Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 37. Karna Aku Menyukaimu.


__ADS_3

Vivi masih menatap tajam kepada Anis yang sedang duduk di hadapannya. Wanita itu menyilangkan kedua lengannya sebagai bentuk protesnya kepada Anis.


“Bagaimana kau bisa tidak memberitahu kami tentang pernikahanmu? Apa kau benar-benar temanku?” Dengus Vivi.


“Maaf, hehehhee.” Anis tidak tau harus menjawab apa. Dia tau diri kalau ia sudah membuat Vivi kesal dan kecewa.


Sementara Nawa tengah sibuk dengan gangguan kecil dari Neel yang terus mengganggunya. Neel bahkan tidak peduli saat ayahnya melarangnya untuk tidak mengganggu Nawa.


“Aku benar-benar minta maaf, Vivi.”


“Ya sudah, aku tidak akan mempermasalahkan itu lagi. Itu kehidupan pribadimu dan aku tidak berhak untuk ikut campur.” Akhirnya Vivi menyerah juga.


“Astaga, lihat dia itu? Lucu sekali.” Seloroh Anis melihat ke arah Neel yang masih sibuk mengganggu Nawa. “Dia persis seperti ayahnya. Jahil.”


“Itu benar. Mereka sangat mirip satu sama lain. Terimakasih padamu, Anis, sudah mempertemukan aku dengan Hito. Dia pria yang luar biasa dan bertanggung jawab.”


“Aku tau, karna itu aku memilihnya untukmu. Dia tidak pernah mengecewakan siapapun. Dan aku yakin ke depannya juga dia akan terus seperti itu.”


“Mau mampir ke rumah?” Tawar Vivi menawari.


Anis menggeleng. “Aku masih punya hal yang harus ku kerjakan. Kalau begitu aku pergi dulu.” Pamit Anis yang bangkit dari duduknya.


Melihat Anis yang sudah berdiri dan bersiap-siap hendak pergi, Nawa segera menepis lengan Neel yang menggelayut di kakinya dan berlari kecil ke arah Anis. Neel tidak menyerah, iapun ikut berlari mengejar Nawa.


“Kalian ini kenapa?” Tanya Anis kepada Neel dan Nawa.


“Paman tampan ini tidak mau bermain denganku.”


“Ya ampun, apa karna kalian sama-sama tampan, jadi kalian tidak cocok?” Seloroh Anis yang membuat Nawa mengerutkan dahinya.


“Sudah selesai?” Tanya Nawa.


Anis menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya kemudian ia dan Nawa pamit kepada Vivi, Hito, dan Neel.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?” Tanya Anis begitu mereka keluar dari gedung.


“Kan sudah ku bilang, aku ingin memberimu kejutan.” Jawab Nawa santai.

__ADS_1


“Itulah maksudku, kenapa kau ingin memberiku kejutan?”


“Karna aku menyukaimu.”


Spontan Anis langsung menghentikan langkahnya dan menatap punggung Nawa yang ada di depannya. Sedangkan Nawa kemudian ikut berhenti saat menyadari kalau Anis sudah tertinggal di belakangnya.


Anis yakin kalau ucapan itu hanya sebatas kata-kata kosong dari Nawa. Tapi entah kenapa jantungnya jadi berdegup dengan sangat kencang.


Sama halnya dengan Nawa. Padahal tujuannya hanya ingin menyerang gadis itu, tapi entah kenapa hatinya malah ikut berdesir saat ia mengucapkan kata-kata itu.


“Kau tidak ikut?” Pertanyaan Nawa membuyarkan lamunan Anis. Ia membuang wajahnya ke samping kemudian melanjutkan langkahnya.


Tidak apa, Anis akan memanfaatkan situasi ini untuk masuk lebih dalam ke kehidupan Nawa. Ia akan menjadikan ini kesempatan yang baik yang bisa ia gunakan untuk mengorek informasi dari pria itu. Ia harus segera menyelesaikan misinya sebelum nyawanya benar-benar dalam bahaya.


“Kita pulang bersama.” Ujar Nawa untuk memecah keheningan.


“Tidak. Aku membawa sepeda motorku.” Tolak Anis mentah-mentah.


“Berikan kuncinya padaku.” Nawa meminta kontak kunci sepeda motor Anis.


“Untuk apa?”


Anis merogoh kunci sepeda motornya dari dalam tas kemudian memberikannya kepada Nawa. Setelah mendapatkan kunci itu, Nawa segera melemparkannya kepada Yoham yang berjalan di belakang mereka.


“Apa yang kau lakukan?” Protes Anis.


“Kau pulang bersamaku.” Paksa Nawa lagi.


