Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 81. Keyakinan Yang Salah.


__ADS_3

Setelah menidurkan Gail, Anis juga ikut merebahkan dirinya di sampaing bocah itu. Menepuk-nepuk pelan dada Gail sambil memperhatikan lekat wajahnya. Benar-benar mirip dengan Nawa. Ah, rindu. Hati Anis nyeri sekali.


Anis terbangun saat mendengar notifikasi di ponselnya. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja itu kemudian membukanya. Keningnya mengernyit saat melihat ada sebuah e-mail masuk dari alamat yang tidak ia kenal.


Lebih terkejut lagi saat membaca tawaran pekerjaan untuk Miss Z yang tertera disana.


Z. ia sudah lama menanggalkan nama itu. Dan sekarang, ada orang yang menghubunginya dan memberinya pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan. Disana tertulis, kalau orang itu ingin miss z menghabisi seseorang untuknya. Ia juga menuliskan alamat jelas dan waktu tepatnya.


Tangan Anis kembali bergetar hebat. Mengingat senjata dan peluru, membuat dirinya rubuh. Jemarinya seolah masih mengingat tarikan pelatuk terakhir yang ia tujukan kepada Nawa.


“Gail sudah tidur?” suara Suta yang sedang berdiri di ambang pintu kamar Gail.


Anis menoleh. Menatap Suta dengan pias. Sementara ia masih memegang ponsel.


“Kenapa? Ada apa?”


Anis memasukkan ponsel kedalam saku dan berjalan kelaur dari kamar. Di ikuti oleh Suta.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Suta penasaran.


Anis berhenti di dekat ruang tamu. Kemudian ia menyerahkan ponselnya kepada Suta. Pria itu mengernyit membaca e-mail Anis.


“Apa kau akan menerimanya?” tanya Suta.


“Tidak. Aku sudah lama berhenti dari dunia itu.”


Suta terdiam sambil mengangguk-angguk.


“Tapi, aku tidak bisa menolak rasa penasaran ini. Aku akan menyelidiki saja.”


“Terserah padamu, nis. Tapi berhati-hatilah. Jangan sampai Gail tau tentang ini.”


“Aku tau. Aku hanya akan memastikan saja siapa targetnya. Entah kenapa, perasaanku gelisah.”


Dan benar saja, keesokan harinya, Anis segera pergi menuju ke sebuah gedung untuk mengamati target yang dikirimkan untuknya. Ia membawa senjata andalannya untuk melatih agar ia tidak lagi gemetar. Bukan untuk menembak, hanya ingin mengembalikan kondisinya seperti dulu.


Di atas sebuah gedung tinggi, Anis tengkurap dan mulai mengarahkan bidikannya ke arah target. Percobaan pertama, tangannya tetap bergetar hebat. Bayangan senyuman Nawa dan peluru yang menembus dadanya kembali berseliweran di kepalanya. Nafasnya menjadi tidak teratur. Anis  memejamkan matanya erat-erat untuk mengusir semua perasaan gundah yang mengerikan itu.


“Hufhhhh.” Ia mengatur nafasnya kembali kemudian membuka matanya. Mengarahkan kembali bidikannya ke gedung hotel di seberangnya. Ia mencari target yang di maksud.


Disana, di dalam sebuah ruangan, seorang pria mengenakan kemeja putih dan celana hitam sedang duduk di kursinya dan membelakangi jendela.


Itukah target yang di maksud? Batin Anis. Ia semakin menajamkan penglihatannya. Ia menekan jemarinya yang masih terus bergetar di pelatuk senjatanya.


Deg!

__ADS_1


Jantung Anis terasa melorot dan keluar dari dadanya. Saat pria yang menjadi targetnya itu berbalik dan menatap lurus kepadanya. Seolah pria itu tau kalau ia berada disana. Pria itu juga tersenyum kepadanya.


Tidak percaya dengan apa yang dia lihat, Anis kembali menajamkan penglihatannya. Walaupun perasaannya sedang menggebu luar biasa.


Ya, benar. Itu adalah Nawa. Yang sedang tersenyum di ujung sana itu, adalah Nawa.


Seketika Anis membuang senjatanya ke sembarang tempat. Ia bangun dan langsung berlari turun dengan mengunakan tangga. Berlari secepat mungkin. Kemudian ia masuk ke dalam gedung di sebelah gedung pertama dan langsung menuju ke ruangan yang ia yakini Nawa berada di sana. Semoga dia tidak sedang berhalusinasi.


Brak!


Anis membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu. Pandangannya langsung tertuju ada sosok pria yang sedang memegang bucket bunga di hadapannya. Tersenyum dan menatapnya penuh kerinduan.


“Nawa.....” lirih Anis. Airmatanya langsung berdesakan ingin keluar. Tatapannya pias tak berkedip. Perlahan melangkah mendekati pria yang sangat ia rindukan itu.


Begitu juga dengan Nawa. Ia tidak tahan untuk berdiam diri di tempatnya. Ia langsung merangsek maju dan memeluk erat tubuh Anis seerat-eratnya.


