Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 69. Arah Condong Sebongkah Hati.


__ADS_3

“Lantas, sejak awal kau sudah tau siapa aku?” Tekan Nawa.


“Em. Suta yang menaruhmu di gudang belakang rumahku. Tapi bukan kami yang menusukmu. Dia hanya memindahkanmu ke gudang belakang.”


“Itu menjelaskan kenapa tiba-tiba aku membawa senjata. Karna seingatku, senjataku tertinggal di mobil.”


“Maaf, Nawa.”


“Hah. Bodohnya aku yang mengira kalau aku yang menciptakan permainan. Ternyata akulah pemerannya. Kau yang menciptakan cerita ini.”


“Dan kau memerankannya dengan baik. Aku berterimakasih padamu berkat itu. Kini aku sudah punya apa yang ku butuhkan.”


“Jadi, sejak awal bukti itu ada padamu?”


“Ya. Aku masih menyimpannya dengan baik hingga sekarang.”


“Berikan bukti itu padaku.”


“Tidak sekarang. Kita harus melakukannya secara bertahap.”


“Apa permainanmu belum berakhir?”


“Tidak sampai aku melenyapkan Dianty. Tujuan kita sama. Yaitu melenyapkan Dianty. Sepertinya, Dianty sudah tau identitasku yang sebenarnya. Kita tidak punya pilihan lain selain mempercepat langkah.”


Nawa terdiam. Sejak tadi ia terus menatap Anis yang hanya menundukkan wajahnya sambil bercerita. Ia merasa Anis tidak berani menatapnya langsung.


“Akh!” Lirih Nawa saat hendak mengalihkan posisi duduknya. Padahal dia hanya berbohong. Lukanya sudah tidak terlalu sakit. Bahkan sekarang ia sudah bisa berlari jika mau. Fisiknya tidak selemah itu. Apalagi ini hanya luka gores saja.


“Kau baik-baik saja?” Panik Anis. Ia langsung mendongak menatap Nawa.


Netra Nawa masih di penuhi oleh kekecewaan. Tapi, disana juga ada perasaan cinta. Dua tatapan itu bercampur menjadi satu.


“Jadi, pertemuanmu dengan Dianty juga bukan kebetulan?”


“Aku sengaja pergi ke mall tempat dia biasa datang. Aku terus mengikuti dan mengamatinya. Setelah kurasa pas, aku menampakkan diri di hadapannya.”


Nawa tertawa sinis. Ia tidak menyangka kalau ternyata Anis jauh lebih licik dari Dianty. Gadis ini telah menyusun rencana yang sangat matang.


“Dan kau juga tau aku bertemu dengan Suta waktu itu?”


“Ya, Suta menelfonku setelah kau pergi dari sana.”


“Waahhhh. Aku benar-benar merasa menjadi orang paling to lol di dunia.”

__ADS_1


“Tidak. Aku yang sudah melibatkanmu dalam permainanku. Itu bukan salahmu.”


“Aku tidak sedang menyalahkan siapapun. Ceritakan lebih banyak lagi. Bagian mana saja kau menipuku?”


Anis menghela nafas dalam. Rasa sesal itu benar-benar menusuk ke relung hatinya.


Jatuh cinta pada Nawa. Itu sama sekali tidak ada dalam skenarionya. Walaupun ia sudah menyelidiki Nawa jauh-jauh hari. Tapi kemungkinan itu tidak pernah terlintas dalam benaknya sedikitpun.


Cinta memang hadir di saat Anis tidak memintanya. Menyingkirkan semua yang bisa di singkirkannya. Bahkan kini Anis bingung, bagaimana ia bisa mempertahankan perasaannya sementara Nawa nampak sangat marah dan kecewa padanya.


“Aku tau kau menyelidiki identitasku saat belum menikah. Aku sengaja merusak rekaman kalung yang di berikan Dianty. Aku tau kau membawa kalung itu ke ruang kerjamu dan memerintahkan Yoham untuk menyelidikinya. Sejak awal, aku tidak pernah ada di pihaknya.”


“Tapi kau juga tidak ada di pihakku.”


“Sekarang aku ada di pihakmu, Nawa.”


“Setelah kau membodohiku sedemikian rupa?”


Anis terdiam. Ia kembali menundukkan wajahnya.


“Lanjutkan. Mana lagi?”


“Aku sengaja menaruh fotoku dan ayah di kamar agar mudah kau temukan. Karna aku tidak tau bagaimana cara untuk memberitahukannya padamu. Aku bisa membayangkan sebesar apa rasa kecewamu jika aku memberitahumu.”


