Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 59. Wasiat Tuan Nakamura.


__ADS_3

Anis mengelus-elus kepala Nawa dengan perlahan. Ia mencoba menyalurkan kehangatan yang ia memiliki kepada pria yan sepertinya sudah terlelap di pangkuannya itu. Padahal, banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan kepada Nawa. Terutama tentang bagaimana ia bertemu dengan tuan Nakamura.


Karna Anis merasa, orang-orang yang ia temui di sini memancarkan aura seram dan kejam. Sama seperti Nawa saat mereka pertama jumpa dulu.


Tangan Anis berhenti membelai saat tangan Nawa menariknya untuk di peluk di depan dada pria itu. Ternyata Nawa belum tidur rupanya.


“Tidurlah.” Lirih Anis.


Namun, yang terjadi selanjutnya, Nawa malah menelentangkan tubuhnya. Kepalanya menghadap Anis dan menatap lekat istrinya itu. Dengan masih mendekap tangan Anis di dadanya.


“Kenapa? Kau butuh sesuatu?”


Nawa menggeleng. Ia hanya terus menatap Anis. Tatapan yang dalam dan penuh dengan cinta.


“Kalau tidak butuh apa-apa, kenapa melihatku begitu?”


Sekonyong-konyong Nawa memajukan bibirnya. Mengkode agar Anis mencium bibirnya


Anis tersenyum. Ia membungkukkan tubuhnya untuk meraih bibir Nawa. Sementara Nawa membantu menarik punggung Anis untuk memudahkan bibir gadis itu mencapai bibirnya.


Setelah lama saling berpagutan, mereka saling melepaskan diri. Lagipula, Anis merasa tidak nyaman dengan posisi mereka. Punggungnya pegal.


Setelah mendapatkan cukup asupan vitamin dari Anis, Nawa bangun dan kembali duduk. Terdengar suara helaan nafas dari pria itu.


“Nampaknya kau sangat dekat dengan orang-orang di sini.” Anis mulai untuk menyelidiki keingintahuannya.


Nawa mengangguk. Ia mulai bangun dan berjalan ke sebuah lukisan figura tuan Nakamura di dinding. Memandangi figura itu lekat-lekat. Seolah ingin menyampaikan rasa rindunya kepada ayah keduanya itu.

__ADS_1


“Dia sangat berjasa dalam hidupku.” Hanya itu jawaban Nawa.


Nawa menggeser figura itu dan muncullah sebuah brangkas kecil yang tertanam di dalam dinding. Anis bahkan sampai terperanjat melihatnya.


“Wah, apa itu milikmu?” Anis yang merasa penasaran berjalan mendekat kepada Nawa. Ia berdiri di samping pria itu.


Nawa terkekeh kecil. Ia kemudian menekan tombol angka di sana dan menarik pintu brangkas setelah terdengar bunyi ‘tililit’.


Dan, Anis dibuat semakin tercengang lagi saat melihat isinya. Ternyata brangkas itu cukup besar untuk menampung beberapa tumpukan berkas, 6 batang emas , dan dua pucuk pistol di dalamnya.


“Wah, ada senjata.” Netra Anis terfokus kepada dua benda itu. Ia hampir lupa siapa suaminya. Wajar saja seorang Nawa mempunyai benda-benda seperti itu. Bahkan ia sangat yakin, kalau di griya tawang, Nawa juga pasti menyimpan senjatanya di suatu tempat.


Tapi, yang menjadi perhatian bukanlah berkas, batangan emas, maupun senjata api itu. Melainkan sebuah amplop coklat yang Nawa tau, kalau itu bukanlah miliknya.


Nawa segera mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalam amplop itu terdapat beberapa lembar kertas. Salah satunya berisi surat dari tuan Nakamura. Surat dengan bertulisan huruf jepang itu langsung Nawa baca.


Pertama, tuan Nakamura memesankan kepada Nawa untuk membalaskan dendam jika terjadi sesuatu yang ganjal pada dirinya. Karna walupun tuan Nakamura telah beralih dari dunia hitam, ia tetap tidak ingin di bunuh secara cuma-cuma oleh musuh-musuhnya.


Ketiga, tuan Nakamura ingin Nawa mengurus saudara-saudaranya dan memastikan kalau mereka tidak akan berebut harta peninggalannya.


