
“Maaf, Nyonya. Kami sudah tidak dalam posisi memilih siapa yang akan meneruskan kursi CEO.”
Dianty mengernyit.
“Apa maksudnya?” Barra tak kalah tegas. Awalnya dia bersikap santai karna berfikir mereka semua akan menyetujuinya untuk menggantikan ibunya.
“Sebenarnya kami sudah tidak punya hak untuk duduk di sini. Karna kami sudah mengalihkan saham kami.” Yang bicara melihat kepada Prasetyo Nugraha.
“Apa maksudnya ini?!” Kesabaran Dianty sudah menipis. Ia berdiri dari duduknya dan menatap marah kepada para pemegang saham yang tidak mengangkat tangannya.
Pandangan Dianty berhenti pada sosok Prasetyo Nugraha yang juga sedang menatapnya.
“Oh, apa saya juga harus memilih? Sebagai pemegang saham terbesar, saya setuju saja kalau misalnya nyonya Dianty mau turun dari posisi CEO. Oh, tadi sudah di sahkan ya? Berarti nyonya Dianty memang sudah sah turun dari posisi CEO. Dan untuk penggantinya....”
Fikrian Dianty sedang melayang. Mendengar kata pemegang saham terbesar? Apa maksudnya?
“Bagaimana bisa kau jadi pemegang saham terbesar? Kalian sudah melakukan apa di belakangku?” Hardik Dianty tidak terima merasa di bohongi.
“Tolong jangan marah pada mereka, Bu.” Suara Nawa membuat Dianty mengalihkan pandangannya kepada Nawa yang baru saja masuk ke dalam ruangan rapat. Ia berdiri di pintu bersama dengan Yoham.
Dengan penuh rasa percaya diri, Nawa berjalan dan duduk di kursinya. Menyilangkan kakinya dan tersenyum seolah ia sedang memenangkan pertandingan.
Sementara Dianty, ia masih melongo. Begitu juga dengan Barra dan orang-orang yang ada disana. Mereka sangat terkejut dengan kemunculan Nawa yang telah dikabarkan meninggal. Bagaimana bisa Nawa muncul di sini?
“Kenapa Ibu melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja. Apa jangan-jangan Ibu tidak suka kalau ternyata aku masih hidup?” Nawa tersenyum smirk.
Dianty dan Barra tidak bisa berkata-kata. Mereka sangat terkejut. Mereka menganggap Nawa sudah benar-benar mati. Kemunculannya seperti ini membuat jantung Dianty melorot.
“Anda masih hidup, Tuan?”
“Ya. Aku masih hidup, dan sehat. Seperti yang kalian lihat. Maaf kalau aku mengejutkan kalian dengan kemunculanku yang tiba-tiba begini.”
Dianty berusaha keras untuk menetralkan ekspresi wajahnya. Wajah terkejut dan kesal setengah mati. Ternyata Nawa masih hidup.
__ADS_1
“Mari kita lanjutkan rapatnya.” Ajak Nawa kemudian.
Dianty menghela nafas. “Baiklah. Aku tetap pada keputusanku. Aku mengalihkan semua sahamku kepada Barra yang akan menduduki kursi CEO.”
“Aku tidak setuju. Kursi itu seharusnya di berikan kepadaku.”
“Jangan membantahku, Nawa. Sahammu tidak cukup untuk mempertahankan suaramu. Kau tidak punya pendukung.”
“Siapa bilang?” Sergah Prasetyo. “Saya lebih memilih Tuan Nawa yang menggantikan Nyonya Dianty ketimbang Tuan Barra. Kita tidak bisa membiarkan perusahaan hancur di tangan Tuan Barra yang bahkan tidak becus mengelola divisinya sendiri. Bukan begitu?”
Ucapan prasetyo mendapat anggukan dari sebagian besar pemegang saham.
“Sepertinya saya harus memperjelas satu hal. Saya adalah pemegang saham terbesar. Saham saya 82 %. Dan itu cukup jauh dari saham milik anda, Nyonya. Dan saya memilih Tuan Nawa.”
Rapat itu penuh ketegangan. Dianty ingin menolak. Tapi posisinya sangat tidak menguntungkan. Dia hanya memiliki 5 pendukung yang sahamnya sangatlah kecil. Sama sekali tidak bisa mengimbangi Prasetyo.
Dengan itu, di putuskan, kalau Nawa yang akan menggantikan posisi CEO. Nawa sangat puas. Ia tersenyum kepada Prasetyo dan menyiratkan rasa terimakasih kepada pria itu.
