
Nawa sudah sampai di griya tawang. Ia segera mencari keberadaan Anis. Ia melewati ruang gim dan menghentikan langkahnya. Ia berjalan mendekati ruangan itu.
Di sana, Anis sedang duduk sambil memainkan barbel kecil di tangannya. Melihat itu Nawa tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya. Menyandarkan tubuh di dinding kaca dengan tatapan tertuju kepada istrinya.
“Sekarang kau terang-terangan berlatih di rumahku?” Lirih Nawa. Ia menurunkan tangan dan mendekati Anis.
Anis terkekeh kecil. “Kenapa sudah pulang?”
Nawa tidak menjawab. Ia langsung menarik tubuh Anis dan melu mat bibir gadis itu tanpa ampun. Sementara Anis terkejut di awal namun bisa mengimbangi setelahnya. Mereka melakukan itu untuk beberapa lama.
“Ya ampun. Kau ini kenapa? Tiba-tiba menyosor begitu?” Tanya Anis sesaat setelah mereka meregang.
“Terimakasih banyak. Aku mencintaimu.”
Deg.
Dada Anis bergetar. Ada rasa menggelitik yang mengalirkan kenikmatan di setiap pembuluh darahnya. Ia suka sensasinya.
“Aku senang masih bisa membantumu.” Anis tersenyum kemudian melingkarkan tangan di perut suaminya. Memeluknya erat sekali.
“Au!” Rintih Nawa. Perutnya masih terasa linu.
“Ops. Maaf. Aku lupa. Apa sakit sekali?”
“Tentu saja sakit. Kau jangan memelukku.” Dengus Nawa seperti sedang kesal.
Hati Anis mencelos dengan perkataan Nawa. Membuatnya merengut kesal pada pria itu.
“Ya sudah kalau tidak mau di peluk.” Anis berbalik dan hendak meninggalkan Nawa.
Gerakan kilat tangan Nawa menghentikan langkah Anis. Ia melihat ke arah pergelangan tangannya yang sedang di genggam erat oleh Nawa.
“Kau tidak boleh memelukku. Tapi aku yang akan menghabisimu.” Tanpa ampun Nawa kembali melu mat bibir Anis. Permainannya terkesan kasar dan penuh gairah. Beberapa menit menghajar bibir Anis, ia kemudian membopongnya ke kamar.
Dan entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba bagian atas tubuh Anis sudah polos melompong. Menyisakan kulit halus seputih susu yang terdapat beberapa bekas luka di sana. Ia terbaring di atas ranjang dengan Nawa yang berada di atasnya. Menindihnya dengan dada bidangnya yang polos.
Nawa meraba perlahan bekas-bekas luka di lengan Anis. Entah kenapa hatinya terasa sangat nyeri melihatnya.
“Kau pasti memaksa dirimu selama ini. Memaksa melewati batasan seorang perempuan. Pasti itu membuatmu menderita.” Lirih Nawa.
__ADS_1
“Luka ini sepadan dengan apa yang aku dapatkan. Pekerjaanku ada di ujung nyawa. Jadi sudah sewajarnya aku terluka.”
“Berjanjilah padaku. Kau tidak akan terluka lagi. Aku akan melindungimu.”
“Hemh.” Anis tersenyum. Ia merangkulkan lengannya di leher Nawa. Menarik leher pria itu dan mendahului menempelkan bibirnya.
**Skip. Hihihihihihihi.**
Berpelukan dengan tubuh polos yang saling menempel satu sama lain, menimbulkan perasaan hangat yang mengalir ke dalam nadi keduanya. Nawa bahkan tidak mau melepaskan tangannya di perut Anis. Jemarinya nakal bermain di puncak gunung.
Anis mengalihkan posisi tubuhnya menjadi menghadap Nawa. Hal pertama yang ia lihat adalah tato harimau yang ada di dada pria itu. Perlahan, ia meraba dada bagian bertato dan mengamatinya lekat-lekat.
“Kenapa kau memilih tato harimau?” Tanya Anis.
“Harimau adalah hewan yang paling setia kepada sumpah dan janjinya. Aku telah bersumpah untuk melindungi milikku. Mengambil kembali apa yang sudah seharusnya menjadi milikku. Dan aku berjanji akan mendapatkannya.”
Nada suara Nawa berubah tegas saat mengucapkan. Anis bisa merasakan sebuah ambisi yang menumpuk dari pria itu. Ambisi bercampur dendam dan rasa tidak rela saat miliknya di rebut dan di hak-i oleh orang lain.