Dan ke empat, berisi harapan tuan Nakamura kepada Nawa. Bahwa, ia berharap, kalau Nawa akan terbebas setelah berhasil menyelesaikan balas dendamnya dan berhasil merebut perusahaan ayahnya.


Dan terakhir, dengan tulus tuan Nakamura mendoakan kebahagian untuk putra angkat kesayangannya itu.


Membaca surat itu, membuat darah Nawa mendidih sekaligus hatinya sedih. Hal pertama yang langsung melekat di benaknya adalah, hal pertama yang tuan Nakamura tulis. Sepertinya, dia sudah tau kalau nyawanya sedang dalam bahaya.


Tangan Nawa mengepal keras. Anis bisa merasakan aura membunuh dari pria itu. Tatapan Nawa lurus tertuju ke dalam isi berangkas. Tapi, fikirannya sedang berkutat pada kemarahan.

__ADS_1


“Nawa? Ada apa? Apa yang tertulis disana? Kenapa kau jadi marah sekali?” Anis bertanya dengan setengah takut. Takut kalau malah dia yang menjadi pelampiasan.


“Kamu tunggu disini saja. Tidurlah. Karna mungkin aku tidak pulang malam ini. Aku akan menempatkan orang disini untuk menemanimu. Kalau kau perlu sesuatu, bilang saja padanya.” Ujar Nawa yang ternyata telah menyusun rencana matang.


Pria itu menyambar dua senjata dari dalam brangkas. Memegang keduanya di masing-masing tangannya. Lantas, keluar begitu saja dari dalam kamar. Meninggalkan Anis yang hanya bisa menatapi punggungnya yang sudah menghilang di balik pintu. Menyisakan suasana suram yang mengelilingi hati Anis.


Nawa berjalan keluar dari kamarnya dengan wajah datar dan menyeramkan. Seolah ia sedang menunjukkan kebengisannya kepada semua orang yang ia temui.


“Kumpulkan semua orang.” Perintahnya kepada pria yang menjemputnya di bandara tadi.


Sementara itu, ia terus melangkah menuju ke sebuah aula pertemuan di gedung lain yang berjarak tidak berapa jauh dari kamarnya. Ia juga membawa surat yang di tinggalkan oleh tuan Nakamura tadi.


Anak buah Nawa hanya perlu mengirim sebuah pesan di dalam group untuk mengumpulkan semua orang. Dan saat Nawa sampai di aula, sebagian mereka sudah ada di sana dan sedang menunggunya.


Nawa duduk di kursi yang biasanya di duduki oleh tuan Nakamura. Ia meremas kedua tangannya yang terpaut tepat di depan mukanya. Menatap lurus tanpa ekspresi kepada dua pucuk senjata api yang ada di hadapannya.


Tidak ada yang memprotes sikap Nawa itu. Karna semua orang tau, kedudukan Nawa lebih tinggi dari mereka di dalam organisasi. Bahkan Nawa, bisa di anggap sebagai pengganti dari tuan Nakamura.


Tidak sampi satu menit menunggu, semua orang penting di dalam organisasi sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi masing-masing. Sebagian ada yang berdiri. Mereka semua kompak menatap kepada Nawa dan menunggu pria itu bicara.


Nawa tidak membuka pertemuan dengan bicara, tapi dengan meletakkan amplop di atas meja.


“Tuan Nakamura meninggalkan ini untukku. Bacalah.” Perintah Nawa kepada anak buahnya.


Dan orang yang di perintah Nawa membacakan isi surat itu dengan lantang. Semua orang serius mendengarkan. Tidak ada yang berani bicara sampai surat selesai di bacakan.


“Aku tidak akan membahas hal kedua dan yang lainnya. Aku ingin membahas hal pertama. Mengenai kematian tuan Nakamura. Bagaimana perkembangan penyelidikan kalian?”

__ADS_1


“Kami sudah menemukan siapa pelakunya.” Jelas salah seorang dari mereka.


“Tunjukkan jalannya.” Ujar Nawa dengan langsung berdiri dari duduknya. Sebelumnya, ia menyambar senjatanya dari atas meja. Langkah Nawa di ikuti oleh beberapa orang yang akan ikut dengannya.


__ADS_2