
Alarm di ponsel Rengganis berbunyi tepat pukul satu siang. Membuat ia terkejut dan langsung bangun dengan gelagapan.
Hufh. Ia mengusap wajahnya untuk mengumpulkan kesadarannya.
Rengganis menyibakkan selimutnya kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci muka. Ia terpaku menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin kamar mandi. Sempurna sudah mata panda itu melekat di matanya. Setelah mencuci muka dan berganti pakaian, Rengganis langsung keluar dari kamar dan pergi.
Hari ni, dia berencana memanjakan dirinya dengan pergi ke mall untuk sekedar cuci mata. Kalau nanti ada barang bagus yang menarik perhatiannya, tidak menutup kemungkinan dia akan membelinya.
Kali ini, Rengganis pergi dengan menggunakan sepeda motornya. Ia sengaja melajukan motornya cepat-cepat karna cuaca hari ini lumayan terik.
Ia memilih parkir di basement gedung pusat perbelanjaan itu dan kemudian turun dari motor dan langsung naik tangga ke lantai satu.
Sejenak ia menghentikan langkahnya tepat di ujung tangga dan menikmati pemandangan luar biasa yang ada di hadapannya. Ia menarik nafas dalam untuk memnghirup aroma ‘kesenangan’ yang berpendar di sana. Kemudian ia tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya.
Ia sengaja memilih waktu siang hari karna ia ingin mencicipi sebuah makanan yang sedang viral di media sosial untuk makan siangnya. Maka dari itu ia segera naik ke lantai food court dan mencari cafe itu.
Dan benar saja, disana sudah banyak yang mengantri sampai-samapi ia takut kalau tidak kebagian. Tapi untunglah, ia masih kebagian makanan yang berbentuk seperti sandwich itu.
Setelah mendapatkan pesanannya, Rengganis segera mencari tempat duduk yang kosong. Ada satu meja kosong di dekat dinding, dan ia segera pergi ke sana sebelum di dahului orang lain.
Setelah selesai makan, ia kembali berkeliling untuk melihat-lihat.
“Oh, kau? Bukankah kau saudara jauh Tahara?” Seorang seorang wanita paruh baya membuatnya menghentikan langkahnya. Ia menoleh kepada wanita yang sedang berjalan dengan seorang pria muda itu kemudian memperhatikan wajahnya seksama. Ia mengingat-ingat dimana tepatnya dia melihat wanita itu.
“Oh, apa kabar, Nyonya?” Ujar Rengganis setelah dia mengingat siapa wanita itu. Itu adalah wanita teman Tahara yang ada di club malam itu.
“Baik, baik. Sedang apa kau di sini? Sendirian?”
“Iya, Nyonya.”
“Ooh, ternyata kau lebih cantik saat siang hari.” Seloroh wanita itu. Sedangkan pria yang bersama dengan wanita itu hanya menatapnya saja sambil melengos. “Aku lupa, siapa namamu?”
“Rengganis, Nyonya.”
“Oh, iya. Rengganis. Aku Dianty. Dan ini putraku, Bagas.”
“Halo. Senang bertemu dengan anda.” Ujar Rengganis mengangguk kepada Bagas.
__ADS_1
“Apa kau punya waktu? Bagaimana kalau kita mengobrol dulu?” Tawar Dianty.
“Emm, boleh.” Rengganis menerima tawaran Dianty.
Dan Rengganis mengikuti Dianty menuju ke sebuah ruangan VIP di salah satu butik langganan Dianty yang ada di sana.
“Jadi bagaimana dengan pekerjaanmu?” Tanya Dianty menyelidik.
“Baik-baik saja, Nyonya.” Jawab Rengganis. Ia berusaha menebak kenapa Dianty mananyakan masalah pekerjaannya? Atau hanya sebatas basa basi?
“Aku ingin menawarimu sebuah pekerjaan yang bagus. Apa kira-kira kau mau menerimanya?” Akhirnya Dianty mengutarakan niatnya.
“Pekerjaan, Nyonya?”
“Ya. Bagaimana?” Tanya Dianty dengan serius.
“Berapa banyak anda akan membayarku? Karna aku sangat menyukai uang.” Ujar Rengganis tanpa malu.
“Hahahaahahahaha!” Mendengar hal itu Dianty malah tertawa terbahak-bahak.
