Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 51. Tujuan.


__ADS_3

Di ruangannya, Dianty sedang uring-uringan sementara Bagas hanya duduk diam saja di sofa. Ia mengunyahi permen karet sambil menatap sang ibu dengan lirikan.


“Berani sekali dia mengancamku dan kakakmu? Mentang-mentang sudah bekerja sama dengan Miss Z, apa dia fikir sudah punya cukup kekuatan untuk melawanku?” Gerutu Dianty. Dia sangat kesal.


“Tapi, Bu, kalau dia bekerjasama dengan Miss Z, berarti dia juga bekerja sama dengan Anoda. Dan kalau sudah menyangkut dengan Anoda, kita tidak bisa menganggapnya remeh.”


“Ibu tau. Sebelum dia memulai rencananya, ibu akan menghancurkan mereka lebih dulu.” Yakin Dianty.


Dianty mengambil ponselnya dari meja kerjanya, kemudian menghubungi seseorang.


“Beritahu aku alamat markas Anoda. Cepat.” Perintahnya kepada orang di telfon. Kemudian ia mematikan telfon itu dan duduk di sofa kebesarannya.


“Kenapa Ibu mau kesana?”


“Ibu harus memastikan sesuatu kepada mereka.”


“Tapi itu sangat berbahaya, Bu.”


“Tenang saja. Ibu akan membawa pengawal.” Yakin Dianty.


Saat Dianty tengah sibuk dengan kemarahannya, Barra masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang masam. Ia lantas mengambil duduk di sofa depan Bagas.


“Kenapa wajahmu begitu?”


“Mina meminta putus denganku.” Keluh Barra.


“Apa?!” Dianty memekik terkejut. “Kenapa?”


“Dia bilang, dia mendengar kalau aku terlibat dalam kasus pembunuhan berencana. Dan dia tidak ingin terlibat denganku.”


Wajah Dianty semakin mengkerut. Kalau Mina membatalkan rencana pertunangannya dengan Barra, bisa gagal juga rencananya. Biar bagaimanapun, ia harus mendapatkan besan seorang menteri pertahanan untuk melancarkan aksinya meloby perdagangan senjata.

__ADS_1


Sudah bertahun-tahun lamanya Dianty merencakanan hal ini. Yaitu memuluskan perjalanannya melobi perdagangan senjata antar negara. Karna memang itulah pekerjaan utamanya sebelum bergelut dengan bisnis SJ Group.


Tidak, kali ini, ia harus mendapatkannya.


Dianty menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Ia memejamkan mata untuk mencari jalan keluar. Seketika, ingatannya melesat pada beberapa tahun yang lalu.


Kilas balik Dianty dan kecelakaan ayah Nawa.


Sebelum bertemu dengan Jaya Karsa, yang merupakan seorang pebisnis handal dan juga seorang politisi, pekerjaan Dianty adalah pelobi.


Pelobi apapun.


Entah itu perdagangan senjata, obat-obatan terlarang, bahkan sampai jual beli anak di awah umur. Latar belakang Dianty yang merupakan putri dari seorang gangster terkenal yang berasal dari Brazil, membuat Dianty menjadi sosok yang lumayan di takuti di lingkungannya.


Saat berumur lima belas tahun, ayahnya tewas dalam baku tembak bersama polisi. Dan ibunya yang memang berasal dari negara Indonesia, membawa Dianty kembali ke Indonesia. Saat Dianty berumur 20 tahun, sang ibu meninggal karna kanker.


Setahun setelah kepergian sang ibu, Dianty mendapat kontak dari sisa anak buah ayahnya. Dan seiring berjalannya waktu, Dianty menjadi wanita yang bengis karna memang darah panas ayahnya mengalir dalam tubuhnya.


Dia mulai mengumpulkan anak buah sang ayah dan mendapuk dirinya sebagai penerus ayahnya.


Dianty mulai mencari orang yang mungkin akan menguntungkannya, dan terpilihlah seorang Jaya Karsa. Pebisnis handal dengan latar belakang politik yang mumpuni. Jaya Karsa bahkan sudah menempati daftar sebagai calon Menteri Pertahanan selanjutnya. Itulah yang di incar oleh Dianty.


Tapi sayang, Jaya Karsa sudah mempunyai seorang istri dan anak.


