
Anis terkejut saat seseorang mengetuk pintu dan kemudian masuk ke dalam kamar. Seorang wanita muda yang mengenakan kimono hitam. Anis ingat wanita itu adalah salah satu wanita yang tadi duduk bersamanya dan juga Nawa. Wanita itu pasti salah seorang dari anak angkat tuan Nakamura.
“Sorry, Nawa memintaku untuk menemanimu.” Ujar wanita itu menggunakan bahasa inggris. Untung saja Anis bsia menggunakan bahasa itu.
“Oh, baik.”
“Namaku, Nozomi. Senang bertemu denganmu.” Ujar wanita itu mengulurkan tangan kepada Anis.
“Oh, aku Anis. Senang juga bertemu denganmu.”
“Ayo tidur. Ini sudah sangat larut.” Ajak Nozomi yang langsung berjalan ke tempat tidur dan membaringkan diri di dalam selimut.
Memang, mata Anis juga sudah mengantuk. Kelopak matanya sudah terasa berat sejak lima menit setelah Nawa keluar dari kamar.
Kedua wanita itu saling menatap ke atas. Memandangi langit-langit dengan selimut yang di kempit di antara ketiak.
“Apa kau ingin bicara sesuatu?” Tanya Nozomi yang melihat Anis gelisah.
Mendapat pertanyaan itu, Anis tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengalihkan tubuh miring menghadap Nozomi.
“Nawa, kemana dia pergi?” Tanya Anis pada akhirnya.
“Untuk memberi pelajaran orang yang sudah tega membunuh ayah kami.” Jawab Nozomi terus terang.
Jawaban itu membuat bulu kuduk Anis berdiri. Terdengar menyeramkan.
“Kemana?” Pertanyaan Anis berbau kecemasan.
“Tidak usah cemas. Dia tidak pergi sendiri. Separuh keluarga ikut dengannya.”
Anis bahkan tidak tau arti kata ‘separuh keluarga’ itu sebanyak apa.
“Apa kalian sudah lama menikah?” Tanya Nozomi. Ia mengalihkan suasana untuk mengobrol hal ringan.
“Sekitar 2 bulan.”
“Oh. Jadi, bagaimana rasanya menikah dengan kakak kami?”
__ADS_1
Nozomi selalu menggunakan kami. Seolah ia mewakili dirinya dan orang lain.
“Rasanya? Awalnya menyeramkan. Apa kau tau, aku bahkan pernah di cekik olehnya sampai hampir mati.” Adu Anis.
“Apa? Ya ampun, ternyata kebiasaannya tidak berubah. Suka sekali mencekik orang.”
“Apa itu? Apa dia juga pernah mencekikmu?”
“Tentu saja. Dia pernah mencekikku.”
“Berapa kali?”
“Berapa kali... Ehm.... Entahlah, aku tidak mengingatnya lagi.”
“Astaga. Kenapa dia suka sekali mencekik orang.”
“Katanya, dia suka sensasi saat merasakan aliran udara terputus di leher kita.”
Apa-apaan? Anis merinding mendengar jawaban itu. Alasan Nawa persis seperti seorang psikopat gila.
“Beruntung karna nyawa kita tidak hilang ditangannya. Tapi, kurasa dia tidak akan melakukan itu lagi padamu. Aku bisa melihat kalau dia sangat mencintaimu. Buktinya, dia memintaku untuk menjagamu dan membantumu jika kau butuh sesuatu. Jadi, jangan sungkan ya.”
**
**
Di perjalanan, di dalam mobil. Nawa duduk dengan membuang pandangan ke luar jendela. Mobil yang membawanya ada di urutan kedua dari depan. Sementara di belakangnya, entahlah, berapa banyak mobil yang mengikutinya. Yang tentu saja berisi ‘sebagian keluarga’ seperti yang di maksud oleh Nozomi.
Waktu sudah hampir tengah malam. Membuat suasana menjadi sunyi. Apalagi mereka menuju ke sebuah daerah yang memang sepi pengguna jalan.
20 menit berjalan, mobil sudah mulai memasuki sebuah area pergudangan yang sepi. Pergudangan tempat markas orang yang telah membunuh Tuan Nakamura.
Jauh di depan sana, nampak dua orang pria bersenjata yang sedang menjaga pintu gerbang. Melalui alat komunikasi, Nawa memerintahkan mobil di depannya untuk terus melaju dan menerobos pintu gerbang itu. Dan untungnya berhasil.
