
Rasa lapar sudah menggegoroti perut Anis. Ditambah dengan aroma daging bakar membuat perutnya semakin meronta. Ia terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Nawa di dapur. Sementara ia hanya bisa menelan saliva beserta rasa laparnya sekaligus.
Pemandangan yang ada di hadapannya hampir membuat Anis lupa diri. Ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia suka melihat pria itu. Apalagi punggungnya yang lebar dan kekar di balik balutan piyama berwarna biru tua dan celemek yang tergantung di lehernya, seakan pesonanya naik berkali-kali lipat.
Beberapa saat kemudian, Nawa telah selesai menyajikan dua piring steak daging yang ia masak sendiri ke atas meja. Setelah ia melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi makan di sebelahnya, Nawapun ikut duduk di hadapan Anis yang sudah berbinar dan tidak sabar ingin segera melahap makanan yang nampaknya sangat lezat itu.
“Apa kau tidak punya nasi?” Sebuah pertanyaan konyol terlontar begitu saja dari mulut polos Anis.
“Nasi? Untuk apa?” Tanya Nawa heran.
“Aku butuh karbohidrat yang banyak untuk mengusir rasa laparku.” Jawab Anis kemudian. Di kedua tangannya sudah menggenggam garpu dan pisau. Tapi ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari nasi.
“Itu kan sudah ada kentang. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan karbomu. Lagipula tidak ada orang yang makan steak dengan nasi.” Dengus Nawa merasa aneh dengan gadis di hadapannya itu.
Mendengar protes dari Nawa, Anis hanya bisa memandangi lekat piring beserta isinya itu. Perlahan ia mulai mengiris bagian ujung daging kemudian mengoleskannya ke saus yang terdapat di pinggirnya lantas memasukkannya ke dalam mulutnya.
Suapan pertama, Anis belum merasakan apa-apa dan masih biasa saja. Namun saat ia mulai mengunyah daging itu, tiba-tiba ia terkejut karna ternyata rasanya sangat enak. Itu jauh melampaui ekspektasinya sendiri. Daging yang lembut dengan bumbu yang menyatu sempurna. Langsung meleleh di mulut.
“Wah. Enak sekali.” Puji Anis tanpa sadar.
Sedangkan Nawa hanya diam saja. Ia sudah biasa mendapat pujian seperti itu dari Yoham. Ia terus mengiris dan memakan bagiannya.
“Aku tidak menyangka kalau kau ternyata pandai memasak. Apa karna itu kau tidak punya satupun asisten rumah tangga?” Selidik Anis.
__ADS_1
“Aku tidak percaya dengan orang lain yang memasakkan makanan untukku.” Jawab Nawa pada akhirnya.
“Chh! Kau ini ternyata punya krisis kepercayaan.” Olok Anis.
Nawa diam saja. Ia tidak menggubris pertanyaan Anis. Dalam hati ia menyangkal tuduhan itu. Bukan karna ia pandai memasak maka ia tidak butuh asisten rumah tangga. Tapi karna tidak ada yang bisa ia percaya untuk memasak makanan untuknya. Sudah berkali-kali ia hampir mati karna diracun. Nawa alergi seafood, dan itu menjadi kelemahan terbesarnya jika tentang makanan.
Jika makan di restoran, ia akan pergi ke restoran kepercayaannya. Jika ke restoran lain, maka ia akan meminta Yoham untuk mengawasi koki. Sesulit itulah hidup yang di jalani oleh Nawa. Ia harus super hati-hati dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Karna ia tidak tau kapan orang-orang itu akan menyakiti atau bahkan melenyapkannya.
Dan semua itu hanya demi segelintir harta dan perusahaan milik ayahnya. Mereka semua berani berebut dan membunuh diam-diam di belakangnya.
“Sebenarnya aku penasaran, apa yang terjadi antara dirimu dan ibumu? Kalian terlihat baik-baik saja, tapi juga terlihat tidak baik-baik saja.” Anis masih menyelidiki Nawa. Ia butuh informasi sedetail itu untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Itu bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri. Bukankah tugasmu adalah untuk mengawasiku?”
Raut wajah Anis berubah pias. Ia merasa sepertinya Nawa memang sudah tau kalau ibunya mengutusnya untuk memata-matai Nawa. Kali ini Anis hanya bisa menggigit bibirnya dan berusaha untuk mencari alasan yang tepat untuk menyangkal ucapan Nawa.
Sial! Bagaimana ini?
“Kalau kau tau itu, kenapa masih mau menikahiku?” Anis memilih untuk memberanikan diri.
“Aku hanya ingin tau apa yang bisa kau lakukan. Kau telah menarik perhatianku, dan karna itu aku menyukaimu.”
Kalimat itu merupakan taktik Nawa untuk menarik perhatian Anis. Ia mencoba membuat Anis merasa canggung dengan ungkapan perasaannya. Itu semua adalah rencana Nawa yang sempat diutarakannya kepada Yoham.
__ADS_1
Dan ternyata itu berhasil, Anis menjadi salah tingkah hingga mengedipkan matanya berkali-kali sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Dia gila!
Padahal awalnya Anis ingin memancing Nawa untuk mendapatkan informasi tambahan. Tapi malah dirinya yang terjebak dengan situasi itu. Pengakuan Nawa membuat jantungnya hampir copot.
“Aku,, tidak bisa melarang orang lain untuk menyukaiku....” Lirih Anis sambil menundukkan kepalanya. Untung saja ia sudah selesai dengan makanannya. Kalau tidak, ia pasti akan gengsi untuk menghabiskan makanan itu.
Ada sesungging senyum samar yang muncul di sudut bibir Nawa. Ia tidak menyangka kalau akan semudah itu membuat gadis itu jatuh hati padanya. Padahal ia belum mengeluarkan rencananya yang lain.
Ternyata dia hanya gadis bodoh.
“Sudah selesai belum? Kalau sudah ayo kita tidur lagi.” Ajak Nawa dengan melancarkan serangan selanjutnya. Ia mengambil selembar tisu kemudian memberikannya kepada Anis. Lantas iapun mengambil piring bekas makanan Anis dan menaruhnya di tempat cuci piring.
Perhatian. Itu adalah senjata utama Nawa untuk membuat Anis jatuh cinta padanya seperti rencananya. Karna perhatian yang di berikan oleh laki-laki adalah kelemahan setiap wanita. Ia yakin kalau Anis pasti punya sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan ibunya.
“Tunggu apa lagi? Ayo.” Ajak Nawa kemudian setelah melihat kalau Anis masih berdiam diri di kursinya.
Dengan ekspresi gelagapan, Anis bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Nawa di belakang pria itu. Ia meneliti setiap anak tangga yang berkilau karna pantulan dari cahaya lampu itu.
Saat sudah masuk ke dalam kamar, Nawa menuntun Anis untuk berbaring di ranjang kemudian menyelimutinya. Anis masih diam saja. Ia menikmati setiap perhatian kecil itu dengan wajah yang tersipu malu.
Selesai menyelimuti Anis, Nawa menumpu tubuhnya antara ranjang dan nakas untuk mendekatkan wajahnya dengan Anis dan membisikkan sesuatu dengan suara parau yang terdengar seksi.
__ADS_1
“Tidurlah. Atau aku akan melahapmu sampai habis jika kau tidak langsung tidur.” Bisikan seksi yang di sertai dengan ancaman itu mampu membuat Anis langsung memejamkan matanya dengan sangat erat.
Sebagai sentuhan terakhir, Nawa melayangkan sebuah kecupan ringan di kening Anis. Gadis itu tidak tau betapa sinisnya senyuman Nawa yang muncul kala itu.