
Dan sekalipun waktu berlalu, tapi hati Anis tidak bisa pulih kembali. Tetap remuk seperti empat tahun yang lalu. Bahkan wajah mungil yang sedang merengek di hadapannya itu hanya mampu membuat setengah hatinya kembali utuh.
“Ma! Dengar tidak?!” pekik bocah pria berwajah sangat tampan di hadapannya. Bocah kecil yang berusia sekitar 3 tahun itu terus menarik-narik lengan baju Anis.
“Gail, jangan begitu. Mamamu sedang lelah.”
“Tapi aku ingin es krim, Paman.”
“Ayo, dengan Paman saja. Paman antar beli es krim.” Rayu Suta.
“Maaaa.....” rengek Gail.
“Gail sayang. Pergilah dengan Paman Suta. Mama sedang lelah sekali. Mama akan tunggu disini ya.”
“Tidak mau dengan Paman Suta. Gail mau dengan Mama.”
“Gail...” lirih suara Anis memanggil nama putranya.
“Ya sudah kalau Mama lelah. Aku beli sendiri saja.” Dengus Gail kesal.
Anis dan Suta saling tatap. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya yang tidak terlalu ramai itu.
Hari ini, Anis dan Suta mengajak Gail berjalan-jalan di sekitar Kota Tua sekedar untuk menyenangkan bocah itu.
Anis melihat ke arah penjual es krim yang tidak terlalu jauh dari mereka dan merasa itu akan aman untuk membiarkan Gail pergi membeli eskrim sendiri. karna bocah itu sama sekali tidak mau di antar oleh Suta.
“Mama bilang Gail harus belajar mandiri. Paman Suta tidak perlu mengantarkan Gail. Gail bisa pergi sendiri.” tegas ocah itu sebelum nyeloyor pergi begitu saja setelah menerima lembaran lima puluh ribu dari Anis.
Anis dan Suta kompak saling tatap dan tersenyum. Melihat ke arah Gail berlari dan berhenti di penjual es krim.
“Pak, beli eskrimnya satu.” Pesan Gail pada penjual.
Bapak penjual es krim sedang melayani pembeli lain. Di sekitarnya sedang di kerumuni anak-anak kecil yang juga ingin membeli es krim.
“Pak beli es krim!” teriak Gail karna merasa si bapak penjual tidka mendengarkannya. Ia menjulur-julurkan uang lima puluh ribu yang ia pegang untuk di berikan kepada penjual.
Namun sayang, uang itu terlepas saat seseoang mendesaknya dari belakang. Bocah kecil itu hampir saja terjatuh dan tersungkur di lantai.
Untung saja, seorang pria berkaca mata hitam segera menangkapnya
“Aduh!” pekik Gail. Ia merasakan tubuhnya tersangkut di lengan kekar seseorang. Ia segera bangun dan berdiri seperti semula. Ia menatap pria berkacamata hitam itu dengan lekat.
“Terimakasih, Paman.” Ujarnya sambil menganggukkan kepala.
Pria itu tersenyum. “Sama-sama. Apa kau ingin membeli es krim?”
__ADS_1
Gail menganggukkan kepalanya. “Tapi uangku sudah menghilang entah kemana.” Adu Gail.
“Tidak apa-apa. Biar aku yang akan mentraktirmu.”
“Kenapa?” tanya Gail heran. Ia di ajarkan oleh ibunya kalau tidak boleh serta merta menerima tawaran orang asing.
“Kok kenapa?”
“Kenapa Paman mau membelikanku es krim? Paman tidak mengenalku.”
Pria itu tersenyum. “Hemh. Apa aku harus mengenalmu hanya untuk membelikanmu es krim?”
Gail sontak mengangguk.
“Hahahahah. Kau ini pintar sekali.” Pria itu mengelus puncak kepala Gail. Namun Gail segera mengalihkan kepalanya saat mendapat dua kali sentuhan.
“Kalau begitu, anggap saja ini sebagai perkenalan dariku. Ayo.”
Perlahan, Gail merasa luluh juga. Ia menunggu antrian sementara pria itu membelikan es krim untuknya.
“Ini, untukmu.”
Gail menerimanya dengan senang hati. “Terimakasih, Paman tampan. Ngomong-ngomong namaku, Gail.”
Pria itu kembali tersenyum. Ia mengangguk dan menatapi wajah Gail dari balik kacamatanya.