Setelah berhasil menerobos pintu gerbang, mobil Nawa langsung terparkir di dalam sebuah gedung kosong. Nawa beserta anak buahnya turun dari dalam mobil dengan membawa senjata masing-masing. Ada yang membawa senjata api, pentungan besi, balok kayu, dan tongkat golf.
Ternyata kedatangan mereka sudah di tunggu oleh si empunya tempat. Juga bersama dengan banyak anak buahnya.
__ADS_1
“Waahhh, selamat datang. Aku sudah menunggu kalian.” Ujar pria muda itu yang duduk di sebuah kursi. Sementara di belakangnya, anak buahnya juga nampak bersiap dengan berbagai senjata di tangan mereka.
“Aku tidak akan bertanya kenapa kau membunuh ayah kami. Aku hanya akan bertanya, apa malam ini kau sudah siap bertemu dengan malaikat maut?” Tantang Nawa.
“Hahahahahah. Ternyata kau tidak berubah. Seharusnya kau duduk manis di negaramu. Kenapa malah menyerahkan nyawa cuma-cuma begini? Akan repot mengurusi kepulangan mayatmu nanti ke Indonesia.”
“Tidak usah mengkhawatirkan itu. Karna tidak ada yang akan pulang ke Indonesia sebagai mayat. Sebaliknya, gedung ini akan menjadi kuburan massal untuk kalian.” Geram Nawa.
Sebelum pertarungan fisik, mereka melakukan pertarungan psikis terlebih dahulu. Dan, beberapa detik kemudian suara pertarungan terdengar menggema di area gedung.
Nawa mengeluarkan pistolnya dan membidik musuhnya yang bersembunyi di balik tumpukan kayu. Mereka saling menembak. Suara letusan senjata api terdengar memekakan telinga. Beberapa orang dari kubu musuh sudah banyak yang berjatuhan. Entah itu terkena peluru, maupun terkena hataman benda keras dan tinju yang mematikan. Karna memang mereka sudah kalah jumlah dari awal. Anak buah Nawa jauh lebih banyak.
Anak buah Nawa yang memang sudang terlatih, mampu mengungguli lawan. Kini, lawan semakin terpojok.
“Hei! Jangan bersembunyi seperti pengecut! Bukankah kau bilang ingin mengirim mayatku ke negaraku?!”
Duar!
Sebuah peluru meleset di samping Nawa.
Dengan gerakan kepala, Nawa memerintahkan anak buahnya untuk memutar ke samping dan mengalihkan perhatian. Sementara musuh teralihkan perhatiannya, Nawa merangsek maju dengan perlahan dan ujung senjata api milik Nawa sudah mendarat di kepala musuhnya. Membuat musuhnya membeku dan seketika menjatuhkan senjata yang ia pegang.
Anak buah Nawa yang lain segera menangkap pria itu dan menggiringnya ke bangku yang dia duduki tadi. Mengikatnya kuat agar pria itu tidak bisa melarikan diri. Sementara anak buahnya yang tersisa nampak sudah bertekuk lutut menyerah atas situasi yang sama sekali tidak menguntungkan mereka.
Nawa berjalan mendekati pria yang kini sudah terikat di kursi itu. Menatapnya tajam dan penuh kemarahan.
“Apa-apaan ini? Kau bilang sudah menungguku tapi ini persiapanmu? Apa kau memang tidak faham kekuatan kami atau kau meremehkan kami?” Geram Nawa. Ia mengangkat dagu pria itu dengan ujung pistolnya. Pria itu nampak mengernyit menahan panas dari besi itu.
“Sayang sekali, kau tidak jadi mengirim mayatku ke Indonesia. Karna aku akan menguburmu di sini.”
Buk!!
Nawa melayangkan tinjunya ke wajah pria itu. Sangat kuat hingga mulut pria itu langsung berdarah.
“Cuih!!” Pria itu semakin memancing emosi Nawa dengan terkekeh sinis. Ia meludahkan saliva bercampur darah ke atas tanah, menatap Nawa dengan menantang. Ujung bibirnya sebelah naik ke atas. Mengejek.
“Ternyata kau hanya orang bodoh yang hanya pandai menggonggong. Aku akan menunjukkan kenapa kau harus takut padaku.”
__ADS_1
“Aku sudah siap mati saat aku memutus rem mobil tuan Nakamura. Aku tidak takut mati.”