Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 56. Nyawa Hampir Melayang.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Nawa sudah bangun. Entah kenapa perasaannya sangat gusar. Hal itu membuatnya harus berkali-kali pergi ke kamar mandi.


Perut Nawa sakit untuk yang ke tiga kalinya. Ia segera menyingkap selimut dengan hati-hati, kemudian berjalan cepat ke kamar mandi. Rasa mulas itu semakin menjadi, tapi tidak ada yang mau keluar.


Setelah selesai, Nawa membasuh tangannya. Piyamanya terkena cipratan air karna ia membasuh tangan dengan kuat.


Nawa keluar dari kamar mandi dengan mengibas-ngiBaskan piyamanya. Ia merasa risih dan memutuskan untuk mengganti baju saja. Pun hari sudah pagi.


Saat di dalam walk ini closet, Nawa mengganti piyama dengan pakaian santai. Ia tidak akan tidur lagi karna hari sudah pagi. Setelah selesai, ia menutup lemari kaca itu dan melirik ke arah lemari pakaian Anis yang berjejer di sebelah lemarinya.


Nawa mengernyit, ia teringat kalau Anis sering sekali tengah malam berdiam diri di dalam sini. Hampir setiap malam gadis itu mengendap-endap turun dari ranjang dan masuk ke ruangan ini.


Itu adalah sisa kecurigaan Nawa kepada Anis. Selama ini, ia masih menghormati privasi istrinya itu dan tidak pernah sekalipun menyentuh apalagi menggeledah barang-barang pribadi Anis.


Tapi malam ini, entah kenapa rasa penasarannya membumbung sangat tinggi. Dan ia merasa harus segera menuntaskannny agar tidak ada lagi kecugiaan di antara mereka.


Beberapa waktu belakang ini, tepatnya saat ia melihat Anis yang sangat gemati mengurusi Baskoro, ada perasaan curiga yang muncul di dalam hati Nawa. Tapi, karna ia sudah memutuskan untuk mempercayai Anis, maka ia tidak ingin menggali lebih jauh lagi.


Bagaimana Nawa tidak menaruh curiga? Anis sama sekali tidak megenal Baskoro, tapi gadis itu nampak sangat peduli dengannya. Pasti ada sesuatu yang Nawa tidak tau.


Nawa melongokkan kepala ke arah kamar, ingin melihat apakah Anis sudah bangun atau belum. Saat yakin kalau Anis belum bangun, ia memantapkan diri untuk melihat ke dalam lemari Anis. Setidaknya untuk kali ini saja, ia akan menghapus semua kecurigaannya pada gadis itu.


Perlahan, Nawa membuka pintu lemari pakaian itu. Menggesernya dengan sangat pelan sekali.


Netranya menyapu sekilas seluruh yang bisa ia jangkau dengan pandangannya. Tidak ada hal yang ganjil dan mencurigakan. Semua nampak normal seperti pada umumnya lemari yang berisi pakaian.


Nawa kembali memeriksa dengan tangannya. Ia membuka satu persatu lipatan pakaian Anis yang ada di sisi kiri. Dan sesuatu menghentikannya.


Ia bisa melihat sebuah bingkai foto yang terselip di antara lipatan kain. Segera ia mengambil benda itu dan manatapi lembaran figura yang ada di dalamnya.


Seorang pria berumur 40 tahunan sedang berfose bersama dengan seorang gadis yang mengenakan pakaian wisuda. Senyum cerah dari keduanya memancarkan kegembiraan bagi siapapun yang melihatnya.


Tapi tidak bagi Nawa. Darahnya mendidih melihatnya. Ia mencengkeram bingkai itu dengan sangat keras. Nafasnya menjadi memburu dan emosinya sedang berjalan ke puncak ubun-ubun.

__ADS_1


Brak!


Nawa membanting pintu walk in closet dengan sangat keras. Ia berjalan penuh emosi ke arah ranjang dimana Anis sedang tertidur. Ia kemudian menyingkap selimut yang membungkus tubuh Anis dengan sangat kasar sampai selimut itu terbang dan jatuh ke lantai begitu saja.


Anis mengerjapkan matanya karna terkejut dengan gangguan itu. Ia menatap sayu kepada Nawa yang berdiri di sisi ranjang dan menatapnya marah.


Merasa situasinya sedang serius dan sepertinya membahayakan, Anis segera bangun dan duduk. Ia menatap Nawa penuh tanya.


“Ada apa? Kau sepertinya sangat marah.” Lirih Anis dengan suara beratnya.


Pruk.


Nawa melemparkan foto beserta bingkainya itu ke atas ranjang di hadapan Anis.