Tak habis akal, Dianty melamar sebagai sekretaris di SJ Group. Berkat kecerdasannya, ia lulus. Dua tahun mengabdi di SJ Group sambil melancarkan aksinya menyingkirkan istri Jaya Karsa.


Dan berhasil, istri Jaya Karsa meninggal karna sakit akibat racun-racun yang ia berikan. Dan, ia berhasil menikahi Jaya Karsa beberapa bulan setelah wanita itu meninggal.


Sebuah tragedi terjadi di tahun kedua pernikahan mereka.


Sore itu, hujan turun dengan derasnya. Ia dan Jaya Karsa sedang berada di ruang kerja suaminya itu.

__ADS_1


“Kenapa kau memanggilku kemari, sayang?” Tanya Dianty yang sambil menggelayut manja di paha sang suami. Ia merangkulkan tangannya di leher pria itu.


Entah kenapa, Dianty merasa sikap suaminya berubah dingin padanya. Pria itu bahkan menampik lengannya dan berpindah duduk ke sofa. Dianty mengikuti duduk di sofa bersama dengan suaminya.


“Kenapa wajahmu begitu? Apa aku melakukan kesalahan?” Selidik Dianty. Entah kenapa ia merasa tidak enak dengan tatapan suaminya.


PRAK!


Jaya Karsa melemparkan sebuah map kuning ke atas meja.


“Buka.” Perintahnya kepada Dianty.


Dianty mengambil map itu dan mulai membaca isinya. Betapa terkejutnya dia, itu adalah dokumen yang berisi catatan dan bukti semua kejahatan yang sudah ia lakukan selama ini.


“Bagaimana, kau bisa mendapatkan ini semua?” Tanya Dianty. Jantungnya berdegub dengan sangat kencang.


“Sayang, ini semua tidak benar. Kau salah faham.. Aku...”


“Berhentilah berpura-pura. Aku sudah tau kalau kau mengincar kursi Kementerian Pertahanan yang mungkin akan ku dapatkan. Tapi ketahuilah satu hal, aku sama sekali tidak menginginkan posisi itu. Latar belakangku tidak cukup mumpuni untuk mengemban tugas itu. Awalnya aku sempat ragu, tapi setelah aku mengetahui kebusukan niatmu, aku semakin yakin, kalau aku tidak pantas berada di posisi itu.” Tegas Jaya Karsa lagi. Ia sudah benar-benar marah kepada istrinya karna sudah di bohongi seperti ini.


Sementara Dianty sedang memutar otaknya. Ia mencari cara untuk lepas dari kecurigaan suaminya. Walau bukti-bukti itu sudah ada di depan mata.


“Dan, hari ini aku menceraikanmu. Kita bercerai! Aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu. Pergilah dari ruamh ini.”


“Tidak, tidak, sayang. Jangan seperti ini. Aku mohon. Ini semua hanya kesalah fahaman saja. Aku tidak mungkin menghianatimu, apalagi memanfaatkanmu.” Dianty memulai dengan senjata belas kasihnya. Ia memohon dengan tatapan pias kepada Jaya Karsa.


“Tidak mungkin kau bilang?!!! Dasar wanita jahat. Aku bahkan sudah tau kalau kau yang membunuh istriku! Tidak ada lagi pengecualian. Aku akan pergi keluar, saat aku kembali, kau sudah harus pergi dari rumah ini.”


“Sayang, kalau kau mengusirku, bagaimana dengan kami? Dengan Barra dan Bagas? Bukankah kau sudah menganggap mereka sebagai anak kandungmu sendiri? Tolong jangan usir kami.” Mohon Dianty lagi.


Bukan karna ia tidak ingin berpisah dari suaminya. Atau bukan karna ia bingung bagaimana mengurus kedua anaknya nanti. Yang di khawatirkannya adalah, tentang tujuan sebenarnya. Dia bahkan tidak peduli dengan status perkanwinan atau bahkan anaknya sekalipun. Ambisinya sudah membuat hatinya tertutup kebusukan.

__ADS_1


Dianty memohon sambil menangis. Ia memegangi kaki Jaya Karsa untuk mencegah pria itu pergi. Tapi, Jaya Karsa menepiskan tangannya dan pergi begitu saja.


Saat pintu terbuka, ia bisa melihat Baskoro, yang merupakan supir kepercayaan suaminya itu berdiri di ambang pintu. Tatapannya sama dengan tatapan Jaya Karsa. Dan itu membuatnya sangat marah dan tersinggung.


__ADS_2