
Lift yang membawa Nawa menuju ke lantai dimana ruangannya berada, sepi. Hanya ada dirinya sendiri. Suasana seperti itu membuat fikirannya melalang buana.
Sial!
Ia memaki dalam hati. Betapa geramnya ia kepada Anis tadi. Gara-gara itu ia tidak bisa mengendalikan sikapnya dan malah menakuti gadis itu. Sekarang, rencananya untuk menarik perhatian Anis akan sedikit lebih sulit.
“Oh. Kebetulan sekali bertemu disini. Ibu ingin bertemu denganmu di ruangannya.”
Suara Barra saat pintu lift terbuka membuat Nawa melengos. Ia mendengus dalam hati dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
“Tunggu apa lagi? Ku bilang ibu ingin menemuimu.” Ulang Barra.
Nawa masih tidak menanggapi ucapan Barra. Dia hanya berjalan melangkahkan kakinya keluar dari lift dan membiarkan Barra mengomel karna kesal.
Seorang sekretaris Dianty mempersilahkan Nawa untuk masuk setelah membukakan pintu untuknya. Seperti biasa, pria itu hanya melengos saja sambil terus masuk kedalam ruangan itu tanpa banyak bicara.
“Duduklah. Aku akan menyelesaikan sedikit lagi pekerjaanku.” Ujar Dianty yang masih nampak acuh karna dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Nawa mendudukkan diri di sofa dan membenahi jasnya. Ia ingin cepat, namun Dianty masih duduk di kursinya di balik meja kerjanya.
Hampir lima menit Nawa menunggu, ia tidak pernah mengganggu Dianty. Ia memilih untuk bermain dengan ponselnya sambil menunggu Dianty menyelesaikan pekerjaannya.
Saat Dianty sudah menyelesaikan pekerjaannya, wanita anggun itu langsung berdiri dan duduk di sofa di dekat Nawa.
“Kenapa ibu memanggilku?” Tanya Nawa segera.
“Astaga. Kau ini. Tidak sabaran sekali.”
“Aku tidak punya waktu.” Tegas Nawa.
“Nanti malam, ajaklah istrimu makan malam di rumah. Aku ingin makan malam bersama dengan menantuku.”
“Sepertinya ibu sangat menyukai istriku.”
__ADS_1
“Tentu saja. Dia itu gadis yang baik, dan juga cantik tentunya. Aku tulus mendoakan kebahagiaan kalian.” Seringai Dianty.
“Baiklah, Bu. Terimakasih atas doanya. Kami akan hidup bahagia selamanya. Seperti yang ibu harapkan.”
Dari tatapan tajamnya, Nawa berusaha menyampaikan maksudnya kepada Dianty. Walaupun bibirnya tersenyum dan nampak sumringah, namun Dianty tau kalau anak sambungnya itu sedang mengutarakan sebuah ancaman padanya.
Perang dingin yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun itu masih belum menampakkan akhirnya. Bahkan keadaan kini semakin rumit karna mereka membenci dan bertarung secara terang-terangan.
“Jadi, bagaimana tentang proyek resort itu? Apa kau sudah menemukan investor? Aku harap kau segera mendapatkannya karna kalau tidak, para pemegang saham tidak akan senang dengan hal ini.” Dianty kembali melancarkan serangannya.
“Hemph, ibu tenang saja. Karna aku baru saja kembali dari mendapatkan investor.” Kini Nawa bisa membusungkan dadanya.
Dianty nampak agak terkejut. Tidak mungkin Nawa mendapatkan investor karna dia sudah menyebarkan rumor tentang kegagalan resort yang di kelola oleh Nawa tersebut. Dan dengan pengaruhnya, para investor akan berfikir ulang utuk memberikan suntikan dana kepada Nawa. Dia heran darimana Nawa bisa mendapatkan seorang investor untuk mendanai kelanjutan proyek itu.
“Oh? Benarkah? Baguslah kalau begitu. “ ujar Dianty pada akhirnya. Wajahnya jelas menampakkan kalau ia tidak suka dengan kabar itu.
Memang awalnya ia ingin membuat proyek itu berhasil, namun kemudian ia memilih untuk mengubur proyek itu bersama dengan Nawa sekaligus.
Puas sekali Nawa melihat wajah Dianty yang kelimpungan. Ia tersenyum samar sambil mengambil dokumen investasi yang baru saja ia tanda tangani bersama dengan Suta kemudian menunjukkannya kepada Dianty.
