
Nawa sedang berada di dalam mobil bersama dengan Yoham. Mereka belum lama meninggalkan gedung apartemen dan sedang berada di tengah-tengah perjalanan saat anak buah Nawa yang bertugas mengawasi CCTV di rumahnya menelfon dan mengabarinya tentang gerak gerik mencurigakan dari Anis.
Langsung saja Nawa membuka tabletnya dan menyambungkan perangkat CCTV di rumahnya.
“Hemph.” Nawa hanya tersenyum sinis melihat Anis yang sedang berjalan mendekati ruang rahasia.
“Kenapa, Tuan?”
“Lihatlah tikus kecil ini. Baru beberapa saat ku tinggalkan sudah berani mengendap-endap untuk mencuri makanan.” Ujar Nawa dengan terus memperhatikan ponselnya.
Kemudian Nawa mengaktifkan speaker agar suaranya bisa terdengar oleh Anis.
“Kau mau kemana? Berhenti disana.” Ujar Nawa kepada ponselnya. Ia tersenyum lucu saat melihat Anis yang terkejut sampai terjingkat. Gadis itu nampak mencari keberadaannya.
“Tidak usah mencariku. Cepat pergi dari sana sebelum aku kembali dan menyeretmu dengan kedua tanganku. Kau ini tidak mengerti atau memang terlalu berani untuk membantah laranganku?!” Ekspresi Nawa saat mengatakan itu terdengar sangat mendalami. Dan juga terlihat aneh karna ia melotot geram kepada ponselnya sendiri.
Lama Nawa hanya memperhatikan saja reaksi Anis. Tapi saat gadis itu menatap ke arah CCTV yang seolah menatap kepadanya, ia malah tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahahahahaha..!”
Yoham yang memang jarang mendengar Nawa tertawa selebar itu hanya mengintip saja lewat kaca spion. Merasa heran kenapa Tuannya itu malah tertawa seperti itu. Seperti sedang senang saja.
Tidak lama kemudian, mobil Nawa sudah sampai di tempat perjanjian pertemuan dengan Suta. Itu adalah sebuah restoran hotel bintang lima yang terkenal. Suta sudah memesankan sebuah ruangan khusus untuk pertemuan mereka.
Saat memasuki lobi hotel, seorang pria paruh baya menghampiri Nawa dan Yoham. Pria itu tersenyum ramah kepada mereka.
Itu adalah Temmy. Yang berperan sebagai ketua Anoda saat Nawa dan Yoham pergi ke kandang mereka waktu itu.
“Selamat datang, Tuan Nawa. Tuan Suta sudah menunggu anda. Mari” ujar Temmy kemudian.
__ADS_1
Nawa dan Yoham mengikuti Temmy dengan patuh. Sementara Yoham tidak mengendorkan pengawasan untuk Tuannya itu. Ia sudah bersiap dengan segala sesuatunya jika terjadi hal yang tidak terduga kepada Nawa.
Temmy mengajak Nawa dan Yoham ke sebuah ruangan yang sepi. Kemudian pria itu mengetuk ruangan itu tiga kali dan terdengarlah sahutan dari dalamnya yang menyuruh mereka masuk.
“Silahkan.” Ujar Temmy lagi setelah ia membukakan pintu untuk Nawa.
Namun saat Yoham hendak mengikuti Nawa masuk kedalam ruangan itu, Temmy segera menghalanginya dan melarangnya untuk masuk.
“Maaf, tapi Tuan Suta hanya ingin berbicara berdua saja dengan Tuan Nawa.” Tegas Temmy.
Pria itu, walaupun sudah nampak berumur, namun ketegasannya sulit sekali di lawan oleh Yoham. Guratan beberapa luka di wajahnya menampakkan dengan jelas kalau Temmy adalah orang yang jauh lebih berpengalaman daripada Yoham. Dan itu membuat Yoham terpaksa mengikuti perintah itu dan menunggu Tuannya di luar ruangan tanpa tau apa yang orang di dalam itu lakukan. Yoham sedikit khawatir kalau terjadi apa-apa dengan Nawa.
“Tidak perlu takut begitu. Tuan Suta tidak akan membunuh Tuanmu. Setidaknya tidak disini karna ini adalah tempat yang ramai.” Seloroh Temmy.
Yoham terkejut mendengarnya. Namun air mukanya langsung berubah saat melihat Temmy terkekeh di sampingnya.
