Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 47. Kelemahan.


__ADS_3

Di griya tawang.


Setelah kepergian Nawa, Anis memberitahu kepada Rizal bahwa ia ingin istirahat di kamar. Dan ia tidak ingin di ganggu.


Tanpa mencurigai apapun, Rizal meng-iyakan saja permintaan Anis itu. Ia fikir, Anis tidak mungkin akan melakukan hal yang macam-macam karna di rumah ini penuh dengan CCTV.


Saat keluar dari ruang rahasia, Anis tidak jadi masuk ke kamar dan malah menghampiri telfon. Ia menekan nomor Nawa dan menghubungi pria itu.


“Ada apa kau menelfonku?”


“Kau dimana?”


“Aku, sedang bekerja di luar. Kenapa?”


“Ijinkan aku keluar sebentar. Aku ingin menemui ibumu.”


Mendengar itu emosi Nawa hampir saja membludak. Apa Anis akan melaporkan semuanya kepada Dianty? Tapi kenapa harus meminta ijin segala?


“Tidak boleh. Kau dilarang keluar rumah.”


“Apa kau mencurigaiku? Aku tidak akan menceritakan apapun padanya. Kau harus percaya padaku. Aku harus menemuinya. Bukankah dia akan lebih curiga? Karna sudah beberapa hari aku tidak menghubunginya. Lagipula, ponselku kau sita. Nawa, aku harus menemuinya dan mengakhiri kontrakku dengannya.”


“Tapi aku sedang tidak ada di kantor. Aku tidak bsia mengawasimu.”


“Aku bisa sendiri. Dia tidak mungkin mencelakaiku di kantor, kan?”


Nawa terdiam. Hanya terdengar sara helaan nafas dari pria itu.


“Nawa?” Anis menunggu persetujuan.


“Baiklah. Tapi hati-hati. Dia bukan orang yang mudah di tangani. Sebelum pergi, ambil ponselmu di laci meja kerjaku. Kalau terjadi sesuatu, cepat hubungi aku.”


“Baiklah. Aku mengerti.”


Setelah mendapat ijin dari Nawa, Anis masuk ke ruang kerja Nawa dan mencari ponsel di tempat yang sudah di beritahu oleh Nawa. Ia menghidupkan ponsel itu, dan benar saja, terdapat beberapa panggilan dan pesan dari Dianty.


Anis yang merasa was-was, langsung menghubungi Dianty.

__ADS_1


“Halo?”


“Kenapa sulit sekali menghubungimu?”


“Maaf, Bu. Ponselku rusak. Dan aku baru selesai memperbaikinya.” Alasan Anis.


“Temui aku malam ini jam 9. Aku akan mengirimkan alamatnya nanti.”


Setelah berkata begitu, Dianty langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.


Waktu janji masih lama. Mumpung ia sudah mendapat ijin dari Nawa untuk keluar, ia akan mampir ke rumah sakit tempat ibu May di rawat lebih dahulu. Sudah lama ia tidak kesana.


Setalah berganti pakaian, Anis segera keluar dan menghentikan sebuah taksi. Ia tidak sadar kalau semua yang dia lakukan sedang di pantau oleh Nawa. Bahkan Nawa tau apa yang tadi di bicarakan oleh Anis dan Dianty di telfon. Yoham telah menaruh sebuah aplikasi penyadap di ponselnya.


Saat sedang di dalam taksi, Anis mengirimkan pesan kepada Nawa kalau ia tidak jadi menemui Dianty di kantor. Melainkan di sebuah restoran china.


Nawa yang mendapat pesan itupun tersenyum. Padahal dia sudah tau. Dengan ini, ia sudah yakin kalau Anis benar-benar sudah berada di pihaknya.


Nawa sepenuhnya sadar, kalau ia memiliki Anis di dekatnya, itu berarti ia sedang mengumumkan kelemahannya kepada musuh-musuhnya. Tapi, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya kepada gadis yang telah menolongnya itu.


Anis sampai di sebuah rumah sakit swasta tempat ibu May di rawat. Ia segera mencari nomor kamarnya.


Perlahan, Anis menggeser pintu kamar itu. Membuat Tio langsung menoleh. Pria itu tersenyum sumringah saat melihat kedatangan Anis.


“kak Anis?”


“Oh, hai, Tio. Bagaimana kabarmu?”


“Baik, kak. Kenapa jarang datang? Ibu selalu menanyakanmu.”


“Maaf, aku sedang banyak pekerjaan.”


