
Miss Z dan Suta membiarkan Dianty dan anak buahnya pergi dari Club dengan tatapan marah. Mereka melihat sekeliling yang sudah dalam keadaan berantakan. Meja dan kursi hancur. Kaca bekas pecahan botol minuman dan gelas berhamburan di lantai.
Mereka bahkan sudah tidak menyadari kapan ruangan itu menjadi sepi. Tidak ada lagi satu pengunjung maupun karyawanpun yang ada di sana. Hanya ada Tahara yang duduk dengan kelopak mata sayu akibat bengkak sebelah.
”Anda tidak apa-apa?” Tanya Miss Z kepada Tahara.
“Tidak, Nona. Maaf, saya kecolongan.”
“Tidak. Aku yang meminta maaf. Ayo, aku akan mengantar anda ke rumah sakit.” Tawar Miss Z. Ia membantu Tahara untuk berdiri.
Namun, langkahnya terhenti saat Suta meraih pergelangan tangannya. Ia menatap kepada wanita itu.
“Tidak usah. Biar aku saja yang mengantar. Kau pulanglah. Bukankah kau pasti lelah?” Ujar Suta memberi solusi.
Akhirnya Miss Z menyerahkan urusan Tahara kepada Suta. Pria itu langsung mengantarkan Tahara ke rumah sakit.
Di griya tawang, Nawa baru saja pulang dari kantor dengan diantar oleh Yoham, seperti biasanya.
Setelah sampai rumah, ia segera menuju ke ruang tempat perawatan Baskoro.
Sejak Anis mengetahui rahasia di dalam ruangan itu, pintu ruangan tidak lagi di kunci. Karna memang di rumah itu isinya orang-orang kepercayaan Nawa semua. Mereka tidak akan berani menghianati Nawa.
“Tuan, anda sudah kembali?” Tanya Rizal yang sedang tiduran di sofa besar. Tempat biasanya dia beristirahat.
“Kenapa kau sendiri? Dimana Anis?”
“Nona Anis belum pulang, Tuan. Entah kalau saya tidak tau dia pulang, mungkin dia ada di kamar.”
Nawa menganggukkan kepala saja. Kemudian ia keluar dari ruangan itu dan naik ke kamarnya.
Kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Ia segera menghidupkannya dan melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan Anis.
“Apa dia belum pulang?” Gumam Nawa pada dirinya sendiri. Ia menoleh kepada arloji di pergelangan tangannya. Sudah cukup larut dan Anis belum kembali.
Tiba-tiba fikiran Nawa dipenuhi oleh kecemasan. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada istrinya itu? Mengingat nyawanya mungkin sudah menjadi incaran musuh-musuhnya.
Nawa segera merogoh ponsel dari saku jasnya. Ia menghubungi nomor Anis. Satu panggilan dan Anis tidak mengangkat ponselnya. Membuat fikiran Nawa meliar kemana-mana.
__ADS_1
Baru setelah panggilan kedua, Anis mengangkat telfonnya.
“Halo?” Sapa Anis dari seberang.
“Anis? Kenapa baru diangkat? Kau dimana? Apa masih di rumah sakit? Aku akan menjemputmu. Kau tunggu disana.” Cecar Nawa tanpa memberikan Anis kesempatan untun menjawabnya.
“Tidak perlu. Aku sudah ada di basement. Aku baru saja sampai.” Jelas Anis kemudian.
Anis menatapi ponselnya yang sudah mati saat Nawa memutus sambungan telfon begitu saja. Ia mengernyit heran. Nada suara Nawa terdengar ketakutan.
Ting.
Suara pintu lift terbuka. Dan betapa terkejutnya ia saat sudah mendapati Nawa yang ada di dalam lift itu. Sesaat tatapan mereka bertemu, ada kepiasan sekaligus kelegaan yang terpancar dari netra Nawa.
Anis tidak menyadari langkah lebar Nawa yang secepat kilat mendekat kepadanya. Yang jelas, saat ini wajahnya sudah mendarat sempurna di dada bidang pria itu.
Nafas Nawa terdengar memburu. Bahkan Anis bisa mendengar detak jantung Nawa yang berdegub dengan sangat kencang.
“Kau membuatku khawatir. Kenapa baru pulang?” Suara Nawa bergetar. Ia melepaskan pelukannya dan menatap pias kepada Anis.
