham melirik sekilas dari kaca spion kemudian kembali fokus ke jalan raya. Ia sebal karna rencananya untuk memikat gadis itu bisa berantakan karna emosinya barusan. Tapi ia memang harus menegaskan posisinya kepada Anis sehingga gadis itu tidak berani macam-macam dengannnya.
“Baik, Tuan.”
Setelah menurunkan Nawa di depan lobi gedung kantor, Yoham kembali melajukan mobil untuk mengantarkan Anis pulang ke penthouse.
Lewat kaca spion, Yoham bisa melihat kalau gadis yang duduk di kursi belakang itu sedang menangis walaupun tidak bersuara. Ia bisa membayangkan betapa ketakutannya Anis dan ia jadi kasihan kepada gadis itu.
Sesampainya di basement apartemen, Yoham segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa kemudian membukakan pintu untuk Anis. Anis yang malu karna mata dan wajahnya yang masih sembab, hanya bisa menundukkan wajahnya saja sambil berjalan mendahului Yoham.
“Anda pasti sangat terkejut dan ketakutan, Nona. Saya mewakili Tuan meminta maaf kepada anda.” Ujar Yoham saat mereka sedang berada di dalam lift yang akan membawa mereka naik ke penthouse.
__ADS_1
Anis hanya diam saja. Ia terus mencengkeram jari jemarinya sendiri. Apa yang di katakan Yoham sepenuhnya benar. Dia memang sangat takut tadi.
“Itu hanya sebagian kecil dari kemarahan tuan Nawa, Nona. Saya harap, ke depannya anda bisa lebih hati-hati lagi dalam mengambil tindakan. Saya hanya kasihan dan tidak ingin melihat anda berakhir sia-sia di tangannya.”
“Apa dia memang orang yang sekejam dan setega itu? Bahkan kepada perempuan sekalipun?” Akhirnya Anis bertanya.
“Dia tidak pernah memandang gender. Siapapun yang membuatnya marah, maka akan menerima akibatnya. Tidak peduli siapapun itu. Jadi kalau anda masih sayang dengan nyawa anda, akan lebih baik jika anda diam dan menuruti semua perintahnya.”
Anis kembali terdiam. Kalau memang Nawa adalah pria menakutkan seperti yang di katakan oleh Yoham, maka dia akan mengubah strateginya. Yang jelas, ia harus segera menemukan informasi berharga untuk di laporkan kepada Dianty.
“Apa, dia benar-benar pernah membunuh?” Setengah berani Anis bertanya.
Yoham langsung melihat bayangan Anis yang terpantul dari dinding kaca di lift. Kalau boleh jujur, sudah banyak nyawa yang melayang di tangan Nawa, namun ia tidak berani menjawabnya.
“Apa dia akan membunuhku? benar-benar membunuhku? kekh?” Suara Anis kembali bergetar saat tangannya bergerak seolah-olah sedang menggorok lehernya. Ia takut membayangkannya jika nyawanya benar-benar bisa melayang di tangan pria itu.
“Saya tidak bisa mengatakan apa-apa, Nona. Saya hanya bisa memberitahu kalau anda harus menjaga sikap di depannya. Anda tau sendiri tadi dia marah karna anda tidak mengindahkan ucapan saya dan malah pergi menemuinya sendiri. Jadi saya harap anda bisa belajar sesuatu dari kejadian ini.” Ujar Yoham sebelum pintu lift terbuka dan ia mempersilahkan Anis untuk keluar sementara dirinya sendiri kembali menutup pintu lift dan kembali turun. Ia membungkuk sopan kepada Anis sebelum menutup pintu lift.
Anis hanya memandang kosong kepada pintu lift yang membawa Yoham turun. Kemudian ia berbalik dan memandangi ruang tamu dengan perasaan takut beserta pias.
Ia menyesali keputusannya karna sudah menerima tawaran Dianty hanya karna ia tergiur dengan uang. Kalau di fikir-fikir, uang yang ia terima sama sekali tidak sebanding dengan resiko pekerjaan yang ia terima karna Nawa bisa saja membunuhnya setiap saat.
Anis menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu. Sekilas ia melirik ke arah CCTV yang ada di pojok ruangan. Namun perhatiannya teralihkan saat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Itu adalah pesan dari Dianty yang memintanya bertemu nanti malam.
__ADS_1
Anis berusaha memejamkan matanya untuk mencari jalan keluar. Sepertinya ia harus meminta Dianty untuk menambah bayarannya mengingat resiko pekerjaan ini sangatlah besar.