Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 66. Harus Menjadi Licik Demi Tujuan.


__ADS_3

Saat hendak melangkah, ia terkejut dengan rentetan peluru yang di tembakkan Bagas ke arah laut. Dia hanya bisa berharap, semoga Nawa masih bisa selamat. Semoga hidupnya tidak berakhir disini.


Dan saat Bagas lengah, Anis segera menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Nawa. Ia berenang di kedalaman laut yang gelap. Ia hanya menggunakan insting untuk menebak keberadaan Nawa.


Untungnya, saat Bagas mengarahkan lampu senter ke air, cahaya itu terbias di atas tubuh Nawa yang mulai tenggelam kebawah. Dengan segera Anis berenang dan meraih tubuh lemas Nawa. Berusaha sekuat tenaga membawa Nawa ke permukaan.


Untung saja tubuh Anis terlatih hingga mempunyai fisik yang kuat. Ia terus berenang dengan satu tangan menuju tepian. Untungnya, tak jauh dari tempat Nawa jatuh, terdapat sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Anis bisa mengetahui dari pemancar mercusuar yang ada di puncak pulau.


Sesampainya di daratan, Anis merebahkan tubuh Nawa dan segera melakukan pertolongan pertama. Ia melakukan CPR. Menekan dada Nawa dan memberinya nafas buatan.


Hal pertama yang harus ia lakukan adalah, mengeluarkan air dari tubuh Nawa. Karna sudah di pastikan kalau Nawa sudah menelan banyak air. Mungkin paru-parunya sudah penuh oleh air.


Anis terus memompa dada Nawa.


“Ayolah, Nawa. Jangan mati sekarang.” Gumam Anis dengan terus memompa dan memberi nafas  buatan.


Bruufffff!


Usaha Anis tidak sia-sia. Nawa memuntahkan air dari mulutnya. Pria itu juga bergerak sedikit. Pertanda kalau dia belum mati.


Anis mengeluarkan kaleng lemon dari dalam sakunya, membukanya, kemudian meminumkannya ke dalam mulut Nawa sedikit demi sedikit. Ia akan bertaruh kepada jus lemon itu. Karna yang ia tau, lemon dapat menetralisir racun akibat alergi.


Tubuh lemas Nawa di baringkan begitu saja di atas pasir. Suasana gelap gulita. Untung saja sesekali bias lampu mercusuar membuat penerangan untuknya. Sehingga ia tidak salah mengambil tindakan.


Hal yang di lakukan oleh Anis selanjutnya adalah, menyingkap kaus Nawa. Ia bisa melihat darah segar terus mengalir dari perut pria itu. Sepertinya Nawa terkena tembakan.


Anis bingung, kali ini, dia tidak ingin bertaruh dalam kegelapan. Masalahnya, sepertinya peluru itu menembus organ vital Nawa. Dan ia tidak punya alat untuk mengambilnya.


Tapi, kemudian ia teringat sesuatu. Pisau!


Anis membuka tali pinggangnya dimana terselip pisau kecil di sana. Pisau yang selalu ia simpan di bawah lempengan besi yang bertuliskan merek ikat pinggang tersebut. Itu adalah tempat samaran terbaik.

__ADS_1


Hufhhhh.


Ia menarik nafas berkali-kali untuk meyakinkan dirinya. Sungguh, ia tidak ingin melakukan itu kalau tidak terpaksa. Masalahnya, kalau Nawa di biarkan seperti itu, nyawa pria itu bisa melayang. Padahal ia sudah bersusah payah menyelamatkannya.


Hufffhhhh.


Anis menarik nafas kembali. Ia memejamkan mata sambil menggenggam erat pisau itu di tangannya. Menunggu saat lampu mercusuar mengarah ke mereka.


Sekali lampu itu mengarah ke arah mereka, Anis segera memperhatikan dengan seksama luka di perut Nawa.


Nawa nampak menggelinjang pelan saat pisau itu masuk melalui luka tembak di perutnya. Ia yang setengah sadar sama sekali tidak menyadari apapun.


Anis betul-betul merasakan ujung pisaunya mengenai sesuatu.


Hahhhh, Anis lega karena dugaannya meleset. Peluru itu hanya mengenai samping perutnya dan tidak terlalu dalam. Tidak sampai mengancam nyawa pria itu.


