
Anis sedang di sidang oleh Nawa di ruang tamu. Walaupun ia sudah tidak marah kepada Anis, tapi ia masih membutuhkan penjelasan dari Anis. Ia ingin Anis menceritakannya dengan mulutnya sendiri tentang hubungannya
dengan Baskoro.
Anis tertunduk di hadapan Nawa. Ia tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menatap Nawa. Kalau ia melakukan itu, ia merasa kalau Nawa akan mencekiknya sampai mati. Tiba-tiba selintas kenangan saat Nawa mencekiknya dulu muncul dalam benaknya. Tubuhnya merinding dan ia mulai ketakutan.
Padahal, Nawa hanya menatapinya diam dan dengan ekspresi biasa saja. Dia hanya sedang menunggu Anis membuka suara. Dengan kaki menyilang dan kedua lengan terbentang di atas sandaran sofa, Nawa menunggu.
“Tidak ada yang ingin kau sampaikan?” Celetuk Nawa lebih dulu. Ia tidak sabar menunggu Anis yang tak kunjung membuka suara.
“Apa aku harus mencekikmu baru kau mau bicara?” Nawa bercanda dengan mengancam Anis.
Mendengar ancaman mematikan itu, kepala Anis otomatis terangkat. Menatap Nawa dengan takut. Apalagi saat netranya bertemu pandang dengan Nawa. Hufh, jantungnya terasa sudah melorot ke lantai dan melarikan diri.
“Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak berniat membohongimu. Aku hanya terlalu terkejut saat tau kalau kau merawat ayahku. Selama ini aku berfikir kalau ayahku telah tiada.”
Nawa diam. Mendengarkan dengan serius. Raut wajah datarnya tidak berubah.
“Bukankah seharusnya kau memberitahuku sejak kemarin-kemarin?”
“Aku tidak berani. Kau baru saja mempercayaiku telah berpaling dari ibumu. Kalau aku mengatakan kalau dia ayahku, kau mungkin akan lebih mencurigaiku, kan? Karna siapapun tidak akan menyangka kebetulan yang seperti ini.”
Nawa mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Ia menarik kedua lengannya dan menautkannya dengan bertumpu di depan lutut. Mencondongkan tubuhnya kepada lawan bicaranya dan manatap Anis dengan intens.
“Kau ini, bicara tapi tidak melihatku. Apa kau mau ku...”
“Tidak. Aku akan melihatmu.” Anis sudah ketakutan setengah mati. Ia memotong kaliat Nawa dengan langsung mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Nawa pasti ingin mencekiknya. Begitu fikirnya.
“...Cium?” Nawa melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus.
“Ha? Apa?”
Kalah malu, Nawa kembali memundurkan tubuhnya dan duduk manis di sofa.
“Apa masih ada kebohongan lain yang harus kau ungkap? Aku akan mendengarkannya sekarang.”
“Tidak, tidak. Tidak.” Jawab Anis yang langsung menggelengkan kepalanya.
**
__ADS_1
**
Selama dua hari ini sudah Baskoro tersadar dari komanya. Sungguh sebuah kemungkinan kecil yang berujung pada sebuah keajaiban luar biasa.
Walaupun Baskoro masih kesulitan untuk menggerakkan lidahnya, tapi Nawa dan Anis tetap sabar menunggu sampai kondisi fisik Baskoro kembali pulih. Rizal memaksimalkan perawatannya kepada Baskoro. Ia juga memanggil dua orang teman kepercayaannya untuk membantunya memberikan terapi kepada Baskoro. Tentu saja hal ini sudah atas ijin dari Nawa. Dan latar belakang mereka sudah di pastikan bersih dan bisa menutup mulut.
Pagi ini, Anis sedang membantu Nawa memasak sarapan di dapur. Nawa memberitahukan cara-cara yang biasa ia pakai kepada Anis. Ia sedang mengajari gadis itu memasak.
Saat masakan sudah jadi, mereka menyantapnya bersama. Selesai sarapan, Anis dan Nawa pergi ke ruangan Baskoro.
Baskoro sudah menunjukkan banyak perkembangan. Ia juga sudah bisa duduk dan menolehkan kepalanya. Walaupun sebagian dari tubuhnya masih terasa kaku dan sakit kalau di gerakkan.
“Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu pada Ayah.” Ujar Anis yang duduk di samping ayahnya.
