Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 77. Tidak Punya Pilihan Lain.


__ADS_3

Sudah sejak tiga hari lalu Nawa terus di sibukkan dengan kegiatannya di perusahannya. Awal hari-harinya setelah menjabat sebagai CEO SJ Group membuatnya sibuk setengah mati. Sementara Anis, ia menghabiskan hari-harinya untuk menemani Baskoro di rumah. Bercerita banyak hal tentang kehidupannya bersama dengan Suta dan anggota Anoda yang lain.


Tidak ada kabar dari Dianty. Wanita itu sedang sibuk meratapi kematian putra bungsunya. Sesibuk Nawa mengurusi pekerjaan yang tidak ada habisnya.


Seperti malam ini, malam sudah hampir larut, namun Nawa belum menunjukkan tanda-tanda hendak pulang.


Anis berada di kamar Baskoro dengan di temani oleh Rizal. Mereka mengobrol ringan perihal kondisi Baskoro. Karna sudah dua hari ini Rizal tidak menampakkan diri di griya tawang. Pria itu bilang ia sedang ada urusan keluarga.


“Jadi, bagaimana urusan keluargamu? Apa sudah selesai?”


“Sudah selesai, Nona.” Jawab Rizal.


“Istirahatlah. Biar aku yang menemani ayah.”


“Tidak apa-apa, Nona. Apa Nona mau saya buatkan kopi?” tawar Rizal.


Ide yang bagus. Karna sejujurnya Anis merasa sedikit mengantuk.


“Boleh.”


“Baiklah. Saya akan buatkan kopi sebentar.” Rizal berdiri dan berlalu ke dapur. Tak berapa lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa dua gelas kopi dan meletakkannya ke atas meja.


“Terimakasih.” Ujar Anis. Ia mengambil cangkir kopi dan meniupnya pelan kemudian menyeruputnya.


Mereka melanjutkan mengobrol ringan. Anis mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang terasa semakin memberat. Ia mengantuk. Bahkan secangkir kopi masih belum cukup untuk mengusir kantuknya.


Sudah beberapa menit mereka saling diam. Tidak ada lagi yang melanjutkan obrolan. Bahkan Rizal terus menundukkan kepalanya. Sepertinya pria itu juga tengah mengantuk berat.


Setidaknya, itulah yang di fikirkan Anis sebelum ia merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Ia bukan hanya mengantuk tapi perlahan sekujur tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Dan saat itulah dia tau kalau telah terjadi sesuatu. Ia yakin ada yang salah dengan minumannya.


“Kau...” lirih Anis. Nafasnya mulai tersengal.


“Maafkan saya, Nona. Saya tidak punya pilihan. Mereka menyandera anak dan istri saya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Demi keluarga saya, saya harus melakukan perintah mereka.”

__ADS_1


“Sia-pa?”


“Dianty.” Jujur Rizal. Pria itu menangis karna merasa menyesal terlah menghianati kepercayaan Nawa dan Anis yang telah begitu baik dengannya. Tapi sekali lagi, Rizal tidak punya pilihan lain. Ia terdesak karna anak dan istrinya sedang di sandera oleh anak buah Dianty. Anis mengakui kalau kali ini ia lengah selengah-lengahnya. Ia tidak memprediksi kalau Dianty akanmenyerang Rizal dan memanfaatkannya. Karna yang ia tau, anak buah Yoham juga menjaga keluarga Rizal. Entah apa yang terjadi.


Pandangan Anis semakin buram. Ia berusaha berdiri dan meraih ayahnya, namun tidak kesampaian. Ia lebih dulu terjatuh di atas lantai sebelum mencapai ranjang sang ayah. Kursi besi yang ia duduki sampai terjatuh dan menimbulkan suara. Membuat Baskoro terbangun.


Baskoro terkejut melihat putrinya sudah lemas tak berdaya di lantai. Ia menatap kepada Rizal yang berdiri di sampingnya dengan menangis.


“Anis kenapa?” tanya Baskoro. Namun Rizal tidak menjawab. Pria itu hanya ngeloyor pergi dari kamar dan turun ke bawah.  Ia membukakan pintu kepada anak buah Dianty yang sudah menunggu di depan griya tawang. Ternyata anak buah Nawa juga sudah di taklukan oleh mereka.


“Mereka ada di atas. Tugasku sudah selesai. Jadi sekarang tolong lepaskan anak dan istriku.” Pinta Rizal putus asa. Berharap kalau mereka akan menepati janjinya. Tapi yang Rizal dapatkan justru sebuah pukulan di kepala hingga kesadarannya menipis kemudian pandangannya berubah menjadi gelap.