Dengan segera Anis mencongkel luka itu hingga ia bisa mengeluarkan peluru yang bersarang di sana. Dan akhirnya, ia bisa bernafas lega. Ia membuka kausnya dan menyobeknya menjadi dua bagian. Satu bagian ia ikat di perut Nawa untuk menghentikan pendarahan. Satu bagian lagi ia ikat di lengan Nawa yang terserempet peluru juga.


Aliran nafas Nawa perlahan kembali normal. Menunggu pagi tiba, Anis mencari semak-semak dan beberapa ranting juga daun kering. Ia akan membuat api.


Tidak sia-sia latihan yang ia lakukan di bawah bimbingan Suta dan ayahnya. Ia benar-benar sangat membutuhkannya di saat seperti ini. Kalau tidak, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa dalam situasi hidup dan mati begini.


Anis mengumpulkan semak dan daun kering di bawah ranting. Kemudian ia mencari batu di sekitarnya untuk membantunya menyalakan api. Berhasil. Ia berhasil menyalakan api.


Setelah api berhasil menyala. Ia menarik tubuh Nawa perlahan ke dekat api. Kemudian ia melepas celana jeansnya dan mengeringkannya. Tidak lengah memperhatikan kondisi Nawa.


Tidak ada siapapun di pulau ini. Untungnya ia sempat mengirimkan pesan kepada Suta saat di kapal tadi. Kini, ia hanya harus menunggu Suta datang menjemput mereka.


Anis teringat dengan ucapan Suta yang mengatakan kalau Bagas tengah merencanakan sesuatu.


“Dia pergi ke Jepang. Aku yakin dia tengah merencanakan sesuatu kepada Nawa. Aku akan mengikutinya, kau fokus saja kepada Nawa.”

__ADS_1


Itulah ucapan Suta saat kemarin mereka bertemu di luar Mansion. Saat ia dan Suta mengikuti Nawa ke gudang dan melihat Nawa sedang mengeluarkan taringnya disana. Foto Anis dan Sutalah yang di kirimkan oleh Bagas tadi ke ponsel Nawa. Hingga membuat pria itu semakin tersulut emosi.


Kini, keduanya sama-sama diam setelah beberapa waktu berlalu. Anis terus memperhatikan asap yang mengepul dari celananya yang di panggang.


Sementara Nawa, terus memperhatikan wajah Anis lekat-lekat. Ada sebuah kerinduan di sana. Ia marah, tapi tidak di pungkiri, ia juga mencintai gadis itu. Tapi, ia juga sangat ingin mencekiknya.


“Apa kau masih marah? Tidak bisakan kau memaafkanku? Aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Aku benar-benar harus memanfaatkanmu. Tapi, semua itu berubah saat aku tau kalau ayahku masih hidup dan kau yang telah menyelamatkannya. Aku sungguh minta maaf, Nawa.”


Nawa tidak menjawab. Ia hanya terus mengarahkan tatapan membunuhnya kepada Anis.


“Kau licik.” Dengung Nawa.


“aku tau. Aku harus menjadi licik untuk mencapai tujuanku.”


Semburat awan jingga semakin berani menampakkan diri dari ufuk timur. Perlahan menghantarkan cahaya untuk menyapa penduduk bumi. Membias kepada dua manusia yang sedang saling tatap dengan pias itu.


Api sudah padam sejak beberapa saat yang lalu. Meninggalkan bara yang sudah tertutupi oleh abu. Tapi, dua insan itu tak kunjung membuka suara. Anis hanya berharap, kalau Nawa mau memaafkannya. Walaupun ia tau, kesalahannya sangatlah besar.


Anis bangkit berdiri dan memakai celananya yang masih terasa basah. Ia berjalan sedikit masuk ke dalam hutan. Mencari sesuatu yang bisa di makan. Untunglah ia menemukan beberapa tanaman berry liar yang tumbuh disana. Dan terdapat beberapa buah yang masak. Ia segera memetiknya dan membawanya kembali.


“Makanlah. Kau harus pulih agar kita bisa segera keluar dari sini.”


**


**


Aku cuma mau bilang,,


Hufffhhhhh.


Hehehehehehe.

__ADS_1


untuk mengakhiri kisah 365 hari kalian, hari ini aku up 4 episode. semoga menghibur.


__ADS_2