“Posisi kita sama. Jadi jangan khawatir. Tuanmu akan baik-baik saja..” Ujar Temmy lagi. Sedangkan Yoham hanya terdiam saja mendengarkannya.
Dan Nawa tidak peduli dengan hal itu. Ia hanya terus berjalan dan mengambil duduk di hadapan Suta. Tatapannya tidak kalah tajam kepada Suta.
“Kenapa kau meminta bertemu?” Tanya Nawa langsung pada intinya.
“Haha. Santailah dulu. Berbasa basi dulu baru masuk ke intinya.” Seloroh Suta terkekeh.
“Aku tidak suka berbasa basi.” Tegas Nawa.
Suta masih terkekeh sambil menganggukkan kepalanya. “Ya, ya. Ngomong-ngomong, selamat atas pernikahanmu.”
Nawa terkejut mendengarkan hal itu. Ia berfikir darimana Suta bisa tau tentang pernikahannya.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa tau?”
“Di kota ini, tidak ada kabar yang tidak ku tau. Apalagi jika itu menyangkut orang-orang yang sudah mengenalku. Hubungan kita sudah cukup dekat untuk mengetahui kabar satu sama lain.” Jawab Suta. Ia membereskan rambutnya yang tergerai di keningnya.
“Aku tidak peduli tentang hal itu. Jelaskan saja kenapa kau ingin bertemu denganku?” Ujar Nawa berusaha membawa kembali topik pembicaraan mereka.
Suta menghela nafas dalam kemudian menggenggam kedua tangannya di atas meja. setelah itu, ia mematikan rokoknya di atas meja begitu saja. menekannya sampai hancur.
“Aku butuh informasi tentang orang yang menyuruh anak buahku waktu itu.” Akhirnya Suta ikut dalam pembicaraan.
“Kau bisa saja bertanya langsung pada anak buahmu, alih-alih bertanya padaku.”
“Ya, seharusnya memang begitu. Tapi berkat seseorang yang menghajarnya, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Karna geram, jadi aku langsung membunuhnya saja. Lidahnya sudah tidak berguna.”
Nawa mengernyit. Ia tau kalau orang yang di maksud oleh Suta adalah dirinya.
“Kenapa kau ingin tau? Bukankah itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu?”
Mendengar pertanyaan itu, Suta merebahkan punggungnya di sandaran kursi. “Aku tidak suka ada orang lain yang mencampuri urusanku. Terlebih menggangguku dengan memerintahkan anak buahku sesuka hati. Aku hanya ingin memberinya sediiikit pelajaran untuk tidak mengganggu milik orang lain.” Suta memberi tanda dengan jari-jarinya.
Kini gantian Nawa yang menghela nafas dalam. Ia tidak sepenuhnya percaya dengan Suta. Karna mustahil pria itu tidak tau kalau anak buahnya di bayar oleh Bagas untuk melenyapkan dirinya. Ia menatap Suta dengan tatapan ragu.
“Kau tidak berfikir kalau aku akan percaya semua ucapanmu, kan?” Kata Nawa.
“Aku tidak menyuruhmu untuk percaya. Berikan saja sebuah nama untukku dan selebihnya biar aku yang mengurusnya.” Balas Suta.
Menurut Nawa, sepertinya Suta tidak berbohong. Tidak ada alasan Suta untuk berbohong padanya. Pria itu tidak memiliki motif untuk membohonginya. Tidak ada untungnya juga jika Suta melakukan hal itu. Tapi ia tidak tau apa yang sedang di fikirkan oleh Suta sekarang. Ia sama sekali tidak bisa menebaknya
Nawa berfikir keras sebelum menyebutkan nama Bagas kepada Suta. Ia menimbang segala kemungkinan yang ada. Apa akan ada untungnya untuk dia atau malah hal itu akan merugikan dirinya sendiri
__ADS_1
“Aku masih tidak mengerti kenapa kau mau repot-repot untuk menemuiku hanya karna masalah begini. Aku yakin kau bisa menemukan banyak cara untuk mengetahuinya tanpa bertemu denganku.” Nawa masih berhati-hati terhadap Suta.
“Astaga. Inilah alasanku tidak suka berurusan dengan pebisnis kantoran sepertimu. Kau pasti sedang menimbang segala keuntungan yang bisa di tukar dengan nama orang itu, kan?” Suta berhasil membaca fikrian Nawa. Ia tidak sabar melihat Nawa yang lamban berfikir dan tidak segera menjawabnya.