“Jelaskan.” Nada suara Nawa menekan sampai terdengar sangat menakutkan. Menatap tajam kepada Anis dan menunggu jawaban dari gadis itu.


“Nawa,, itu...”


“Kenapa ada fotomu bersama dengan paman Baskoro? Jelaskan!!!” Teriak Nawa penuh emosi sampai Anis berjingkat karna takut bercampur terkejut.


“Tuan. Pak Baskoro sudah membuka matanya.” Jelas Rizal kemudian.


Kabar itu sontak meruntuhkan seluruh kemarahan Nawa. Begitu juga dengan Anis.


“Ayah?”


Anis segera melompat dari ranjang dan berlari keluar dari kamar menuju ke ruangan Baskoro. Di ikuti oleh Nawa yang juga berlari di belakangnya.


“Ayah?!” Pekik Anis yang langsung menghambur ke ranjang ayahnya.


Baskoro, pria paruh baya itu hanya bisa menggerak-gerakkan matanya ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya terasa pegal dan kaku. Mungkin itu adalah efek karna sudah bertahun-tahun dalam kondisi berbaring.


“Ayah, ini aku, Anis. Apa ayah mengenaliku?” Tanya Anis. Dia tidak menangis. Ia menatap penuh harap dan bahagia kepada ayahnya itu.

__ADS_1


Baskoro melirik padanya. Ia perlahan mengedipkan mata tanda ia mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Anis.


“Ayah.....” Lirih Anis. Menggenggam erat tangan sang ayah dan meletakkannya di dadanya.


Anis sangat merindukan sosok ayahnya yang ia tau sudah meninggal. Walaupun mayatnya tidak pernah di temukan. Ia harus meyakini hal itu untuk melanjutkan hidupnya. Dan ia sangat terkejut saat mengetahu kalau ternyata ayahnya itu masih hidup dan ada di bawah perawatan Nawa.


Sementara Nawa, hanya memperhatikan saja di belakang gadis itu. Seluruh kemarahannya menghilang entah kemana. Melihat Anis membelai-belai punggung tangan ayahnya, membuat Nawa pias.


Ia bisa merasakan ketulusan akan sebuah kerinduan dari tatapan Anis.


Baskoro tidak dapat berbicara. Bahkan untuk menggerakkan tubuhnya saja, rasanya kaku dan nyeri. Tapi, ia masih mengenali Anis, putrinya yang kini sedang tersenyum di sampingnya. Ingin rasanya ia memeluk putri tersayangnya itu dan menumpahkan seluruh kerinduannya padanya. Entah sudah berapa tahun mereka tidak bertemu.


Pandangan Baskoro kini beralih kepada Nawa yang berdiri di belakang Anis. Ia juga mengenali Nawa. Ia memejamkan matanya perlahan dengan pandangan yang tetap mengarah kepada Nawa.


Merasa dirinya di butuhkan, Nawa berjalan mendekat.


“Terimakasih sudah bangun, Paman.” Lirih Nawa melemparkan senyum leganya.


Dan sekali lagi Baskoro memejamkan mata sebagai jawabannya. Kemudian kembali melihat kepada Anis.


“Aku sangat merindukan Ayah. Aku lega Ayah baik-baik saja disini. Aku senang karna bisa bertemu dengan Ayah lagi.” Kali ini, barulah airmata Anis mengalir di pipinya.


Perlahan, tangan Baskoro bergerak ke arah wajah putrinya. Ia mengusap pelan pipi Anis itu dengan penuh kerinduan.


“Aku baik-baik saja. Aku baik.” Anis seperti tau apa yang ingin ayahnya ketahui.


Pagi yang hampir membuat nyawa Anis melayang itu berubah menjadi hari paling membahagiakan bagi Anis. Dan juga Nawa.


Bagi Nawa, ini adalah hal yang sangat ia harapkan. Usahanya selama bertahun-tahun dengan mengeluarkan biaya yang sangat banyak, akhirnya membuahkan hasil. Usahanya untuk menyembuhkan Baskoro, telah berhasil. Dan hal yang tidak di duga adalah, bahwa Anis merupakan anak dari Baskoro. Ini akan mempermudah segalanya.



__ADS_1


nah, siapa kemarin yang berhasil nebak? berarti kalian memahami setiap clue yang aku kasih. sebenernya di beberapa episode, aku kasih petunjuk buat kalian nebak ini dan itunya. yang berhasil nebak, selamatttt... yaaaaiiiii tapi gak ada hadiahnya.. hahahahahaha. belum gajian soalnya. harap maklum, masih dalam tahap author gratisan.


makanya kalian jangan putus kasih aku semangat yaaa.. biar semangat aku nulisnya.


__ADS_2