
Di sebuah gedung tempat peragaan busana.
Anis segera memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir yang sudah hampir penuh itu. Kebanyakan kendaraan adalah mobil. Ia mengedarkan pandangannya demi mencari sosok Vivian, temannya yang sudah mengundangnya ke acara peragaan busana miliknya.
Vivian adalah salah satu dari tiga designer terkenal di Indonesia. Wanita yang sudah bersuami dan mempunyai satu putra itu, namanya sudah terkenal ke seantero negeri. Dan hari ini, ia sedang mengadakan pameran dan fashion show untuk koleksi terbarunya.
“Tante Anis!!!” Pekik bocah laki-laki yang berumur sekitar tiga setengah tahun itu berlari kearah Anis.
“Neel?!” Ujar Anis sambil berjongkok. Bocah laki-laki bernama Neel itu langsung menghambur ke pelukan Anis.
Di belakang Neel, Hito, sang ayah juga berjalan menghampiri Anis. Pria berdarah jepang itu langsung tersenyum dan mengangguk sopan kepada Anis.
“Anda sudah datang?” Tanya Hito sopan.
Anis mengangguk kepada Hito sesaat, kemudian kembali menyibukkan diri dengan pria kecil tampan yang kini sudah berada di gendongannya itu.
“Kenapa tante sudah tidak pernah lagi datang ke rumah kami?” Protes Neel dengan memasang wajah cemberut.
“Ya ampunn....” Anis gemas dengan ekspresi wajah lucu Neel hingga ia langsung mengacak-acak rambut anak itu. “Maafkan tante, belakangan ini tante banyak sekali pekerjaan.”
“Neel fikir tante sudah tidak sayang lagi dengan Neel.”
“Itu tidak mungkin. Tante tidak mungkin melupakan anak paling manis seperti dirimu.”
“Benarkah?” Ujar Neel merasa senang.
Anis mengangguk mantap kemudian berkata, “Tentu saja. Ayo kita pergi ke tempat ibumu.” Ajak Anis kemudian.
Dengan senang hati Neel langsung menunjukkan jalan ke tempat ibunya, Vivi berada. Hito tetap setia mengawal Neel dan Anis di belakang mereka.
Sampai di sebuah ruangan khusus, Anis di persilahkan masuk oleh salah satu staf Vivi karna ia datang bersama dengan suami dan putra Vivi.
__ADS_1
“Anis!” Pekik Vivi yang sedang di rias saat melihat pantulan Anis dari cermin yang ada di hadapannya. Ia langsung menoleh dan menyuruh MUA untuk berhenti sejenak.
Vivi dan Anis langsung menghambur ke pelukan masing-masing untuk melepas rindu karna sudah lama mereka tidak bertemu.
“Selamat ya, maaf aku tidak sempat mampir untuk membeli bunga.” Ujar Anis penuh rasa penyesalan.
“Hei, itu tidak penting. Kedatanganmu sudah lebih dari cukup.” Ujar Vivi.
Neel yang sudah beralih di gendongan ayahnya hanya ikut tersenyum saja melihat ibu dan tante kesayangannya itu.
“Kalau begitu, aku akan menunggu di depan, kau lanjutkan saja meriasnya.” Ujar Anis pamit untuk pergi ke panggung peragaan.
Disana, Anis menunjukkan tiket VIP kepada salah satu staf yang kemudian mengarahkannya ke tempat duduknya. Ia duduk di baris paling depan di deretan bangku nomor 9. Disana, sudah banyak orang yang berkumpul karna lima menit lagi acara inti sudah akan di lakukan.
Sebagai pembukaan acara tersebut, dengan manisnya Neel berjalan dengan berlenggak-lenggok bak seorang model profesional di atas ###catwalk. Kemunculannya itu langsung di sambut oleh tepuk tangan meriah dari semua orang yang ada disana, terlebih Anis yang langsung terbahak melihat tingkah lucu Neel.
Setelah beberapa kali bergaya di atas panggung, Neel yang seharusnya berjalan kembali ke belakang malah langsung berlari menghampiri Anis dan duduk di pangkuannya. Sebagai hadiah atas kelucuan Neel, Anis memberinya sebuah kecupan di pipi pria mungil itu.
