Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 30. Istriku.


__ADS_3

“Apa yang kalian lakukan?!! Lepaskan dia!!!!”


Raut wajah berang terpancar dari Nawa. Ia berjalan dengan cepat dan langsung menghampiri security yang masih menggandeng Anis.


“Kalian tidak mau melepaskannya?!” Tekan Nawa.


Kedua security itu saling pandang. Tidak mengerti kenapa Nawa begitu marah kepada mereka.


“Tuan, dia mengacau......”


“lepaskan istriku.”


Sebuah kalimat yang membuat siapapun yang mendengarnya ternganga. Terlebih Yoham yang tidak bisa mencegah hal itu terjadi. Bahkan Anis tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Sebuah keanehan jika Nawa mengakuinya sebagai istri, di hadapan orang banyak pula.


Ke dua security itu langsung melepaskan lengan Anis dan meminta maaf kepada Anis.


“Maaf, Nona. Kami tidak tau siapa Anda.” Ujar salah satu security.


Nawa menepis tangan security itu dan langsung menarik dan menggenggam tangan Anis dan mengajaknya untuk pergi dari lobi. Ia mengajak Anis ke ruangannya.


Anis yang masih merasa aneh hanya bisa terdiam saja saat pria itu membimbingnya untuk duduk di sofa ruang kerja. Sangking anehnya, Anis bahkan hanya memangku saja bekal yang ia bawa tanpa meletakkannya di atas meja.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Nawa yang melirik ke arah pergelangan tangan Anis.


“Hah? Oh, aku baik-baik saja.” Jawab Anis tergagap.


“Apa yang kau bawa itu?”


“Oh iya, aku membawakan bekal untukmu. Tadi kau tidak sempat sarapan di rumah.”


“Kau ini memang keras kepala, ya? Padahal aku sudah jelas-jelas menegaskan kalau hari ini aku tidak mau melihat wajahmu.”


“Ini sebagai bentuk permintaan maaf karna aku sudah membuatmu tidak bisa tidur semalaman.” Ujar Anis yang langsung menata bekal di atas meja.


Nawa mengernyit melihat makanan yang tersaji di atas meja. Telur dadar dulung, daging balado yang di iris dadu, dan ada nasi juga.


“Aku tidak tau apa kau akan menyukainya. Aku berhati-hati dan tidak menggunakan bahan-bahan yang mengandung alergen. Kau bisa percaya padaku.” Anis meyakinkan Nawa kalau ia bersungguh-sungguh.

__ADS_1


“Apa ini, daging yang ada di kulkas?” Tanya Nawa sambil menunjuk kotak berisi daging balado.


“Iya, kenapa?”


“Daging wagyu A5. Dan kau malah menyambalnya?” Tanya Nawa terbelalak.


“Memangnya kenapa? Sama-sama daging, dan rasanya juga daging.”


Nawa menatap Anis tidak percaya. Daging wagyu kesukaannya sudah berubah menjadi daging balado.


“Coba dulu. Ini terlihat sangat lezat.” Imbuh Anis. Ia menyodorkan sendok kepada Nawa.


Nawa menyambut sendok itu dan langsung memasukkan potongan daging ke mulutnya. Saat itu, lidahnya seperti tersambar petir. Rasa pedas yang menyengat membakar lidahnya, membuat wajahnya langsung merona seketika.


“Apa ini? Kenapa rasanya pedas sekali?!” Protes Nawa sambil menenggak air mineral yang ada di atas meja.


“Apa sepedas itu? Aku hanya menambahkan lima buah cabai rawit yang ada di botol kaca di dalam lemari pendingin karna ku fikir cabai merahnya tidak pedas.” Jawab Anis.


“Cabai rawit apa?” Nawa mencoba mengingat-ingat kalau ia menyimpan cabai rawit di botol kaca. Dan seberapapun ia mengingatnya, ia tidak merasa pernah menaruh cabai rawit di botol kaca.


“Ya ampun. Kenapa rasanya jadi seperti ini?!” Anis ikut merasakan masakannya. Lidahnya terasa seperti terbakar.


“Maaf. Aku fikir itu hanya cabai rawit biasa.” Ujar Anis juga sambil menahan rasa pedas.


Mereka berdua tidak jadi melanjutkan memakan makanan itu. Keduanya sudah hilang selera makan.


