
Pukul 9 lewat, para pelanggan mulai pergi. Tapi tidak dengan para pria itu. Tapi untungnya, Dianty datang bersama dengan Bagas. Melihat itu, dengan sopan Anis berdiri untuk menyambut mereka.
Mendapat sambutan itu, Dianty hanya melengos saja. Ia duduk di hadapan Anis.
Anis melirik kepada pemilik restoran yang merupakan seorang wanita paruh baya. Wanita itu berjalan ke arah pintu dan menguncinya. Kemudian mematikan sebagian besar lampu restoran dan hanya menyisakan lampu meja di dekat Anis dan Dianty duduk. Lalu menghilang di dapur.
“Baiklah. Aku harap kau punya sesuatu untukku.” Dianty membuka obrolan. Terasa jelas aura kemarahan dari wanita itu.
“Ehm. Maaf, Bu.”
Mendengar maaf itu, Dianty langsung mengernyitkan keningnya.
“Aku, masih belum mendapatkan informasi yang berguna untuk Ibu.”
“Kau hanya perlu bercerita. Aku yang akan menentukan, apakah informasimu itu, berguna atau tidak untukku.” Tegas Dianty.
“Maafkan aku, Bu. Aku akan berusaha lebih keras lagi.”
“Tidak perlu. Sepertinya, aku sudah tidak memerlukanmu lagi. Kerjasama kita, berakhir sampai disini. Selamat tinggal.” Ujar Dianty yang langsung berdiri di ikuti oleh Bagas di belakangnya.
Anis bingung, ia merasa sikap Dianty akan membahayakan dirinya. Apalagi, para pria itu kini juga ikut berdiri dari kursi mereka. Berjalan mendekat kepada Anis. Menghalangi jalannya.
Anis sudah ketakutan. Ia berusaha berlari ke arah pintu keluar, namun anak buah Dianty menghalanginya. Sementara Dianty sudah keluar dari dalam restoran dan masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Bagas.
“Tolong minggir, aku harus pergi.” Walaupun Anis tahu, kalau ucapannya itu sama sekali tidak akan berpengaruh apa-apa.
Sementara itu di dalam mobil. Nawa sedang mendengarkan penyadapannya dengan seksama. Jantungnya berpacu dengan sangat kencangnya.
“Yoham, cepat. Anis berada dalam bahaya.” Perintahnya kepada Yoham.
“Baik, Tuan.” Yoham segera menambah kecepatan mobilnya.
Nawa khawatir. Ia merasa Dianty benar-benar akan menghabisi Anis. Ini buruk.
Walaupun beberapa saat yang lalu ia sudah menghubungi Miss Z untuk melindungi Anis, tapi tetap saja, ia merasa takut. Bagaimana kalau sampai Miss Z terlambat? Nyawa Anis akan berada dalam bahaya.
Di restoran, para pria kekar itu terus mendekat kepada Anis dengan tatapan menyeramkan. Anis melangkah mundur untuk menghindar. Namun, ia sudah tidak punya ruang lagi. Punggungnya sudah mepet di tembok.
Anis mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melawan mereka. Namun, ia hanya menemukan guci vas bunga di atas meja di dekatnya. Dengan segera Anis melemparkan vas itu kepada mereka. Tapi, lemparannya meleset dan malah mengenai lsatu-satunya lampu yang ada di atas meja.
Lampu itupun hancur dan ruangan menjadi sangat gelap.
“Jangan mendekat!” Pekik Anis kembali. Ia sudah tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan itu.
BUG!
“Aaaaaakh!!”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah satu pria.
__ADS_1
BRAKK!!!
Terdengar meja yang pecah di selingi dengan rintihan manusia.
“Apa itu? Siapa kau?!!” Pekik anak buah Dianty.
BUG!
Tiga sudah tersungkur.
Dor! Dor!
Anak buah Dianty melepaskan tembakan. Mereka terlihat bingung karna dalam kegelapan itu, mereka tidak bisa melihat apapun. Mereka tidak bisa melihat siapa yang mereka lawan.
Sreetttt!
Sebuah kabel melilit di leher salah satu di antara mereka hingga tewas.
Sisa dua lagi.
Dor! Dor! Dor!
Anak buah Dianty kalah mental. Kini, mereka ketakutan setengah mati.
“Tunjukkan dirimu!” Teriak mereka.
“Kau periksa di sana. Aku di sini.” Mereka berbisik kemudian berpencar.
Secepat kilat sebuah pisau kecil sudah melayang di leher salah satu dari mereka.
Sisa satu lagi.
“Woi! Kau dimana?” Tanya pria yang tersisa memanggil rekannya. Saat tidak mendapati tanggapan, keringat dinginnya mulai keluar.
Pria terakhir terus berjalan dengan mengarahkan senjata ke depan. Ia berusaha menajamkan indra pendengaran dan penglihatannya.
