
Dianty mengeretakkan gigi-giginya. Ia marah dan kesal. Sekaligus cemas akan jalannya rencana yang sudah ia susun rapi. Kegagalannya akan membahayakan nyawanya.
“Baiklah, kalau kau tidak ingin bertemu lagi denganku, aku akan mewujudkan keinginanmu itu.” Desis Dianty pada bayangan suaminya yang sudah menghilang dari pandangannya.
Dianty bergegas mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi beberapa anak buahnya untuk mengikuti mobil suaminya dan memerintahkan untuk melenyapkan mereka.
Di dalam mobil, Baskoro sedang melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati. Karna malam itu hujan sangat deras, jadi jarak pandangannya berkurang.
“Pak, ada yang mengikuti kita.” Ujar Baskoro. Ia melirik ke arah spion samping. Nampak dua pasang cahaya lampu mobil ada di belakang mereka.
“Keluarkan keahlianmu.” Perintah Jaya Karsa.
Baskoro menarik nafas. Ia kemudian memindah geer dan mulai menekan pedal gas. Membawa mobil meliuk-liuk menerabas kendaraan lain di sepanjang jalan.
Dan pada akhirnya, Baskoro berhasil mengelabui mereka.
“Sial!!!! Cari sampai ketemu!!! Gunakan pelacak!! Siall!!!” Maki Dianty di dalam rumah setelah mendapatkan telfon kalau anak buahnya kehilangan mobil target mereka.
“Sepertinya kita harus mengamankan buktinya, Tuan.”
“Apa kau tau tempat yang aman?”
Baskoro terdiam sebentar. Kemudian ia mengangguk dan membelokkan arah mobil menuju ke rumahnya.
Di rumah, keadaan sudah sangat sepi. Ia perlahan membuka pintu kamar anaknya yang ternyata sudah terlelap di balik selimut.
Baskoro membelai perlahan kepala anaknya itu kemudian berjalan ke arah meja belajar yang ada di bawah jendela. Ia meraih bingkai foto dan menatapinya lama.
Jaya Karsa menunggu di ruang tamu. Ia menelfon seseorang perihal urusan penting masalah pekerjaan di luar kota. Saat Baskoro keluar dari kamar, mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Saat tiba di jalan tol, entah bagaimana, dua mobil yang membuntuti mereka sudah ada di belakang mereka kembali. Kali ini, mereka lebih dekat dari sebelumnya. Salah satu dari mobil itu bahkan sempat mensejajarkan diri dengan mobil yang di kemudikan oleh Baskoro.
“Berhenti!!” Pekik salah satu pria yang ada di dalam mobil itu dengan kaca mobil yang terbuka.
Tentu saja Baskoro tidak mengindahkannya. Ia terus melajukan mobilnya dengan cepat agar bisa menghindari orang-orang itu.
Tapi, mereka kalah jumlah. Tiba-tiba mobil Baskoro di tabrak dengan sangat keras dari belakang oleh satu mobil lainnya.
“Pak pegangan, Pak!!” Pekik Baskoro kepada bosnya. Ia merasa sudah tidak bisa mengendalikan mobilnya lagi. Dan,
BRAK!!!!
Mobil menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurangsedalam 5 meter.
Dua mobil yang mengikuti mereka juga ikut berhenti.
“Cepat geledah!” Teriak salah satu pria kepada anak buahnya.
__ADS_1
Mereka mencari jalan turun untuk mencapai mobil Baskoro. Namun, saat mereka sudah sampai disana, hanya ada Jaya Karsa saja disana. Sementara Baskoro sudah tidak ada bekasnya.
“Sial! Cepat cari yang satunya!”
Dan sebagian mereka pregi untuk mencari Baskoro. Sementara anak buah yang tinggal menggeledah dan menghubungi Dianty.
“Bos, kami tidak menemukan apapun disini.”
“Bagaimana dengan suamiku?”
“Dia sekarat. Apa aku harus membawanya ke rumah sakit?”
“Tidak. Karna dia sudah tidak ingin melihat wajahku, aku harus mengabulkan keinginannya.”
“Baik, bos. Tapi, bagaimana dengan bukti itu? Kita belum mendapatkannya.”
“Tidak usah khawatir. Lenyapkan saja pemiliknya. Dan bukti itu, akan ikut lenyap juga.”
Dan begitulah, akhir hidup dari seorang Jaya Karsa. Di akhir hayatnya, dia selalu menyebutkan nama putra semata wayangnya dalam hati. Terus berharap, agar Nawa mampu melindungi dirinya sendiri.
Jaya Karsa menutup matanya dengan segunung penyesalan karna merasa tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Nawa. Bayangan wajah putranya itu yang mengantarkannya lelap untuk selamanya.