“Aku tau. Aku tau seberapa dalam perasaanmu padaku. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku menyayangimu, Nawa. Jauh dari lubuk hatiku aku merasa sakit saat kau menatapku seperti itu.”


Nawa terhenyak. Ia mengedipkan kelopak matanya. Merasakan kilatan sakit yang dikatakan oleh Anis. Perasaannya terlalu dalam untuk Anis. Saking dalamnya, mampu mengubur rasa marahnya secara perlahan.


Kalau di fikir-fikir, Anis sama sekali tidak pernah merugikannya. Gadis itu hanya membohonginya. Itu saja. Apa itu terlalu sulit untuk di maafkan? Entahlah. Hati Nawa lebih condong terhadap rasa cintanya daripada kebenciannya.


“Satu hal lagi yang membuatku penasaran. Tentang temanmu yang meninggal itu.”


“Maksudmu, May?”


“Ya. Aku tau Rendra yang melakukan hal keji itu padanya. Lantas, apa kau yang mengurus Rendra?”


“Ya. Aku begitu marah karna dia menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah. May gadis yang baik. Dia hanya fokus untuk mencari nafkah untuk keluarganya. Sangat tidak adil dia di perlakukan seperti itu. Karna itu aku menghukum orang yang sudah membunuhnya. Aku rasa itu setimpal.”


Nawa merasakan aura dendam yang kuat dari sorot mata Anis.


“Satu hal yang masih tidak kumengerti. Malam itu, aku melihatmu menghajar Rendra di club. Tapi saat menelfonmu, kau bilang ada di rumah May. Dan saat aku datang, kau benar-benar sudah ada disana. Bagaimana bisa?”


Anis nampak sedikit terkejut. Ia tidak tau kalau Nawa ada di club malam itu.

__ADS_1


“Tentu saja aku berlomba dengan waktu. Aku hanya harus sampai di rumah May sebelum kau datang. Dan itu gampang bagiku.”


“Kau tau, aku sungguh ingin menghajarmu, Anis. Kau membuatku terlihat bodoh.”


“Maaf.”


Nawa terdiam. Ia menekan pelipisnya dengan kuat. Berharap kalau semua yang Anis katakan itu hanyalah sebatas halusinasinya saja.


“Tolong jangan membenciku, Nawa. Aku harus membalaskan dendam ayahku. Dendam ini, sudah terlanjur mengakar di hatiku. Bahkan saat aku tau ayah masih hidup, aku tetap tidak bisa menghapus dendam ini. Sudah banyak yang dikorbankan sejauh ini. Aku tidak bisa berhenti sekarang.”


Nawa pias. Di satu sisi, ia marah. Di satu sisi, ia merasa kasihan dengan Anis. Gadis itu pasti sudah melalui hari-hari beratnya seorang diri. Membayangkannya saja, membuat dada Nawa terasa tertusuk-tusuk. Ya, rasa cintanya mendominasi rasa bencinya. Ia sadar betul akan hal ini.


“Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Dianty pasti tidak akan tinggal diam lagi padamu. Dia bisa saja melenyapkanmu sewaktu-waktu.”


Anis tersenyum saat menangkap sekelumit kekhawatiran dari nada bicara Nawa.


“Apa kau mengkhawatirkanku?”


“Terus? Tidak boleh?”


Seketika suasana menjadi cair. Nawa dan Anis saling tatap dan menyunggingkan senyuman di bibir masing-masing.


Entah kenapa, Anis merasa lega dengan perubahan suasana itu. Itu artinya, Nawa sedang menekan emosinya.


“Jangan khawatir. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kau tahu sehebat apa Miss Z. Hehe.”


“Ch. Ya. Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkanmu.”


“Lalu kau? Apa yang akan kau lakukan terhadap Bagas? Dia sudah membuatmu seperti itu.” Anis menunjuk tubuh Nawa dengan dagunya.


“Tentu saja aku akan menghabisinya. Apa lagi.”


“Apa perlu ku bantu?”


“Tidak. Ini urusanku pribadi dengan Bagas. Kau fokus saja pada Dianty. Setelah aku selesai dengan Bagas, aku akan bergabung denganmu.”


Anis mengangguk. “Baiklah. Aku tidak akan mencampuri urusanmu dengan Bagas. Pastikan kau menang.”


“Aku tidak akan kalah untuk kedua kalinya. Bagas sudah menunjukkan taringnya padaku. Setidaknya aku harus mengeluarkan cakarku.”


“Ya. Cakar dia sampai tidak bersisa.”


Keduanya lantas kembali melempar senyum.

__ADS_1


__ADS_2