Menikahi Iblis Berwajah Tampan

Menikahi Iblis Berwajah Tampan
BAB 32. Miss Z.


__ADS_3

Keadaan di Club ARA semakin kacau. Kini bukan hanya dua anak buah Rendra, namun juga salah satu teman Rendra ikut campur berusaha membantu Rendra.


Bagas merasa kalau pertunjukan itu semakin menarik saja. Ia ingin terus menyaksikannya tapi ia merasa tidak enak dengan Rendra kalau ia tidak membantu. Walaupun ia hanya pura-pura, setidaknya ia harus menunjukkan sikap ‘setia kawan’ kepada Rendra.


Pria itu lantas berdiri dan berjalan menghampiri Rendra saat temannya itu meminta bantuan lewat lirikan matanya. Bagas menyambar botol minuman dari atas meja dan menentengnya.


PYARR!!!


Suara botol pecah yang mengenai lengan wanita itu membuat Rendra tersenyum. Ia fikir Bagas sudah mampu mengenai wanita itu namun nyatanya wanita itu berhasil menangkisnya dengan lengannya.


Merasa marah, wanita itu langsung berdiri dan mencengkeram leher Bagas dengan kuat. Dan sepertinya Bagas tidak berniat melawan, ia hanya berusaha untuk tetap bisa bernafas. Ia sama sekali tidak ingin melawan.


“Aku tidak ingin berurusan denganmu, jadi enyahlah. Jangan ikut campur.” Gertak wanita itu.


Bagas segera menganggukkan kepala yang membuat wanita itu melepaskan cengkeramannya.


“Z (Zi)!!” Pekik pria yang langsung merangsek dan meraih lengan wanita itu untuk menghentikan aksinya. “Kau ini kenapa? Bukan begini caramu bermain.” Suta memperingatkan.


Di samping Suta, Tahara berdiri dengan menatap wanita yang di panggil Z itu.


“Lepaskan.” Ujar Z tanpa melihat kepada Suta.


“Lihat aku.” Perintah Suta kepada Z. Ia memegang kedua punggung Z dan mengarahkan untuk menghadap kepadanya.


Z menatap Suta dengan tatapan kemarahan. Ia belum puas melampiaskan kekesalannya kepada Rendra. Ia masih ingin menghajar pria tidak tau diri itu yang berani menggerayangi tubuhnya.


“Z?” Suta kembali memperingatkan dengan suara rendah.


“Baiklah.” Setelah beberapa saat akhirnya Z kembali tenang. Ia berusaha mengatur nafasnya agar kemarahannya mereda. Ia membenahi masker dan topinya. Menatap sekilas kepada Tahara kemudian berbalik dan kembali menghampiri Rendra yang masih terduduk di lantai. Pria itu sudah tidak punya tenaga untuk bergerak.


“Kau akan menerima pembalasanku nanti. Lihat saja.” Tapi Rendra masih punya sisa keberanian untuk mengancam Z.


“Begitukah? Baiklah. Tidurlah yang nyenyak malam ini. Karna besok kau akan sangat sibuk.” Ujar Z santai. Ia tersenyum di balik maskernya.


Rendra mengerutkan keningnya berusaha memahami maksud ucapan Z. Ia melihat tangannya yang sudah berlumuran darah. Dua anak buahnya menghampiri dengan tergopoh-gopoh dan membantunya berdiri. Namun setelah berhasil berdiri, ia segera menapis tangan mereka dengan kasar. Bahkan Bagaspun tidak luput dari kekesalan Rendra karna merasa kalau Bagas sama sekali tidak berguna untuk membantunya.

__ADS_1


Z dan Suta sedang berada di sebuah ruangan private. Keduanya duduk dalam diam sementara Suta terus menatap Z menuntut penjelasan.


“Ah. Baiklah, baiklah. Jangan menatapku begitu.” Z tidak Tahan dengan tatapan Suta yang teduh itu. Membuatnya tidak nyaman.


“Kenapa kau begitu? Ini tidak seperti dirimu. Kau membahayakan dirimu, Z. Kau membahayakan identitasmu.”


“Maaf. Aku tidak bisa menahan diri. Aku tidak tahan dengan kelakuannya.”


Tepat pada saat itu, pintu ruangan itu terbuka dan muncullah Tahara dengan membawa nampan berisikan minuman untuk Suta dan Z. Setelah menyuguhkan minuman itu, Tahara ikut duduk di hadapan Suta.