“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ingin mampir ke club ARA untuk bertemu dengan temanku.” Anis beralasan sambil ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Nawa yang mulutnya masih tersiksa. Bahkan ia tidak sempat mencegah gadis itu yang langsung melarikan diri keluar dari ruangannya.


Huuffhh...


Anis mengelus dada sambil bernafas lega. Untunglah ia bisa melarikan diri dengan cepat sebelum Nawa mengomeli dan memarahinya. Kali ini iamasih bisa menyelamatkan diri. Niat ingin meminta maaf malah semakin membuat Nawa marah. Sungguh memalukan. Kecerobohannya membuat harga dirinya menyusut seketika.


Ada yang berbeda saat Anis turun ke lobi. Sekarang beberapa orang nampak menundukkan kepala  untuk mengangguk hormat padanya. Security yang tadi mengusirnyapun nampak sudah lebih menghormatinya. Mereka bahkan membukakan pintu taksi untuk Anis.


Anis berencana pergi ke rumah May seperti yang sudah ia janjikan. Ia memberitahu sopir taksi untuk pergi ke alamat yang ia beritahu.


Lebih dari setengah jam perjalanan dan akhirnya taksi yang membawa Anis sampai di tempat yang dituju. Ia mengernyitkan kening saat melihat orang-orang yang berkerumun di depan rumah sederhana itu. Bahkan ada beberapa mobil polisi dan sebuah ambulance di sana.

__ADS_1


Anis terus melangkahkan kakinya mendekati kerumunan dan bertanya kepada salah satu warga  yang ada di sana.


“Permisi, ini ada apa ya Bu?” Tanya Anis kepada salah satu ibu-ibu berdaster yang ia temui.


“Oh, eh?” Si ibu terkejut dengan kemunculan Anis yang tidak ia sadari. “Ini, yang tinggal di rumah itu, jadi korban pembunuhan. Kabarnya juga di perkosa.” Jelas si ibu.


“May? Maksud ibu, May?”


“Iya, May. Ya ampun. Kasihan sekali dia.”


Dunia Anis terasa hampir runtuh. Ia ternganga tidak percaya dengan kabar yang ia dengar. Ia bahkan sempat bertelfon dengan May kemarin malam. Dan tadi pagi juga May membaca pesan yang ia kirimkan padanya.


Anis terus menerobos kerumunan untuk bisa lebih dekat dengan rumah May. Walaupun lututnya terasa mati dan sulit untuk di bawa melangkah, namun ia terus memaksakan diri untuk merangsek masuk.


Di sekitarnya, orang-orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman. Dan Anis terus saja merangsek masuk dan langsung terduduk di samping peti jenazah temannya itu.


“Tidak mungkin. Kenapa hal seperti ini bisa menimpamu, May? Kau gadis yang baik. Huhuhuhu.” Anis tidak bisa lagi membendung tangisnya. Ia melingkarkan lengannya ke atas peti itu dan tergugu di sampingnya.


“Anda siapa?” Tanya seorang pemuda berbadan kekar mengenakan kaus berwarna hitam, berdiri di samping Anis.


Anis mendongakkan wajahnya untuk melihat orang yang bertanya padanya. “Aku teman May. Apa yang terjadi padanya?” Tanya Anis di sela isak tangisnya. Ia berdiri untuk mensejajarkan diri dengan pria itu.


“Kak Anis? Apa itu kau?” Tanya pemuda itu lagi memastikan.


Anis mengangguk membenarkan. “Kau adiknya May? Kenapa bisa begini?”


“Entahlah, sejak kemarin kak May tidak pulang ke rumah. Kami tiba-tiba mendapat telfon dari polisi dan memberitahu kalau kak May sudah berada di rumah sakit dalam keadaan meninggal dunia. Polisi memberitahu sedikit kejadiannya kalau kak May mengalami kekerasan seksual sesaat sebelum di bunuh.”


“Di bunuh? Apa maksudmu?”


“Tengkorak kepala kak May hancur akibat pukulan benda tumpul. Wajahnya juga babak belur tidak karuan. Aku bahkan sudah tidak bisa mengenali wajahnya lagi.” Ujar adik May dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Baik Anis maupun adik May, tidak bisa lagi membendung tangis mereka. Anis ngilu membayangkan cerita adik May itu. Hatinya terasa sangat sakit mendengarnya.


...****************...


kalian yang belum mampir di ceritaku yang lain.. cus mampir..

__ADS_1


gak kalah seru.



__ADS_2