
Sudah lebih dari satu bulan ini, perlakuan Nawa kepada Anis melunak. Pria itu sudah jarang membentak ataupun memarahi Anis. Itu di karenakan Anis sudah mulai terbiasa dengan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan, terlebih saat mereka ada di rumah. Namun tetap, Anis masih menggali tentang Nawa. Ia melaporkan kemana nawa pergi dan apa yang pria itu lakukan kepada Dianty.
Dan selama satu bulan ini juga, Anis masih belum menemukan cara untuk masuk ke dalam ruang rahasia itu. Sistem keamanannya sangat canggih sehingga membuat Anis kesulitan. Apalagi pergerakannya selalu di awasi oleh CCTV selama 24 jam penuh.
Pagi ini, Anis sedang mematut bayangan dirinya di depan cermin ruang ganti. Ia sudah siap dengan celana jeans berwarna biru dan atasan putih. Ia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Setelah di rasa cukup, ia menyambar tas selempangnya dari gantungan kemudian keluar dari ruang ganti.
“Kau mau kemana?” Tanya Nawa yang sedang membenarkan dasinya.
“Aku akan pergi untuk mencari udara segar. Sudah lama aku tidak bertemu dengan teman-temanku.”
“Memangnya kau punya teman?” Seloroh Nawa.
“Jangan mengejekku. Walaupun aku jarang keluar rumah, tapi aku juga punya teman-teman yang ingin menghabiskan waktu bersama denganku.” Cibir Anis.
“Aku fikir temanmu hanya May saja.” Nawa langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Ucapan Nawa itu langsung mengubah suasana menjadi canggung. Anis masih dalam suasana berduka karna kematian May yang tragis. Saat Nawa menyinggung nama May, hati Anis kembali terkoyak.
“Maaf, aku tidak bermaksud...”
“Sudahlah, aku sudah terlambat.” Anis segera berlalu demi menghindari tatapan Nawa karna matanya mulai berair.
Nawa hanya bisa memandangi punggung Anis yang menghilang dari balik pintu. Ia merasa tidak enak hati karna sudah menyinggung perihal hal menyedihkan itu.
Anis menumpahkan tangisnya saat berada di dalam lift. Berkali-kali ia menyeka air matanya yang berjatuhan membasahi pipi.
Sesampainya di tempat parkir, Anis segera menghampiri sepeda motornya dan mengenakan helm di kepalanya. Barulah setelah itu ia naik dan langsung melajukan sepeda motornya keluar dari halaman apartemen.
Dari jendela balkon ruang tamu, Nawa bisa melihat sebuah bayangan sekecil semut yang sedang berjalan ke arah jalan raya. Ia tau kalau itu adalah Anis. Pria itu menghela nafas kemudian berjalan ke arah sofa untuk mengambil jasnya kemudian keluar dari Penthaouse.
__ADS_1
Anis berhenti di sebuah pusat perbelanjaan dan memarkirkan sepeda motornya. Ia berjalan menuju ke lantai dua mall kemudian masuk di sebuah gerai butik terkenal. Itu adalah gerai butik yang pernah ia masuki saat bertemu dengan Dianty dulu.
“Silahkan, Nona.” Salah satu karyawan butik itu mengarahkan Anis untuk masuk ke dalam sebuah ruang VIP. Disana, sudah ada Barra yang sedang menunggunya.
Anis mengernyit melihat pria yang sedang membaca majalah itu. Ia tau siapa Barra karna ia pernah bertemu dengan pria itu saat di SJ Tower dan saat makan malam di rumah besar.
“Sedang apa anda disini? Mana Ibu?” Tanya Anis pada Barra. Ia mengambil duduk di hadapan Barra kemudian meletakkan tasnya di sofa di sampingnya.
“Oh, kau sudah datang? Ibu tidak bisa datang jadi dia mengirimku kemari. Aku dengar kau adalah mata-mata yang di kirimkan Ibuku untuk Nawa? Astaga, aku sama sekali tidak menduga ini.” Seloroh Barra padahal ia sudah tau semuanya sejak semula.
Anis hanya diam saja sambil menatap tajam kepada Barra. Ia tidak yakin ia bisa menyampaikan informasi kepada pria yang nampaknya tidak tau apa-apa itu.
