
Tatapan penuh kebencian terpancar dari netra Rengganis. Tapi sepertinya pria itu hanya menganggapnya remeh dan terus tertawa bersama dengan teman-temannya. Mereka nampak puas melihat Rengganis yang terintimidasi oleh tingkah mereka.
“Au! Au! Au! Au!” Pekik pria yang ada di hadapan Rengganis sambil nyengir menahan sakit dengan tangan Rengganis yang sedang memelintir tangan pria itu sampai membuat pria itu kesakitan.
“Lepaskan!” Pekik pria itu.
Tapi Rengganis semakin memperkuat cengkeramannya. Sedangkan teman-teman pria itu malah semakin tertawa keras. Membuat beberapa orang menoleh dan melihat kepada mereka.
“Hei, Tuan. Sepertinya anda adalah pria yang terhormat. Tapi sikap murahan ini sangat tidak cocok dengan anda.” Lirih Rengganis sambil melihat CCTV yang bertengger di pojok ruangan tak jauh dari mereka.
“Jika saya menyebar rekaman CCTV itu, apa orang tuamu akan membiarkan hal ini? Anda tau kan, belakangan ini apapun cepat sekali menjadi viral? Apalagi kalau menyangkut dengan anak pejabat dan orang kaya. Aku khawatir kalau uang jajanmu akan berkurang karna hal ini dan kita tidak bisa bertemu lagi disini.” Kini Rengganis melayangkan senyuman yang terlihat menyeramkan di mata pria itu.
“Baiklah. Baiklah! Maaf.” Pekik pria itu yang sudah kepalang takut. Aura ketakutan dari gadis itu berubah menjadi aura intimadasi yang menakutkan.
“Kalau begitu, aku akan menganggap ini sebagai perjanjian kalau anda tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Kepada wanita manapun. Karna saat anda melakukan hal itu dan kebetulan ada aku disana, maka aku akan langsung menyebarkan rekaman itu.” Ancam Rengganis. Ia menepiskan tangan pria itu dengan kasar. Kemudian tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Seorang pria yang tengah duduk di meja sebelah nampak hanya tersenyum saja sambil terus meneguk minumannya. Padahal dia tadi sudah siap membantu dan menjadi pahlawan untuk gadis yang ternyata pemberani itu.
“Rengganis, kau tidak apa-apa?” Tanya May, salah satu karyawan Club Hara.
Rengganis mengangguk. “Aku tidak apa-apa.” Jawab Rengganis kemudian. Ia bisa melihat kalau May mengkhawatirkannya.
“Argh! Mereka itu, selalu berbuat seperti itu.” Dengus May sebal.
“Apa kau juga pernah menjadi korbannya?” Tanya Rengganis.
May mengangguk. “Semua pelayan wanita disini pernah mengalaminya. Tidak hanya mereka yang berbuat begitu. Masih banyak pelanggan yang kurang ajar seperti mereka. Tapi mereka itulah yang paling parah.”
Sebuah ketimpangan perilaku yang memang di anggap wajar oleh orang-orang brengs*k semacam itu. Mereka fikir wanita yang bekerja di club adalah wanita rendah yang mudah di lecehkan begitu saja. Tapi sayangnya,
__ADS_1
ketimpangan itu tidak bisa di perbaiki. Walaupun sudah ada yang mendapat pelajaran dan hukuman, mereka selalu tumbuh seperti parasit yang berkembang biak di dunia malam.
“Tidak apa-apa. Aku sudah memberi mereka sedikit pelajaran.” Bisik Rengganis kepada May.
“Andai saja aku seberani kau saat itu. Ahh, dulu aku terlalu takut untuk melawan karna kufikir aku bisa saja dipecat jika menyebabkan masalah.” Sesal May.
“Jangan takut. Lain kali, jika kau mendapatkan perlakuan seperti itu lagi, lawanlah sekuat tenaga. Harga dirimu tidak sebanding dengan pekerjaan. Jika di pecat, kau bisa mencari pekerjaan lain.”
Tapi, itu semua tidaklah mudah seperti yang di katakan oleh Rengganis. Karna tidak mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Tapi kalau korban pelecehan tidak melawan, itu hanya akan membuat korban semakin tersudut dan pada akhirnya diam dan tidak bisa melakukan apa-apa.
“Jangan berharap bantuan orang lain, bantu dirimu sendiri.” Imbuh Rengganis lagi.
