Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 50. Ayo Saling Memanfaatkan Dengan Baik.


__ADS_3

Cahaya matahari sudah merangsek masuk menembus kaca jendela kamar. Anis menggeliat untuk meregangkan tubuhnya. Ia sudah tidak melihat Nawa. Sepertinya, pria itu sudah bangun.


Seteleh mencuci muka, Anis keluar dari kamar dan hendak menuju ke dapur. Langkahnya terhenti saat melewati ruang gim. Ia melihat Nawa yang sedang mengangkat barbel. Mengenakan celana panjang yang ketat sementara dadanya terekspose sempurna. memperlihatkan roti sobek yang sangat menggiurkan.



Kedatangan Anis terlihat dari kaca yang ada di depan Nawa. Ia melemparkan senyuman manisnya kemudian meletakkan barbel ke bawah. Ia menyudahi olahraganya.


“Kau sudah bangun?” Tanya Nawa. Ia menyambar handuk kecil dan menyeka keringat di kening dan lehernya.


“Seksi sekali.” Gumam Anis tanpa sadar.


Mendengar itu, Nawa hanya terkekeh kecil saja. “Aku akan mandi dulu, setelah itu, ayo kita sarapan.”


Di meja makan, sudah terhidang sarapan untuk mereka berdua. Anis tersenyum sumringah dan langsung menyantapnya. Makanan buatan Nawa memang tidak pernah gagal.


Selesai sarapan, Nawa pergi ke untuk mengganti pakaian. Sementara Anis berleha-leha sambil menonton TV.


Sebuah berita kebakaran sedang ditayangkan saat ini. Anis mengernyit. Itu adalah restoran china tempat ia berada semalam.


“Sedang melihat apa?” Suara Nawa mengejutkan Anis yang langsung menoleh ke arah Nawa. Pria itu sudah rapi dengan setelan kantornya. Ia mengambil duduk di sebelan Anis.


“Itu, bukankah itu restoran yang semalam?” Tanya Anis. Nawa memperhatikan dengan seksama.


“Mereka bilang tidak ada korban jiwa? Lantas, kemana perginya orang-orang itu?”


“Itu pasti ulah Dianty, atau Bagas.”


Tiba-tiba Anis merinding ngeri. Mereka bahkan bisa memanipulasi sebuah berita. Itu tandanya, pengaruh Dianty tidak main-main.


“Kau mau ke kantor?”


“Hem. Ada banyak pekerjaan.” Jawab Nawa. “Ini.” Sambung Nawa sambil memberikan sebuah ponsel baru kepada Anis.


“Ponsel? Aku sudah punya ponsel.”


“Gunakan ini juga, untuk berjaga-jaga.”


Anis hanya mengangguk saja sambil menerima ponsel keluaran terbaru itu.


Setelah Nawa pergi ke kantor, Anis masuk ke dalam ruang perawatan Baskoro. Seperti biasa, ia membersihkan tubuh pria yang masih koma itu.


Di dalam mobil, Yoham mengemudi dengan fokus, tanpa banyak bicara.


“Bagaimana?” Tanya Nawa. Semalam, ia memerintahkan kepada Yoham untuk menyelidiki, anak buah siapa yang ada di restoran. Dianty, atau Bagas.

__ADS_1


“Mereka bawahan Bagas, Tuan.”


Nawa tersenyum. Ia seperti mendapati sebuah alasan untuk mengamuk kepada pria itu. Tidak cukup Bagas berencana melenyapkan dirinya, dan sekarang pria itu justru bermain-main dengan istrinya.


Sesampainya di kantor, Nawa langsung pergi ke ruangan Dianty.


“Ada apa pagi-pagi sudah menemuiku?” Tanya Dianty menghampiri Nawa yang sudah duduk di sofa.


Bruk!


Nawa melemparkan sebuah amplop coklat keatas meja di hadapan Dianty. Kini dia tidak lagi menyembunyikan diri di balik ‘kesopanan’. Dia akan terang-terangan melawan wanita itu.


“Apa ini?”


Nawa tidak menjawab. Ia hanya membiarkan Dianty membuka amplop darinyaa.


Mata Dianty membelalak melihat lembaran-lembaran foto di tangannya. "Bagaimana kau bisa mendapatkan


“Bu, sepertinya hubungan ibu dengan menteri pertahanan cukup dekat. Apa ibu berencana menjadi besan dengannya? Apa mereka tau kalau Barra terlibat dengan pembunuhan berencana? Ahh, aku bisa mencium kebusukan dari sini.”


“Apa maksudmu? Pembunuhan berencana?”


“Ibu masih ingat, kan? Tentang kasus Dion. Aku punya bukti kalau Barra yang memerintahkan Dion untuk mencelakai Anis.”


