Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 74. Pengakuan.


__ADS_3

Anis ternganga memandangi beberapa menu yang sudah terhidang diatas meja makan. Berbagai menu mewah khas restoran yang tersaji menimbulkan aroma sedap yang menggoda lambung.


“Apa kau punya lisensi master chef? Astaga. Kenapa masakanmu lezat semua?” Ujar Anis yang baru saja menyuapkan suapan pertama ke dalam mulutnya.


“Hahahahaha. Aku tidak punya lisensi apapun. Aku sudah terbiasa memasak makananku sendiri. Kau tau sendiri kalau aku punya alergi beberapa makanan. Tubuhku sangat sensitif kalau soal apa yang masuk ke dalam perutku. Jadi aku belajar memasak makananku sendiri.”


“Waaahhh. Entah aku harus kasihan atau kagum padamu.”


“Tidak perlu. Kau cukup mencintaiku. Dan aku akan memasakkan makanan enak seumur hidupmu. Hehehehe.”


“Awas saja kalau kau sampai mengingkarinya.” Ancam Anis.


“Tidak akan. Kau tau aku adalah harimau. Hahahahahahahahahaha.”


Astaga. Anis mengernyit. Suara tawa Nawa membahana ke seluruh ruangan. Ini adalah kali pertama Anis melihat Nawa tertawa selebar itu. Sepertinya Nawa sedang senang.


Tentu saja Nawa senang. Dia sudah mendapatkan perusahaan ayahnya kembali. Ditambah, ia sudah menanamkan benihnya di rahim Anis. Apa lagi yang membuatnya sedih? Ini adalah perayaan yang sudah ia tunggu selama ini. Waktu yang lama.


“Malam ini, aku harus pergi ke club. Suta mengajakku bertemu.”


“Berdua?” Selidik Nawa penuh kecurigaan.


“Apa itu? Apa kau cemburu?”


“Tentu saja aku cemburu. Mana ada pria yang tidak cemburu saat istrinya berpamitan untuk bertemu pria lain?” Dengus Nawa. Ia memasang wajah kesal. Membuat Anis menahan tawa. Wajah Nawa lucu sekali. Seperti anak kecil yang sedang ngambek karna tidak di belikan mainan.


“Oh, jadi bagimu Suta itu adalah pria?”


“Memangnya dia wanita?”


“Bukan itu maksudku. Bagiku Suta bukan seorang pria. Dia adalah kakakku yang menyayangi dan melindungiku selama ini. Kau tidak perlu cemburu padanya. Aku sudah memberikan semua milikku padamu. Sudah menyerahkan seluruhnya padamu. Apa lagi yang kau takutkan? Apa kau meragukanku?”


Nawa terdiam. Hanya terdengar ia menghela nafas pelan. Jelas tergambar bahwa ia sedang cemburu.


“Bukan begitu. Aku takut membiarkanmu pergi sendiri. Sedangkan aku masih banyak pekerjaan. Karna tadi aku membolos bekerja, jadi pekerjaanku menumpuk sekarang.” Itu terdengar seperti alasan.


“Tidak masalah. Aku bisa pergi sendiri. Aku meminjam mobilmu.”


Tidak rela. Tapi Nawa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin dianggap sebagai suami over protektive kepada Anis.


“Ya sudah. Hati-hati di jalan. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu.”

__ADS_1


Anis mengangguk. Ia menyuapkan sendok terakhir ke dalam mulutnya.


“Masalah saham, apa tidak masalah kalau aku mengembalikan setengah saham kepada pemilik sebelumnya?” Tanya Nawa meminta pendapat Anis.


“Itu terserah padamu. Aku tidak mau ikut campur lagi dalam perusahaan. Keterlibatanku cukup sampai disini. Tapi, kenapa kau ingin mengembalikannya? Bukankah mereka tidak memihakmu.”


“Mereka tidak memihak siapa-siapa. Yang mereka pihak adalah uang. Selama aku mampu membuktikan kalau aku pasti bisa memberikan uang yang mereka mau, mereka akan ada di pihakku.”


“Kau optimis sekali. Semoga berhasil.”


Setelah mereka selesai makan, Anis mencuci semua peralatan dan piring yang kotor. Setelah membereskan pekerjaannya, barulah ia bersiap untuk pergi.


Nawa mengantarkan istrinya itu sampai di garasi mobil. Mengecup kening Anis sebelum wanita itu masuk ke dalam mobil. Dan terus mewanti-wanti kalau Anis harus ekstra berhati-hati.


“Jangan khawatir berlebihan. Tidak ada yang bisa menyakitiku. Aku bisa memastikan itu. Kau  masuklah. Lukamu belum sembuh benar.”