Yoham sangat mengerti maksud Nawa. Dia membiarkan Nawa mengemudikan mobilnya sendiri sementara ia mengendarai sepeda motor Anis.


“Tadi pagi kau kemana saja?” Selidik Nawa saat mereka sudah berada di dalam mobil dan mobil sudah melaju di jalan raya.


“Kan sudah ku katakan, aku bertemu dengan temanku.” Jawab Anis dengan tetap mengalihkan pandangannya.


“Bukan bertemu dengan Ibu?”


Pertanyaan itu mampu membuat Anis langsung menoleh kepada Nawa. “Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Tidak ada. Aku hanya berfikir mungkin kau sedang memberinya laporan karna sudah lama aku tidak melihatmu bertemu dengan Ibuku.”


“Mumpung kau sudah tau itu, kenapa tidak sekalian kau beritahu aku nomor sandi ruang rahasiamu?”


“Kau gila? Kenapa juga aku harus memberitahumu kata sandinya?”


kau benar-benar merepotkanku,Nawa.


“Mau makan siang bersama?” Tawar Nawa lagi. Akhir-akhir ini pria itu berubah jadi cerewet sekali dan banyak pertanyaan.


“Tidak. Aku lelah. Aku hanya ingin pulang dan tidur.” Tolak Anis.


“Aku minta maaf soal tadi pagi. Aku tidak seharusnya menyinggungnya.”


“Sudahlah.”


“Tapi, kenapa akhir-akhir ini Ibu jarang menghubungimu?” Tanya Nawa masih dengan penyelidikannya.


“Entahlah. Mungkin dia sudah tidak membutuhkanku lagi.”


“Kenapa kau bilang begitu? Apa terjadi sesuatu antara kau dan Ibu?”


“Tidak ada yang terjadi di antara kami. Kau ini semakin cerewet saja. Sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?”


Nawa hanya mencibir kemudian kembali memfokuskan diri ke jalan raya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan Anis. Usahanya untuk mengorek informasi tentang ibunya masih saja menemui kendala. Ternyata Anis tidak sebodoh yang ia kira.


Sesampainya di Penthaouse, Anis segera masuk ke dalam kamar dan membenamkan diri di dalam selimut. Ia berpura-pura kelelahan padahal sebenarnya ia hanya ingin memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam ruang rahasia. Dia sudah hampir kehabisan waktu. Dia harus membuat Nawa lengah.


Seperti yang sudah di duga oleh Anis, setelah memastikan ia tertidur, Nawa langsung ke luar dari kamar dan pergi menuju ruang rahasia. Kali ini Anis memperhatikan betul-betul apa yang sedang di lakukan oleh Nawa untuk membuka pintunya. Ia merekam bunyi suara dari tombol kata sandi dan menyimpannya di ponselnya. Kemudian Anis kembali ke dalam kamar sebelum ketahuan oleh Nawa.


Di dalam kamar, Anis berkali-kali memutar rekamannya dengan menggunakan headset di telinganya. Ia menutupi tubuhnya sepenuhnya oleh selimut dan mencoba menebak angka-angka yang kemungkinan di tekan oleh Nawa.


“Kau benar-benar sudah tertidur?” Suara Nawa membuat Anis terkejut dan berusaha bersikap seolah-olah ia memang sedang tertidur.


“Aku akan keluar sebentar.” Imbuh Nawa lagi. Karna mengira Anis sudah benar-benar tidur, Nawa langsung menutup pintu dan pergi.


Dengan kepergian Nawa, Anis bisa dengan leluasa melakukan aksinya. Ia sudah berhasil menebak angka dari kata sandi ruang rahasia. Ia harus segera mencobanya sekarang juga. Tapi masalahnya, masih ada CCTV yang terus mengawasinya.

__ADS_1


Anis berjalan ke dapur dan mengambil beberapa alat pembersih debu, pel, serta botol desinfektan yang sudah diganti isinya dengan cairan berwarna. Berkali-kali Anis memperagakan apa yang akan ia lakukan itu di dalam fikirannya untuk meminimalisir kegagalan. Setelah ia yakin kalau usahanya tidak akan gagal, Anis berjalan ke lantai atas dan berpura-pura untuk membersihkan area itu.


Saat sedang membersihkan pot dan tanaman yang tinggi yang berada persis di bawah CCTV dengan memanjat sebuah bangku, Anis menendang ember pel kemudian berpura-pura terjatuh dan botol desinfektan yang ada di tangannya terbang dan tepat mengenai CCTV hingga cairannya menutupi kamera itu. Ia tidak punya banyak waktu sebelum anak buah Nawa datang menghampirinya.


__ADS_2