**


**


Pukul 11 malam, Nawa baru berhasil menyelesaikan pekerjaan. Ia segera pulang.  Dengan semangat 45 turun dari mobil dan segera masuk ke dalam lift. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anis. Tadi ia menelfon ponsel istrinya itu namun Anis tidak mengangkatnya. Mungkin Anis sedang tidur, begitu fikirnya.


Namun, semangatnya itu berubah menjadi terkejut dan cemas saat melihat empat anak buahnya sudah terkapar di depan pintu rumahnya. Tak sadarkan diri.


“Mereka masih hidup, Tuan.” Ujar Yoham.


Nawa memaksa salah satu anak buahnya sadar dengan meneriakinya.


“Apa yang terjadi?” tanya Nawa.


“Ma-af-kan sa-ya, Tu-an. No-na di bawa pergi....” anak buah Nawa tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya. Karna Nawa keburu meninggalkannya dan berlari masuk ke dalam rumah.


“Anis!!” teriaknya membabi buta. Ia memeriksa kamar dan seluruh ruangan yang ada di rumahnya untuk mencari istrinya.


“Bagaimana, Tuan?” tanya Yoham yang juga ikut mencari.


“Tidak ada. Anis dan paman tidak ada. Mereka pasti sudah membawa mereka pergi.”

__ADS_1


Seketika dada Nawa terasa ingin meledak. Rasa takut dan khawatir berbaur menjadi satu. Isi kepalanya penuh dengan prasangka-prasangka buruk.


Nawa mengeluarkan ponsel dan menghubungi Suta. Saat ini yang ada di fikirannya hanya Suta.


Suta sedang serius menatapi anak buahnya yang sedang bermain kartu dari mejanya. Saat ponselnya berdering dan ia melihat nama Nawa disana,ia segera mengangkatnya. Meletakkan ponsel di telinganya.


“Mereka membawa Anis dan paman.” Kalimat Nawa memang singkat, padat, dan jelas. Bahkan dengan beberapa kata itu sudah mampu membuat Sutamengerti akan kondisinya.


“Apa?!” teriaknya. Membuat anak buahnya langsung menghentikan permainan dan menoleh padanya “Aku akan mencari lokasinya. Aku akan menghubungimu lagi.”


Tut. Sambungan telfon terputus.


“Siapkan semua orang!” teriak Suta membabi buta. Di ikuti oleh semua anak buahnya yang langsung sigap berdiri dan siap mengikuti instruksi selanjutnya.


Suta segera membuka laptop dan melacak keberadaan Anis. Semua anggota penting Anoda memiliki chip pelacak di tubuh mereka. Dan tentang Anis, hanya Suta yang mengetahui nomor akses identitas pelacak milik wanita itu.


Setelah menemukan lokasi keberadaan Anis, Suta menyambar jaket kulitnya dan sepucuk senjata api kemudian langsung menyelipkannya di balik pinggang. Melihat keseriusan di wajah bos mereka, seketika anak buah Suta langsung waspada dan mempersiapkan diri masing-masing. Kemudian mereka pergi dengan menggunakan beberapa mobil.


Di perjalanan, Suta mengirimkan lokasi keberadaan Anis kepada Nawa. Mendapat informasi itu, Nawa yang juga tengah berada di jalan bersama dengan Yoham langsung mengubah arah menuju lokasi Anis berada.


Nawa dan Yoham yang berada dalam satu mobil tidak bicara sama sekali. Yoham hanya fokus mengemudikan mobil. Sementara Nawa sedang berkecamuk dengan fikirannya sendiri.


Fikiran-fikiran buruk terus menghantui fikiran Nawa. Ia tidak sanggup membayangkan jika Anis di lukai atau di siksa. Membayangkannya saja sudah  membuat hatinya remuk. Dalam hati ia terus berharap semoga istrinya baik-baik saja.


Nawa berfikir, dimana letak kesalahannya? Kenapa sampai bisa Anis dibawa pergi oleh anak buah Dianty? Anis pandai bela diri. Nawa rasa, tidak akan semudah itu Anis dibawa oleh mereka. Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak ia tau. Terlebih seluruh rekaman CCTV di rumahnya mati total. Sehingga ia tidak dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia merasa ada yang tidak beres.




Yo!


akhirnya,, listrik padam telah berakhir. di tempatku lagi di guyur hujan deras berhari-hari. longsor dimana-mana. Sungai meluap dan banjir. tiang listrik sampai tumbang. maaf ya warga.... semoga udah gak mati listrik lagi....

__ADS_1


love.


PiEl.


__ADS_2