
Rengganis sedang diam duduk di kursi di depan meja rias di kamarnya. Ia membiarkan dua orang yang merias wajahnya melakukan apapun padanya. Tahara menyewa jasa perias untuk dirinya walaupun ia sudah menolaknya dengan tegas.
Sesekali ia melirik ke arah ranjang dimana terdapat sebuah kotak berisi gaun pengantin yang dikirimkan oleh Dianty. Entahlah, apa keputusannya ini merupakan keputusan yang tepat? Hanya demi uang yang sebenarnya tidak seberapa itu. Mungkinkah dia salah jika berfikir jika tugasnya nanti akan mudah?
Sekitar jam dua siang, pengawal Tahara memberitahu kalau mobil jemputan untuk Rengganis sudah datang. Dan Rengganis sudah siap dengan gaun dan dandanan yang sempurna membalut kulitnya hingga nampak pangling dan terlihat lebih manis.
Sebelum pergi ke luar rumah, Rengganis dan Tahara mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan. Setelah itu, Tahara mengikuti Rengganis keluar dari rumah dan menuju ke sebuah mobil sedan mewah yang sudah terparkir di halaman.
Disana, Nawa sedang berdiri di samping mobil dengan bersaku tangan dengan setelan lengkap berwarna putih gading. Ada bunga mungil yang bertengger di saku jasnya. Membuat penampilannya nampak lebih berwibawa dari pada kemarin. Pria itu terus menatap calon istrinya yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Ada sedikit kekaguman atas kecantikan Rengganis. Hal yang wajar bagi mata orang pria. Namun ia segera membuang pandangannya ke arah lain sambil mengeluarkan tangan dari dalam sakunya kemudian masuk kedalam mobilnya.
Sementara Yoham membukakan pintu untuk Rengganis dan memeprsilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobil.
Tahara juga ikut mengantarkan Rengganis dengan mobil dan pengawalnya sendiri. Ia tidak ingin melewatkan momen itu.
Di dalam mobil, Rengganis terus saja menatap kepada Nawa dengan alis yang berkerut. Ia memperhatikan penampilan Nawa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Astaga. Kenapa kau menatapku seperti itu.!” Dengus Nawa karna merasa risih dengan kelakuan Rengganis.
“Padahal kau ini tampan.” Seloroh Rengganis jujur mengakui ketampanan Nawa.
“Jangan terpesona dengan ketampananku. Kau bisa berada dalam bahaya.” Acuh Nawa. Ia membuang pandangan ke luar jendela.
“Apa kau tidak ingin memuji kecantikanku?” Protes Rengganis. Ia ingin mendapat pujian dari calon suaminya itu.
“Apa artinya? Itu semua hanya polesan. Semua orang bisa menjadi cantik. Tapi kalau untuk kau, kau tidak secantik itu.”
Jawaban dari Nawa membuat Rengganis jengkel setengah mati sampai dia mendengus kesal. Disitu dia merasa kalau masa-masa sulitnya baru akan di mulai. Entah, apa dia bisa menjalankan misi ini dengan baik. Karna sepertinya Nawa tipe pria yang sulit untuk di taklukan. Tapi dia sudah terlanjur menerima tawaran itu. Jadi mau tidak mau, dia harus melakukannya.
__ADS_1
Mobil yang membawa mereka sudah sampai di halaman Kantor Urusan Agama tempat Nawa dan Rengganis akan menikah. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, keduanya lantas turun dari mobil.
Dianty yang sudah menunggu kedatangan Rengganis langsung menyambut dan memeluk hangat gadis itu.
“Astaga. Kau cantik sekali, Anis.” Puji Dianty.
Sementara Nawa hanya melengos saja. Ia tau kalau ini semua adalah rencana Dianty. Dan memang dia berniat untuk mengikuti permainan ini. Namun entah mengapa Nawa seperti ragu karna permainan ini melibatkan sebuah pernikahan. Hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan.
“Nawa, kau juga sangat tampan sekali. Kalian terlihat sangat cocok.” Puji Dianty kepada putra sambungnya itu.
”Kenapa Ibu ada disini?” Bisik Nawa kepada Dianty saat wanita itu mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Tentu saja untuk menyaksikan momen bahagia ini. Apa lagi.” Jawab Dianty sambil tersenyum simpul.
