Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 45. Fikirkan Baik-Baik.


__ADS_3

Tubuh lemah Baskoro di temukan oleh seorang pemulung bersama dengan istrinya saat pagi-pagi buta. Awalnya mereka sangat terkejut saat mendapati mayat di pembuangan sampah. Ternyata dia belum mati. Saat itu mereka langsung membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.


Pasangan pemulung itu bingung harus menghubungi siapa. Karna pria itu tidak punya identitas sama sekali. Sementara mereka harus mengurus administrasinya untuk Baskoro.


Sang suami mencari di jas milik Baskoro. Dan ia hanya menemukan sebuah nomor telfon yang tertulis dalam secarik kertas. Kemudian ia bergegas menghubungi nomor itu, berharap ada yang mengenali pria yang mereka tolong.


Dan pemilik nomor itu adalah Nawa.


Nawa yang baru saja mendapat telfon perihat kecelakaan sang ayah, langsung kembali ke Indonesia saat itu juga. Dan sesaat setelah ia mendarat di bandara, ia mendapat telfon dari pemulung itu.


“Jangan! Tolong jangan dibawa kemana-mana. Sebentar lagi saya akan kesana.” Pinta Nawa saat itu. Ia sudah menyadari keganjilan yang terjadi dalam kecelakaan yang menimpa sang ayah. Apalagi, Dianty tak mau menyebutkan dengan rinci. Wanita itu bahkan menuduh Baskoro yang telah sengaja mencelakai ayahnya, kemudian menghilang.


Untung saja, saat itu Nawa tidak langsung mempercayai ucapan Dianty. Ia menyembunyikan Baskoro dan berusaha mengobatinya. Karna ia yakin, kalau Baskoro tidak akan melakukan hal sekeji itu pada ayahnya.


“Tuan?” Suara Yoham membuat Nawa kembali dari ingatan itu. Ia menoleh kepada Yoham yang baru saja tiba.


Tatapan Yoham terlihat sangat khawatir. Ia beralih melihat Nawa dan Baskoro, serta Rizal bergantian.


“Apa yang terjadi, tuan?”


“Kau periksa lagi latar belakang Anis. Aku merasa masih ada yang tidak aku tau. Tatapannya..... Pasti ada sesuatu.” Gumam Nawa mengingat tatapan pias Anis saat melihat Baskoro tadi.


Normalnya orang, hanya akan melihat dengan tatapan terkejut melihat seorang pasien terbaring di ranjang. Tapi mata Anis, tatapannya berbeda. Nawa bisa merasakannya.


“Baik, Tuan.” Turut Yoham.


Nawa bangkit dari duduknya kemudian keluar dan pergi ke ruang kerjanya. Ia membuka brangkas dan mengeluarkan sebuah dokumen dari dalamnya. Duduk di kursinya dan mulai membaca kembali lembar-demi lembar dokumen itu.


Itu adalah hasil penyelidikan Yoham tentang Anis. Dulu, saat hendak menikah, Nawa memerintahkan Yoham untuk menyelidiki wanita itu. Hasilnya memang bersih. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


Tapi setelah membaca ulang dokumen itu, kini Nawa merasa aneh. Ini terlalu bersih.


*****


Di dalam kamar, Anis sedang sesenggukan di dalam walk in closet. Berjongkok menghadap lemari pakaian. Ia memandangi pintu lemari itu seolah ia sedang menatap orang yang paling dia rindukan.


Tubuhnya lemas dengan lutut yang gemetar. Rasa sakit akibat cengkeraman Nawa di lehernya masih terasa sakit. Pria itu benar-benar sangat menakutkan saat sedang marah. Hampir saja ia kehilangan nyawanya tadi


“Anis?” Panggil Nawa. Pria itu melongokkan kepalanya kedalam walk ini closet untuk memeriksa keberadaan Anis.

__ADS_1


Anis buru-buru menghapus air matanya. Kemudian menghampiri Nawa.


“Ada apa?”


“Maaf. Soal tadi. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu.”


Anis bisa merasakan perasaan sesal Nawa.


“Kenapa minta maaf?”


“Karna aku menyayangimu. Aku benar-benar menyesal sudah melukai dan membuatmu takut.”


Anis tersenyum smirk. Dia memang mendapati penyesalan, tapi dia tidak mempercayai ucapan pria itu. Nyawanya bahkan hampir saja melayang di tangannya.


“Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang?”


“Aku sudah bilang, kau dilarang meninggalkan rumah. Dan aku akan menyita ponselmu.”


“Kalau begitu, ibu akan mencurigaiku kalau aku tidak bisa di hubungi. Kau kan tau, aku harus memberi laporan padanya.”


