Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 20. Rencana Gagal.


__ADS_3

Setelah memastikan kalau Anis benar-benar sudah tidur, Nawa beranjak dari ranjang kemudian keluar dari kamarnya. Ia menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu.


Di tangannya, ia menggenggam kalung pemberian Dianty dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Disana, ternyata sudah ada Yoham yang baru saja datang karna menerima pesan singkat dari Nawa tadi.


“Tuan...” Yoham tidak jadi melanjutkan pertanyaannya karna Nawa keburu menyuruhnya untuk diam dengan meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Yoham yang langsung mengerti hanya mengikuti Nawa ke meja kerjanya.


Nawa berdiri di balik meja kerjanya kemudian mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkan kepada Yoham.


‘Periksa kalung ini. Waktumu sampai besok pagi.’


Yoham langsung mengangguk dan menerima kalung itu dari Nawa kemudian membawanya ke unit apartemennya.


Sepeninggalnya Yoham, Nawa kembali ke atas. Namun kali ini ia tidak masuk ke dalam kamar, tapi ia masuk ke ruangan terlarang itu.


*****


Anis mengernyipkan matanya yang masih sayu karna sisa-sisa rasa kantuk masih menempel di pelupuk matanya. Tapi ia langsung terbelalak saat ia melihat wajah Nawa yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


“Kau mengejutkanku!” Pekik Anis yang langsung bangun terduduk.


“Hemph.” Nawa melayangkan sebuah senyuman manis yang cukup untuk menggoyahkan hati Anis.


Kenapa dia tersenyum semanis itu? Sepagi ini.


“Bangunlah. Aku sudah menyiapkan sarapan.” Ujar Nawa sambil bangkit dari jongkoknya dan berbalik untuk keluar.


“Jangan begitu! Kau aneh. Itu membuatku merinding.” Jujur Anis.


Tapi Nawa tidak peduli bahkan saat Anis melemparkan bantal dan mengenai punggungnya. Ia hanya tersenyum sinis penuh kemenangan dengan terus melangkahkan kaki keluar dari kamar.


Selesai membersihkan muka, Anis segera turun dengan menyambar kalung dari atas nakas kemudian memakainya. Tidak di sangka jika ia jadi kecanduan dengan masakan Nawa. Mendengar pria itu sudah memasak sesuatu untuknya membuat rasa lapar Anis langsung muncul.

__ADS_1


Dengan perlahan Anis berjalan menapaki satu persatu anak tangga yang berkilau itu. Ia malu untuk menemui Nawa setelah melemparkan bantal pada pria itu.


“Cepatlah!” Pekik Nawa dari balik dinding yang memisahkan dapur dan ruang tamu.


Anis sempat terkejut dengan kemunculan tiba-tiba itu. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dan terus berjalan ke arah meja makan.


“Ayo, sarapan.” Ajak Nawa kemudian menarikkan kursi untuk Anis.


Mendapat perhatian manis itu membuat kening Anis berkerut. Perhatian itu membuatnya lebih takut daripada sebelumnya. Perubahan sikap drastis dari Nawa membuat instingnya menjadi waspada.


“Kau mau kemana? Sudah rapi begitu?” Selidik Anis.


“Tentu saja aku akan pergi bekerja. Aku bukan pengangguran.” Jawab Nawa.


“Aku boleh ikut?” Tanya Anis. Lagipula Nawa sudah tau tujuannya berada di sisi pria itu. Jadi ia akan terang-terangan meminta untuk mengikuti kemana Nawa pergi.


“Tidak hari ini. Aku punya banyak tugas untukmu.” Ucap Nawa dengan terus menyantap sarapannya. Tentu saja ia tidak ingin Anis melaporkan kepada Dianty kalau ia bertemu dengan Suta hari ini. Itu akan menambah masalah menjadi rumit nantinya.


“Ada. Tugas yang sangat penting.”


Anis mencibir dengan rasa penasaran. Kira-kira tugas apa yang akan di berikan Nawa untuknya?


Selesai sarapan, Nawa mengajak Anis pergi ke ruang cuci. Perasaan Anis sudah tidak enak saat mengikuti langkah kaki Nawa. Dan benar saja, di hadapannya sudah bertumpuk beberapa selimut yang super tebal.