“Multy Invesment? Aku belum pernah mendengar nama perusahaan ini.” Ujar Dianty merasa curiga dengan Nawa.
“Aku juga kebetulan baru mengetahui tentang perusahaan itu. Aku bersyukur mereka tertarik dengan ide bisnisku dan bersedia untuk berinvestasi.” Ujar Nawa kemudian.
Membuat Dianty menjadi berang setengah mati. Namun ia hanya bisa menahannya dalam hati saja. Ia menutup dokumen itu dengan keras kemudian melemparkannya ke atas meja begitu saja. Wajah kesalnya tidak bisa lagi di sembunyikan.
“Apa ibu tidak suka?” Pancing Nawa. Ia masih belum puas melihat wajah masam Dianty.
“Kau tidak sedang di bohongi, kan? Kau harus hati-hati memilih investor, jangan sampai kau di bodohi dan malah kehilangan segalanya.”
“Kurasa inilah pilihanku satu-satunya. Atau bisa kubilang, kesempatan emasku yang tiba-tiba datang. Karna berkat seseorang, semua perusahaan investasi tidak ada yang mau menerima proyek itu.”
“Ehem!” Dianty merasa tersinggung. Ia mengalihkan wajahnya ke arah yang berlawanan dari Nawa.
__ADS_1
Nawa meraih dokumen dari atas meja, kemudian ia bangkit dan mengancingkan jasnya. “Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku dulu, bu.” Pamit Nawa.
Dianty hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa mengindahkan kepergian Nawa.
Dengan perasaan puas, Nawa menutup pintu ruangan Dianty saat ia sudah keluar dari sana. Ia tersenyum sebelum melangkahkan kakinya menuju keruangannya.
Sesampainya di ruangannya, ternyata Yoham sudah menunggu di sana. Pria itu langsung berdiri dari sofa saat melihat kedatangan Nawa.
“Cepat sekali kau kembali.” Ujar Nawa sambil melepas jasnya dan menggantungkannya di tempat gantungan yang ada di sudut ruangan di belakang meja kerjanya. Sebelum duduk, ia melinting kemejanya hingga sebatas siku kemudian mulai duduk di kursinya.
“Saya dengar anda di panggil oleh Nyonya?” Tanya Yoham. Ia terdengar mengkhawatirkan Nawa.
“Tenang saja. Kali ini aku bisa memukulnya dengan telak. Aku yakin dia pasti sedang kebingungan sekarang. Jadi, apa dia baik-baik saja sampai di rumah?”
“Dia?” Yoham bingung tidak yakin dengan siapa yang sedang di tanyakan oleh Nawa.
“Anis. Apa gadis itu sudah sampai ke rumah?” Nawa mengulangi pertanyaannya.
Sebenarnya bukan itu yang ingin ia tau. Melainkan tentang keadaan Anis setelah ia mencekiknya sedemikian rupa.
“Ya, saya mengantarkan nona Anis sampai di rumah, Tuan.”
“Apa, dia terkejut? Atau...” Nawa masih menyelidiki. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya kepada laptop yang ada di atas mejanya.
“Dia nampak terkejut. Dia bertanya padaku apa anda benar-benar akan membunuhnya.”
Mendengar ucapan itu, Nawa langsung menatap Yoham yang berdiri di hadapannya. “Dia benar-benar bertanya seperti itu?”
“Iya, Tuan.” Yoham mengangguk.
Entah kenapa ada sebuah rasa tidak tega dengan perlakuannya sendiri. Bukan apa, ia takut kalau rencananya untuk memanfaatkan Anis akan gagal karna ulahnya sendiri. Dan juga ada rasa tidak enak hati mengingat gadis itu sudah menyelamatkan nyawanya.
“Tuan, apa tidak apa-apa jika kita terlibat terlalu dalam dengan Suta? Saya punya firasat buruk tentang ini, Tuan.” Yoham menyatakan kekhawatirannya.
__ADS_1
“Jangan khawatir, dia tidak akan membunuhku sebelum uangnya kembali. Orang seperti Suta, tidak akan bertindak gegabah. Atau aku akan membunuhnya terlebih dahulu.” Seloroh Nawa. Nada suaranya terdengar penuh keyakinan walaupun ia sedang bercanda.
Namun Yoham benar-benar punya firasat buruk. Ia hanya menatap Nawa dengan tatapan khawatir dan sama sekali tidak terpengaruh dengan candaan Nawa yang terdengar menyeramkan itu.