May menganggukkan kepala dan tersenyum ia seperti sedang mendapatkan suplay semangat dari ucapan Rengganis.
“Kau benar, Anis. Kita tidak bisa mengharapkan pertolongan orang lain. Jaman sekarang, orang bahkan sudah banyak yang acuh terhadap kejadian di sekitar mereka dengan dalih tidak ingin ikut campur ranah privasi orang lain. Karna jaman sekarang penolong bisa jadi tersangka. Aku pernah mengalaminya.” Nada bicara May berubah menjadi sedih.
“Banyak yang mengalami nasib sepertimu, May. Jadi jangan bersedih.” Rengganis berusaha untuk menghibur rekannya itu.
Rengganis bekerja semalaman sebelum akhirnya ia pulang saat mentari sudah muncul di ufuk timur. Sinar jingganya menerpa wajahnya yang sedang menunggu bis di halte depan club. Ia bahkan sampai harus memicingkan matanya karna silau. Di sampingnya, May bahkan sempat terlelap dengan menyandarkan kepalanya di dinding halte.
Mereka tidak sendiri, banyak orang yang juga sedang menunggu bis. Tapi bedanya, orang-orang itu baru akan berangkat bekerja. Sedangkan mereka baru pulang dari bekerja.
Saat bis datang, Rengganis segera membangunkan May dan masuk ke dalam bis. Untunglah mereka masih mendapat tempat duduk walaupun di bagian belakang.
Saat sudah sampai di halte perumahan dekat rumah Tahara, Rengganis turun lebih dulu, sementara May masih harus melanjutkan perjalanan dengan tranisit ke rute lain.
Security penjaga rumah Tahara langsung membukakan pintu gerbang untuknya saat melihat gadis itu datang. Pria paruh baya itu tersenyum dan menyapanya dengan ramah.
Rengganis terus berjalan masuk kedalam rumah. Nampak sepi, mungkin Tahara masih tidur. Fikirnya.
__ADS_1
“Nona, silahkan sarapan dulu. Sudah saya siapkan.” Ujar pembantu rumah tangga Tahara.
Kebetulan, Rengganis memang merasa lapar. Jadi ia berjalan menuju ke dapur dan langsung duduk di meja makan.
Di hadapannya sudah tersaji berbagai menu yang menggugah selera. Segera ia mengambil nasi dan lauk kemudian menyantap sarapannya.
“Dimana Tante Tahara?” Tanya Rengganis penasaran. Sesekali ia nampak membalas pesan dari ponselnya.
‘Kau baik-baik saja?’
‘Aku baik-baik saja.’
‘Padahal tadi aku sudah bersiap untuk menolongmu.’
‘Kenapa tidak langsung menolong kalau begitu?’
‘Aku menunggumu bereaksi lebih dulu. Aku ingin tau apa yang akan kau lakukan pada bocah-bocah ingusan itu.’
‘Chh.’
“Nyonya sudah pergi pagi-pagi sekali, Nona. Katanya ada pekerjaan di luar kota. Dia berpesan untuk melayani sarapan Nona begitu anda sampai di rumah.”
Rengganis hanya mengangguk-anggukan kepala saja. Bahkan Tahara tidak memberitahunya jika akan pergi ke luar kota. Tinggal di tempat asing membuat Rengganis merasa kurang nyaman. Walaupun Tahara ramah dan menyuruh Rengganis untuk bersikap biasa saja di rumah itu, tapi Rengganis tetap merasa aneh sendirian di sana.
Selesai makan, Rengganis langsung masuk kedalam kamarnya. Ia segera mandi kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu dan langsung terlelap karna saking mengantuknya.
Bekerja sepanjang malam membuat Rengganis harus menyesuaikan jam tidurnya. Sepertinya mulai sekarang, dia harus hidup seperti kalong. Malam bekerja, dan siang hari menjemput mimpi. Memang awal-awalnya ia sulit mengendalikan rasa kantuknya saat sudah tengah malam lewat. Tapi setelah satu minggu bekerja, ia mulai bisa membiasakan diri.
Dan selama satu minggu ini, rutinitasnya selalu sama. Dia akan tidur setelah sarapan dan mandi. Dia bahkan jarang sekali bertemu dengan Tahara walaupun mereka tinggal dirumah yang sama.
__ADS_1