“Ini tugasmu. Cuci semua selimut ini.” Perintah Nawa kemudian sambil tersenyum samar. Ia memang berniat membuat Anis tetap berada di rumah hari ini.


Anis hanya bisa garuk-garuk kepala saja. Nawa benar-benar sedang mengerjainya. Dan selimut yang menumpuk itu terlihat sangat banyak. Ia tidak yakin akan bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu cepat.


“Kenapa?” Nada suara Nawa terdengar ada penekanan.


“hah? Tidak, tidak apa-apa. Apa hanya ini saja yang harus ku cuci?” Tantang Anis. Ia ingin membuat Nawa percaya kalau dia sama sekali tidak keberatan jika hanya mencuci banyak selimut itu.

__ADS_1


Nawa tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak. Itu.” Kali ini Nawa menunjuk kepada tumpukan sprei yang ada di belakang mereka yang kalau di lihat sekilas, itu masih bersih semua. Tadi Anis tidak menyadari tumpukan itu disana.


Rencana Anis untuk membuat Nawa heran padanya ternyata gagal total. Ternyata Nawa lebih licik dari dugaannya.


“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Pamit Nawa dengan seringai di bibirnya.


Walaupun dengan mendengus, tapi rasa kesal Anis tetap ada. Bahkan malah bertambah. Ia melirik tajam kepada punggung Nawa yang sudah menjauh darinya.


Anis kembali memandangi tumpukan ‘tugas’nya itu dengan perasaan kesal setengah mati. Hari ini ia gagal menjalankan tugas dari Dianty untuk mengikuti Nawa kemanapun pria itu pergi.


Sepeningalnya Nawa, Anis mulai merendam satu selimut dulu. Ia menginjak-injak selimut itu dengan penuh emosi. Lama juga ia berkutat dengan tugas itu. Setelah selesai, ia keluar dari ruang cuci dan berjalan pelan menuju ke ruang tamu. Disana, ia mengedarkan pandangannya. Setelah merasa aman, ia mulai berjalan tertatih menaiki anak tangga.


Tujuannya adalah pergi ke ruang rahasia yang terlarang itu. Ia tidak sadar kalau di setiap sudut rumah itu terdapat CCTV yang selalu memantau selama 24 jam. Ada dua anak buah Nawa yang berjaga di ruang terpisah untuk memantau CCTV.


Saat Anis sudah berada di depan pintu ruangan rahasia, sebuah suara yang entah darimana datangnya membuatnya terkejut setengah mati.


“Kau mau kemana? Berhenti disana.” Jelas sekali kalau itu adalah suara Nawa.


Anis mengedarkan pandangannya dan mencari sumber suara, namun ia tidak menemukan siapapun di rumah itu.


“Tidak usah mencariku. Cepat pergi dari sana sebelum aku kembali dan menyeretmu dengan kedua tanganku. Kau ini tidak mengerti atau memang terlalu berani untuk membantah laranganku?!”


Anis masih mencari sumber suara Nawa. Dan dia masih tidak menemukan sosok pria itu di manapun. Jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi.


“Hei! Dimana kau?” Teriak Anis sendiri. Ia fikir Nawa sedang bersembunyi di suatu tempat.


Lagi-lagi rencana Anis untuk masuk ke dalam ruang rahasia itu gagal total. Padahal tadinya ia fikir kalau kali ini ia pasti mendapatkan sesuatu tentang Nawa untuk di laporkan kepada Dianty.


Saat Anis mengedarkan pandangannya, ia menangkap sebuah benda yang bertengger di pojok langit-langit yang seolah punya mata dan sedang menatap kepadanya. Barulah ia sadar kalau ia sedang di awasi oleh kamera CCTV. Kenapa ia tidak berfikir ke arah sana sejak tadi?


Kecerobohan Anis membuatnya mati kutu. Ia hanya bisa memandangi CCTV itu dengan wajah masam, pun malu karna ternyata semua perbuatannya sudah ketahuan oleh Nawa.

__ADS_1


Sambil menghentakkan kakinya, Anis meninggalkan tempatnya dengan perasaan kesal setengah mati. Ternyata Nawa bukanlah orang yang mudah di bodohi. Terbukti dengan rencananya yang sudah gagal berkali-kali.


__ADS_2