Para penonton sudah tidak sabar dengan bintang tamu itu karna pembawa acara menyampaikan kalau bintang tamu itu adalah seorang pria tampan dan pebisnis hebat.
Mata Anis terbelalak saat seorang model pria yang mengenakan koleksi mewah dari Vivian berjalan dengan maskulinnya di atas ###catwalk. Bagaimana tidak, model itu adalah Nawa.
“Paman itu tampan sekali.” Seloroh Neel sambil bertepuk tangan di sela-sela teriakan para penonton.
Untuk sesaat, pandangan Anis dan Nawa bertemu. Ada debaran aneh yang muncul di hati gadis itu saat melihat betapa gagah dan tampannya Nawa dalam balutan koleksi Vivi. Aura pria itu terlihat sangat jauh berbeda. Terlebih saat Nawa melayangkan sebuah senyuman padanya, seolah tubuh Anis meleyot seketika. Anis masih ternganga, ia kagum dengan penampilan Nawa saat ini.
Saat Nawa sudah kembali ke belakang, Vivian muncul sebagai penutup dari rangkaian fashion show itu. Semua model juga berbaris di atas panggung. Nampak Vivi menyalami Nawa dan mengucapkan terimakasih pada pria itu.
“Terimakasih juga atas kehadiran kalian semua. Terlebih kepada Tuan Nawa yang sudah bersedia hadir dan menjadi model kami. Ini semua karna para penggemarmu meminta kami mengundangmu. Maaf kalau kami membuatmu tidak nyaman, Tuan Nawa.” Ucap Vivi kepada Nawa.
Salah seorang staf memberikan microphone kepada Nawa dan Nawa menjawab, “Tidak masalah. Saya juga butuh hiburan. Sesekali seperti ini, rasanya tidak buruk juga.” Ujar Nawa dengan ekspresi yang memantik gelak tawa dan teriakan para wanita.
__ADS_1
Sementara Anis masih terpaku di tempatnya. Ia bahkan tidak sadar saat Neel sudah menghilang dari pangkuannya. Perhatiaannya terlalu fokus pada Nawa.
“Tuan Nawa! Jadikan aku kekasihmu!” Pekik salah seorang wanita yang entah siapa itu.
Pekikan itu kembali menyulut gelak tawa. Semua orang menoleh kepada salah seorang gadis yang nampak malu setelah menjadi pusat perhatian.
“Hahahahahahaha, bagaimana ini? Tapi saya sudah mempunyai seorang istri.”
Nampak jelas raut kekecewaan dari gadis yang baru saja menyatakan cintanya itu. Sementara Anis semakin terbelalak tidak percaya dengan pengakuan yang baru saja terlontar dari mulut Nawa.
“Apa? Anda benar-benar sudah menikah?” Tanya Vivi tidak percaya.
“Ya, benar. Istriku juga ada disini sekarang.” Jawaban Nawa di sertai dengan senyuman dan tatapan yang tertuju kepada seorang Anis.
“Waaahh, sangat romantis sekali. Apa kalian datang bersama?” Vivi masih ingin mengajukan pertanyaan. Dia sama sekali tidak menyadari kalau Anislah istri Nawa.
“Tidak, dia bahkan tidak tau kalau aku akan datang ke sini. Aku ingin memberinya sebuah kejutan setelah aku tau kalau dia akan datang ke sini. Kebetulan kalian menawariku untuk jadi model.”
“Astaga. Aku sangat penasaran siapa wanita yang beruntung itu. Kau sangat romantis, Tuan Nawa.” Ujar Vivi.
“Maukah kau naik kesini?” Sebuah pertanyaan yang di tujukan untuk Anis. Kali ini, semua mata mengikuti arah pandang Nawa yang melihat lurus kepada Anis.
Sudah kepalang tanggung, kini Anis menjadi perhatian banyak orang. Jadi ia memberanikan diri untuk naik dan memenuhi permintaan Nawa.
Semua terbelalak tidak percaya, terlebih Vivi yang sampai menutup mulutnya saking terkejut dengan kenyataan itu. Ia tidak percaya kalau temannya itu merupakan istri dari Nawa.
yo,, yo,, yoo,,warga...
__ADS_1
sampai disini, apakah kalian sudah bisa menebak sesuatu?