Semua orang sudah meninggalkan ruangan rapat. Dengan kekalahan telak dari pihak Dianty. Kini, hanya tinggal Nawa dan Prasetyo saja yang masih duduk di sana.
“Sama-sama, Kak. Saya hanya mengikuti perintah kak Anis saja.
Ya, perintah yang diberikan Anis kepada Tio adalah untuk mengumpulkan semua saham SJ Group demi membantu Nawa. Dan Tio berhasil.
Nawa sudah di beritahu oleh Anis saat di pesawat tadi. Saat itu Nawa sangat terkejut mendapati kalau istrinya itu ternyata terlibat jauh di dalam perusahaannya.
“Sesuai perintah Kak Anis, semua saham yang saya miliki akan saya alihkan kepada Kak Nawa. Selebihnya, terserah dengan kakak sendiri.”
Dengan berakhirnya masa Dianty di perusahaan, maka bisa di pastikan Nawa telah memenangi separuh pertandingan. Kini hanya tinggal mengurus Bagas saja. Dan setelah itu, Dianty. Nawa berniat memotong kaki dan tangan Dianty terlebih dahulu sebelum menyingkirkan wanita itu.
“Saya akan memberikan 5% untukmu.”
“Terimakasih, Kak.”
__ADS_1
Nawa dan Tio berpisah saat keluar dari ruang rapat. Kemudian Nawa pergi ke ruangan Dianty. Ia ingin melihat ekspresi Dianty yang pasti akan sangat menyenangkan untuk di lihat.
Benar saja, Dianty sedang mengamuk di ruangannya. Membanting benda-benda yang ada di atas mejanya. Ia bahkan tidak menyadari kalau Nawa sudah berdiri di pintu dan sedang memperhatikannya. Sementara Barra, tidak berani menenangkan sang ibu karna takut terkena imbasnya juga.
“Kenapa kau kemari?!” Bentak Barra keada Nawa.
Kemarahan Dianty semakin menjadi saat melihat senyuman Nawa. Senyum kepuasan. Ia bergegas mendekati Nawa dengan tatapan tajamnya.
“Kau. Aku benar-benar akan membunuhmu.” Geram Dianty sambil menggeretakkan gigi-giginya.
Nawa hanya tersenyum saja. Ia melewati Dianty begitu saja dan berhenti tepat di depan meja. Ia mengelus papan nama Dianty yang ada di atas meja. Kemudian membaliknya sampai tulisan nama Dianty tidak terlihat lagi.
“Sudah saatnya Ibu istirahat saja di rumah. Masalah perusahaan, Ibu tidak perlu lagi ikut campur. Karna memang Ibu bukan siapa-siapa.”
Nawa kembali melewati Dianty kemudian keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Kini, perusahaan yang ia perjuangkan mati-matian telah berhasil ia dapatkan. Perusahaan hasil jerih payah ayah dan ibunya, kini telah
berhasil ia ambil kembali. Dan itu semua berkat Anis dan Anoda. Mereka bergerak cepat di belakangnya tanpa sepengetahuannya.
“Yoham. Aku ingin pulang sekarang.”
“Apa anda baik-baik saja, Tuan? Apa lukanya sakit? Saya akan mengantar anda ke rumah sakit.” Panik Yoham. Ia fikir aneh saat Nawa meminta pulang tiba-tiba.
“Tidak, bukan itu. Aku hanya ingin bertemu istriku. Aku merindukannya.”
Sumpah, Yoham hanya ternganga saja dengan bola mata yang membulat sempurna. Ia merasa telinganya telah salah menangkap kalimat Nawa.
“Hei! Cepat.” Panggilan Nawa membuyarkan lamunan Yoham. Ia segera berlari kecil menyusul Nawa yang sudah lebih dulu berjalan.
Ternyata, Nawa benar-benar ingin pulang ke rumah. Ia ingin merayakan kabar baik ini dengan istrinya. Ya walaupun Anis tentu sudah tau karna dialah yang menyiapkan kejutan ini untuknya. Tapi tetap, Nawa ingin berbagi kebahagiaan yang sedang ia rasakan sekarang.
“Mampir ke toko bunga dulu.” Perintahnya kepada Yoham. Ia ingin membeli bunga untuk Anis.
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
Nawa terus tersenyum di sepanjang perjalanan pulang. Sesekali ia menoleh kepada buket bunga yang ia letakkan di sampingnya. Membayangkan wajah merona Anis saat ia beri bunga itu. Ah, hatinya berdebar sekali. Rasanya sudah tidak sabar untuk segera tiba di rumahnya.