“Maaf sudah membuatmu khawatir, aku ketiduran di rumah sakit tadi.”
“Kenapa kau sangat khawatir?”
“Karna aku tidak ingin kehilangan dirimu.” Tegas Nawa. Raut wajahnya berubah rindu. “Ayo, kita naik.”Nawa menggenggam tangan Anis mesra masuk ke dalam lift kembali
Sepanjang perjalanan lift menuju ke lantai 81, Nawa tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Anis. Justru ia semakin mempereratnya seolah takut kalau Anis akan melarikan diri dari sisinya.
“Aku akan mencari pengawal untuk mengawalmu pergi. Aku bisa mati cemas kalau begini.” Lirih Nawa. Ia menoleh kapada Anis yang berdiri di sampingnya.
“Aku baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku. Jangan khawatir berlebihan begitu.”
“Prioritasku sekarang adalah kamu. Melindungi keselamatanmu, itu lebih penting dari apapun sekarang.”
“Walaupun begitu, kau jangan sampai lupa dengan tujuanmu. Aku akan membantu sebisaku. Yaaa, walaupun itu cuma berupa dukungan sederhana saja.”
Nawa terkekeh kecil. Ia menggeser tubuhnya dan tubuh Anis hingga saling berhadapan. Membenahi geraian rambut gadis itu dan menyelipkannya ke belakang telinga.
__ADS_1
Tapi, tangan yang awalnya hanya menyelipkan rambut di belakang telinga, kini menjalar ke tengkuk gadis itu dan memaksa kepala Anis untuk mendekat padanya. Kemudian ia memiringkan kepala dan langsung menghambur bibir ranum Anis.
Anis mengerjap-ngerjapkan matanya. Netranya membulat sempurna karna terkejut dengan sikap tiba-tiba Nawa itu. Namun, di detik berikutnya, ia malah jadi memejamkan matanya demi menikmati setiap luma tan bibir lembut Nawa.
Tanpa komando, tangan Anis bergerak melingkar di pinggang pria itu. Membalas setiap sentuhan hangat yang mendebarkan itu untuk ia simpan ke dalam hati.
Keduanya terhanyut dalam buaian hasrat perasaan yang sudah tidak bisa di bendung lagi.
Bahkan saat lift sudah sampai di lantai 81, pintu terbuka dan mereka masih melakukan hal yang sama. Pintu lift kembali tertutup dan mereka melanjutkan aksinya.
Beberapa menit kemudian, keduanya hampir kehabisan nafas. Bukan karna udara di dalam lift yang habis, melainkan karna gelora itu memakan sebagian besar tenaga mereka hingga paru-parunya harus bekerja lebih keras untuk menarik oksigen.
“Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku menyayangimu, Rengganis. Jadi, jangan buat aku khawatir lagi. Hem?”
Anis hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Meng-iyakan titah suaminya tanpa protes.
Setelah melemparkan senyuman kepada Anis, Nawa menekan tombol buka di samping pintu dan pintu liftpun kembali terbuka. Mereka berjalan bersisian masuk ke dalam griya tawang.
Sesampainya di kamar, keduanya langsung membungkus diri dalam selimut. Mengusir udara dingin tengah malam yang berhembus.
Malam ini, Nawa memeluk tubuh Anis dari belakang. Melingkarkan tangannya di perut gadis itu.
“Nawa?”
“Hem?” Jawab Nawa sambil megusapi kepala Anis perlahan.
“Apa kau menginginkannya sekarang? Kalau kau menginginkannya sekarang, aku akan memberikannya padamu.”
“Menginginkan apa?”
“Aku tau sebagai lelaki normal kau pasti menginginkan untuk berhubungan denganku. Apalagi aku adalah istrimu.”
Sebenarnya Anis merasa bimbang. Ia masih ragu apakah ia harus benar-benar memberikan seluruhnya kepada Nawa, atau bagaimana? Ia juga takut bahkan hanya dengan membayangkannya saja.
Nawa hanya menghela nafas pelan.
“Aku memang menginginkannya. Tapi, tidak sekarang. Aku harus bisa menahan diri. Saat semuanya sudah selesai nanti, aku pasti akan memintanya padamu. Aku tidak ingin menambah bebanmu. Untuk sekarang, cukup dengan begini saja.”
__ADS_1
Nawa membalikkan tubuh istrinya kemudian melanjutkan aksi di lift tadi. Sampai keduanya telelap di buai mimpi.