
Dari kejauhan, terdengar suara speedboat mendekat. Nampak dua sosok pria yang berdiri di atasnya. Dan Anis mengenali mereka.
Nawa mengernyit saat speedboat itu berhenti di tepi pantai. Ia juga mengenali mereka. Salah satunya adalah Suta. Pria itu melambaikan tangan pada Anis dan Nawa.
“Yo! Apa kalian sudah menunggu lama?” Tanya Suta seolah tidak ada beban.
Kekesalan Nawa kembali memuncak setelah melihat wajah tak berdosa Suta. Pria itu bahkan datang dengan mengenakan baju pantai yang cerah dan berwarna-warni. Memakai topi bundar dan kacamata hitam. Seperti sedang berlibur saja.
“Bolehkah aku menghajarnya?” Geram Nawa menggeretakkan giginya.
Bukan hanya karna Suta datang bak pesantai, tapi ia juga kesal karna pria itu mengerjainya habis-habisan. Sebetulnya Nawa hanya ingin melampiaskan kekesalannya kepada Suta. Karna tidak mungkin ia menghajar gadis yang ia cintai itu. Ia butuh pelampiasan dan Suta adalah orang yang sempurna untuk mengemban pelampiasan itu.
“Terserah kau.” Jawab Anis santai.
“Ya ampun. Kau terluka cukup parah.” Ejek Suta sambil mengernyit lucu. Menatap balutan di perut dan lengan Nawa.
Sudah, Nawa tidak bisa lagi menahan diri. Ia langsung berdiri tegap, berjalan dengan langkah lebar menuju ke Suta yang juga tengah berjalan ke arahnya. Dan,
Bug!
Nawa berhasil mendaratkan tinjunya di wajah Suta. Hingga membuat Suta tersungkur di pasir. Tidak sempat mengelak. Karna ia tidak menyangka kalau pukulan orang yang terluka bahkan masih sekuat itu.
Detik berikutnya, Nawa menduduki perut Suta dan menghujamkan pukulannya berkali-kali.
Tak mau kalah, Suta yang sudah merasakan bogem mentah dari Nawapun membalasnya. Ia mengerahkan tenaganya dan membuat Nawa terbalik. Kini, ia duduk di atas pria itu dan hendak meninju wajahnya.
Namun, kepalan tangan Suta melayang di udara. Ternyata ia tidak tega memukul Nawa yang notabenenya sedang terluka parah.
Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Nawa. Ia mendorong tubuh Suta hingga terjungkang. Nawa lanjut berdiri. Menatap kesal kepada Suta. Tatapannya penuh emosi dan kemarahan. Ia benar-benar akan melampiaskan semua rasa marahnya kepada Suta.
“Hei, kau ini kenapa? Apa jin di pulau ini sudah merasukimu? Kenapa menghajarku yang tidak tau apa-apa?”
“Breng sek!” Teriak Nawa.
“Breng sek bagaimana? Apa salahku?”
“Kau menipuku! Dasar ba jingan.” Dengus Nawa penuh emosi.
__ADS_1
“Wo, wo, wo. Kok jadi aku? Anis yang menipumu. Bukan aku.”
“Diam! Bang sat!” Hardik Nawa lagi.
Namun Suta hanya nyengir saja mendapat makian itu. Ia justru merasa lucu melihat wajah marah Nawa.
Sementara dua pria itu sedang beradu tinju, Hito yang datang bersama dengan Suta menghampiri Anis yang sedang duduk bersila di pasir. Melihat santai kepada yang berkelahi seolah sedang menonton tayangan bioskop yang menampilkan film aksi. Sesekali ia tersenyum saat salah satu Diantaranya tersungkur ke atas pasir.
“Nona, anda tidak apa-apa?” Tanya Hito khawatir. Ia memberikan kemejanya pada Anis karna Anis hanya mengenakan dalaman saja.
“Aku tidak apa-apa.” Jawab Anis santai.
“Apa tidak apa-apa membiarkan mereka seperti itu?”
“Biarkan saja. Paling salah satunya lumpuh. Atau paling parah, mati.” Santai sekali Anis berkata begitu. Seolah itu bukan masalah besar baginya.
Wajah Nawa sudah membengkak akibat hantaman tinju dari Suta. Begitu pula sebaliknya. Suta tak kalah babak belur. Sebenarnya kalau ia ingin membalas Nawa, ia bisa mengalahkan Nawa dengan mudah. Apalagi Nawa sedang terluka. Tapi Suta ingin bermain-main sebentar dengan Nawa. Jadi dia hanya meladeni serangan pria itu.