“Aku minta maaf. Aku akan mengganti semua kerusakan yang timbul.” Ujar Suta kepada Tahara.


“Tidak, tidak apa-apa. Kerusakannya tidak seberapa, kok. Silahkan minum.” Tahara mempersilahkan dengan ramah. “Anda tidak apa-apa? Anda tidak terluka?” Tahara bertanya kepada Z.


Z menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Maaf aku sudah menimbulkan kegaduhan di tempat ini.”


“Tidak usah di fikirkan. Anda baik-baik aja, itu sangat melegakan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Tahara kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Hufhh...


“Mau ku antar ke rumah sakit?” Tawar Suta.


“Tidak perlu. Ini hanya luka kecil.” Tolak Z.


“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Suta lagi.


“Sebarkan itu. Dia perlu di beri pelajaran.”


Suta mengerti apa yang di maksud oleh Z. Ia mengangguk menyetujui ucapan wanita itu.


“Kau pergilah dulu. Aku akan membereskan kekacauan disini.” Pinta Suta kembali


“Tidak. Aku akan disini sampai pagi.”


“Terserah kau saja.” Ujar Suta yang kemudian beranjak dan keluar.

__ADS_1


*****


Di sebuah ruangan VIP di lantai dua dengan jendela kaca yang menghadap ke lantai dansa, pemandangan dari ruangan itu cukup menjangkau semua yang ada di lantai bawah. Termasuk meja bartender dan panggung Disk Joki.


Nawa sedang memperhatikan satu-persatu manusia yang sedang asik menikmati dentuman musik di bawah. Ruangan yang ia tempati sedikit kedap suara, jadi ia tidak terlalu merasa berisik berada di sana.


Keberadaannya di Club ARA malam ini tidak lebih karna ingin melihat Anis yang tadi pamit akan pergi ke Club ARA untuk bertemu dengan temannya. Sekaligus ia ingin tau tempat kerja Anis dulu seperti apa.


Yoham sedang sibuk dengan ponselnya dan membiarkan Nawa sesekali menenggak minuman keras. Ia hanya terus mengawasi tuannya itu agar tidak minum melebihi batas kemampuan yang akan menyebabkan Nawa mabuk.


Nawapun tau akan hal itu. Ia bahkan belum menghabiskan gelas minuman yang ada di tangannya saat sebuah kejadian menarik perhatiannya. Saat itu ia sedang duduk di samping jendela kaca


“Siapa wanita itu?” Tanya Nawa kepada Yoham yang langsung mendekat dan melihat ke arah bawah. Ia memperhatikan wanita bertopi yang ditunjuk oleh Nawa yang sedang sibuk berkelahi dengan dua pria kekar.


“Aku tidak tau.” Jawab Yoham.


“Uuuuuhhhhh...” Lirih Nawa saat melihat wanita itu yang membanting salah satu pria. “Wwwaaaaw.” Komentarnya lagi.


Nawa kagum dengan wanita yang nampak ahli bela diri itu dalam menghajar pria-pria itu. Ia bahkan beberapa kali bertepuk tangan untuk wanita ‘keren’ itu.


Namun Nawa mengernyitkan keningnya saat tau kalau Bagas berada di antara mereka. Raut wajahnya bahkan berubah saat wanita itu mencekik leher Bagas.


Nawa dan Yoham terus memperhatikan keadaan di bawah sana. Mereka saling pandang saat Bagas bahkan tidak berkutik di hadapan wanita itu.


Namun Nawa kembali mengernyit beberapa saat kemudian saat Suta, sang pemimpin Anoda muncul dan menghentikan perkelahian itu. Satu hal yang kini ia yakini adalah, kalau Suta dan wanita itu saling mengenal. Itu membuat rasa ingin tau Nawa meningkat.


“Diakah miss Z?” Ujar Yoham lirih.


“Miss Z? Siapa itu?” Nawa tertarik untuk mendengar ceritanya.


“Dari rumor yang beredar, dia adalah pembunuh bayaran milik Anoda. Melihat dia akrab dengan Gasuta, mungkin berita itu adalah benar.” Jawab Yoham yang masih belum mengalihkan pandangannya dari lantai bawah.


“Cari tahu lebih detail. Sepertinya aku akan membutuhkannya.” Firasat Nawa mengatakan seperti itu karna ia melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu terhadap Bagas.


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


__ADS_2