“Apa itu kau, Anis?” Tanya ibu May. Wanita renta itu, sejak kematian May, kesehatannya semakin  memburuk. Kanker mata yang di deritanya semakin menyebar dan membuatnya sudah tidak bisa melihat lagi.


Mendengar ibu May mengenali suaranya, Anis segera merangsek ke sebelah wanita itu dan menggenggam tangannya.


“Iya, bu. Ini aku. Maaf aku baru datang. Aku banyak sekali pekerjaan. Bagaimana keadaan Ibu?”

__ADS_1


“Yang jelas semakin buruk. Hahahaha.” Wanita renta itu berusaha untuk menghibur diri.


Tawa itu, justru semakin membuat Tio tidak bisa menahan genangan airmatanya. Karna tidak ingin Anis melihatnya menangis, Tio memutuskan untuk keluar dari rangan dan duduk di koridor.


“Bu, aku membawakan jeruk untuk Ibu. Mau ku kupaskan?”


Ibu May mengangguk lemah. Anis menyambutnya dengan tersenyum. Lantas ia mengupas dan menyuapkannya kepada wanita itu.


Lama sekali Anis berada disasa. Sekalian ia menunggu waktu untuk bertemu dengan Dianty nanti malam. Sampai ibu May tertidur, Anis masih setia menemaninya.


Anis membenahi selimut ibu May. Kemudian berjalan dengan perlahan keluar dari ruangan. Ia bisa melihat Tio yang sedang duduk di koridor. Menatapnya dengan tersenyum. Lantas iapun menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya.


“Kenapa malah bersedih?” Anis seperti tau apa yang sedang di rasakan oleh adik May itu.


“Karna aku merasa sangat bersyukur. Terimakasih, Kak. Kak Anis bahkan sudah membayar biaya perawatan ibu. Aku tidak tau bagaimana caraku untuk membalas kebaikan Kakak.”


“Tio, kau itu adiknya May. Dan May itu adalah temanku. Jadi, kau adalah adikku juga. Jangan sungkan untuk meminta bantuanku. Aku akan membantu sebisaku. Kan aku sudah berjanji padamu. Kau tidak melupakan janjiku, kan?”


“Sekali lagi terimakasih, Kak. Aku tidak pernah melupakan janji kak Anis waktu itu.”


Anis tersenyum mendengarnya. Ia mengelus punggung Tio


“Soal permintaanku, sudah sampai mana perkembangannya? Apa pekerjaannya begitu sulit?”


“Tidak, Kak. Teman kakak sudah membantuku. Perkembangannya sudah sekitar 80 persen, Kak. Hanya tinggal 4 orang lagi.”


“Bagus. Kau sudah melakukannya dengan baik. Kalau kau merasa sudah tidak sanggup, kau boleh berhenti disini. Temanku yang akan melanjutkan. Lagipula, aku merasa kalau 80 persen itu sudah cukup.”


“Tidak, Kak. Aku akan melakukannya sampai 100 persen. Kak Anis sudah menepati janji Kak Anis. Kali ini, biarkan aku menepati janjiku untuk Kakak.”


Anis merasa terharu mendengarnya. Ia kembali menepuki punggung Tio dengan pelan.


“Terimakasih, May pasti bangga padamu. Kalau begitu, tetap awasi ibumu. Aku akan kembali lagi nanti. Sekarang, aku harus pergi.”


Tio mengantarkan Anis sampai di depan rumah sakit. Ia juga menghentikan sebuah taksi untuk Anis dan membukakan pintu untuk gadis itu.


Sudah pukul 8 malam, dan Anis segera meminta sopir untuk membawanya ke sebuah restoran china. Sesampainya disana, ia masih belum melihat Dianty. Jadi, dia memutuskan untuk menunggu sambil memesan minuman untuk menghangatkan tubuh. Disana, ada sekitar 6 orang pria yang duduk di dua meja terpisah.

__ADS_1


Perasaan Anis menjadi tidak enak. Apalagi saat ia menyadari kalau pengunjung restoran itu merupakan laki-laki semua. Hanya dia perempuan seorang diri. Dan mereka, tengah menatap aneh padanya. Membuat bulu kuduk Anis langsung berdiri merasakan bahaya.


Suasana semakin mencekam. Mereka tidak mengendurkan pengawasan terhadap Anis. Untungnya, beberapa pelanggan lain masuk dan memesan makanan. Itu membuat Anis merasa sedikit lega.


__ADS_2