“Aku sangat merindukanmu.” Bisik Nawa. Suaranya berat dan tidak mau keluar.


Anise melepas pelukannya setelah beberapa lama. Ia memandangi wajah Nawa dan m eraba-raba wajah dan dada pria itu.


“Kau masih hidup. Ternyata kau masih hidup. Huhuhu.” Tangis Anis pecah. Dan Nawa segera membenamkan kembali wajah Anis di dadanya.


“Maaf aku butuh waktu lama untuk kembali. Maafkan aku.”


Nawa mendekap erat Anis seolah sedang mencurahkan seluruh kerinduannya kepada wanita itu. Dadanya terus bergetar tak karuan. Menumpahkan rindu yang selama ini tertahan dan membuatnya sesak.


Setelah lama berpelukan dan saling melepas rindu. Mereka melepaskan diri dan Nawa mengajak Anis duduk di sofa.


“Apa yang terjadi?” lirih Anis. Antara senang dan terkejut bergabung menjadi satu.


“Aku tau kau sengaja menembakku di tempat yang tidak fatal. Berkat itu, aku berhasil selamat meskipun butuh waktu yang sangat lama untuk pemulihan.”


Anis membalas senyuman Nawa. Ya, waktu itu, dia memang terpaksa menembak Nawa di dada pria itu dengan harapan kalau Nawa akan mampu bertahan. Karna dia mengarahkan pelurunya tidak tepat mengenai jantung.


Tapi, harapannya semakin tipis saat tidak berhasil mengetahui keadaan Nawa setelah itu. Dan kabar yang berseliweran mengatakan kalau Nawa sudah meninggal. Jadi, ia meyakini saja hal itu. Ia merasa sudah salah membidikkan peluru di dada Nawa. Mungkin peluru itu benar-benar menembus jantung Nawa. Itulah yang selama ini dia fikirkan.


“Apa selama ini kau baik-baik saja? Kau nampak semakin kurus.” Nawa menyelipkan rambut Anis ke belakang telinga.


“Aku baik-baik saja. Ayo ikut denganku. Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu.” Ajak Anis dengan sangat antusias.


Anis mengajak Nawa pergi ke rumahnya. Ia tidak sabar ingin mempertemukan Gail dengan Nawa.


Sesampainya di rumah, Gail sedang bermain dengan Baskoro di taman samping rumah.


“Gail!” pekik Anis. Ia langsung menghampiri putranya itu.

__ADS_1


“Mama!” bocah kecil itu berlari menghampiri sang ibu.


Baskoro nampak sangat terkejut melihat Nawa yang muncul di belakang Anis. Ia sampai ternganga dan tidak bisa berucap satu katapun.


“Lho? Paman tampan kon bisa ada disini?” tanya Gail menunjuk kepada Nawa. Ia teringat kepada pria baik hati yang telah membelikan es krim tempo hari.


“Hai, Gail. Kita bertemu lagi.”


“Kalian sudah pernah bertemu?”


“Ini Paman tampan yang membelikanku es krim, Ma.”


Anis ternganga. Ternyata orang itu adalah Nawa? Papanya Gail? Ia fikir itu Yoham.


Anis tersenyum sambil memeluk Gail. Ia senang sekali.


“Gail, Paman ini, adalah Papa Nawa. Papanya Gail.”


“Papa Nawa?” Gail heran memperhatikan wajah Nawa. Mamanya memang selalu bercerita kalau papanya bernama Nawa. Dan mamanya selalu menegaskan kalau Suta bukanlah ayahnya. Jadi apa pria di hadapannya itu benar adalah papanya?


“Papa?”


Mendengar Gail memanggilnya papa, membuat Nawa tak kuasa menahan diri dari rasa haru. Ia menghambur memeluk Gail yang sedang di gendong oleh Anis itu. Ia memeluk mereka dengan sangat erat sekali.


“Maafkan Papa, Gail. Papa terlalu lama kembali.” Lirih Nawa. Ia mengeratkan dekapannya.


Istri dan anaknya yang telah lama Nawa rindukan, kini sudah berhasil ia peluk sedemikian rupa. Tidak ada lagi kebahagiaan yang melebihi ini. Kebahagiaan karna telah bersatu dengan keluarga kecilnya.


Dalam hati Nawa berjanji akan menebus waktu-waktu yang hilang bersama dengan Gail dan Anis. Ia akan membahagiakan mereka dan akan melindungi mereka dengan nyawanya. Dia tidak akan membiarkan sesuatu memisahkan mereka lagi setelah ini.


Itu janji Nawa. Dan ia akan memastikan untuk menepatinya.


*TAMAT*




Oke, warga, kisah Nawa dan Anis sudah selesai sampai di sini yaaa. jadi gak usah di tungguin lagi. makasih banyak ya atas suport kalian selama ini. selalu dukung aku walaupun kadang ceritanya aneh dan ngeselin plus gak masuk akal. makasih banyak yang udah sumbangin like,komentar, vote dan hadiahnya. lope-lope buat kalian.


sampai ketemu di projek selanjutnya yaaa. see u warga.


lope


PiEl

__ADS_1


__ADS_2