“Baiklah.”
“Sampai bertemu lagi, Gail.”
Gail segera berlari dan kembali menghampiri ibunya. Anis dan Suta menoleh kepada bocah yang baru saja ikut duduk bersama mereka itu.
“Kenapa lama sekali? Uang kembaliannya mana?”tagih Anis.
“Oh, uangku sudah hilang, Ma.” Jelas Gail tanpa merasa bersalah. Ia terus menjilati eskrim yang mulai meleleh di tangannya.
“Hilang? Kenapa bisa hilang?”
“Tadi jatuh entah kemana.”
“Terus bagaimana kamu membayar es krim itu?”
“Tadi ada Paman tampan yang baik yang sudah membelikanku ini.” Ujar Gail menatap ke arah penjual es krim.
Sekilas, Anis mengernyit saat melihat sisi samping wajah Yoham yang berjalan menjauh dari penjual es krim.
__ADS_1
“Yoham?” lirih Anis. Ia segera bangun berdiri dan menatap lurus ke depan.
“Yoham? Mana?” Suta segera mengikuti arah pandang Anis namun tidak melihat siapapun.
“Aku yakin tadi itu Yoham.”
“Mungkin kau salah lihat. Aku dengan Yoham sekarang berada di LA. Tidak mungkin dia disini.”
Anis menghela nafas sebentar. Kemudian kembali duduk.
Sungguh, ia yakin tadi itu adalah Yoham.
Mengingat Yoham, fikirannya otomatis terngingat Nawa. Rasa nyeri kembali membumbung di dalam hatinya. Rindu yang semakin hari semakin memuncak dan mengeras seperti batu, membuat dadanya semakin sesak.
Ia mengalihkan tatapannya kepada pria mungil yang rupanya sangat mirip dengan ayahnya itu. Ya, wajah Gail sangat mirip dengan Nawa. Hidung, mata, mulut, bahkan dahi, sangat menyerupai Nawa. Memandangi wajah Gail lekat-lekat, begitulah cara Anis mengikis rindu kepada pria yang di cintainya itu.
Sampai tanpa terasa, matanya mulai berair dan Gail memperhatikan hal itu.
“Ma? Kenapa mama menangis?”
Pertanyaan Gail mengejutkan Anis. Ia segera mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memaksa masuk kembali arimata yang sudah hampir tumpah itu.
“Mama tidak menangis. Cuma kelilipan saja. Apa Gail sudah puas bermainnya? Bisa kita pulang sekarang?”
Gail mengangguk. Ia memasukkan potongan terakhir corn eskrim ke dalam mulutnya.
“Ayo, kita pulang.” Ajaknya kemudian.
Sebelum beranjak, Suta membersihkan mulut dan tangan Gail yang belepotan es krim dengan saputangannya. Setelah itu, mereka berjalan menuju mobil.
Di dalam mobil, Gail tertidur di dekapan Anis. Sepertinya bocah itu sudah lelah karna lama bermain sepeda dengan Suta tadi.
Sepanjang perjalanan, Anis lebih banyak diam. Ia lebih banyak melihat ke luar jendela. Dan fikriannya sedang terbayang akan sebuah rindu yang mungkin tidak akan pernah bisa tercurahkan lagi.
“Kamu sedang memikirkan apa, Nis?”
Pertanyaan Suta membuat Anis menoleh kepada pria yang sedang fokus mengemudi itu.
“Rindu.” Jawab Anis setelah kembali menatapi jalan raya.
Mendapat jawaban itu, membuat Suta tidak bisa menemukan bahan perbincangan yang tepat lagi. Karna saat ia mulai bertanya tentang ‘rindu’ yang di rasakan Anis, itu sama saja seperti sengaja mengorek luka menganga di hati wanita itu.
“Apa kau ingin membeli sesuatu dulu sebelum pulang?”
“Tidak. Kita langsung pulang saja.”
__ADS_1
Pembicaraan itu terhenti sampai di situ. Suta sedang memberikan waktu kepada Anis untuk menekan rasa rindunya kembali. Ia tahu, sangat tahu, betapa berat perjuangan Anis untuk menguatkan diri demi Gail. Untuk berusaha melupakan kesakitannya selama ini.
Bahkan setelah beberapa tahun berlalu pun, Anis masih saja tenggelam dalam kesakitannya sendiri. sepertinya tidak ada yang bisa menolongnya, bahkan Suta sekalipun.