Sementara Baskoro, tanpa tau kalau bosnya sudah tewas, ia terus berusaha meminta pertolongan. Yang pada akhirnya membawanya ke sebuah petaka yang berakhir di tempat pembuangan sampah akhir dan di selamatkan oleh Nawa.
**
**
“Kau, harus menikah dengan mina apapun yang terjadi.” Tegasnya kepada Barra. “Ibu akan memuluskan perjalananmu untuk kursi CEO.”
Barra langsung sumringah mendengar itu. “Baik, Bu.”
“Bu, bolehkah aku melakukan sesuatu kepada Nawa?” Bagas meminta ijin.
Dianty mengangguk. “Ya, lakukan apapun untuk membuatnya jera. Karna sekarang dia sudah mendeklarasikan peperangan, kita juga harus melancarkan serangan kita. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan kepadanya.” Perintah Dianty lagi.
Dan Bagas tersenyum mendapatkan ijin itu. Karna ia, sudah menyiapkan sesuatu yang besar untuk Nawa. Dia akan menghabisi pria itu.
Dianty memandang kedua putranya dengan bangga. Ia tersenyum kepada mereka sebagai bentuk kebanggannya.
Ponsel Dianty berbunyi. Ada sebuah pesan masuk yang memberitahukan alamat markas Anoda. Setelah itu, Dianty bergegas kelaur dari ruangannya.
Di ruangannya, Suta sedang mengernyit saat salah satu anak buahnya memberitahu, kalau ada wanita bernama Dianty yang ingin menemuinya.
“Apa, saya harus menggantikan anda, Tuan?” Tanya Temmy.
Suta nampak berfikir. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Tidak, tidak perlu. Aku akan menghadapinya langsung. Semoga dia masih ingat denganku.” Suta tersenyum smirk.
Temmy nampak mengkhawatirkan bosnya itu.
Satu jam kemudian, Dianty sudah datang bersama dengan 4 orang pengawal terbaiknya. Turun dari mobil, ia memandangi gedung dengan nama perusahaan keamanan itu dengan kernyitan di matanya.
“Silahkan masuk.” Ujar salah satu anak buah Suta yang memang di perintahkan untuk menunggunya.
Dianty mengikuti pria itu naik ke lantai dua tempat ruangan Suta berada.
Dianty terkekeh kecil melihat beberapa anak buah Suta berjaga di sepan ruangan. Ia di persilahkan masuk ke dalam ruangan yang ada di sana.
“Selamat datang Nyonya Dianty. Silahkan duduk.” Suta mempersilahkan dengan seringai di wajahnya.
“Terimakasih.” Dianty duduk di sofa. Sementara 2 anak buahnya berdiri di belakangnya. Dua lagi berjaga di luar ruangan bersama anak buah Suta yang lain.
“Jadi kau ketuanya? Aku tidak menyangka, ternyata kau masih sangat muda.”
“Jangan bilang, anda lupa denganku?”
Dianty mengernyit.
“Astaga. Aku tidak percaya ini. Anda benar-benar tidak mengingatku? Sulit dipercaya.”
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Sudah, kekesalan Suta meningkat. Ia berdiri dengan marah. Mengangkat kausnya dan menunjukkan sisi perutnya dengan bekas luka tembak di sana.
“Ini, adalah hadiah dari anda, Nyonya. Anda tidak mengingatnya? Jackrey.” Suta memberi petunjuk.
“Ahhhh. Jackrey. Ya, ya. Aku mengingatnya sekarang. Jadi, bagaimana rasanya hadiah dariku itu?”
“Tidak buruk.” Suta tersenyum smirk. “Tapi aku juga tidak terlalu menyukainya. Jadi, aku akan mengembalikannya nanti.” Suta menutup kausnya dan kembali duduk seperti semula. Menyilangkan kaki dan menatap penuh dendam kepada Dianty.
“Ooohhh. Baiklah. Kalau begitu, aku akan memberikan hadiah yang jauh lebih baik daripada itu.”
Suta tersenyum diselingi dengan kekesalan.
Suasana di ruangan itu sangat tegang. Kedua kubu saling mengeluarkan aura mengancam satu sama lain. Saling memandang dengan tajam. Dan berbicara dengan kalimat kiasan untuk menekan lawan bicara.
Tapi, itu semua tidak membuat Suta gentar. Ia juga sedang menunjukkan cakarnya kepada Dianty.
**
**
jangan lupa jejaknya..... oh ya, yang mau tau visual nawa dan anis, bisa cek di episode 3.
__ADS_1
sampai disini, apa kalian sudah bisa menebak-nebak sesuatu?