Untuk meredakan kebencian Nawa yang sepertinya sedang naik, Anis merapatkan diri dan memeluk pinggang Nawa. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
Sementara Nawa, mengelus belakang kepala Anis yang bertengger di bawah dagunya.
“Aku akan melindungimu. Jadi berhenti membahayakan dirimu lagi.”
“Hemh. Iya. Setelah semua ini berakhir, kau hanya akan ku perbolehkan untuk fokus padaku saja.”
“Ya, ya. Dasar pemaksa.”
“Hehehehehehe.”
Sore yang dingin itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk terlelap dalam dekapan hangat masing-masing.
**
**
Anis mengerjapkan mata. Ia tidak melihat Nawa lagi di sampingnya. Sepertinya pria itu sudah bangun. Bahkan hari sudah gelap. Berapa lama ia tertidur?
Anis bangun dan mandi. Setelah itu ia mencari Nawa yang ternyata sedang sibuk di dapur. Pria itu tengah memasak makan malam untuk mereka.
__ADS_1
“Mau ku bantu?”
“Oh, kau sudah bangun? Tidak usah. Sudah hampir selesai. Kau pergilah ke kamar ayah. Tadi ayah mencarimu.”
“Benarkah?”
Nawa mengangguk dan tersenyum.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menemui ayah dulu.”
Anis bergegas pergi ke kamar Baskoro. Ia mengetuk pintu yang terbuka itu dan melemparkan senyuman kepada sang ayah.
“Ayah mencariku?” Tanya Anis. Ia duduk di samping sang ayah.
Baskoro tersenyum.
“Nis, Ayah sudah mendengar semuanya dari Nawa. Tadi Nawa bercerita banyak hal kepada Ayah. Ayah mohon, hentikan sekarang juga niatmu itu.” Tatih Baskoro dengan suara serak yang dipaksa untuk keluar.
Anis menghela nafas. Sedikit kesal dengan Nawa karna ia memberitahu ayahnya tentang rencananya.
“Maafkan aku Ayah.”
“Ayah masih hidup. Jangan sia-siakan nyawamu. Ayah tidak ingin terjadi sesuatu denganmu. Dianty, bukan orang yang mudah untuk ditangani. Dia bahkan tega membunuh suaminya sendiri.”
“Sudah terlalu banyak yang di korbankan untuk sampai disini, Ayah. Aku tidak bisa berhenti disini. Aku tidak tega karna kak Suta...”
Baskoro menghela nafas berat. Ia sangat mengerti posisi Anis. Putrinya itu pasti sudah terikat dengan sebuah janji. Dan ia sangat tau, mengingkari janji bagi Anoda itu sama saja dengan menyerahkan nyawa secara cuma-cuma.
“Berjanjilah kau akan baik-baik saja. Dan berhenti setelah rencanamu tercapai.”
Anis mengangguk. “Aku berjanji, Ayah. Jangan khawatir. Ayah tidak tau saja, betapa kuatnya putri Ayah ini. Hehehehehehe.”
Baskoro ikut tersenyum. Tapi senyumnya gamang. Tersirat sebuah ketakutan dari sudut bibirnya yang tersungging itu. Ya, bagaimanapun, Anis adalah putrinya. Dan karna dialah putrinya itu memilih jalan seberat ini hanya demi membalaskan dendamnya. Dan Baskoro sangat tau seberapa besar kekuatan dianty. Dan ia mencemaskan putrinya.
“Ayah tidak usah khawatir. Aku berjanji aku akan baik-baik saja.” Anis menangkap guratan kecemasan dari wajah sang ayah. Ia melemparkan senyuman agar ayahnya merasa tenang. Ia bisa mengerti kalau ayahnya mencemaskannya. Karna pekerjaannya sangatlah berbahaya.
“Aku akan mengambilkan makan malam untuk Ayah.”
“Ayah sudah makan.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu.” Anis mengelus punggung tangan ayahnya. Ia tersenyum kemudian bangun dan keluar dari kamar.
Sepanjang menuruni tangga, fikiran Anis terus tertuju kepada akhir dari rencananya itu. Sebenarnya masih ada setitik keraguan yang tersimpan jauh di dalam hatinya. Ia sangat tau seberapa besar kekuatan Dianty. Sejauh yang ia selidiki, wanita itu memang bukanlah lawan yang mudah untuk dia tangani. Sehebat apapun dia, masih ada celah yang memungkinkan Dianty untuk mengalahkannya. Dia harus waspada. Terlebih setelah genderang perang di tabuh.