“Apa maumu?


“Bukan aku tidak tau kalau ibu berencana merebut resort itu setelah aku berhasil dan memberikannya kepada Barra. Apa ibu fikir aku tidak akan melakukan sesuatu? Sesuai perjanjian, ibu harus memberikan resort itu atas namaku pribadi.”


“Aku tidak akan mengingkari janji. Tenang saja.”


“Lagi, jangan coba-coba ibu mengganggu apalagi sampai melakukan sesuatu terhadap Anis. Dia ada dalam perlindunganku.”


“Wahh. Apa sekarang kau sedang mendeklarasikan perang terbuka padaku? Apa kau sudah punya cukup kekuatan untuk menjatuhkanku?” Diantymemajukan tubuhnya dan menatap dalam ke netra Nawa.


“Aku akan menunjukkan kartu yang kupunya saat waktunya sudah tiba.” Nawa tersenyum smirk.


Dianty terdiam sejenak.


“Hahahahahahahahaha. Nawa,,, Nawa. Apa kau selalu sebodoh ini? Ya ampun. Aku jadi kasihan padamu. Kau melindungi seseorang yang..... Ah, sudahlah. Kau akan tau pada waktunya. Astaga... Hahaha.”


Gelak tawa Dianty dianggap sebagai lelucon oleh Nawa. Ia fikir, wanita itu sedang menukar situasi yang terjadi sebagai upaya untuk menutupi kecemasan.


“Di rapat direksi yang akan datang, aku akan menunjuk Barra sebagai penerusku. Maaf, aku merasa setidaknya aku harus memberitahumu tentang ini. Aku merasa sudah tua, dan sudah saatnya aku memberikan kursi CEO pada putraku.”


“Kursi itu bukan milik Barra. Tapi milikku.”

__ADS_1


“Cobalah rebut kalau kau bisa. Kau pasti tau kalau pemegang saham semuanya berpihak padaku.”


Nawa diam. Ia tidak punya kalimat yang tepat untuk membalas Dianty. Karna dia tau, apa yang di ucapkan oleh Dianty adalah benar. Para pemegang saham berada di bawah kendalinya.


“Kita lihat saja, aku akan memastikan kalau kursi itu akan kembali padaku.”


Dianty mengangguk. Ia menahan senyum seolah mengejek keberanian Nawa.


Nawa menatap tajam kepada Dianty seraya beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah pintu keluar saat Dianty berteriak padanya.


“Siapkan senjata terbaikmu!”


Dengan menahan emosi, Nawa keluar dari ruangan Dianty. Di luar ruangan, ia bertemu dengan Bagas. Mereka saling tatap dengan tatapan dingin penuh kebencian.


“Kenapa kau menemui ibu?” Tanya Bagas.


Nawa tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Bagas dan berkata,


“Aku bilang padanya, kalau aku akan membunuhmu.” Nawa menarik diri dan tersenyum kepada Bagas.


“Memangnya kau bisa membunuhku?”


“Tentu saja. Itu satu hal yang sangat mudah bagiku.”


“Lantas, kenapa selama ini kau diam saja? Bahkan setelah mengetahui kalau aku dalang di balik penusukanmu?”


“Karna belum waktunya. Tunggu saja, aku sudah menyiapkan sesuatu yang sangat menarik untukmu.”


“Aku jadi tidak sabar.”


“Baiklah, sampai bertemu kembali.” Bisik Nawa kembali lalu dia pergi meninggalkan Bagas dan kembali ke dalam ruangannya.


Saat ini, Nawa sedang dibakar oleh kemarahan yang sudah membludak tak terkendali. Ia berencana akan menghancurkan Dianty sampai berkeping-keping. Bahkan anak-anaknya. Ia mengesampingkan sisi kemanusiaan yang selama ini berusaha dia jaga.


Dengan penuh emosi, Nawa mengeluarkan ponsel dan menghubungi Suta.


“Aku akan menerima tawaranmu. Satu lagi, aku ingin kau membantuku untuk menghancurkan mereka.” Tegas Nawa.


Di seberang, Suta sedang tersenyum penuh kemenangan.


“Baiklah, beritahu aku kapanpun kau siap. Karna aku menyukai gayamu, kau tidak perlu memikirkan bayaran. Aku akan membantumu secara cuma-cuma. Karna, aku juga sangat ingin menghancurkan ibu tirimu itu.”


Nawa tersentak. Ia menyadari kalau ternyata Suta punya motif sendiri dan sedang memanfaatkan dirinya. Tapi itu tidak masalah, sekarang, mereka punya tujuan yang sama.


“Ayo kita saling memanfaatkan dengan baik.” Ujar Nawa kemudian memutus sambungan telfon mereka.

__ADS_1


__ADS_2