Tinju Nawa lumayan keras juga. Padahal posisinya sedang terluka. Itulah yang membuat Suta juga mendapat beberapa hantaman darinya.
Melihat itu, barulah Anis bangun dan berjalan menghampiri mereka. Ia berdiri dintara kaki Suta dan Nawa sambil berkacak pinggang.
“Sudah berkelahinya?” Tanyanya santai. “Kalau sudah, ayo kita pulang. Aku lelah dan lapar.” Adu Anis. Ia berjalan ngeloyor menuju ke speed boat dan langsung naik.
“Hito! Tolong kau bantu Nawa. Sepertinya dia kesulitan berjalan!” Perintah Anis kepada Hito.
Hito menurut. Ia berjalan dan membantu Nawa bangun. Memapah tubuh Nawa menuju ke perahu.
Disini, barulah Nawa menyadari keberadaan Hito.
“Bukankah kau pria yang waktu itu? Kalau tidak salah suaminya Vivian?”
“Ya. Aku suaminya vivian. Senang bertemu dengan anda lagi, Tuan Nawa.”
“Jadi, kau juga anggota Anoda?”
Hito mengangguk.
__ADS_1
Wah, sepertinya, Anoda punya banyak sekali jaringan. Dan anggotanya orang-orang yang sangat tidak terduga seperti Hito.
Dengan susah payah Hito memapah Nawa naik ke atas kapal. Sementara Anis membantunya. Setelah Suta juga ikut naik ke atas kapal, Hito segera melajukan kembali kapal mereka menuju ke kota.
Di tengah perjalanan, Suta dan Nawa saling melempar tatapan permusuhan. Selanjutnya saling ejek dengan mulut tanpa mengeluarkan suara. Saling mengumpat dan memaki dengan gerakan bibir.
“Sialan!” Desis Nawa.
“Apa kau bilang? Sepertinya kau masih butuh di hajar sampai mampus. Sepertinya luka itu belum cukup membuatmu diam.” Gerutu Suta yang sudah kepalang kesal. Karna Nawa meninju arah bibirnya hingga gusinya berdarah.
Nawa yang juga belum tuntas dengan emosinya langusng berdiri sambil memegangi perutnya. Sakit.
Begitu juga dengan Suta, ia meludahkan darah dari dalam mulutnya ke lautan. Ia berdiri dan hendak menghantam Nawa dengan tinjunya lagi.
“Kalian berdua. Berhenti.” Tegas Anis tanpa melihat ke arah mereka. Ia berpangku tangan di pinggir perahu, menatap ke arah lautan lepas. Rasanya mengantuk, lelah, dan lapar. Tapi dua pria itu hanya ingin beradu tinju tak berkesudahan.
Mendengar ultimatum Anis, keduanya tidak jadi melanjutkan perkelahian.
“Kita sudah berada di perahu yang sama. Dengan tujuan yang sama. Berhentilah berkelahi. Atau aku akan mendorong kalian berdua dari perahu ini.” Ancam Anis penuh penekanan.
Anehnya, kedua pria itu takluk. Diam, dan kembali duduk di tempat semula. Hito sampai terkekeh melihatnya.
“Dan kau, Hito.. Diamlah.” Suara Anis penuh penekanan. Seketika Hito langsung terdiam. Memfokuskan pandangan ke depan.
Di sana, bahkan tiga pria itu takut kepada Anis. Seolah Anis akan benar-benar melemparkan mereka ke laut kalau berani bertingkah lagi. Hito sampai merinding.
Sesampainya di daratan, mereka berpisah. Suta pergi dengan Hito. Sementara Anis membawa Nawa ke rumah sakit.
Hal yang baru di ketahui Nawa adalah, ternyata Anis bisa menyetir mobil.
Tentu saja. Anis bahkan dengan mudah mengarahkan ujung peluru menembus kepala musuh kliennya. Tidak mungkin dia tidak bisa menyetir mobil sendiri. Walaupun ia lebih suka mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Menurut Anis, mobil membuat gerakannya lambat.
Di dalam mobil yang sudah di sediakan oleh Hito tersebut, sudah ada ponsel yang bisa di gunakan oleh mereka. Anis mengambilnya dari dalam dashboard kemudian menyerahkannya kepada Nawa yang duduk di sampingnya.
“Pakai ini kalau kau ingin menghubungi anak buahmu.”
Nawa menerima ponsel itu kemudian menghubungi anak buahnya. Ia memberitahu mereka untuk datang ke rumah sakit.
__ADS_1