Dianty merasa dirinya sudah menang dengan menempatkan Rengganis untuk mengawasi setiap gerak gerik Nawa. Ia merasa gadis itu bisa di percaya karna yang ada di fikirannya hanyalah uang semata. Dan itu membuat Rengganis akan mudah di kendalikan.
“Anis, kau sudah resmi menjadi istri Nawa. Dan itu berarti kau adalah menantuku. Sebagai hadiah selamat atas pernikahan kalian, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” Ujar Dianty dengan menyerahkan kotak berisi kalung berlian dengan liontin berwarna biru langit. Lantas Dianty langsung memakaikan kalung itu ke leher Rengganis.
“Terimakasih, Tante.”
“Panggil Ibu saja. Seperti Nawa memanggilku. Tapi ingat, kalung ini jangan sampai kau lepas, ya. Kalung ini harus selalu ada di sini kemanapun kamu pergi.” Pesan Dianty kemudian.
Rengganis hanya mengangguk saja sambil menyentuh liontin kalung itu dengan jari-jarinya.
“Nawa, tolong jaga Anis baik-baik, ya. Dia itu sangat berharga bagi Tante.” Imbuh Tahara yang sejak tadi hanya memperhatikan saja.
Sebenarnya Nawa malas meng iyakan pesan dari Tahara itu. Toh dia benar-benar tidak peduli dengan kehidupan Rengganis. Benar mereka sudah menikah, tapi itu semua tidak lebih untuk melancarkan rencananya saja.
Dan tanpa tau akan hal itu, Rengganis terjebak di tengah-tengah pertarungan antara Dianty dan Nawa. Dia hanya peduli dengan banyaknya uang yang akan dia terima untuk memata-matai Nawa.
__ADS_1
“Baik, Tante.” Jawab Nawa pada akhirnya. Jawaban itu hanya merupakan formalitas semata sebagai bentuk sopan santunnya kepada Tahara.
“Tante, terimakasih atas semua perhatian dan kebaikan Tante selama ini. Terimakasih karna sudah menerimaku tinggal di rumah Tante.” Lirih Rengganis menghampiri Tahara. Ia memeluk wanita itu dengan erat.
“Sama-sama. Walaupun kamu sudah tinggal bersama dengan suamimu, sering-seringlah mampir.” Pesan Tahara lagi.
“Baik, Tante. Aku akan sering menjenguk Tante.”
Setelah berpamitan dengan semua orang, Nawa mengajak Rengganis untuk masuk kedalam mobil. Dan setelah itu Yoham melajukan mobil meninggalkan gedung Kantor Urusan Agama.
Rengganis sempat menoleh ke belakang dan mendapati Tahara dan Dianty yang sedang berbincang sebelum mobil berbelok dan menutupi pandangannya.
Rengganis membalikkan badan dengan sedikit menghentakkan tubuhnya. Ia menatap sebal ke arah jalan raya. Entah kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul di benaknya.
“Tapi ngomong-ngomong, apa kau tidak punya kekasih yang bisa di ajak menikah? Kenapa mau-maunya menikah denganku?” Selidik Rengganis untuk menghilangkan rasa kesalnya.
“Aku tidak punya kekasih. Memiliki seorang wanita tidak pernah ada dalam rencanaku.” Jawab Nawa datar.
“Lantas kenapa kau mau menikah denganku?”
“Kau sendiri? Kenapa mau menikah denganku? apa yang di tawarkan ibuku sehingga kau bersedia untuk menikah denganku?” Tiba-tiba Nawa berbisik di telinga renganis hingga membuat gadis itu terbelalak karna saking terkejutnya. Sambil berbisik, Nawa juga menggesek-gesek liontin di kalung pemberian Dianty yang melingkar di leher Rengganis.
“K-kau? apa maksudmu?” Rengganis jadi terbata.
“Tidak usah terkejut begitu. Kau hanya tidak tau siapa aku.”
Rengganis mati kutu. Tiba-tiba ia menjadi sangat takut setengah mati. Apalagi wajah Nawa yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya sehingga membuat nafas pria itu menerpa wajahnya. Nafas Nawa yang terasa panas ditambah dengan tatapan tajam dari netra Nawa seolah siap untuk menerkam dan melenyapkannya saat itu juga.
Diam-diam Rengganis merasakan lututnya gemetar tak karuan.
__ADS_1