Nawa diam. Dia berjalan meninggalkan Anis dan duduk di sofa dekat jendela. Anis mengikutinya dan duduk di hadapan pria itu.


“Bisa kau ceritakan padaku, siapa pria tadi?” Anis menatap sambil berharap.


Anis terhenyak mendapat pertanyaan itu. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk menyanggahnya.


“Nawa, aku tau semua rencanamu.” Ujar Anis tiba-tiba membelokkan arah pembicaraan.


“Apa yang kau bicarakan.”


“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Yoham waktu itu. Kau bilang akan membuatku jatuh cinta padamu dan memanfaatkanku.”


Nawan ampak terkejut dengan ungkapan Anis itu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata selama ini Anis mengetahui rencananya.


“Jadi kau tau?”


“Em. Jadi, tidak perlu mengatas namakan perasaan lagi. Karna aku tidak akan mempercayaimu.”


“Bagaimana kalau aku benar-benar menyukaimu?”

__ADS_1


“Aku tau kau tidak punya waktu untuk itu, Nawa. Sudah terlanjur begini. Aku juga sudah mengetahui isi ruangan itu. Kenapa tidak sekalian saja kau menceritakan semuanya padaku?”


“Tapi kau ada di pihak Dianty. Aku tidak ingin mengambil resiko. Resikonya terlalu besar. Aku sudah mati-matian menjaga paman Baskoro tetap hidup tanpa diketahui oleh ibu. Tidak. Aku tidak mau. Kau ada di pihaknya.”


“Nawa, kau ingat tentang kalung pemberian ibumu? Aku bukan tidak tau kalau kalung itu adalah sebuah penyadap. Aku sengaja merusaknya hingga ibumu tidak punya informasi apapun tentangmu. Kau fikir, kenapa dia masih diam selama ini? Bukankah janggal rasanya kalau selama ini dia belum mendapatkan informasi apapun dariku? Fikirkan baik-baik, kira-kira aku ada di pihak siapa? Di pihak ibumu, atau di pihakmu?”


Nawa tersentak. Nada bicara Anis kali ini terdengar berbeda. Lebih tegas dan berwibawa. Seolah Nawa baru melihat sisi lain dari seorang Rengganis.


Dan Nawa masih terdiam. Keningnya berkerut menatap curiga kepada Anis. Tatapan mereka bertemu dan Nawa tidak mendapati kegentaran lagi di netra wanita itu. Kemana semua ketakutan itu pergi?


“Siapa? Orang itu? Apa dia orang yang sangat penting bagimu?” Selidik Anis lagi. Ia sungguh tidak sabar dengan diamnya Nawa.


“Em, dia adalah orang yang sangat penting bagiku. Namanya paman Baskoro. Dia adalah supir mendiang ayahku.......”


Dan Nawa menceritakan sebagian kisah yang ia tau. Semuanya, tanpa di potong dan di tambahi. Dan Anis dengan antusias mendengar cerita itu tanpa menyela. Padahal kisah yang Nawa tau, bukanlah apa yang terjadi sebenarnya.


Hatinya sedikit trenyuh dengan kisah Nawa yang ternyata terus berusaha membuat Baskoro terbangun dari komanya.


“Apa kau fikir ibumu ada di balik semua ini?”


“Entahlah. Itu hanya sebatas dugaanku. Dari para pekerja di rumahku aku mendengar kalau sore itu, ayah baru saja bertengkar hebat dengannya. Anis, ibuku, bukan wanita biasa seperti yang kau lihat selama ini. Dia wanita kejam yang tega melakukan apapun demi harta dan kekuasaan.”


Anis terdiam.


Ya, selama sebulan lebih hidup bersama dengan Nawa, ia sudah sering bertemu dengan Dianty untuk melaporkan hasil mata-matanya. Tentu saja laporan yang tidak berguna. Dan dari sana, Anis bisa menilai kalau Dianty bukanlah wanita biasa. Wanita itu, punya aura menakutkan. Ada kekejaman yang terpancar di matanya.


“baiklah, kalau begitu, aku sudah memutuskan untuk tetap berada di pihakmu.


Nawa terkejut. Ia mencari kesungguhan di dalam netra Anis. Tapi, saat melihat sebuah senyuman muncul di bibir wanita itu, Nawa semakin tersentak.


Anis bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Apa dia telah berhasil membuat Anis berpaling dari Dianty? Benarkah begitu?


Tapi di dalam hati Nawa, masih tertinggal rasa ragu kepada Anis.



__ADS_1


masih berharap kalian ninggalin jejak. dan untuk warga baru, jangan lupa mampir di ceritaku yang lain,


SEMESTA RAI, MY HANDSOME RICH HUSBAND, METALMORFOSIS, DAN JEJAK CINTA RAHWANA.


__ADS_2