Baskoro menoleh padanya. Tatapanya seolah sedang menyimpan setumpuk pertanyaan. Dan mungkin, salah satunya akan terjawab sebentar lagi.
“Ayah pasti bertanya-tanya, kenapa aku bisa ada di sini? Itu karna aku sudah menikah dengan Nawa.”
Baskoro nampak membelalakkan matanya sedikit. Ia lumayan terkejut dengan pengakuan putrinya itu. Itu adalah salah satu keingin tahuannya. Kenapa putrinya bisa ada di rumah ini.
“Maafkan aku, Paman. Aku sama sekali tidak tau kalau Anis ini ternyata adalah putrimu. Aku baru tau beberapa waktu yang lalu. Maaf kalau kami tidak bisa meminta ijin Paman terlebih dahulu.”
Suara ponsel Nawa membuat suasana tiba-tiba hening. Anis dan Baskoro kompak melihat padanya.
Ada sebuah senyuman yang nampak dari bibir Nawa saat menatap nama si penelfon di layar ponselnya.
“Moshi-moshi.” Sapa Nawa dengan menggunakan Bahasa Jepang.
Selebihnya, Nawa mendengar dengan diam dan seksama. Alisnya mengerut kemudian wajahnya berubah sedih.
“Baik, aku akan segera kesana.” Jawab Nawa. Wajahnya berubah mendung. Anis memperhatikannya dengan seksama.
“Apa terjadi sesuatu?” Selidik Anis.
“Anis, maukah kau ikut denganku?”
“Kemana?”
“Jepang. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”
__ADS_1
“Jepang? Siapa?”
“Nanti kau akan tau. Cepat bereskan pakaianmu. Jangan banyak, karna kita tidak akan lama disana.” Titah Nawa.
Anis menatap ayahnya untuk meminta persetujuan. Karna ia juga merasa tidak ingin meninggalkan ayahnya sementara ayahnya baru sembuh. Baskoro menganggukkan kepala pelan sebagai tanda persetujuannya.
“Tidak usah khawatir, Rizal akan menjaga Paman.” Nawa seolah tau apa yang sedang di cemaskanoleh nawa.
Anis bergegas keluar ruangan dan pergi ke kamar utama. Menarik koper kecil dari atas lemari dan mengisinya dengan pakaian dan keperluan penting lainnya.
Begitu juga dengan Nawa. Ia memasukkan perlengkapan kebutuhannya ke dalam koper kecil miliknya.
Wajah Nawa nampak serius. Datar tanpa ekspresi. Nampaknya banyak sekali yang sedang di fikirkan oleh pria itu. Tapi, Anis tidak berani bertanya. Dia hanya mengikuti perintah Nawa dalam diam.
Sebelum pergi, Nawa dan Anis berpamitan dulu kepada Baskoro.
“Ayah, aku akan pergi beberapa hari. Ayah tidak apa-apa, kan?”
Baskoro mengangguk.
“Kami akan segera kembali, Paman.” Imbuh Nawa.
Keduanya lantas keluar. Yoham yang sudah menunggu di ruang tamu meminta dua koper milik Anis dan Nawa kemudian mendorongnya.
“Apa saya harus ikut, Tuan?”
“Tidak perlu. Kau harus menghandle pekerjaan di kantor selama aku tidak ada.”
“Baik, Tuan. Tapi...”
“Tidak perlu cemas, Yoham. Kau tau aku bisa menjaga diriku dengan baik.” Tegas Nawa.
Ya, Yoham tau itu. Tapi, itu sebelum ada sesuatu yang harus di lindungi oleh Nawa. Sekarang, Nawa harus menjaga dua nyawa, dirinya dan juga Anis. Dan itu bukanlah hal yang mudah.
Orang-orang seperti mereka tau, kalau melindungi seseorang maupun sesuatu, itu merupakan kelemahan terbesar yang bisa saja di manfaatkan oleh musuh. Dan Yoham mengkhawatirkan hal itu.
“Tenang saja, aku akan menjaganya. Hehehehe” Anis mencoba untuk mencairkan suasana yang sempat menegang beberapa saat.
Yoham memasukkan dua koper ke dalam bagasi. Sementara Nawa membukakan pintu mobil untuk istrinya dan mempersilahkannya masuk. Kemudian, Yoham duduk di balik kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
“Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi saya, Tuan.” Pesan Yoham sebelum ia menurunkan mereka di terminal keberangkatan bandara Soekarno-Hatta.