Ia segera menoleh saat melihat sekelebatan bayangan hitam melintas di belakangnya. Ia berbalik dan terpaku. Tidak bisa bergerak.
Pucuk senjata sudah menempel di keningnya tepat setelah pria itu berbalik. Membuat tubuhnya gemetar. Takut mati.
“Tolong selamatkan ak...”
Dor!
Pria terakhir itu bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Karna peluru panas sudah menembus dari kening ke belakang kepalanya.
Suasa restoran menjadi hening.
Di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari restoran, Dianty dan Bagas sedang menatapi layar tablet yang menampilkan rekaman CCTV di dalam restoran dengan menggunakan lensa inframerah. Sehingga, apa yang terjadi di dalam sangat jelas walaupun tidak ada penerangan.
__ADS_1
“Apa yang kubilang benar kan, Bu? Dia, membantu Nawa.”
“Sialan! Kurang ajar. Berani-beraninya dia mengganggu urusanku! Kenapa Miss Z membantu Nawa? Apa yang sudah Nawa tawarkan? Berani sekali Anis menipuku seperti ini.” Geram Dianty. Dia mengepalkan tangannya. Mencurahkan seluruh kemarahannya di sana.
“Miss Z dan Nawa, aku harus membuat perhitungan kepada mereka. Mereka sudah mengacaukan rencanaku. Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah ikut campur dalam urusanku.” Lanjut Dianty. Kemudian, mereka meinggalkan tempat itu begitu saja.
Beberapa menit kemudian, Nawa dan Yoham sudah sampai. Mereka segera keluar dari dalam mobil dan menerobos masuk ke dalam restoran. Keadaan restoran yang sangat gelap membuat Nawa tidak bisa melihat apapun.
“Anis!!” Pekik Nawa. Ia berjalan ke sembarang arah hingga tidak peduli dia menabrak puing-puing meja.
“Nawa?” Lirih suara Anis.
Sementara Nawa mencari Anis, Yoham mencari saklar lampu. Begitu lampu di hidupkan, betapa terkejutnya Nawa dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
Ia bisa melihat ada 6 mayat yang sudah bersimbah darah di lantai. Dengan keadaan restoran yang sudah tidak berbentuk. Barang dan meja yang pecah dan berhamburan.
Dalam keterkejutannya, ia mencari Anis. Ia mendapati Anis yang tengah meringkuk sambil menutupi kedua telinganya. Tubuh gadis itu gemetar ketakutan.
“Anis?” Lirih Nawa. Ia memegang kedua tangan Anis yang tertutup di kedua telinganya. “Ini aku. Buka matamu.”
Perlahan, Anis membuka matanya. Samar, ia bisa melihat wajah Nawa yang menatapnya.
“Nawa...”
“Kau tidak apa-apa? Maaf aku terlambat datang. Apa kau bisa bangun?”
Anis mengangguk. Wajahnya pucat dan ada linangan airmata yang mengaliri pipinya. Nampaknya Anis sangat ketakutan.
Nawa membantu Anis untuk berdiri. Namun saat Anis melihat salah satu mayat, lututnya menjadi lemas dan ia terjatuh kembali.
“Tidak apa-apa. Tutup saja matamu. Kita keluar dari sini.” Ujar Nawa. Ia lega karna ternyata Miss Z tidak terlambat membantu Anis.
Nawa menyelipkan tangan di paha dan punggung Anis. Kemudian dia membopong tubuh gadis itu keluar dari sana dan mendudukkannya di dalam mobil.
Anis tidak tau, betapa Nawa merasa sangat beruntung karna Miss Z tidak terlambat. Hingga Anis selamat bahkan tanpa luka sedikitpun.
“Ayo kita pergi.” Perintah Nawa kepada Yoham.
Dan mobil kembali melaju meninggalkan area restoran. Namun tiba-tiba,
DUARRRRRR!!!!!!!!
Sebuah ledakan besar berasal dari restoran itu. Itu adalah ulah Bagas. Setelah ia melihat mereka semua keluar dari sana, ia memencet tombol remot peledak yang ia letakkan di regulator tabung gas di dapur. Membuat restoran itu terbakar dengan nyala api yang berkobar sangat besar. Itu untuk menutupi jejak.
Yoham terkejut, namun ia tidak menghentikan mobilnya. Ia hanya melirik lewat kaca spion saja. Sementara Nawa dan Anis menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
gak bosen aku ngingetin kalian para warga kebun labu. jangan lupa jejaknya ya. bantu novel ini up. biar bisa rasain gajian dari mak entun. kalau perlu kasih tau sanak saudara, kakek, nenek, yang demen baca novel, suruh mampir dimari.
nuat warga pendatang baru, sambil nunggu novle ini up, kalian bisa mampir di rumah sebelah yaa, klik aja profilku. banyak cerita lain disana. ada Semesta Rai, My Handsome Rich Husband, Metalmorfosis, dan Jejak cinta Rahwana. jangan lupa tinggalinjejak juga disana.