Barra mengulurkan tangannya untuk meminta sesuatu dari Anis. “Berikan padaku.” Ujar Barra.
“Tidak ada.” Jawab Anis spontan.
“Aku masih belum bisa masuk ke dalam ruang rahasia itu. Keamanannya sangat tinggi dan aku butuh waktu.”
“Ayolah, jangan kecewakan Ibuku. Kami sudah membayarmu dengan sangat mahal.”
“Atau kalian bisa mencari orang lain untuk melakukannya.” Ancam Anis.
“Kau gila? Bagaimana mungkin kami akan mencari penggantimu sementara kau sudah menikah dengan Nawa?”
“Kalau begitu, tunggulah.”
Barra menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Ia tidak menyukai gadis bodoh yang sudah di sewa oleh Ibunya itu karna gadis itu bekerja sangat lamban. Sudah sebulan dan dia belum menemukan informasi apapun yang berguna.
“Berapa lama kami harus menunggu?”
__ADS_1
“Aku sudah pernah mengatakan ini pada Ibumu. Kalau aku akan melakukan ini dengan caraku.”
“Jadi apa caramu itu?!” Barra sudah tidak sabar dengan kekesalannya. “Dengar, jangan membuat kami menunggu lebih lama lagi. Aku bisa saja menyakitimu kalau kesabaranku sudah habis.”
Ancaman seperti itu sama sekali tidak mempan terhadap Anis. Ia bahkan sudah merasakan saat nyawanya berada di ujung tanduk saat Nawa mencekiknya dulu.
“Aku tidak punya banyak waktu karna resort yang di kelola Nawa sudah mulai berjalan pembangunannya. Aku harus bisa merebut resort itu kembali setelah rampung 100%. Apa kau mengerti?”
Ya, Anis sangat mengerti kalau mereka semua sedang di kejar oleh waktu. Dan sepertinya Anis harus bergerak cepat kali ini. Ia berada di tengah-tengan para manusia yang haus akan harta dan kekuasaan. Ia menyadari betapa besar bahayanya jika ia terus mengulur waktu.
“Aku mengerti.” Jawab Anis.
“Ku beri kau waktu tiga hari untuk mengetahui isi ruang rahasia itu. Kalau tidak, aku akan memberitahu Nawa semuanya dan membuatmu mati di tangannya.” Ancam Barra lagi.
Barra bangkit dari duduknya dengan menghempaskan kakinya. Ia sengaja menunjukkan ancamannya kepada Anis untuk menekan emosi gadis itu. Padahal Anis sama sekali tidak peduli dengan ancaman itu karna pada dasarnya Nawa sudah tau kalau ia adalah suruhan Dianty.
Anis tau kalau Nawa sengaja ikut dalam permainannya, dan karna itulah membuatnya kesulitan untuk mengorek informasi. Nawa selalu berhati-hati agar tidak membuka diri kepada Anis. Apalagi perihal ruang rahasia itu, Nawa sama sekali tidak mengijinkan siapapun berada di dekatnya.
Anis hampir frustasi memikirkan cara untuk dapat masuk ke dalam ruang rahasia. Namun seberapapun ia memikirkan kemungkinannya, ia tetap menemui jalan buntu. Satu-satunya cara adalah, ia harus mematikan sistem keamanan dan CCTV terlebih dahulu. Itu adalah bagian yang paling merepotkan.
Drrt... Drrt... Drrt...
Anis mengambil ponselnya saat ponsel itu bergetar.
“Halo, Vivi?” Sapanya. “Baiklah, aku akan ke sana sekarang.” Ujar Anis sebelum mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya di dalam tas.
Anis bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang VIP butik, ia kemudian pergi untuk bertemu dengan Vivi, temannya. Hari ini mereka sudah berjanji untuk melihat pertunjukan busana yang di adakan oleh keluarga Vivi. Dan Vivi merupakan salah satu perancangnya.
Sebenarnya Anis punya banyak teman. Hanya saja ia jarang berkumpul dengan mereka kalau tidak ada hal yang penting yang perlu di bahas. Dan Vivi merupakan salah satu temannya yang masih berhubungan baik dengannya hingga saat ini.
__ADS_1