Nawa tidak menggubris. Ia terus menatapi mobil yang memabwa Anis keluar dari basement sampai menghilang dari pandangannya. Baru setelah itu, ia kembali ke dalam griya tawang dan memanggil Yoham ke ruang kerjanya. Banyak yang harus mereka kerjakan.


Anis melajukan mobilnya menuju ke Club Ara. Club miliknya yang dikelola oleh Tahara. Di depan Club, ia bisa melihat Temmy yang sedang berbicara dengan adiknya itu. Setelah memarkirkan mobil, ia turun dan menghampiri mereka.


“Nona.” Sapa Tahara.


“Anda sudah sampai. Tuan Suta sedang menunggu anda di dalam.” Sambung Temmy.


“Tidak ada. Kami hanya mengobrol saja.”


“Begitu? Baiklah. Aku masuk dulu.” Pamit Anis kemudian masuk ke dalam Club.


Keadaan Club sudah ramai oleh pengunjung. Hentakan musik menggema ke seluruh ruangan. Pengunjung yang di dominasi oleh kaum muda itu bergoyang di lantai dansa. Sebagian menikmati minuman mereka.


Anis menuju ke ruangan dimana biasanya Suta ada disana. Dan benar saja. Begitu ia membuka pintu, Suta sedang berbaring di sofa sambil bermain ponsel.


“Kau datang?” Sapa Suta tanpa melihat kepada Anis yang sudah duduk di hadapannya.


Suta menutup ponsel dan meletakkannya di atas meja. Menyangga tangan di atas lutut dan menatap Anis dengan intens.


“Kenapa melihatku seperti itu?”


Suta diam saja. Ia mengernyit memperhatikan setiap centi wajah Anis. Membuat Anis mengernyit heran.


“Kau terlihat sangat bahagia hari ini.”

__ADS_1


Anis menjawab dengan senyuman. Ia menyadarkan punggung di sandaran sofa dan tersenyum lebar.


“Wahhhh. Dasar penghianat.”


“Penghianat?”


“Kau lebih memilih tinggal di Jepang bersamanya dan menyuruhku kembali lebih dulu.” Dengus Suta yang merasa di hianati.


“Hei. Dia suamiku.”


Mendengar kata suami, membuat Suta sontak membelalakkan matanya. Dia tidak percaya Anis mengakui Nawa sebagai suaminya.


“Kau? Kau benar-benar jatuh cinta padanya?”


Anis mengangguk. Ia tidak menutupi apapun lagi. Ia mengakui kalau ia memang benar-benar sudah jatuh cinta pada Nawa.


“Astaga. Aku tidak percaya ini.”


“Ya. Aku sendiri tidak percaya. Jatuh cinta pada Nawa, sama sekali tidak masuk dalam rencanaku.”


“Apa kau bahagia mencintainya?”


“Tentu saja. Hatiku sedang berbunga-bunga.”


“Ya ampun. Ternyata adikku sudah besar. Sudah mengerti cinta.”


“Sudahi membahas itu. Kenapa menyuruhku kemari?”


Suta membenahi posisi duduknya. Wajahnya berubah serius dan dia melihat kepada Anis dengan tatapan dalam.


“Anis, kau bisa berhenti disini. Lagipula kau memulai semua ini kan karna ingin membalas kematian paman. Yang ternyata paman masih hidup. Jadi, kau tidak punya alasan lagi untuk melanjutkan rencana ini.”


“Apa kau gila? Kau lupa berapa banyak yang sudah dikorbankan untuk sampai di titik ini? Ayahku memang masih hidup. Tapi bagaimana dengan paman? Paman mati di tangan Dianty. Apa kau tidak ingin membalaskan dendamnya?” Anis menjadi tersulut emosinya. Mereka sudah sejauh ini dan Suta ingin dia berhenti? Yang benar saja.


“Aku sendiri yang akan membalaskan dendamku atas kematian ayahku. Bukankah kau sudah punya seseorang untuk bersandar sekarang? Kau sudah punya Nawa. Dan paman juga masih hidup. Kurasa tidak ada gunanya kau ikut campur lagi dalam hal ini.”


“Suta....”


“Z...... Tidak ada gunanya kita berdebat. Aku yakin paman akan meminta hal yang sama padamu.”


Anis terdiam.

__ADS_1


Ya, ayahnya memang baru saja mengatakan hal yang sama dengan Suta. Dan itu membuatnya merasa terpojok. Membuat banyak pertimbangan-pertimbangan mulai bermunculan di benaknya.


__ADS_2