“Astaga, ternyata kau persis seperti yang di ceritakan oleh Tahara. Yang jelas, aku akan memberimu lima kali lebih banyak daripada gajimu di club.” Jelas Dianty kemudian.
“Memangnya saya harus bekerja apa, Nyonya?”
“Kau hanya perlu menjadi mata dan telingaku.”
Sepertinya itu tidaklah sulit. Bathin Rengganis.
“Boleh saya bertanya kenapa anda memilih saya?”
“Karna aku lebih percaya dengan uang daripada manusia karna uang tidak pernah berkhianat. Dan kau adalah gadis yang sangat menyukai uang, bukan?”
Jawaban Dianty ternyata mampu memuaskan rasa penasaran Rengganis. Gadis itu nampak tersenyum senang.
“Apa yang harus saya lakukan, Nyonya?”
“Kau harus menikahi putraku.” Jelas Dianty.
__ADS_1
Rengganis sangat terkejut mendengarnya. Ia terbelalak dan seketika ia menoleh kepada Bagas yang duduk di samping ibunya.
“Tidak, Bukan dia. Tapi putraku yang lain.” Jelas Dianty sambil tertawa.
Walau penjelasan terakhir itu cukup mampu membuat renganis lega, karna Bagas terlihat menyeramkan walau pria itu nampak pendiam.
Tapi tunggu dulu, menikah?
“Tapi, apa saya benar-benar harus menikah, Nyonya?”
“Delapan kali lipat.”
Delapan kali lipat? Itu berarti..... Otak Rengganis otomatis menghitung.
“Baiklah, saya setuju.” Ujar Rengganis pada akhirnya. Dia memang sangat menyukai uang. Ia tidak berfikir akan resiko apa yang mungkin akan di hadapinya nanti. Tapi Rengganis sangat tahu, resiko itu akan sepadan dengan besarnya uang yang akan dia terima.
“Hahahaha. Aku menyukai orang sepertimu, Anis. Jadi, tunggu saja kabar dariku. Aku akan menghubungimu nanti.” Ujar Dianty kemudian sambil mengulurkan tangan dan segera di sambut oleh Rengganis.
“Terimakasih, Nyonya.” Ujar Rengganis kemudian.
“Baiklah. Sebagai hadiah atas kerja sama kita, aku akan membelikanmu sebuah tas. Kau bebas memilih tas mana yang kau mau.”
“Benarkah, Nyonya?”
Dianty mengangguk.
“Sekali lagi terimakasih, Nyonya.” Rengganis sangat senang. Ia kemudian beranjak dari sofa dan pergi untuk memilih tas yang terpampang di lemari kaca.
Pilihan Rengganis jatuh kepada tas milik merk ternama dengan warna merah maroon. Ia sempat melihat lebel harganya, tapi ia tidak peduli jika tas itu berharga belasan juta. Toh Dianty sudah menawarinya tadi. Jadi dia harus mengambil kesempatan itu. Kapan lagi dia punya tas mahal kalau tidak sekarang?
Setelah mendapatkan tas pilihannya, Rengganis pamit kepada Dianty. Wanita itu tersenyum senang karna ternyata tidak sulit membujuk Rengganis untuk bekerja sama dengannya.
“Apa dia bisa di percaya, Ma?” Tanya Bagas saat melihat Rengganis yang sudah pergi meninggalkan mereka.
“Kau dengar sendiri, kan? Kalau dia sangat menyukai uang? Orang seperti itu, akan mudah di kendalikan asal kita memberinya banyak uang. Persis seperti yang di beritahu oleh Tahara. Lagipula dia saudara Tahara. Dan Mama percaya dengan teman Mama.”
Entahlah, Bagas nampaknya tidak sepemikiran dengan ibunya. Tapi ia juga tidak bsia membantah keputusan ibunya. Ia lantas kembali memperhatikan Rengganis yang kini sudah menghilang di balik toko lain.
__ADS_1
Rengganis berjalan dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya. Ia senang sekali mendapat hadiah tas itu. Ia akan memberikan tas itu kepada May agar temannya itu bisa menjualnya dan uangnya bisa untuk biaya berobat ibunya. Yang sebenarnya, Rengganis tidak butuh tas semahal itu. Karna dia sudah punya segala yang dia butuhkan.